
"SAH" semua tamu dan para saksi yang hadir mengucapkan kata 'sah' saat Yugie berhasil menjawab ijab qobul dengan satu tarikkan nafas.
Vania meraih tangan Yugie untuk diciumnya. Dan Yugie kemudian mencium kening istrinya itu. Sudirjo dan istrinya sangat bahagia, karena sudah mengantar dan melepas masa lajang putrinya.
Setelah resmi menikah, pada malam harinya Yugie dan Vania melangsungkan acara resepsi pernikahan yang sangat mewah, disalah satu hotel berbintang.
Krieekkkk
Waktu menunjukkan pukul 2 malam, saat Yugie masuk kedalam kamar pengantin. Yugie baru saja selesai mengobrol bersama Rakha, Yure, dan juga Anser. Karena asyik mengobrol, Yugie jadi lupa akan malam pertamanya dengan Vania.
Yugie melihat Vania sudah tertidur dengan memeluk bantal guling. Vania terlihat lelah, karena terdengar suara dengkuran halus. Yugie pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu dia menyusul Vania untuk pergi tidur.
*****
"Mana istri kamu?" tanya Regia.
"Masih tidur." Jawab Yugie singkat.
Regia terdiam. Dia bisa memaklumi, kalau Vania saat ini masih sangat lelah.
"Ma. Apa mama mengizinkan kalau Yugie pergi mandiri dari rumah ini?" tanya Yugie.
"Mandiri?"
"Ya. Sekarang Yugie sudah menikah, aku bisa menilai seperti apa istriku itu. Aku ingin menjalankan rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh. Untuk itu aku ingin mendidiknya dari dasar." Jawab Yugie.
"Sebenarnya mama sangat berat melepasmu. Tapi mau bagaimana lagi, kamu sudah menikah. Mau tidak mau mama harus mendukung apapun keputusanmu," ujar Regia.
"Makasih ma," ucap Yugie sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Apa rumahnya sudah ada? nanti mama akan suruh papa kamu buat membelikannya untukmu," tanya Regia.
"Sudah ada ma. Yugie sudah membelinya dengan uang tabungan gaji Yugie. Yah, meskipun rumahnya tidak mewah seperti rumah ini, tapi Yugie ingin menjalani rumah tangga ini dari nol." Jawab Yugie
"Berapa harga rumah yang kamu beli?" tanya Regia.
"400 juta ." Jawab Yugie.
Regia terdiam. Dia tahu betul sebesar apa rumah dengan harga 400juta. Tapi dia tidak memprotes keinginan anaknya itu, meskipun sebenarnya dia mampu membelikan putranya rumah dengan harga milyaran.
"Mama cuma bisa mendo'akan semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. kapan rencananya kamu akan pindah?" tanya Regia.
"Besok." Jawab Yugie.
"Baiklah. Bagaimana kalau hari ini kita beli perabotan rumah tanggamu?" tanya Regia.
"Tidak usah ma. Aku sudah membelinya saat sudah punya rencana menikah." Jawab Yugie.
__ADS_1
"Benarkah? wah...sudah siap lahir batin rupanya. Yugie, antara kamu dan Vania saat ini pasti belum ada rasa cinta. Kamu harus bersabar saat menghadapi berbagai macam masalah yang datang dalam rumah tanggamu," ujar Regia.
"Iya ma." Jawab Yugie.
Setelah selesai sarapan, Yugie kembali keatas. Vania masih tampak tertidur lelap, dan Yugie mencoba membangunkan Vania.
"Nia. Bangunlah!" Yugie berkata selembut mungkin.
"Hemmm...apa sih ma. Ganggu aja deh...Vania masih ngantuk nih," Vania benar-benar lupa kalau saat ini dia tengah berada dirumah mertuanya.
Yugie dengan jahil memencet hidung mancung Vania, hingga istrinya itu jadi gelagapan.
"Mama...apa-apa-an...." kata-kata Vania menggantung, saat dilihatnya Yugielah yang berada di hadapannya.
"Ini bukan rumah mama kamu. Apa kamu lupa, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri perwira polisi?" tanya Yugie.
"Aku tidak lupa." Jawab Vania dengan cemberut dan langsung ngacir ke kamar mandi.
Sembari menunggu Vania keluar dari kamar mandi, Yugie asyik bermain ponsel sembari berbaring.
Kriekkkkkk
Vania lagi-lagi lupa kalau saat ini dia sudah bersuami. Wanita itu keluar hanya dengan menggunakan handuk.
"Ckk...apa dia sengaja ingin menggodaku?" batin Yugie saat melihat Vania yang hanya melilitkan handuk mini ditubuhnya, sembari melepaskan handuk diatas kepalnya.
"Besok kita akan pindah dari rumah ini," ujar Yugie.
"Apa pindah kerumahku?" tanya Vania.
"Rumah pribadiku. Sekarang kita sudah berumah tangga, tentu kita harus mandiri." Jawab Yugie.
"Terserah saja," ujar Vania.
