
"Kamu pulang naik apa? kenapa lama sekali sampainya?"
"Naik taksi Mas. Di jalan sangat macet, karena ini jam pulang kerja."
"Karin nggak bisa nungguin kamu lama-lama. Tadi dia kepingin banget nasi goreng seafood buatan kamu, saking lamanya dia sampai tertidur."
"Sekarang, apa dia masih mau nasi gorengnya Mas? coba kamu tanyakan saja dulu, takutnya dia kelaparan."
"Biarkan dulu dia istirahat sekarang, dia bilang perutnya mual. Tapi kalau dia terbangun dan menginginkan masakanmu, kamu harus siap siaga."
"Iya Mas."
"Anak kami anak kamu juga kan? jadi kamu harus menjaga Karin dengan baik saat aku sedang tidak ada dirumah."
"Iya Mas."
Galang membalikkan badan, ingin menaiki tangga menuju kamarnya.
"Tunggu Mas!"
Galang menghentikan langkah kakinya dan menoleh hanya sekitar 45 derajat saja.
"Ada apa?"
"Sekarang Karin sudah hamil, bukankah aku istrimu juga?"
"Terus?"
"Terus kapan kamu memberikan hak itu padaku Mas?"
Galang membalikkan badan menatap Marinka dengan lekat. Mendekati wanita itu secara perlahan dan mencengkram kedua bahu Marinka dengan erat, hingga Marinka meringis kesakitan.
"Begitu inginkah kamu disentuh? apa milikmu sudah sangat terasa gatal?"
"Bu-Bukan begitu Mas. Tapi sampai kapan Mas bersikap tidak adil padaku? aku ini kan istrimu juga Mas?"
Galang terkekeh sembari sedikit mendorong tubuh Marinka, sehingga membuat wanita itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Kamu memang statusnya istriku. Tapi maaf, aku tidak berselera menyentuh wanita rendahan sepertimu. Coba kamu berkaca dicermin yang besar, agar kamu tahu apa perbedaanmu dengan Karin. Dari segala segi, kamu tidak bisa dibandingkan dengan dia."
"Oh ya satu lagi, kalau memang milikmu sudah tidak tahan lagi gatalnya, aku membebaskanmu untuk bersenang-senang dengan pria lain diluar sana. Pergilah ke Klub malam, biasanya banyak gigolo yang mencari mangsa wanita haus seperti dirimu,"
Galang menaiki anak tangga dengan cepat, sementara Marinka hanya bisa terduduk lemas dilantai mendengar semua hinaan yang Galang tujukan padanya
"Teganya kamu Mas, kamu menganggapku seperti wanita murahan. Apa aku salah meminta hak ku? paling tidak kamu memperhatikan aku, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Hikz..."
"Nyonya. Apa anda baik-baik saja?"
Marinka menghapus air matanya dan beranjak dari lantai.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Bi. Aku ke kamar dulu,"
"Emm."
Marinka bergegas masuk kamar, untuk kembali menumpahkan kesedihannya, hingga tidak terasa matanya yang membengkak kembali terlelap.
Tok
Tok
Tok
"Nyonya. Makan malamnya sudah siap," bibi Maryam mengetuk pintu perlahan.
Marinka mengerutkan dahinya, lagi-lagi dia menatap kamarnya yang gelap gulita, yang menandakan hari sudah malam.
"Ya Tuhan...sepertinya aku terlambat menyiapkan makan malam lagi," ucap Marinka lirih.
Marinka menyalakan lampu kamarnya, dan bergegas membersihkan diri. Setelah itu Marinka turun kebawah untuk makan malam.
Tampak dengan telaten galang menyuapi Karin dengan mesra. Sesekali pria itu menyeka sudut bibir Karin dengan menggunakan tisu, terasa miris Marinka melihat pemandangan itu.
"Kenapa kakak baru turun sekarang? apa kakak kurang enak badan lagi?" tanya Karin seolah menjadi madu yang perhatian untuk Marinka.
"Aku baik-baik saja."
Marinka mulai menyendokkan makanan kedalam piringnya, dan mulai makan dalam diam.
Marinka menghentikan kunyahan dimulutnya dan menatap Karin dengan tatapan dingin.
