Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.216. Cemburu


__ADS_3

"Cemen banget sih Yur, baru di tolak satu cewek udah frustasi dan minta cuti libur," ujar Rakha.


"Kamu belum pernah merasakan yang namanya patah hati Ka. Nanti sepulang dari liburan ini aku mau minta di jodohkan saja oleh kedua orang tuaku. Terserah mau bentuk gadisnya seperti apa. Mau gapura kecamatan, mau burung kutilang, atau yang bibirnya kayak gulung karpet juga boleh. Aku terima apapun keputusan mereka," ucap Yure.


"Segitunya Yur. Baru juga patah hati sama satu orang, udah nyerah aja. Anggap itu sebagai latihan, tapi bukan berarti kamu mau di jodohkan dengan sembarang orang," ujar Rakha.


"Terserahlah. Aku mah sudah pasrah ajalah, yang penting sekarang aku butuh liburan dulu," ucap Yure.


"Yah..mau bagaimana lagi, meski aku keteteran ngerjain semua tugasmu, tapi beruntung saat ini ada Gadlyn yang membantuku." Jawab Rakha.


"Oh ya. Bagimana sih hubunganmu dengan serketarismu itu? kamu jangan kelamaan nembak dia, ntar lepas kayak aku loh," ucap Yure.


"Lepas. Ayam kali ah lepas," ujar Rakha.


"Jadi kapan kamu akan berangkat ke Paris?" tanya Rakha.


"Besok. Kamu mau berapa hari kasih aku cuti libur?" tanya Yure.


"Satu minggu." Jawab Rakha.


"Oke," Yure mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Rakha melihat arloji di pegelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, sudah waktunya untuk makan siang. Gadlyn yang baru keluar dari toilet, segera disuruh Rakha buat mencari makan siang. Pria itu tidak mau penyakit Gadlyn kumat dan membuat cemas dirinya.


"Ciyeee...udah mulai perhatian niyeee," ledek Yure.


"Apaan sih," wajah Rakha bersemu merah sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu! kita mau makan siang dimana?" tanya Yure.


"Kantin kantor saja." Jawab Rakha.


Yure segera mengekor di belakang Rakha. Saat sedang mencari tempat duduk di kantin, Rakha tidak sengaja melihat Gadlyn sedang makan satu meja dengan seorang pria, yang tak lain salah satu karyawannya.


"Mampus. Pasti singa ini sedang cemburu," batin Yure yang tidak sengaja mengikuti arah pandang Rakha.


"Sabar. Ini tempat umum, kamu harus menjaga wibawamu," ujar Yure setengah berbisik.


"Dari departemen mana pria itu?" tanya Rakha.


"Kalau tidak salah dari departemen pemasaran." Jawab Yure.


Rakha duduk tidak jauh dari meja Gadlyn. Bisa Rakha lihat Gadlyn sangat akrab dan seperti sudah sangat kenal lama dengan pria itu.


"Kenapa dengan pria lain dia bisa tersenyum dan tertawa selepas itu? sementara denganku dia berwajah muram, takut, bahkan juga sedih. Apa hebatnya pria itu dibandingkan aku?"


Rakha melirik pakaian pria dihadapan Gadlyn, dan tersenyum sinis.


"Kemeja kualitas rendah, celana kualitas rendah, sepatu KW super. Apa lulusan terbaik Harvard bisa sepayah ini dalam mengenali pria?"

__ADS_1


"Yure," ucap Rakha lirih.


"Hem?" Yure konsentrasi dengan makanan yang dia santap.


"Menurutmu tampan aku atau pria itu?" tanya Rakha.


Yure mengulum senyumnya. Disamping Rakha memang jauh lebih tampan dari pria yang dimaksud, Yure juga ingin cari aman supaya bisa hidup dengan tenang di muka bumi.


"Tentu saja tampan kamu." Jawah Yure.


"Iya kan? aku juga merasa begitu. Memang si Gadlyn gadis payah. Apa matanya itu sudah kena katarak?"


"Kamu suka Gadlyn? kalau suka, kamu tunjukkan rasa sukamu itu. Jangan sampai dia di embat orang lain loh," ucap Yure.


Rakha tidak lagi menjawab ucapan Yure. Pria itu terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri. Rakha mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya, tapi matanya selalu tertuju pada Gadlyn yang tengah makan sembari bergurau dengan pria lain. Dan itu benar-benar membuat perasaannya jadi buruk. Rakha kemudian berdiri dari kursinya, dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Eh? gimana sih si Rakha? baru juga makan satu sendok, sudah main pergi aja. Mengalahkan aku yang sedang patah hati ini," ujar Yure.


