
"Kamu mau kemana Ra?" tanya Marinka setengah berbisik, karena takut Ezra akan mendengar suaranya.
Sera menarik sebuah kain dari gantungan baju dan mengenakannya pada kepala Marinka.
"Untuk apa ini?"
"Apa kamu ingin anak-anakmu mendapat sentuhan dari Papanya?"
"I-Iya."
"Kita akan mewujudkan keinginan anakmu itu."
"Tapi itu tidak mungkin Ra. Bagaimana cara kita melakukannya tanpa ketahuan? itu mustahil,"
"Kamu serahkan saja padaku, saat aku menyebut nama merry, kamu keluarlah! mengerti?"
"Tidak Ra, aku nggak mau mengambil resiko."
"Ckk...tenanglah, serahkan semuanya padaku oke?"
Sera melangkah pergi untuk menemui Ezra, sementara Marinka memanggil nama Sera dengan setengah berbisik, karena takut ketahuan pria yang hanya berjarak 7 meter dari dirinya itu.
"Ya Tuhan...si Sera ini sangat nekat, bagaimana kalau ketahuan?" ujar Marinka cemas.
"Permisi tuan,"
"Ya?" Ezra menoleh kearah sumber suara dan mendapati gadis berambut pendek datang menghampirinya.
"Bisakah saya meminta bantuan anda?"
"Bantuan apa? saya akan bantu kalau saya bisa."
"Sangat bisa. Karena ini hanya hal kecil saja,"
"Apa?"
"Begini, teman saya saat ini sedang hamil 9 bulan. Dia saat ini sedang berpisah dengan suaminya, karena suaminya sedang memenuhi tugas sebagai tentara militer. Teman saya sangat merindukan suaminya karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. Tadi tidak sengaja dia melihat anda, kebetulan anda sangat mirip dengan suaminya. Maukah anda memenuhi ngidam ibu hamil yang belum kesampaian?"
"Ngidam?"
"Ya. Dia sedang mengidam anda menyentuh dan mencium perutnya,"
"A-Apa? apa itu tidak terlalu berlebihan? saya kan bukan suaminya,"
"Tolonglah tuan, apa tuan tidak kasihan nanti anaknya akan ileran kalau sampai tidak keturutan. Apa anda tahu? dia sedang mengandung anak kembar loh, kata dokter mereka bayi laki-laki dan perempuan."
"Ileran? apa mungkin seperti itu?"
"Kasihan teman saya itu, keluarganya sangat jauh di negara I. Sekarang malah suaminya yang meninggalkan dia."
"Negara I? jadi kalian berasal dari negara I?"
"Kenapa? apa anda juga?"
"Iya. Baiklah, saya akan melakukannya. Anggap saya melakukannya karena kita sama-sama berasal dari negara yang sama dan juga demi anak-anak."
__ADS_1
"Ya Tuhan...anda baik sekali. Semoga apa yang anda inginkan cepat tercapai,"
"Amin," Ezra mengaminkan
"Ayo ikut saya tuan. Tidak enak kalau disini, banyak pengunjung soalnya."
Ezra mengikuti perkataan Sera, dan mengekor dibelakang gadis itu.
"Merry," seru Sera.
Deg
Jantung Marinka terasa ingin berhenti berdetak. Langkah kaki yang begitu dia hafal perlahan mendekat kearahnya, dan itu membuat jantung Marinka semakin berdebar-debar.
"Merry. Kamu sangat beruntung, tuan ini mau memenuhi ngidammu. Dia akan mengelus dan mencium perutmu,"
Marinka hanya membungkukkan tubuhnya tanpa bersuara tanda ucapan terima kasih.
"Maaf saya lupa bilang, teman saya ini seorang wanita bisu."
"Tidak masalah. Apa saya bisa melakukannya sekarang? soalnya saya punya janji dengan teman saya,"
"Ya baiklah silahkan,"
Ezra kemudian mengelus dan mencium perut Marinka. Sungguh tubuh Marinka saat ini sangat tegang sekaligus terharu. Tak terasa air matanya menetes dibalik kain penutup kepalanya. Ingin rasanya dia mengelus kepala pria yang sedang mencium perutnya itu, namun dia mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak terbuai dan berbuat serakah.
Jduugg
Jduggg
Marinka tersenyum sembari menangis dari balik kain. Marinka tahu anak-anaknya bergerak, karena merasakan ikatan batin dengan papanya.