"Hari ini kamu boleh pulang, kalau kamu mau mengambil semua barang-barangmu," ucap Yugie.
"Apa kamu tidak ingin mengantarku?" tanya Vania.
"Kalau mau diantar, akan aku antar." Jawab Rakha.
"Antar saja. Aku tidak mau orang tuaku berpikir yang macam-macam tentang kita," ujar Vania.
"Baiklah." Jawab Yugie.
Setelah mematut diri dicermin, Yugie dan Vania pergi ke rumah orang tua Vania. Setelah mengambil barang-barang Vania, merekapun kembali pulang.
*****
__ADS_1
Keesokkan harinya...
"Kita sudah sampai," ujar Yugie saat mobilnya tiba disebuah perumahan.
Mata Vania terbelalak, saat melihat jejeran perumahan yang tidak sesuai menurut bayangannya. Vania mengira mereka akan tinggal dirumah yang sangat mewah.
"Apa-Apaan kamu ngajakin aku tinggal di rumah seperti ini? jadi ini rumah pribadi kamu?" tanya Vanie berang.
"Kenapa memangnya? ini rumah hasil kerja kerasku." Jawab Yugie.
"Pokoknya aku nggak mau tinggal disini. Aku mau pulang saja kerumah orang tuaku. Seharusnya kamu bilang dong kalau nggak mampu beli rumah mewah. Papaku bisa belikan rumah buat kita. Aku ini putri tunggal mereka, mereka pasti sedih melihat anaknya diajak hidup susah seperti ini," ucap Vania.
"Kalau rumah pribadiku seperti yang kamu katakan, tentu gajiku sebagai perwira polisi dipertanyakan. Aku ini hanya perwira polisi, bukan pengusaha seperti orang tuaku atau orang tuamu. Kamu harus belajar menerima kelebihan dan kekurangan suamimu." Jawab Yugie
"Suatu saat kita pasti bisa membeli rumah yang sedikit lebih mewah. Kita akan merintis usaha dari nol. Tapi kamu harus sabar," ucap Yugie.
"Pokoknya aku mau pulang. Aku nggak mau tinggal disini," Vania cemberut.
"Ya sudah kalau kamu mau pulang tidak apa. Tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu. Terlebih aku tidak sanggup menjawab pertanyaan orang tuamu."
"Vania. Kita ini sudah dewasa. Setelah kamu jadi istriku, tanggung jawab ayahmu sudah di bebankan semua dipundakku. Maaf kalau saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, tapi aku punya niat kok buat bahagiain kamu suatu hari nanti. Meskipun belum ada cinta diantara kita, tapi aku sungguh-sungguh ingin menjalani rumah tangga ini."
Vania terdiam. Sejak kecil dia memang biasa hidup dimanja. Semua yang dia minta akan di kabulkan. Namun dia tidak menyangka kalau dirinya akan menghadapi situasi seperti ini setelah gagal menikah dengan Yure yang bergelimangan harta.
Vania terpaksa turun dari mobil, dan menyeret kopernya kedalam rumah itu. Vania merasakan seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya saat masuk kedalam rumah itu, karena rumah itu sangat sederhana menurutnya. Bahkan besar rumah itu, cuma dua kali lipat dari besar kamarnya.
"Ap-Apa tidak ada Ac?" tanya Vania saat wanita itu masuk ke kamar pribadi mereka.
"Belum ada. Untuk sementara pakai kipas dulu ya? uangnya belum cukup. Lagipula kita harus berhemat, pakai kipas juga dingin kok." Jawab Yugie.
Yugie menekan tombol kipas angin, dan menyetelnya dengan putaran yang paling kencang.
"Dingin kan?" ujar Yure yang hanya dijawab lengosan oleh Vania.
"Apa tempat tidurnya tidak ada yang lebih empuk dari sini?" tanya Vania, sembari menggenjot-genjot tempat tidur yang dia dudukki.
"Tentu saja banyak di toko. Tapi nanti ya? kalau uangnya sudah cukup, kita pasti akan membeli yang lebih empuk lagi." Jawab Yugie.
"Kamu bagaimana sih? kok semuanya nunggu uangmu cukup? orang tuamu pasti mampu beli kan? kalau nggak biar aku telpon papaku. Dia pasti dengan senang hati membelikan semua keinginan putrinya."
"Tapi itu artinya kamu akan merendahkan harga diri suamimu. Pemberian orang tuaku saja ku tolak, apalagi pemberian orang tuamu. Pokoknya jangan pernah kamu melakukan itu. Aku akan membuangnya, kalau kamu berani memasukkan barang yang bukan hasil jerih payahku atau jerih payahmu." Jawab Yugie tegas.
"Huuu...sok!" Vania mencebik sembari berlalu ke kamar mandi.
Yugie hanya menggelengkan kepalanya. Meski begitu, dia akan mencoba tetap sabar menghadapi sikap istrinya.
"Sepertinya perjuanganku masih sangat panjang untuk menaklukkan singa betinaku ini," ucap Yugie lirih.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