Yure kemudian melihat Gadlyn bangkit dari tempat duduknya, dan akan melewati meja makannya.


"Gadlyn," sapa Yure.


"Ya tuan." Jawab Gadlyn sembari mendekat kearah Yure.


"Tuan Rakha belum makan siang. Tolong kamu bawakan makanan untuk dia. Saya masih lama disini," ujar Yure.


"Baik tuan. Makanan apa yang akan saya pesan?" tanya.


"Baik." Gadlyn membeli makanan sesuai selera Rakha. Gadis itu kemudian membawa makanan itu untuk diberikan pada pria itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Tanpa mengetahui siapa yang masuk, Rakha terlihat sibuk dengan laptopnya. Sementara Gadlyn melangkah pelan sembari membawa nampan makanan.


"Tuan. Ini makanan untuk anda," ujar Gadlyn sembari meletakkan nampan diatas meja.


Mendengar suara Gadlyn, Rakha langsung menoleh kearah gadis itu dengan tatapan sinis.


"Ada apa dengan harimau ini? sepertinya dia sedang marah. Tapi marah sama siapa?" batin Gadlyn.


"Siapa yang menyuruhmu membawakan makanan untukku?" tanya Rakha.


"Tu-Tuan Yure. Dia bilang tuan belum makan." Jawab Gadlyn.

__ADS_1


"Bawa kembali makanan itu. Aku tidak lapar!" ucap Rakha.


"Eh? tu-tuan kenapa? nanti tuan sakit loh," tanya Gadlyn.


"Apa kamu tuli? kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau," hardik Rakha.


Mendengar teriakkan Rakha, Gadlyn terjengkit kaget. Dan matanyapun mulai berkaca-kaca. Melihat Gadlyn yang hampir menangis, Rakha jadi menghela nafasnya. Pria itu paling tidak tahan kalau melihat wanita menangis.


Rakha bangkit dari kursi kebesarannya, dan duduk di sofa panjang.


"Kemarilah!" ujar Rakha.


Gadlyn menyeka air matanya dan mendekat kearah Rakha.


Ctakkkkk


Rakha menyentil dahi Gadlyn, setelah gadis itu meletakkan makanan diatas seja. Gadlyn meringis kesakitan dan menguncir bibirnya.


"Bisa tidak dikit-dikit nggak usah nangis? kenapa jadi gadis cengeng sekali?" ucap Rakha.


"Bisa nggak tuan nggak marah-marah tidak jelas begitu? salahku apa? hingga tuan sesuka hati memarahiku, tanpa aku tahu salahnya dimana?"


Gadlyn menutup mulutnya setelah mengucapkan semua isi hatinya. Rakha yang semula terkejut, jadi menyunggingkan senyumnya.


"Tahu juga melawan kalau merasa di tindas orang. Karena berani melawanku, maka kamu harus dihukum," ucap Rakha.


"Tu-Tuan, maafkan saya." Gadlyn ketakutan.


"Suapi saya!" perintah Rakha.


"Eh?"


"Apa kamu tuli? saya bilang suapi saya," perintah Rakha.


"Ini harimau kenapa sih? apa hari ini dia salah makan?" batin Gadlyn.


Gadlyn mulai memasukkan satu sendok makanan kedalam mulut Rakha. Rakha mengunyah makanan itu sembari menatap kearah Gadlyn.


"hari ini dia aneh sekali. Ngapain dia liatin aku kayak gitu? ayolah Gadlyn, kamu jangan salah faham, apalagi terpesona dengan harimau ini. Kalian itu sama sekali nggak cocok," batin Gadlyn.


"Kamu di kantor adalah serketarisku, jadi mulai besok kamu dilarang makan bersama pria lain kecuali bersamaku," ucap Rakha.


"Eh? apa itu peraturan baru di kantor?" tanya Gadlyn.


"Yang buat peraturan dikantor itu aku. Jadi tidak perlu ucapan tertulis, kalau aku mau membuat aturan baru. Apa kamu dengar?"


"I-Iya tuan saya dengar." Jawab Gadlyn.


Sementara itu dari balik pintu, Yure hanya bisa menepuk dahinya.

__ADS_1


"Si Rakha ini parah banget. Bagaimana mau dalat cewek kalau begitu? aku yang romantis aja di tolak, apalagi dia yang menggunakan jurus harimau? kaburlah semua cewek kalau begitu," ucap Yure.


Yure yang sengaja memberi Rakha kesempatan agar bisa berduaan dengan Gadlyn, memutuskan untuk kembali kedalam ruangannya karena kesal.


__ADS_2