Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.151. Menemui Ezra


__ADS_3

Marinka meraba wajahnya, ingatan tentang kebakaran beberapa hari yang lalu berputar di ingatannya. Setidaknya itulah ingatan terakhir yang bisa dia ingat saat ini.


"Dokter. Bolehkah saya meminjam cermin?" tanya Marinka.


"Cermin? buat apa?" dokter kebingungan.


"Tentu saja ingin melihat wajah baruku. Bukankah anda yang sudah melakukan bedah plastik ditubuhku? sehingga kebakaran itu tidak membuatku cacat." Jawab Marinka.


Lilian dan dokter Ivan saling berpandangan, karena mereka sama-sama kebingungan saat ini. Namun dokter menuruti keinginan pasiennya, karena dia ingin tahu perkembangannya.


Seorang suster membawakan sebuah cermin, dan langsung diraih oleh Marinka. Wanita itu tersenyum senang, karena merasa baru pertama kali melihat wajah barunya. Marinka kemudian mengalihkan pandangannya pada Lilian. Dia sama sekali tidak merasa mengenal wanita parubaya itu.


"Anda siapa?" tanya Marinka.


"Oh dia...."


"Saya. Orang yang telah menolongmu." Lilian menyela ucapan dokter.


"Menolongku? mana mungkin, bukankah yang menolongku saat kebakaran itu adalah seorang pria? aku ingat betul suaranya khas suara pria, bukan wanita." Jawab Marinka.


"Kebakaran?" dokter dan Lilian berucap bersamaan.


"Ya. Aku tidak akan pernah melupakan kejadian yang menyakitkan pada malam itu. Suamiku yang baru bercerai satu hari denganku, bersama maduku sudah bersekongkol ingin melenyapkan aku dengan cara membakarku di gudang itu." Jawab Marinka.


Lilian terkejut mendengar penjelasan Marinka. Namun pikiran Lilian masih abu-abu tentang sosok suami yang Marinka maksud.


"Siapa yang dia maksud? apa itu Ezra? tapi bukankah dia sangat bahagia dengan suaminya itu? kenapa ada fakta yang lain lagi yang baru ku ketahui? sebenarnya apa saja yang putriku alami selama ini? jika itu benar, aku tidak akan mengampuni siapapun itu," batin Lilian.


"Jadi bu? sebenarnya anda ini siapa?"


"Saya memang bukan orang yang menolongmu saat kebakaran itu, tapi saya yang ditugaskan orang itu untuk merawatmu." Jawab Lilian.


"Benarkah? terima kasih bu, ternyata masih ada orang-orang baik seperti kalian. Apa orang itu juga yang membiayai operasi wajahku?"


"Eh? ya." Lilian menjawab seadanya, karena dia bingung harus menjawab apa.


"Mungkin Ezra tahu cerita dibalik kebakaran itu. Aku harus menemuinya," batin Lilian.


"Apa aku bisa bertemu dengan orang itu? aku ingin mengucapkan terima kasih padanya."


"Tentu.Tapi saat ini beliau sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Saya akan mengabarinya bahwa anda sudah siuman."


"Baiklah. Aku benar-benar bersyukur masih diberikan kesempatan hidup. Itu artinya sumpahku waktu itu bisa aku realisasikan."


"Sumpah?" tanya Lilian.


"Ya. Aku akan membalaskan rasa sakit hatiku pada mereka semua. Aku akan menghancurkan siapapun yang sudah menghancurkan hidupku." Jawab Marinka.


"Dokter. Boleh saya bicara sebentar?" tanya Lilian.


"Mari. Kita bicara diruangan saya,"

__ADS_1


"Oke. Marinka, kamu tunggu disini sebentar ya? saya mau bicara dengan dokter dulu."


"Ibu tahu nama saya?" tanya Marinka yang membuat Lilian jadi kaku.


"Ah...ya maaf, kami tahu namamu dari kartu identitasmu."


"Ah...ternyata tas kecil itu selamat dari kebakaran ya? makasih kalian sudah menyimpannya. Ibu bisa pergi," ujar Marinka sembari tersenyum.


"Oh ya, sekarang tanggal berapa ya?" tanya Marinka.


"26 Januari 2022." Jawab Lilian.


"Ap-Apa? mana mungkin? apa itu artinya saat kebakaran aku mengalami koma selama 4 tahun lebih? tapi rasanya kejadian itu terjadi kemarin," tanya Marinka.


"Ah...kamu jangan khawatir, yang penting sekarang kamu sudah siuman bukan? saya akan membicarakan hal ini dengan dokter ya?" ujar Lilian yang di angguki oleh Marinka.


Lilian beranjak keluar bersama dokter, untuk bicara kembali keruangan dokter Ivan.


"Dokter. Apa anda bisa menjelaskan apa yang dialami putriku itu?" tanya Lilian.


"Apa boleh buat, mendengar pengakuannya tadi, sepertinya putri anda mengalami kehilangan sebagian memorinya. Jadi saat tersadar tadi, ingatannya kembali pada saat kejadian menimpanya."


"Ya Tuhan...apa memori yang hilang itu bisa kembali? atau hilang selamanya?"


