
"Bagaimana hasilnya dok? apa saya sudah bisa diperbolehkan pulang? saya merasa darah yang keluar juga tidak banyak lagi," tanya Poppy ketika dokter yang merawatnya sedang melakukan visit.
"Tunggu sampai anda benar-benar pulih. Tapi dari pada membicarakan soal itu, ada hal penting lainnya yang harus saya sampaikan. Saya harap anda bersabar saat mendengar apa yang akan saya katakan ini." Jawab dokter.
"Ada apa dok?" Poppy sedikit khawatir, saat melihat raut wajah dokter yang merawatnya sudah tidak enak di lihat.
"Karena anda melakukan aborsi bukan di tenaga kesehatan, maka menyebabkan hal serius terjadi. Insiden perdarahan tempo hari, bukan perdarahan biasa. Sudah terjadi komplikasi, dan terdapat parut dirahim anda. Dengan berat hati saya katakan, bahwa kedepannya anda akan sulit memiliki keturunan lagi," dokter itu menjelaskan secara rinci.
Sementara Poppy, tubuh gadis itu jadi lemas seketika. Keputusannya dan Reno yang ingin menunda kehamilan, benar-benar di kabulkan oleh Tuhan. Bahkan mungkin untuk selamanya.
"Ti-Tidak. Ini tidak mungkin kan dok? saya cuma belum siap punya anak sementara, bukan untuk selamanya," bibir Poppy bergetar.
Yang dia takutkan bukan hanya tidak bisa memiliki keturunan lagi, tapi bayang-bayang akan di tinggalkan Reno seperti menari-nari dipelupuk matanya.
"Bersabarlah. Meski kemungkinannya kecil, tapi masih ada peluang," ujar dokter.
"Berapa persen peluangnya?" tanya Poppy.
"Sekitar 15%. Anda berdo'a saja. Semoga kedepannya diberikan keajaiban oleh Tuhan," ucap dokter.
Poppy terisak, saat dokter itu sudah keluar dari ruangan. Dia benar-benar menyesal karena terlalu gegabah mengambil keputusan sebesar itu.
"Reno. Aku harus memberitahu Reno. Mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Aku tidak mau karena aku tidak lagi sempurna, dia seenaknya mau ninggalin aku," Poppy menyeka air matanya dengan cepat, kemudian meraih ponselnya karena ingin menghubungi Reno.
"Ada apa?" tanya Reno diseberang sana.
"Kamu kenapa belum jengukkin aku? kamu ninggalin aku sendirian di rumah sakit, kamu nggak khawatirin aku sama sekali Ren?" Suara Poppy terdengar serak dan bergetar.
"Kamu kan tahu aku kerja." Jawab Reno.
"Kan bisa pulang kerja mampir kesini Ren. Aku butuh kamu saat in," ujar Poppy.
__ADS_1
"Ya oke. Nanti aku akan jengukkin kamu di rumah sakit. Tapi seperti biasa, aku nggak bisa nginep jagain kamu." Jawab Reno.
"Aku tunggu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu," ujar Poppy.
"Ya. Tunggu aku. Sekarang aku tutup dulu telponnya, aku masih sibuk di kantor," ucap Reno.
Setelah mengatakan hal demikian, Reno langsung menutup panggilan telpon itu. Sejak kemarin pikirannya bercabang. Selain ingin minta putus dengan Poppy, dirinya juga ingin kembali mendekati Gadlyn.
Bukan tanpa alasan pria itu bersikeras ingin kembali pada mantan kekasihnya itu. Sebab tanpa sengaja dirinya melihat Gadlyn pergi berdua dengan Rakha untuk menghadiri meeting dengan klien. Gadlyn terlihat bertambah cantik dimatanya, terutama karier Gadlyn yang tidak lagi menjadi seorang OG.
Reno menyadari dirinya terlalu bodoh dan gegabah, karena sudah membuang Gadlyn terlalu terburu-buru. Tidak hanya menghianati gadis itu, Reno juga berkali-kali menghinanya. Kini dia harus mengarang cerita yang bagus, agar Gadlyn mau kembali bersamanya tanpa mengingat apapun yang dia lakukan pada gadis itu.
Setelah jam pulang kantor, Reno memang menepati janjinya pada Poppy untuk menjenguk gadis itu. Kesan pertama saat membuka pintu ruangan Poppy, gadis itu seolah tidak sabar ingin berhambur kepelukkannya.
