
Rakha menanti Gadlyn keluar rumah, karena dirinya menunggu gadis itu di mobil.
"Dasar arogant. Apa salahnya turun dan berpamitan sama mama. Mentang-Mentang kaya jadi seenaknya," gerutu Gadlyn.
"Udah ah, nggak boleh ngomel-ngomel gitu, ntar cantiknya ilang loh. Udah pakai baju sebagus ini, ini baju dan sepatu bukan barang murah. Kamu harus berterima kasih sama dia," ujar Karin.
Gadlyn akhirnya keluar dengan bibir mengerucut. Gadis itu kemudian membuka pintu belakang dan duduk disana. Karena mobilnya tidak berjalan, Gadlyn jadi menoleh ke arah Rakha.
"Kenapa nggak jalan?" tanya Gadlyn.
"Kamu pikir aku ini supirmu? pindah kedepan!" ucap Rakha.
Gadlyn kemudian pindah kedepan, meski sambil bibir komat kamit karena menggerutu.
"Dia sangat cantik, dan...."
Rakha mengusir pikiran kotornya, saat melihat bagian dada Gadlyn yang tampak menonjol sempurna.
"Ehemm...kamu cantik pakai gaun itu," ujar Rakha.
Gadlyn melihat kearah Rakha, yang terlihat heran saat mendengar pujian itu datang dari mulut Rakha yang biasa bermulut sadis itu.
"Terima kasih." Jawab Gadlyn.
"Apa mantan pacarmu itu masih mengganggumu?" tanya Rakha.
"Anda kenapa bisa tahu tentang mantan pacar saya? apa tuan menyelidiki saya?" tanya Gadlyn.
"Tidak penting saya tahu darimana. Yang pasti kalau dia masih mengganggumu, kamu boleh mengadu padaku. Aku akan membuat perhitungan dengannya." Jawab Rakha.
"Tidak perlu. Dia sama sekali bukan ancaman bagiku. Lagipula hubungan kami sudah berakhir, aku tidak ingin menaruh dendam dengan siapapun. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang, dan memiliki masa depan yang cerah agar bisa membahagiakan kedua orang tuaku," ujar Gadlyn.
Rakha terdiam. Dia tahu betul kemalangan yang menimpa Gadlyn tidak luput dari andil keluarganya. Tapi itu memang harus dilakukan, agar yang bersalah bisa merenungi semua kesalahannya, meskipun Gadlyn yang harus jadi korban.
"Bagaimana keadaan papamu?" tanya Rakha.
"Buat apa dia menanyakan papa? bukankah dia selalu senang menghina kedua orang tuaku? dasar bunglon," batin Gadlyn.
"Tidak ada perubahan yang berarti. Dia masih saja diam, meskipun sudah diajak bicara." Jawab Gadlyn yang tiba-tiba berwajah mendung.
Rakha kembali diam. Dia kembali berkonsentrasi menyetir mobilnya. Selang 20 menit kemudian, merekapun tiba di sebuah hotel berbintang, tempat diadakannya pertunangan Yure dan Vania.
Ezra dan Marinka juga sudah tampak disana. Acara pertunangan itupun segera dimulai.
"Kakak cari siapa? dari tadi aku perhatikan sepertinya kakak sedang mencari keberadaan seseorang," tanya Vania.
"Tidak mencari siapa-siapa." Jawab Yure seadanya.
Namun Yure tiba-tiba meninggalkan Vania sendiri, dan pergi menghampiri Rakha saat melihat pria itu tengah berbincang dengan rekan bisnisnya.
__ADS_1
Yure menyeret lengan Rakha, karena dia ingin bertanya tentang keberadaan Ezka.
"Ezka kemana? kok aku nggak liat?" tanya Yure.
"Kenapa kamu nanyain Ezka? emang kalau nggak ada dia, kamu akan batal bertunangan?" tanya Rakha sembari terkekeh.
Melihat Yure berwajah serius, Rakha jadi berhenti tertawa.
"Iya. Ezka nggak bisa datang, dia saat ini tengah berada di Paris." Jawab Rakha.
Deg
Jantung Yure terasa ada palu yang menghantam. Yure benar-benar tertegun, saat mendengar ucapan Rakha. Yure kemudian pergi begitu saja, yang membuat Rakha jadi heran.
"Ternyata aku benar-benar tidak ada di hatimu. Entah apa maksudmu pergi begitu saja, dan tidak menghadiri pertunanganku. Apa boleh aku mengira kalau kamu sedang cemburu padaku? Ezka, kamu benar-benar melukai hatiku. Hatiku benar-benar sakit karena kamu begitu mudah melepaskan aku untuk wanita lain," batin Yure.
