
"Kamu nggak jadi kesini?" tanya Moza di seberang telpon.
"Nggak. Aku wawancara mendadak di sebuah rumah sakit." Jawab Anser.
"Sungguh?" Moza antusias.
"Ya. Besok aku mulai bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di kota Paris." Jawab Anser dengan bangga.
"Selamat ya Ans. Aku jadi tidak sabar buat lulus. Pengen mengaplikasikan ilmu secepatnya. Lalu bagaimana rencana kuliah spesialismu?" tanya Moza.
"Bisa sambil jalan nanti." Jawab Anser.
"Jadi kapan kamu mau kesini?" tanya Moza.
"Kenapa kamu yang jadi lebih bersemangat menyuruhku kesana? andai saja itu Meiza," ujar Anser.
"Oh gitu. Hanya karena aku temanmu, kamu nggak perduli dengan permintaanku?"
"Nggak juga. Lagian nanggung mau kesana. Selain karena aku baru diterima bekerja, aku juga ingin menghadiri wisuda kalian nanti." Jawab Anser.
"Benar juga. Ya sudah sampai ketemu wisuda nanti ya?"
"Oke. Aku tutup dulu telponnya ya?"
"Sippp." Jawab Moza.
Moza terkejut, saat tiba-tiba Meiza sudah berdiri dihadapannya yang tengah berbaring.
"Kamu ngagetin aku tahu nggak?" ucap Moza sembari mengelus dadanya.
"Ya kagetlah. Lah kamu telponan terus dengan calon kakak ipar kamu." Jawab Meiza ketus.
Moza mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Meiza yang sama sekali tidak merasa bersalah. Padahal dia selalu menutupi kesalahannya selama ini.
"Aku tidak mau bertengkar denganmu. Kamu tentu tahu apa yang aku bicarakan dengan Anser. Kalau kamu tidak menghindarinya, dia tidak akan mungkin menelponku. Jadi jangan mencari-cari kesalahan orang lain," ujar Moza sembari beranjak dari tempat tidur.
"Buku sialan ini cukup memberitahuku segalanya," ucap Meiza sembari melempar buku bersampul coklat. Buku yang biasa Moza gunakan untuk menceritakan apapun disana.
Moza melirik buku yang Meiza lemparkan. Dan meraihnya untuk dia genggam. Moza kemudian berbalik badan dan kemudian melangkah perlahan mendekati Meiza.
"Beruntung karena Anser tergila-gila padamu. Pada kecantikanmu. Dia menyukaimu yang feminim, bukan aku yang tomboy. Bagiku tidak masalah cintaku bertepuk sebelah tangan. Karena orang sebaik dan setulus Ans yang mendapatkannya juga saudara kembarku."
"Meiza. Kalau kamu memang tidak menginginkan dia hingga akhir, maka lepaskan dia dari sekarang. Aku sudah menyuruhmu berulang kali agar segera memberitahu perasaanmu yang sebenarnya. Mungkin dia akan kecewa awalnya, tapi aku yakin lambat laun dia akan mengerti," sambung Moza.
"Wah...sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin memungut kekasih kembaranmu," ujar Meiza.
"Aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa kamu berpikir tentangku seperti itu?" tanya Moza.
"Sudah ku bilang. Buku itu sudah menjawab segalanya. Moza, begini saja. Maukah kamu bertaruh gila-gilaan denganku?" tanya Meiza.
"Apa maksudmu?" tanya Moza.
__ADS_1
"Saat di hari pernikahan kami nanti, apa kamu bisa merebut Ans dariku? apa kamu bisa merubah perasaannya terhadapku? saat hari pernikahan nanti, aku akan kabur. Dan aku jamin, kamu tidak akan bisa mendapatkannya, meskipun aku sudah mencampakannya." Jawab Meiza.
Plaaakkkkkk
Moza menampar Meiza dengan cukup keras. Dapat Meiza lihat, ada kilatan marah dimata saudara kembarannya itu.
"Kamu berubah Meiza. Apa dokter Ilyas yang mengajarimu berpikiran picik. Apa salah Ans hingga kamu menyakitinya dan menganggapnya seperti sampah. Aku benar-benar malu mempunyai saudara kembar sepertimu."
"Aku akan bahas masalah ini dengan papa dan mama. Kamu tidak berpikir, tindakkanmu ini akan membuat dua keluarga bersitegang. kamu ingin membuat papa mama jantungan?" tanya Moza.
"Pengecut kamu..Kenapa harus melibatkan orang tua dalam persaingan kita?"
"Persaingan apa? aku sama sekali tidak tertarik merebut Ans darimu. Dia bahagia bersamamu, maka aku juga akan bahagia. Meiza aku mohon jangan sakiti Ans."
