Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.193. Bangga


__ADS_3

"Kenapa mama harus khawatil? bahkan uda pelna lihat mama teltembak waktu itu," ujar Rakha.


Ezra menyunggingkan senyumnya dan mengusap puncak kepala putranya itu.


"Anak pintar, papa bangga padamu. Kali ini apa yang ingin kamu perlihatkan. Hem?" tanya Ezra.


Rakha duduk disebelah Lilian dan memutar video yang baru saja dia simpan ke galerynya. Ezra, Marinka, Lilian dan Mario menyimak apa yang ingin Rakha perlihatkan pada mereka. Rakha kemudian memutar ulang video itu hingga Ezrapun jadi tertawa keras dan menggendong Rakha kemudian melemparkan putranya itu keatas dan menangkapnya.


Diperlakukan seperti itu tentu saja Rakha sangat senang.


"Papa lagi," ujar Rakha.


"Lagi?" tanya Ezra.


"Iya lagi. Uda suka." Jawab Rakha.


Ezra kemudian melakukan apa yang putranya itu inginkan, hingga Rakha tertawa senang saat Ezra melakukan itu padanya.


"Terima kasih ya nak. Papa dan mama sangat beruntung memiliki putra sepintar kamu," ujar Ezra.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Marinka.


"Tentu saja melaporkan bajingan itu kepolisi. Kita sudah memiliki bukti percakapan tadi. Dia sudah mengatakan semua kejahatannya di video itu. Kita sudah bisa menebak akhir dari bajingan itu." Jawan Ezra.


"Ya sudah, ayo kita masuk kedalam. Kita bicarakan semuanya di dalam saja, sepertinya bunda juga sudah mulai lesu lagi," ujar Marinka.


"Iya. Bunda harus meminum vitamin dari dokter lagi," timpal Mario.


Marinka kemudian kembali mendorong Lilian dengan kursi roda. Mereka kemudian kembali berbincang di ruang tamu.


Sementara itu disisi lain, Satyo kembali menemui Dirham yang tengah tak berdaya akibat luka cambuk yang dia terima tiap kali Satyo menemuinya. Tubuh Dirham mendadak gemetar saat melihat kedatangan Satyo.


"Kamu tidak usah takut. Karena hari ini aku sangat senang, aku tidak akan mencambukmu. Lagipula lukamu itu masih basah, kamu pasti tidak akan tahan, dan akan mati sebelum aku mendapatkan semua harta wanitamu itu," ujar Satyo.


Yah...satyo selama ini memang menjadikan Dirham sebagai pelampiasannya. Satyo akan menyiksanya saat pria itu sedang ada masalah atau sedang tidak mood. Pria itu menjadikan Dirham sebagai pelampiasan amarahnya.


"Kali ini apalagi yang kamu lakukan padanya. Kapan kamu akan puas?" tanya Dirham dengan sisa keberaniannya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin dia cepat-cepat menandatangani surat pengalihan harta. Setelah itu aku akan melepaskanmu, dan kalian bisa berkumpul kembali. Oh ya, aku membawa kabar gembira untukmu. Saat ini putrimu sudah bersatu dengan ibunya," ujar Satyo.

__ADS_1


"Putriku?" Dirham terkejut.


Pasalnya yang Dirham tahu, kabar tentang keberadaan putrinya yang dia tahu terakhir kali, saat putrinya itu di titipkan di panti asuhan 26 tahun yang lalu.


Satyo terkekeh melihat keterkejutan di mata Dirham.


"Maaf. Sama sepertimu, aku juga terkejut kalau putrimu itu bisa bersatu dengan wanitamu itu. Kali ini aku akan membiarkan kalian bersama, tapi setelah aku berhasil menguasai semuanya." Jawab Satyo.


"Sekarang kita hanya tinggal menunggu keputusan yang akan Lilian ambil. Kalau dia perduli padamu, tentu dia akan menyerahkan semuanya padaku sebagai syarat pembebasanmu."


"Dasar manusia licik kamu. Kamu akan menerima hukuman dari Tuhan, karena sudah bermain-main dengan nasib seseorang,"


"Aku tidak perduli dengan ocehanmu. Jangan coba-coba memprovokasiku, karena aku ini bukan orang penyabar. Aku bisa mencambukmu hingga kamu mati,"


"Kalau begitu kamu lakukan saja. Degan begitu usahamu selama ini akan sia-sia, dan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Dirham.


