
"Kak Ando kemana?" tanya Marinka setelah selesai memberikan asi pada anak-anaknya.
"Dia pergi." Jawab Ezra yang sudah duduk berkumpul bersama Yuda dan Sera.
"Bagaimana ini bang? dia pasti pergi dalam keadaan marah bukan? adek jadi nggak enak hati sama dia," ujar Marinka.
"Biarkan dia menenangkan diri dulu, setelah suasana hatinya membaik, baru ajak bicara lagi." Jawab Ezra.
"Dia pasti sedang berada ditempat biasa," ujar Yuda.
"Tempat biasa? tempat apa itu?" tanya Sera.
"Kalau sedang gundah atau sedih, Ando biasanya pergi ke pantai dan teriak-teriak disana." Jawab Ezra.
"Pantai? pantai mana?" tanya Sera.
"Sepertinya orang yang mungkin bisa menghibur kak Ando cuma kamu Ra," ucap Marinka.
"Kenapa si Sera?" tanya Yuda.
"Soalnya Sera suka sama kak Ando." Jawab Marinka.
"Apa?" ucap Yuda dan Ezra bersamaan.
"Ada benarnya juga yang adek bilang, perkataan orang yang mencintai kita, biasanya jauh lebih tulus." ujar Ezra.
"Kamu susulin kak Ando gih Ra," ujar Marinka.
"Kamu kenapa harus membuka rahasiaku sih Rin, aku kan jadi malu," ucap Sera.
"Nggak usaha malu. Siapa tahu ada keajaiban," tutur Yuda.
Dengan langkah gontai Sera pun pergi untuk menghibur Ando. Sebenarnya Sera sama sekali tidak bersemangat untuk menghibur pria yang dia cintai itu, karena Sera tahu semua akan berakhir sia-sia.
"Anak kita sudah tidur?" tanya Ezra.
"Sudah bang." Jawab Marinka.
"Kamu baik-baik disini dulu, abang mau pergi sama Yuda buat nyari apartemen buat adek dan anak-anak,"
"Apa sebaiknya tidak usah bang?" tanya Marinka.
"Pokoknya abang nggak mau kamu tinggal disini sama anak-anak. Lagipula disini ruangannya sempit, pasti nggak leluasa buat anak-anak bergerak,"
"Alasan aja, anak-anak mau bergerak kemana? orang masih bayi juga," batin Yuda.
"Lagipula nggak rugi juga membeli apartement itu, abang akan sering pergi untuk melakukan perjalanan bisnis kemari. Jadi tidak ada salahnya punya tempat pribadi."
Marinka menghela napas panjang, dia tahu bukan itu tujuan Ezra sebenarnya. Marinka menatap kearah Ezra, pria itu menghela nafas.
"Iya, abang nggak mau adek terlalu dekat dengan Ando. Abang nggak bisa mempercayakan adek sama dia, lebih baik adek fokus kuliah dan mengurus anak. Urusan uang biar abang yang tangani."
"Jadi dengan kata lain abang mau nyuruh adek buat berhenti kerja disini?"
"Ya. Lagipula buat apa kamu kerja dek, abang masih sanggup nafkahin kamu."
"Nggak bang. Adek mau tetap bekerja disini, ini bukan masalah uang, tapi adek pengen cari pengalaman bisnis."
"Hah...baiklah, tapi pada intinya abang nggak ingin kamu tinggal disini lagi,"
__ADS_1
"Iya." Jawab Marinka lesu.
"Ya sudah, abang pergi dulu ya?"
"Emm."Marinka mengangguk.
Cup
Ezra mencium puncak kepala Marinka, hingga wanita itu jadi tersipu malu karena ada Yuda disana.
"Abang..." protes Marinka.
"Kenapa? si Yuda? dia bahkan sudah bisa lebih dari sekedar ciuman,"
"Maksud abang apa?"
"Dia sudah menikah dengan serketarisku. Dia kemari karena ingin bulan madu." Jawab Ezra.
"Benarkah? kalau begitu selamat ya kak, aku do'akan hubungan kakak dan kakak ipar langgeng selamanya."
"Amin, makasih Rin."
"Kamu malah do'ain dia, do'a untuk hubungan kita gimana?" tanya Ezra.
"Abang harus berjuang dulu, kalau udah waras baru bisa langgeng juga."
"Iya Rin. Jangan mau nerima gitu aja, dapat barang bekas ini." Yuda mengompori.
"Yud. Jangan manasin dia," ujar Ezra.
"Nggak dipanasin juga udah tahu bang.La wong emang sering tidur sama kekasihmu itu."
"Mana adek tahu bang, kan adek nggak pernah ngintip. Lagian apa yang dikerjain sepasang kekasih yang berada didalam satu kamar sepanjang malam?"
"Benar itu Rin," timpal Yuda.
"Ya tapi benaran nggak melakukan hal lebih,"
Marinka menaikkan alisnya, tanda tidak percaya.
"Ya...ya...cuma ci-ciuman," ujar Ezra gugup.
Marinka mengerutkan dahinya, Ezra menghela nafas.
"Ya...abang akui abang hampir melakukannya, tapi nggak jadi."