"Aku tidak menyangka punya saudara kembar yang mengerikan sepertimu. Aku pikir kamu tulus membantuku menutupi semuanya dari Ans. Ternyata kamu punya rencana lain," ujar Meiza.
"Rencana lain apa sih? maksud kamu aku mau merebut Ans dari kamu? nggak akan Mei, kamu pegang kata-kataku." Jawab Moza.
"Hah...sudalah. Aku juga malas bertengkar denganmu. Lebih baik aku tidur saja," ujar Meiza.
"Telponlah Anser walau hanya sekali. Minimal kamu menelponnya karena menghargai hubungan keluarga atau sebagai teman. Ans tidak punya salah padamu, jadi kamu jangan menyakiti dia," ucap Moza.
"Kamu saja yang telponan sama dia. Toh meski dia telponan denganmu, yang dia cintai tetap aku." Jawab Meiza.
"Meiza kenapa kamu berubah? apa dokter Ilyas membawa pengaruh buruk buatmu? aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ans saat tahu kamu memiliki hubungan dengan pria lain," batin Moza.
*****
Hoekkk
Hoekkk
"Hikz..." Vania terisak.
"Masih mau muntah lagi?" tanya Yugie sembari memijat tengkuk Vania.
"Sudah tidak ada lagi yang mau di muntahkan. Tapi perutku masih terasa ada yang mengaduk. Hikz..."
"Muntahlah kalau mau muntah. Aku akan menungguimu," ucap Yugie.
"Kamu nggak merasa jijik?" tanya Vania.
"Jijik apa. Kamu adalah istriku. Terlebih sedang mengandung buah cinta kita. Perhatianku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa lelah, susahnya kamu yang berjuang mengandung anak kita." Jawab Yugie.
"Lemes banget ini," ujar Vania.
"Mau peluk?" tanya Yugie yang langsung diangguki oleh Vania.
Yugie menggendong Vania, dan membaringkannya diatas tempat tidur.
"Terima kasih sudah bersabar menghadapiku yang manja," ujar Vania sembari meraih kedua sisi wajah Yugie.
__ADS_1
"Terima kasih juga sudah susah payah mengandung buah cinta kita," ucap Yugie.
"Itu karena aku sangat mencintaimu," ujar Vania.
"Aku juga." Jawab Yugie.
Cup
Yugie mencium bibir Vania sekilas, dan segera di dorong oleh Vania.
"Kenapa?" tanya Yugie.
"Jorok ih...kan mulutku habis muntah," ucap Vania.
"Jangankan muntah, lah tempat sarangnya kuman saja ku lu*at habis." Jawab Yugie yang membuat Vania jadi merona.
"Mau makan buah?" tanya Yugie.
"Apel." Jawab Vania.
"Tunggulah. Biar aku suruh bibik mengupas apel dan membuatkan susu untukmu," ujar Yugie.
"Nggak mau susu. Nanti muntah lagi," ucap Vania.
"Jangan menolak ya sayang? kasihan anak kita nanti kekurangan asupan nutrisi," bujuk Yugue.
"Iya." Jawab Vania dengan bibir mengerucut.
Cup
Yugie mencium bibir Vania yang cemberut, hingga senyum Vania kembali mengembang.
"Jangan cemberut lagi. Nanti anak kita suka cemberut juga," ucap Yugie asal.
"Iya.nggak cemberut lagi kok," ujar Vania sembari memperlihatkan gigi-giginya yang putih bersih.
Yugie menarik hidung mancung Vania dan kemudian pergi turun kebawah untuk menyuruh pelayan mengupas buah dan membuat susu buat Vania. Yugie dan Vania kini memang sudah pindah kerumah baru mereka. Rumah yang Yugie bangun dari hasil berbisnis. Rumah yang dia bangun untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak.
*****
"Meiza. Ayo kita menikah setelah kamu lulus kuliah nanti," ujar dokter Ilyas.
"Me-Menikah?" tanya Meiza.
"Ya. Kenapa? bukankah kita saling mencintai? aku sudah cukup berumur buat menikah. Aku tahu usia kita terpaut lumayan cukup jauh, tapi aku benar-benar serius denganmu. Kamu juga seriuskan?"
"Tentu saja serius. Tapi aku masih punya misi yang belum ku selesaikan? aku kan sudah menceritakan semuanya padamu. Seharusnya kamu bantu aku juga menyelesaikannya." Jawab Meiza.
"Saat wisuda nanti dia akan datang," sambung Meiza.
Dokter Ilyas terdiam. Dia tahu posisinya saat ini salah, karena sudah berada diantara Meiza dan Anser. Tapi dia juga merasa tidak bersalah, karena dia tidak tahu dimana cintanya akan berlabuh setelah terlalu lama terjebak dalam patah hati.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