'"Itu tidak bisa diapastikan. Karena kita tidak boleh memaksa dia buat berpikir keras untuk mengingat semua memorinya yang hilang. Nyonya, saya sarankan anda harus membicarakan hal ini dengan suaminya. Siapa tahu anda bisa memperoleh petunjuk, dan bisa membantu Marinka untuk mengembalikan kembali ingatannya."


"Ya dokter benar, saya memang harus menemuinya. Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu dok."


Lilian keluar dari ruangan dokter, wanita parubaya itu memutuskan akan terbang ke kota J pada hari itu juga. Karena memang saat ini Marinka dibawa Lilian berobat ke kota JT.


Setelah menempuh waktu hampir 1 jam, Lilian akhirnya tiba di bandara halim perdana kusuma, dan langsung memesan taksi. Tidak sulit baginya menemukan keberadaan Ezra, karena orang-orangnya sudah memantau keluarga putrinya sejak lama.


Ting tong


Ting tong


Krieekkkk


"Maaf anda siapa?" tanya seorang pelayan.


"Saya Lilian. Saya ingin bertemu tuan Ezra, apa beliau ada?" tanya Lilian.


"Maaf bu. Tuan Ezra belum pulang dari kantor,"


"Oh begitu? jam berapa...."


Tin


Tin


Tin

__ADS_1


Suara klakson mobil menghentikan ucapan Lilian, karena Ezra baru saja tiba dari kantor. Ezra mengerutkan dahinya, saat melihat sosok Lilian yang sama sekali tidak dia kenal. Lilian membungkukkan kepalanya, yang dibalas bungkukkan yang sama oleh Ezra.


"Silahkan masuk," ujar Ezra yang mempersilahkan Lilian masuk.


Lilianpun mengekor dibelakang Ezra, dan kemudian duduk di sebuah sofa.


"Kalau boleh tahu anda siapa?" tanya Ezra.


"Saya Lilian ning. Ibu kandung Marinka." Jawab Lilian.


Mendengar itu Ezra terkejut. Pria itu jadi bingung harus bagaimana bersikap dengan orang yang sudah melahirkan istrinya dan sekaligus sudah membuangnya.


"Aku tahu begitu banyak pertanyaan di benakmu, untuk itu aku akan menjelaskan semuanya padamu apa yang sudah terjadi sebenarnya."


"Maaf. Sepertinya ibu salah tempat, jika harus bercerita denganku. Seharusnya ibu menjelaskan pada istriku langsung, bukankah dia yang ibu telantarkan?"


"Ibu akan menjelaskan padanya jika ibu bisa. Tapi saat ini ibu harus menahan diri dulu, karena saat ini dia dalam keadaan tidak boleh mendengar banyak tekanan."


"Apa maksud ibu?" tanya Ezra.


"Saat ini Marinka berada di kota JT. Saat kejadian di laut itu, aku sudah menyelamatkannya."


"Ap-Apa? benarkah yang ibu bilang itu?" tanya Ezra dengan mata berkaca-kaca.


"Ya itu benar. Tapi sayang, peluru yang mengenainya sudah membuatnya kehilangan sebagian memorinya. Saat ini dia terjebak dalam ingatan pada saat terjadinya kebakaran. Bisakah kamu menjelaskan padaku siapa yang menolongnya pada saat itu?"


"Ja-Jadi Marinka hilang ingatan?"


"Ya. Dia tidak ingat kejadian setelah kebakaran itu, yang dia ingat hanya masa lalu saat sebelum kejadian kebakaran."


"Ya Tuhan..." gumam Ezra.


"Orang yang menolong Marinka saat kebakaran itu adalah aku. Lalu..."


Lalu kemudian Ezra menceritakan semua kejadian, sampai Ezra menikahinya secara kontrak dan pada akhirnya bersatu secara utuh.


"Ah...putriku yang malang, miris sekali kisah hidupnya. Jadi itu sebabnya dia sangat bertekad ingin balas dendam saat terbangun dari koma?"


"Ya. Niat itu memang sudah ada sejak dulu. Tapi Sayangnya Marinka tidak mengizinkan aku ikut campur. Dia ingin mengakhirinya sendiri. Jadi aku sekarang harus bagaimana bu? aku tidak mungkin membuka identitasku sebagai suaminya kan?"


"Kalau begitu kamu berperan saja sebagai orang yang sudah menolongnya, karena aku sempat bilang kalau orang yang menolongnya sedang pergi keluar negeri."


"Baiklah aku mengerti. Sekarang kita harus berangkat ke kota JT. Ibu tunggu disini, aku akan menjemput anak-anak dulu dirumah Mama."


"Baiklah."


Ezra bergegas pergi kerumah Baskoro. Dia sangat bahagia karena Marinka sudah ditemukan. Dia tidak perduli meski istrinya itu melupakan dia, yang terpenting baginya saat ini istrinya sudah selamat dari maut.


Disepanjang perjalanan menuju bandara Lilian menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya, hingga dia terpaksa menitipkan Marinka di panti asuhan. Kini Ezra mengerti apa yang di alami ibu mertuanya itu. Ezra cukup terkejut mengetahui fakta yang baru dia dengar, bahwa istrinya itu masih keturunan darah biru. Ezra juga tidak lupa memberikan pengertian pada anak-anaknya, dan merekapun mau membantu Ezra agar papanya itu bisa bersatu kembali dengan mamanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2