Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.245. Tugas


__ADS_3

"Gadlyn pasti senang melihat om sudah mau bicara," ujar Rakha.


"Gantikan aku menjaganya. Aku percayakan semuanya padamu. Jika kamu memang mencintainya, tolong bahagiakan dia." Galang berbicara sembari menatap Rakha dengan dalam.


"Menjaga dia itu pasti akan aku lakukan. Tapi tugas mengantarkan dia ke gerbang kebahagian, itu masih tanggung jawab om. Gadlyn masih membutuhkan om. Apa om tidak merindukan putri om sendiri?" tanya Rakha.


"Aku sudah menjadi orang tua yang gagal. Aku gagal dalam segala hal. Aku bahkan gagal melindungi dia dari bullyan orang lain." Jawab Galang.


"Rakha berjanjilah. Jangan katakan apapun tentang om. om sudah memutuskan bahwa disinilah rumah om, hingga akhir hayat nanti," sambung Galang.


"Aku pikir tidak ada orang tua yang egois, saat menyangkut tentang kebahagiaan anaknya. Ternyata aku sangat keliru. Om masih saja berkutat dimasa lalu, dan masih saja memikirkan urusan dunia." Jawwb Rakha.


"Om malu. Om malu pada Gadlyn. Dia pasti melewati hari-hari yang tidak mudah. Orang-Orang pasti banyak yang merendahkannya, karena memiliki orang tua kriminal dan orang tua yang berada di rumah sakit jiwa," tubuh Galang bergetar, karena pria itu sedang terisak saat ini.


"Aku tidak akan mengambil tanggung jawab om, sebelum om menyerahkan tanggung jawab itu secara resmi," ujar Rakha.


"Apa maksudmu?" tanya Galang sembari menyeka air matanya.


"Disaat aku menikahinya, dihari om menjabat tanganku, maka di hari itu pula tanggung jawab om berpindah ke pundakku. Tapi sampai di hari itu tiba, om harus lebih baik dari sekarang. Buat putrimu bangga. Buat putrimu tidak perlu diam-diam menangis karena selalu merindukanmu." Jawab Rakha.


"Rakha. Apa orang tuamu tahu kamu sedang berhubungan dengannya?" tanya Galang memastikan.


"Tidak." Jawab Rakha.


"Kalau kamu tidak serius dengan Gadlyn, lebih baik akhiri saja hubungan kalian. Mumpung perasaannya belum terlalu dalam padamu. Kamu sendiri yang bilang, kalau Gadlyn sudah banyak menderita selama ini. Jangan tambah penderitaannya, dengan membunuh semua harapannya padamu," ujar Galang.


"Orang tuaku belum tahu, bukan berarti aku tidak ingin memberitahu mereka. Kami baru berpacaran 3 hari, tentu masih terlalu dini untuk membahas masalah pernikahan."


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintainya?" tanya Galang.


"Ya. Yang jelas kami saling mencintai." Jawab Rakha.


"Aku harap ucapanmu itu adalah benar. Om harap ini bukan aksi dari buntut yang panjang dimasa lalu. Kalau ada unsur seperti itu, lebih baik lepaskan saja putriku. Kasihani dia, biarkan om yang menanggung dosa di masa lalu."


"Om terlalu banyak berpikir. Saat ini aku tidak bisa membuktikan apapun kalau hanya sekedar dimulut saja. Tunggulah sampai nanti saatnya kami menikah, om akan melihat niatku yang sesungguhnya." Jawab Rakha.

__ADS_1


"Om. Semua manusia berhak mendapat kesempatan. Om diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membahagiakan Gadlyn disaat pernikahannya nanti. Om harus semangat, jangan buat Gadlyn bersedih dengan menolaknya secara diam-diam," sambung Rakha.


"Sayang. Ini minumnya," Gadlyn muncul tiba-tiba dengan mebawa sebotol air mineral ditangannya.


Galang bergegas menyeka air matanya dan bersikap seperti saat pertama Gadlyn melihatnya.


"Apa kamu mengajak ngobrol papaku?" tanya Gadlyn.


Rakha melirik kearah Galang, namun pria parubaya itu tidak menunjukkan respon apapun.


"Sedikit." Jawab Rakha.


"Maafin papaku ya? papa masih sakit, jadi belum bisa merespon perkataanmu. Tapi aku percaya, saat aku menikah nanti, papa pasti yang akan menajadi wali nikahku," ucap Gadlyn.


