Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.13. Konspirasi


__ADS_3

Hari ini hari bahagia bagi Galang dan Karin, Pasangan itu resmi menikah kembali secara Sah dan sudah mendapatkan sertifikat serta buku nikah. Senyum semringah selalu terbit dari keduanya, begitu juga dengan Marinka. Tidak ada prasangka apapun atau ada rasa iri dihati wanita itu, baginya janji Galang untuk menikahinya kembali sudah lebih dari cukup.


"Mama heran, apa wanita itu bodohnya benar-benar mengakar? bagaimana dia bisa memasang senyum seperti itu saat mantan suaminya menikah kembali dan merebut posisinya," bisik Paulin ditelinga Karin.


"Itu karena Galang berjanji akan menikahi dia kembali secara sirih. Wanita itu tidak mempermasalahkan statusnya, yang terpenting dia bisa berada didekat Galang. Bodohnya kebangetan kan?"


"Lalu apa kamu menyetujui kalau mereka menikah lagi?"


"Aku berencana akan memanfaatkannya.


"Maksudmu?"


"Saat aku hamil, aku bisa menyuruhnya ini dan itu. Saat anakku lahir, dia bisa menjadi babysiter anakku."


"Jangan bodoh. Suamimu tidak kekurangan uang hanya sekedar menyewa orang untuk disuruh-suruh, dan tidak kekurangan uang untuk menyewa babysiter."


"Jadi maksud Mama aku harus bagaimana?"


"Sudah susah payah kamu menyingkirkan dia dari status istri Sah, sekarang kamu malah ingin membiarkan dia menjadi duri dalam pernikahanmu."


"Jadi?"


"Singkirkan dia untuk selamanya."


"Ap-apa? apa aku harus melakukan itu?"


"Matipun tidak akan ada yang menangisinya. Hidup juga jadi orang bodoh dan tidak berguna. Lebih baik dia menyusul kedua orang tuanya yang mungkin sudah lebih dulu pergi dari dunia ini,"


"Bagaimana cara kita menyingkirkannya tanpa ada jejak?"


Paulin menyeringai, dan membisikkan sesuatu ditelinga putrinya, sehingga Karin tertawa karena bahagia.


"Apa yang Mama dan Karin bicarakan? terdengar serius sekali," ucap Galang yang datang menghampiri.


"Ini. Mama cuma membicarakan tentang calon anak kalian, Mama sangat berharap cucu pertama Mama adalah perempuan."


"Iya Mama bertentangan denganmu yang menginginkan anak laki-laki."


Galang terkekeh mendengar ucapan istri dan mertuanya itu.


"Itu hanya sebuah keinginan Ma. Bagiku perempuan dan laki-laki sama saja. Yang penting anakku sehat selamat."


"Ya. Memang itu yang kita harapkan."


"Mama kesana dulu ya? pengen icip-icip disert," ucap Paulin.


"Ya Ma." Jawab Karin dan Galang bersamaan.


Paulin melangkah pergi menuju meja disert yang disediakan untuk acara itu.


"Sayang kamu duduk ya? jangan terlalu lelah, kasihan bayi kita."


"Iya Mas."


Galang membuat Karin duduk kembali diatas sebuah kursi empuk. Marinka perlahan menghampiri pasangan yang baru menikah beberapa waktu yang lalu.


"Mas, Karin, sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian."

__ADS_1


"Makasih kak."


"Apa kamu sudah makan? nanti biar kakak ambilkan,"


"Aku mau kue aja kak."


"Baiklah. Kamu tunggu disini ya? Mas Galang mau diambilin kue juga?"


"Tidak perlu, aku masih kenyang."


"Baiklah, aku kesana sebentar."


Marinka pergi menuju meja kue dan mengambilnya untuk Karin. Perlahan Paulin mendekati Marinka yang sedang memilih-milih kue yang enak untuk wanita hamil itu.


"Aku jadi heran, kenapa urat malumu itu tidak berfungsi dengan baik,"


Marinka menoleh keasal suara, yang begitu dalam menghinanya.


"Seharusnya kamu itu tidak usah hadir dipernikahan mantan suamimu, seharusnya kamu pergi saja yang jauh, apa kamu itu bodoh?"


"Itu bukan urusan anda. Lagipula aku dan Mas Galang berencana akan menikah kembali."


"Heh...wanita bodoh. Kamu akan menyesal kalau terlalu percaya dengan mulut dan janji manis laki-laki."


"Apa Maksud anda?"