"Huu...daripada aku meladeni ocehanmu, mending aku bersenang-senang dengan wadon. Kamu sudah lama tidak merasakannya bukan? mungkin airmu itu sudah mengkristal," ujar Satyo sembari terkekeh dan kemudian pergi.


Saat Satyo sudah pergi, tangis Dirhampun pecah. Dirinya benar-benar merindukan sosok Lilian dan juga ingin melihat putri kandungnya.


*****


Ezra mengakhiri panggilan telpon, setelah banyak memberikan intruksi pada anak buahnya.


"Sekarang kita mau kemana bang?" tanya Marinka.


"Kita akan menemani bunda untuk membuat laporan pada polisi."


"Bunda masih tidak enak badan. Kenapa tidak kita saja yang membuat laporan?" tanya Marinka.


"Akan lebih baik kalau bunda sendiri yang melaporkan semuanya. Karena hanya bunda yang tahu detil kejadiannya. Dengan bunda melaporkan semuanya, maka pria gila itu bisa terkena pasal berlapis." Jawab Ezra.


"Baiklah aku akan memberitahu bunda kalau begitu,"


"Bunda setuju, dan bunda akan ikut kalian," ucap Lilian yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Ezra dan Marinka.


"Bunda?" Marinka menghampiri Lilian yang tengah menjalankan kursi rodanya sendiri.


"Kapan kita akan ke kantor polisi?" tanya Lilian.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik." Jawab Ezra.


"Kalau begitu sekarang saja. Bunda tidak mau mengambil resiko membiarkan ayah kalian mengalami penyiksaan seperti ini," ujar Lilian.


"Baiklah ayo kita berangkat," ucap Ezra.


"Biar aku masuk kedalam dulu, aku akan memberitahu Mario agar menjaga anak-anak untuk sementara," ujar Marinka yang kemudian masuk kedalam.


"Bunda tenang saja. Aku juga sudah mengerahkan orang-orangku untuk mencari keberadaan ayah lebih cepat," ujar Ezra.


"Apa itu tidak terlalu beresiko? bunda takut ketahuan Satyo, dan malah membuat ayahmu lebih di siksa lagi," tanya Lilian.


"Dia tidak akan memiliki kesempatan itu, karena polisi akan segera menangkapnya setelah kita membuat laporan ini." Jawab Ezra.


"Baiklah. Bunda percayakan semuanya sama kamu," ujar Lilian.


Setelah Marinka kembali, merekapun bergegas ke kantor polisi. Lilian kemudian menceritakan semua yang dia alami, tanpa tertinggal cerita sedikitpun. Polisipun mencatat semua pernyataan yang Lilian berikan.


"Kami harap para polisi segera bergerak menangkap orang ini pak. Dia ini penjahat yang sangat berbahaya," ujar Ezra setelah Lilian selesai membuat laporan.


"Bapak tenang saja. Kami akan segera menangkap orang ini, dan membantu kalian menemukan keberadaan sandera." Jawab Polisi.


"Terima kasih atas kerja samanya pak," ujar Ezra.


"Sama-Sama." polisi itu menjabat tangan Ezra yang terlulur.


Setelah dari kantor polisi, merekapun bergegas kembali kerumah karena Lilian harus kembali beristirahat.


Sesuai perkataan polisi, mereka segera bergerak menangkap Satyo meskipun sedikit sulit. Karena Satyo memiliki banyak istri, jadi keberadaanya agak sukar di temukan. Satyo ditemukan keberadaannya dirumah istrinya yang ke 4, pria itupun diringkus dan menjadi pusat perhatian warga setempat.


"Saya tidak terima ini. Kalian menangkap tanpa bukti yang jelas," Satyo berontak saat akan digelandang ke mobil tahanan.


"Tentu saja ada bukti. Kalau tidak mana mungkin kami bisa menangkap anda sembarangan." Jawab salah satu polisi.


"Kalau begitu perlihatkan padaku buktinya," ucap Satyo.


"Itu akan kita buktikan di pengadilan. Sekarang lebih baik kamu menurut saja, dan jangan berusaha buat kabur," ujar Polisi.


Satyo terpaksa menurut, hingga diapun tidak sempat memberi perintah pada anak buahnya, karena hp nya juga disita oleh pihak kepolisian.

__ADS_1


TO BE CONTINUE....🤗🙏


__ADS_2