Sungguh pilu hati Galang saat mendengar permintaan sederhana putrinya itu. Galang sekuat hati menahan agar tangisnya tidak pecah.


Yah.. Galang memang sudah sembuh sekitar 1 tahun yang lalu. Tapi Galang menolak ingin berinteraksi kembali dengan dunia luar. Masa lalu yang buruk, ditambah dengan kemiskinannya, dia memutuskan untuk tetap berpura-pura menjadi orang sakit.


"Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan dengan papamu?" tanya Rakha.


"Kalau begitu kita pulang sekarang ya? jatuh dari pesawat harus membuatmu banyak beristirahat," ucap Rakha.


Mendengar ucapan Rakha, tentu saja membuat Galang terkejut. Pasalnya dia tidak tahu apa-apa tentang putrinya selama ini. Rakha melirik Galang, dapat pria itu lihat ekspresi wajah Galang sudah berubah.


"Baiklah. Pa, Gadlyn pulang dulu ya? papa cepat sembuh. Gadlyn sayang papa," Gadlyn mencium pipi kanan dan pipi kiri Galang.


"Kamu duluan sebentar. Aku mau pamitan dulu sama papa kamu," ujar Rakha.


"Emm." Gadlyn mengangguk.


Gadlyn keluar dari ruangan itu, sementara Rakha mendekat ke arah Galang.


"Apa maksudmu Gadlyn jatuh dari pesawat?" tanya Galang.


"Itulah fungsinya kehadiran orang tua disisi anaknya. Agar om tahu apa yang terjadi dengan putrimu. Beberapa hari yang lalu Gadlyn mengalami kecelakaan pesawat yang mengangkut 102 orang penumpang. Apa om tahu ada berapa orang yang selamat?"

__ADS_1


"Yah...yang selamat hanya 2 orang, salah satunya Gadlyn. Coba om bayangkan, kalau seandainya Gadlyn tidak selamat, Maka om hanya akan mengenang namanya saja," sambung Rakha.


Galang mengusap wajahnya beberapa kali. Dia tidak bisa membayangkan kalau keturunannya harus musnah dan berakhir pada dirinya saja.


"Maka dari itu, jangan memikirkan diri sendiri lagi. Kasihan Gadlyn puluhan tahun harus berjuang sendiri. Sudah waktunya om menebus waktu yang hilang bersama dia selama ini. Itupun kalau om tidak ingin menyesal," ujar Rakha.


Rakha kemudian meninggalkan Galang yang masih terpaku sendiri. Pikiran pria parubaya itu jadi berkecamuk saat ini.


"Maafkan papa Gadlyn. Maafkan papa. Hikz ...." Galang terisak.


"Senang sudah bertemu papamu?" tanya Rakha.


"Emm. Terima kasih sudah menemaniku," ujar Gadlyn.


"Apa kamu tidak malu punya papa seperti dia?" tanya Rakha yang ingin mengetahui isi hati Gadlyn.


"Dia memang bukan papa sempurna seperti papanya orang lain. Tapi aku terlahir karena ada dia bukan? tidak seorangpun bisa memilih kita ini mau terlahir dari rahim siapa, keturunan siapa. Kalau bisa memilih, tentu kita akan memilih terlahir dari rahim orang yang mendekati sempurna."


"Tapi tidak denganku. Meski mamaku seorang residivis, dan papaku orang yang keterbelakangan,


mental. Aku tetap memilih mereka sebagai orang tuaku. Mungkin aku di uji miskin, agar aku tidak bersikap sombong seperti seseorang," sindir Gadlyn.


"Seseorang? siapa yang kamu maksud?" tanya Rakha.


"Siapa ya?" Gadlyn meletakkan telunjuk di dagu, tapi matanya sembari melirik kearah Rakha.


"Siapa ya...siapa ya...tapi matamu melirik keorang disampingmu." Jawab Rakha.


"Tapi aku nggak nyebut nama loh," ujar Gadlyn sembari menutup mulut karena menahan tawa.


"Meski nggak nyebut nama, tapi lirikkan matamu sudah mewakili semuanya." Jawab Rakha.


"Lagian emangnya aku separah itu?" sambung Rakha.


"Sumpah parah banget yank. Kamu itu versi Fir'aun dimasa kini." Jawab Gadlyn yang membuat mata Rakha jadi terbelalak lebar.

__ADS_1


Sementara itu Gadlyn jadi tertawa keras, saat melihat ekspresi Rakha yang mirip ular ketelan sendok.


__ADS_2