"Tidak lama lagi kamu akan mengerti dengan semua yang aku katakan."


Paulin segera pergi dari hadapan Marinka. Baginya sudah cukup mendoktrin fikiran Wanita itu, sehingga Marinka jadi selalu memikirkannya.


"Apa yang dia katakan? apa maksudnya Mas Galang hanya ingin membohongiku? itu tidak mungkin kan?"


Marinka menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir semua fikiran buruk tentang mantan suaminya itu.


"Karin. ini kue untukmu," ujar Marinka sembari menyodorkan sepiring kecil kue, dan segelas jus.


"Makasih kak."


"Emm."


Setelah melewati hari yang panjang, Marinka akhirnya tertidur nyenyak didalam kamarnya. Meskipun tidak menggelar resepsi pernikahan dengan mewah, tapi cukup menguras tenaganya. Karena hampir semua kebutuhan acara tersebut, Marinka yang menghandle semuanya. Jadilah wanita itu tertidur pulas karena kelelahan.


*****


Keesokkan harinya...


"Mas, kapan rencana pernikahan siri kita akan dilaksanakan?"


Marinka bertanya saat mereka sedang sarapan bersama dimeja makan.


"Akan aku fikirkan waktu yang pas. Yang pasti dalam waktu dekat ini." Jawab Galang.


"Baiklah Mas, aku menurut saja."


"Kak. Apa kakak ada rencana mau pergi kepasar hari ini?" tanya Karin.


"Kenapa?

__ADS_1


"Aku sangat ingin makan ikan pepes pedas buatan kakak."


"Kamu menginginkan itu?"


"Ya. Apa kakak mau membuatkannya untukku?"


"Aku akan lihat kulkas, ada ikan apa yang tersisa disana."


Marinka mengecek isi kulkas dan ternyata persediaan ikan memang sudah habis.


"Ikannya tidak ada. Jadi perlu dibeli dulu dipasar. Ikan apa yang kamu inginkan?"


"Ikan Patin."


"Baiklah, setelah sarapan kakak akan pergi kepasar membeli bahan-bahannya. Apa adalagi yang ingin kamu makan?"


"Tidak. Itu saja sudah cukup."


"Makasih sudah mau menuruti keinginan Karin, aku berhutang padamu," ujar Galang.


"Kamu bicara apa Mas. Karin adalah adikku, sudah sepatutnya aku menuruti semua permintaanya."


"Baiklah aku selesai. Aku berangkat kantor dulu ya?"


"Hati-Hati sayang," ujar Karin.


"Hati-Hati Mas," Marinka menimpali.


Marinka dan Karin melambaikan tangannya kearah mobil Galang yang melaju meninggalkan kediamannya.


"Kakak kekamar dulu mau ambil tas,"


"Kakak mau langsung kepasar?"


"Ya. Mumpung masih pagi, ikannya pasti masih segar."


"Baiklah hati-hati ya kak."


"Emm."


Marinka pergi dengan hati bahagia, karena merasa hubungannya dengan Galang dan Karin sudah berangsur membaik. Namun rasa bahagia itu mendadak berubah jadi kecemasan, saat dua buah mobil jip mengapit mobil taksi yang ditumpanginya dan menggedor pintu mobil dengan kasar.


"Bukak!" hardik salah seorang preman yang bertato naga dilengan kirinya.


Supir taksi yang ketakutan langsung membuka pintu belakang yang diinginkan para preman itu.


"Kalian mau apa? aku akan memberikan uang berapapun yang kalian mau," ujar Marinka dengan bibir bergetar.


"Sebaiknya menurut saja. Ada seseorang yang menginginkan nyawamu."


"Kalian pasti salah orang, aku ini cuma orang biasa. Jadi tidak mungkin ada orang yang menginginkan nyawaku yang tidak berharga."


"Wanita ini terlalu cerwet, seret saja keluar!"


"Kamu cepat pergi dan jangan coba-coba lapor polisi,"


"Baik tuan." Sang supir taksi langsung tancap gas tanpa perduli dengan keselamatan Marika.

__ADS_1


Marinka kemudian dibawa kedalam sebuah mobil jip, dan mata wanita itu kemudian ditutup dengan sebuah kain hitam. Meski Marinka menjerit dan memohon, pada penjahat itu sama sekali tidak merasa iba padanya. bagi mereka, tugas yang diberikan oleh tuannya jauh lebih penting, dan setelah tugas mereka selesai, mereka bisa menikmati hasil bayaran yang sangat besar.


__ADS_2