"Hah...ini sangat luar biasa nyonya, semoga kamu dan anak-anakmu sehat ya?" ujar Ezra setelah selesai mencium dan mengusap perut Marinka.
Marinka sekali lagi membungkukkan tubuhnya.
Tring
Tring
Tring
"Hallo, kamu dimana sayangku, cintaku," ujar Ezra sembari keluar arah pintu.
Ingin rasanya Marinka menahan kepergian Ezra, tangan dan bibir wanita itu sampai bergetar karena ingin memanggil dan memeluk pria yang berjalan kian menjauh itu.
"Hikz....."
Marinka berjalan dengan langkah besar, masuk kembali kedalam ruangannya. Tangisnya pecah seketika. Sudah berbulan-bulan kepergiannya, namun Ezra masih saja merajai hatinya. Sera yang menyaksikan kepedihan sahabatnya itu, tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata.
"Untung saja aku tidak muncul secara nyata, ternyata dia kemari dengan Jihan. Tadi yang nelpon pasti Jihan kan? Sera, ternyata dia sudah bahagia tanpa aku. Aku lagi-lagi jadi seorang pecundang. Hikz..."
Sera menyeka air matanya, gadis itu bisa merasakan rasa sakit yang sahabatnya itu rasakan.
"Tidak masalah kalau kamu ingin mencintainya dalam diam meskipun itu terlarang. Anggap itu kamu lakukan demi anak. Tapi Rin, bukankah hidup itu harus terus berjalan? suatu saat kamu harus membuktikan, kalau kamu bisa hidup tanpa dia, kamu bisa sukses tanpa bantuan dia."
__ADS_1
Marinka menyeka air matanya, kata-kata Sera seperti sebuah vitamin penyemangat baginya. Sementara ditempat lain, Ezra masih menerima telpon dari Ando.
"Apaan sih Zra ngomong gitu? jijay tahu nggak dengarnya? kayak pasangan homo,"
Ezra tertawa keras mendengar ucapan Ando.
"Kamu ada dimana? aku ada dibutikmu nih,"
"Sorry hari ini pelanggan sangat membludak. Kamu main aja kerumahku ya malam ini?"
"Sontoloyo. Ya sudah, aku datang kerumahmu malam ini. Aku membutuhkan bantuanmu,"
"Ada apa?"
"Ini masalah perusahaanku. Ini sangat mendesak, aku butuh bantuanmu siapa tahu kamu bisa membantuku. Tenang saja, aku akan memberikanmu bonus kalau berhasil."
"Baiklah, jangan pakai itung-itungan dengan sahabat sendiri. Aku akan membantumu kalau aku bisa,"
"Ya udah, aku pulang dulu kalau gitu."
"Sippp."
Ezra kembali menyetop sebuah taksi setelah mengakhiri panggilan telponnya, dia ingin segera membersihkan diri dan kembali pergi kerumah Ando.
"Rin. Aku ada sesuatu buatmu," ujar Sera.
"Apa?"
"Hapus dulu dong air matamu," Marinka segera menghapus air matanya.
Sera segera mengirim sesuatu pada ponsel Marinka.
"Bukalah!"
Marinka kemudian menbuka chat yang berisi foto-foto. Marinka menutup mulutnya dengan air mata yang kembali mengucur deras. Foto itu terlihat begitu manis dan nyata. Foto disaat Ezra mengelus dan mencium perutnya. Marinka kemudian memeluk sahabatnya itu sembari terisak.
"Makasih Ra...aku sangat bahagia hari ini,"
Sera tersenyum dan mengusap punggung sahabatnya itu.
"Mulai sekarang jangan sedih lagi ya? kan sudah ada pengobat rindunya. Kalau jangen, kamu lihat saja foto itu."
"Emm." Marinka mengangguk.
"Mau cari udara segar lagi?" tanya Sera.
Marinka menggeleng, saat ini dia tidak lagi membutuhkan udara segar, karena foto Ezra sudah seperti freon yang mampu membuat dingin perasaannya.
"Ya ampun, tahu gitu Ezra aku bawa ketempat pengrajin"
"Buat apa?"
"Sekalian aku mau buat patung pria itu, jadi kamu benar-benar nggak perlu keluar dari rumah."
Marinka terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. Sera tersenyum karena dia sudah berhasil mengembalikan senyum Marinka yang hilang, karena tersapu badai tsunami dihatinya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