"Kenapa? nggak mau ya kak? kalau nggak mau nggak apa kok, aku cuma mengabulkan keinginan calon anakku saja."
"Mau tidak mau dia harus mau. Anak kita tidak boleh makan yang tidak keturutan. Kamu buatkan apapun yang Karin mau. Kamu mendengarku?"
"Iya Mas."
Marinka kembali makan dalam diam, sungguh hatinya bergemuruh saat ini. Namun sebisa mungkin dia masih ingin bersabar, berharap akan ada keajaiban meskipun semua orang mengatakan dia seorang wanita yang bodoh akut, termasuk sahabatnya Sera.
Saat bertemu dengan sahabatnya itu, berulang kali gadis itu mengatakan dia bodoh akut dan bodoh tidak tertolong lagi. Sekarang sahabatnya itu belum tahu, kalau madunya saat ini sedang mengandung. Marinka tidak bisa membayangkan cacian apa lagi yang dia terima dari sahabatnya itu, kalau seandainya dia tahu telah diperlakukan layaknya pembantu oleh suami dan madunya sendiri.
"Sayang. Aku sudah kenyang, kak nanti kalau nugetnya udah jadi, bawa kemar ya? sekalian bikin jus jeruk ya kak?"
"Emm." Marinka hanya menganggukkan kepalanya.
Galang kembali memapah Karin saat akan menaiki anak tangga. Marinka yang selesai makan, langsung berkutat didapur untuk membuat nuget ayam keinginan Karin.
Tidak sampai 45 menit, nuget ayam itu sudah siap disajikan. Marinka menyusun beberapa nuget kedalam piring, kemudian meletakkan saus sambal di mangkok kecil.
"Ckk...hampir lupa, dia kan minta dibuatin jus jeruk juga," ucap Marinka.
__ADS_1
"Biar saya saja Nyonya, Nyonya duduk saja. Anda pasti sudah sangat lelah."
"Makasih Bi."
Marinka kembali duduk di meja makan, sembari menunggu bibi Maryam selesai membuatkan jus jeruk untuk Karin.
Marinka menaiki anak tangga sembari memegang nampan yang berisi makanan dan minuman.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Mas. Ini nuget yang Karin minta,"
"Sayang. Nugetmu sudah jadi, apa mau dimakan sekarang?"
"Aku ngantuk Honey. Bayi kita tidak menginginkannya lagi. Kamu aja yang makan ya?"
"Kamu dengar itu? Karin sudah tidak menginginkannya lagi, sementara aku tidak menyukai camilan itu. Sebaiknya kamu bawa saja kebawah, atau kamu makan sendiri saja."
Ceklek
Galang kembali menutup pintu tanpa perasaan. Marinka mengeratkan pegangan tangannya pada nampan itu dengan dada yang bergemuruh.
Marinka bergegas membawa camilan itu turun kebawah dan hendak membuangnya kedalam tong sampah karena emosi. Namun beruntung akal sehatnya kembali bekerja, gerakan tangannya terhenti diudara.
"Hah...apa salah makanan ini, hingga harus berakhir di tong sampah. Ini bukan salah kalian, yang salah wanita racun itu,"
Marinka mengajak bicara potongan nuget, seolah potongan-potongan itu mengerti dengan apa yang dia katakan.
Marinka membawa nuget itu keatas meja dan duduk santai menikmatinya.
Krauukkk
Kraukkk
Kraukkk
Marinka memakan satu demi satu nuget dengan mencocolkannya pada saus sambal.
"Kadang aku menyesal, kenapa harus pandai memasak didapur. Tapi orang-orang bilang, suami akan tunduk kalau perutnya kita bikin kenyang. Kalau begini caranya, perkataan orang-orang itu terdengar seperti omong kosong saja."
Entah Marinka sedang mengajak bicara siapa, karena asyik bicara sendiri, dia sampai tidak sadar kalau nuget yang ada dipiring sudah tandas kedalam perutnya.
"Aku harus berterima kasih pada wanita racun itu, berkat dia aku jadi kenyang dan bisa menikmati makanan selezat ini. Sering-Sering saja begini, tubuhku pasti akan mengembang."
__ADS_1
Marinka mencuci gelas dan piring bekas nuget ayam dan jus. Setelah itu dia kembali kekamar untuk kembali curhat dengan sahabatnya.