Air mata Yure jatuh seketika. Air mata itu bertambah deras, saat Ezka sama sekali tidak mau mengangkat telpon darinya.
Sementara itu di tempat berbeda, Ezka tengah menangis terisak saat melihat Yure menelponnya berkali-kali.
"Hiks....maafkan aku Yure...maafkan aku. Semoga kamu bahagia bersama dia. Hiks...."
Ezka meringkuk di dalam selimut sembari terisak. Sama seperti Yure, dirinya juga terluka saat ini. Dia sedang bingung bagaimana harus menjelaskan kehamilannya pada keluarganya. Masalah yang sudah dia ciptakan sendiri, namun begitu sulit untuk dia tangani.
"Apapun yang terjadi kedepannya nanti, mama akan selalu menjagamu nak," Ezka mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
*****
Yure yang tengah berada di kediaman orang tuanya bergegas membersihkan diri, karena dirinya ingin pergi ke kantor.
"Kamu ngantor hari ini?" tanya Regia.
"Iya ma. Pekerjaan sangat banyak di kantor." Jawab Yure.
"Kalau begitu duduklah. Kita sarapan bersama," ujar Regia.
Yure menarik sebuh kursi untuk dia duduki, dan mulai menaruh beberapa menu sarapan di piringnya.
Hoekkkk
Hoekkk
Hoekkkk
"Yur, kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Regia yang tampak sangat khawatir.
"Nggak tahu, mual banget ma. Kayaknya Yure masuk angin, soalnya kurang tidur semalam." Jawab Yure.
"Ya sudah teruskan sarapan, setelah itu kamu bisa pergi kerumah sakit buat periksa," ujar Regia.
__ADS_1
"Ya." Jawab Yure.
Namun baru saja Yure mendekatkan sendok kedepan mulutnya, Yure kembali merasakan mual. Hingga keadaan itu berlangsung saat dirinya akan mengikuti rapat bersama Rakha.
"Kamu sakit?" tanya Rakha.
"Nggak tidur semalaman. Kayaknya masuk angin deh," ujar Yure.
"Pasti mikirin gadis itu lagi. Sudahlah, dia hanya masa lalumu sekarang," ucap Rakha.
"Aku hanya tidak habis pikir. Dia membiarkan aku bertunangan dengan wanita lain, tapi seminggu yang lalu masih bersedia ku tiduri lagi. Aku bahkan bisa merasakan, kalau dia itu memiliki perasaan lebih padaku.Tapi kenapa dia menolakku lagi dan lagi," ujar Yure.
"Apa? kamu tidur dengannya lagi? apa kali ini gadis itu dalam keadaan pengaruh obat lagi?" tanya Rakha.
"Tidak. Dia bahkan sangat sadar. Aku bisa merasakan kalau tubuhnya itu sangat jujur. Tapi kenapa dia masih saja menolakku?" wajah Yure sangat murung saat mengatakannya.
Pukkk
Rakha menepuk bahu Yure. Meski dia tidak berpengalaman dalam cinta, tapi dia mengerti bagaimana perasaan Yure saat ini.
"Sekarang sudah ada Vania. Jadi lupakan saja gadis bodoh itu," ujar Rakha.
"Ya. Aku akan mencobanya." Jawab Yure.
"Sudah jam 9. Waktunya kita meeting. Apa kamu bisa mengikutinya? kalau perutmu masih tidak enak, sebaiknya beristirahat saja," ujar Rakha.
"Sepertinya tidak terlalu. Aku harus ikut rapat, bukankah hari ini ada klien penting yang mengikuti rapat?" tanya Yure.
"Ya sudah Ayo," ujar Rakha.
Yurepun mengikuti rapat itu dan berhasil mengikutinya hingga selesai.
*****
Hoekkk
Hoekkk
Hoekkk
"Yur sepertinya kamu harus kerumah sakit deh. Ini sudah nggak lucu lagi. Sudah satu minggu kuperhatikan kamu mual muntah begini. Wajahmu juga pucat. Takutnya kamu punya riwayat penyakit lain," ujar Rakha.
"Tolong temani aku Ka. Aku sudah lemas banget ini," ucap Yure.
"Oke. Ayo." Jawab Rakha.
Rakhapun mengantar Yure kerumah sakit. Yure yang sudah sangat lemas hanya bisa memejamkan matanya, berharap rasa mual diperutnya berkurang.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1