"Maksudnya nggak jadi?" tanya Marinka bingung.
Yuda sekuat mungkin menahan tawa, karena saat ini Ezra sedang dalam masalah besar.
"Yud," Ezra meminta pertolongan.
"Maaf Zra, nggak ikut-ikut kalau yang ini." ujar Yuda.
"Jadi abang beneran udah pernah nyelup dia?" tanya Marinka.
"Mampus lo Zra," batin Yuda.
"5 detik." Jawab Ezra asal.
__ADS_1
"Apanya yang 5 detik? oh jadi maksud abang dia selingkuh karena udah nggak perawan lagi? jadi abang ninggalin dia karena itu? kalau saat itu dia masih perawan, keterusan kan bang?"
"Ugggghhh...abang benar-benar ya..." Marinka merajuk dan kembali masuk ke kamar.
Ezra bergegas menyusul, dia nggak mau sampai hilang kesempatan karena ulahnya itu.
"Dek. Abang mohon jangan marah, abang akui abang salah. Jangan marah ya?"
Ezra meraih tangan Marinka dan pandangan mata mereka kembali bertemu.
"Dia hanya masa laluku sekarang. Andai waktu bisa diputar kembali, abang juga nggak mau sama dia. Abang sudah tahu semua kebusukkannya, dan gara-gara dia kita jadi berpisah."
"Tidak usah menyalahkan orang lain atas kesalahan abang sendiri. Adek nggak tuli dan pikun. Adek masih ingat abang pernah bilang kalau abang sangat mencintai dia."
"Ya abang akui itu. Tapi saat ini cuma ada kebencian untuknya. Abang juga sudah memberinya pelajaran. Pokoknya abang nggak mau gara-gara bahas masalah dia, adek jadi berubah pikiran buat ngasih kesempatan untuk abang."
"Abang tenang saja. Kesempatan itu masih ada, tapi nggak tahu berhasil apa tidaknya."
Wajah Ezra berubah jadi mendung, dia tidak menyangka efek dari perbuatannya dimasa lalu akan memberikan dampak yang begitu mengerikan.
"Ya sudah, abang pergi dulu ya? jaga anak-anak." ujar Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk.
Ezra dan Yuda pun pergi untuk mencari apartement untuk tempat tinggal Marinka dan anak-anaknya. Senyuman manis tidak pernah lekang dari bibir Ezra, pria itu sangat bahagia karena sudah berhasil menemukan Marinka.
Sementara itu ditempat berbeda, Sera baru tiba disebuah pantai tempat yang Ezra dan Yuda maksudkan. Mata Sera mencari kesana kemari, berharap menemukan pria yang ingin dia temui. Senyum Sera mengembang saat melihat Ando yang duduk dibibir pantai sembari menatap samudra yang luas.
"Patah hati?" sapa Sera yang kemudian langsung duduk disebelah Ando.
Ando menoleh sekilas kearah Sera, kemudian kembali menatap lautan lepas.
"Darimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Ando tanpa menoleh.
"Dari mereka." Jawab Sera sembari menatap lautan yang sama.
"Haruskah aku melepaskan dia begitu saja?"
"kakak yang paling tahu jawabannya. Hanya saja mencintai Arin terlalu membabi buta bukan solusi yang benar. Memang sakit saat melihat orang yang kita cintai lebih memilih orang lain, tapi asalkan orang itu bahagia, bukankah seharusnya kita juga ikut bahagia?"
"Tapi hatiku tidak setegar itu. Sudah sekian lama aku sendiri, saat aku menyukai seseorang lagi, tapi malah mencintai orang yang salah lagi."
"Lagi?"
"Emm." Ando mengangguk.
"Dulu aku dan Ezra pernah sekolah SMA ditempat yang sama. Aku memiliki sahabat perempuan yang aku sukai sejak lama, dia perhatian padaku dan juga lemah lembut. Aku pikir dia juga menyukaiku, tapi ternyata dia menyukai Ezra. Merekapun berpacaran,"
"Mungkin dia memang bukan jodohmu," ujar Sera.
"Sekarang, saat aku yakin Arin adalah jodohku, dia malah akan direbut oleh pria yang sama lagi."
"Kak.Terkadang kita tidak tahu, rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Aku juga tidak jauh berbeda dengan kakak. Aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, sampai saat aku bertemu seseorang yang lemah lembut dan baik hati. Aku menyadari aku sudah jatuh cinta pada pria itu, tapi sayangnya dia mencintai orang lain."
"Apa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padanya? seandainya aku tahu Ezra suaminya, tentu aku akan memendam perasaanku dan tidak akan mengungkapkan perasaanku. Jujur, aku sangat malu sekali tadi,"
"Tidak. Aku tidak pernah mengatakan perasaanku padanya. Perbedaanku dengan dia seperti langit dan bumi, terlebih dia mencintai orang lain. Kadang aku bertanya-tanya apa itu sungguh cinta atau cuma sekedar mengagumi saja. Pernahkah kakak berpikir demikian?"
Ando terdiam. Dia tidak pernah mrmikirkan kemungkinan itu. Setelah mendengar ucapan Sera, barulah pikirannya terbuka.
__ADS_1