"Reno. Hikz...." Poppy memeluk erat pinggang Reno, saat pria itu berdiri tepat disamping ranjang pasien.
"Ada apa? bukankah aku sudah datang? kenapa kamu jadi cengeng begini?" tanya Reno.
Poppy kembali memeluk Reno yang diam mematung. Pria itu seolah terkejut awalnya, namun tanpa Poppy tahu, Reno memiliki senyum kemenangan dibibirnya. Sekarang Reno punya alasan untuk mencampakkan gadis itu.
"Ren. Kamu nggak akan ninggalin aku kan? ini semua kan ide kamu Ren, seandainya waktu itu kamu nggak memaksaku buat gugurin anak kita, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Jadi kamu mau nyalahin aku sekarang. Iya?" Reno menjauhkan tubuh Poppy dari dekapannya.
"Aku nggak nyalahin kamu. Aku cuma mau kamu bertanggung jawab buat nikahin aku." Jawab Poppy.
"Nikahin kamu? yang benar aja dong Pop. Aku ini anak tunggal. Kalau aku nikahin kamu, itu berarti garis keturunanku cuma sebatas aku saja. Lagi pula orang tuaku pasti nggak akan kasih restu," ujar Reno sarkas.
"Jadi kamu mau lepas tanggung jawab gitu aja?" tanya Poppy.
Poppy tidak bisa percaya saat mendengar apa yang Reno katakan. Padahal saat ini dirinya sangat butuh dukungan, untuk memberikan sedikit kekuatan yang sudah hilang sejak dokter mengatakan kabar duka itu.
__ADS_1
"Tadinya aku mau bertanggung jawab, tapi kamu juga harus ngertiin aku dong Pop. Aku masih pengen punya keturunan. Sudahlah, tidak usah panjang kali lebar lagi. Capek aku ngomong sama kamu. Kamu juga tidak akan mengerti. Jadi mulai sekarang aku tegaskan sama kamu, mulai hari ini kita resmi putus!"
Jderrrrrr
Perkataan Reno benar-benar meluluh lantakkan hati Poppy yang baru saja terkoyak oleh ucapan dokter. Sekarang luka itu bertambah menganga lebar, air matanya berjatuhan bak air terjun yang jatuh dari ketinggian.
"Bisa-Bisanya kamu sekejam itu sama aku Ren? padahal aku sudah memeberikan segalanya sama kamu. Materi, cinta, bahkan kehormatan. Tega-Teganya kamu mencampakkan aku setelah semuanya berhasil kamu renggut tanpa sisa," bibir Poppy bergetar. Ucapan Reno seperti guncangan Tsunami yang mendobrak pertahanan samudera.
"Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Setelah aku pikir-pikir, Gadlyn lebih baik darimu dari segala hal. Yah...meskipun dia sangat sulit ditaklukkan diatas ranjang, tapi bukan berarti tidak bisa terjadi. Maaf Pop, hubungan kita berakhir disini saja," ujar Reno sembari beranjak pergi.
"Reno. Kamu nggak bisa giniin aku Reno. Kamu harus bertanggung jawab. Dasar bajingan kamu! pria sampah! aku kutuk kamu akan mengalami keadaan yang tidak jauh berbeda denganku!" teriak Poppy.
Setelah ungkapan itu keluar dari mulutnya, pertahanan Poppy ambruk seketika. Gadis itu menangis histeris, sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
******
Ckiiiiittttttttt
Brukkkkkkk
"Awwwwwww..." Gadlyn meringis kesakitan, karena dengan terpaksa tubuhnya harus berciuman dengan trotoar.
Nafas Gadlyn naik turun, karena dia tahu betuk penyebab dirinya kecelakaan karena seseorang yang baru saja turun dari mobil.
"Ikut aku!"
"Aku ngak mau! sudah aku bilang, aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Apa kamu itu tuli?" hardik Gadlyn.
"Pokoknya harus ikut! aku ingin bicara penting dan serius denganmu," Reno berusaha menyeret tangan Gadlyn.
"Lepasin aku Reno brengsek! kita tidak punya urusan lagi. Lepasin aku nggak!"
__ADS_1
Gadlyn berusaha berontak sekuat tenaga. Sementara itu, tangan seorang pria terkepal erat. Sudah hampir sebulan terakhir pria itu membuntuti Gadlyn dari belakang, dengan maksud ingin menjaga gadis itu agar tidak celaka lagi. Tapi lagi-lagi pria itu kecolongan.