
Reno dan Poppy terkejut, dan menarik diri mereka masing-masing, kemudian menutup tubuh mereka dengan selimut.
"Sial. Aku pikir siapa yang datang, mengagetkanku saja," ujar Reno tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Teganya kalian melakukan ini padaku? apa sebetulnya aku sudah lama kalian bodohi?"
"Hah...ya sudahlah, kamu juga sudah tahu semuanya. Jadi tidak perlu menutupinya lagi. Aku dan Poppy memang sudah sejak lama bersama. Jadi Gadlyn, aku tegaskan padamu sekali ini saja. Kita putus!" ucap Reno tanpa perasaan.
"Kenapa kamu lakukan ini sama aku Reno kenapa? apa hubungan 3 tahun yang kita jalin tidak ada arti apa-apa bagimu?" tanya Gadlyn dengan berurai air mata.
"Mau seperti apa aku menjelaskan padamu. Selama 3 tahun berpacaran, jangankan berhubungan intim, kita bahkan tidak pernah sekalipun berciuman. Aku ini pria normal, mana bisa aku tahan berdampingan dengan wanita yang mempertahankan nilai-nilai kuno sepertimu,"
"Jadi yang ada dipikiran kamu hanya menginginkan hal itu saja?"
"Kenapa tidak? aku ini pria normal, dan aku bisa mendapatkan itu dari Poppy. Lagi pula apa yang bisa aku harapkan darimu? meski kamu cerdas dan lulusan terbaik Harvard, ternyata kamu cuma jadi OG. Sangat berbeda dengan Poppy, meskipun dia hanya urutan kedua darimu, tapi kariernya jelas bagus. Gengsi dong, pria setampan aku pacaran sama OG." Jawab Reno.
"Apa ini Pop? selama ini aku sudah menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri. Apapun selalu kita bagi bersama, jangankan uang, bahkan makanan yang ada di dalam mulutku, aku bersedia mengeluarkannya asal bisa berbagi denganmu. Tapi bukan berarti aku mau berbagi cinta denganmu? aku sungguh tidak menyangka kalau kamu jadi pagar makan tanaman begini," ujar Gadlyn dengan menahan sesak di dadanya.
"Reno. Sebaiknya kamu sama Gadlyn saja, aku merasa tidak enak hati. Dia begitu mencintaimu, aku nggak apa-apa kok," ujar Poppy sembari memasang raut wajah sedih.
"Sayang. Apa yang kamu katakan? kita kan sudah berjanji akan menghadapinya sama-sama. Ini semua bukan salahmu, salah dirinya yang tidak bisa menjadi seperti yang aku mau," ujar Reno sembari mengusap wajah Poppy.
"Oh...ya Tuhan...aku tidak pernah melihat pasangan yang lebih tidak tahu malu seperti kalian ini," ucap Gadlyn sembari meraih boneka babi yang berada di lantai dan melemparkannya kearah Poppy dan tepat mengenai wajah gadis itu.
"Itu boneka babi untukmu, hadiah penghianatanmu dariku. Kalian berdua sifatnya tidak jauh beda dari babi. Kalian tahu kan babi? kotorannya sendiripun dia makan, itulah simbol ketamakan dan kerakusan kalian berdua. Seperti kalian, yang satu merebut pacar teman sendiri, dan yang satu mengencani sahabat dari pacarnya sendiri." ucap Gadlyn.
"Aku tidak menyangka kamu bisa berkata sekasar itu Gadlyn. Beruntung aku tidak menikahi gadis kasar sepertimu. Kamu sangat berbeda dengan Poppy yang lemah lembut," ujar Reno.
__ADS_1
"Bahkan aku bisa lebih kasar dari ini brengsek!" hardik Gadlyn.
"Heh...kamu bilang kamu beruntung karena tidak menikah denganku? justru aku yang beruntung karena tidak menikahi pria berotak sampah sepertimu. Bersenang-senanglah kalian berdua, aku doakan kalian mati gancet!" serapah Gadlyn.
Gadis itu kemudian hendak berbalik badan, namun suara Poppy menghentikannya.
"Tunggu Lin!" ujar Poppy yang bergegas turun dari tempat tidur dengan tubuh dibalut selimut.
Poppy kemudian membawa Gadlyn keluar kamar dan mereka bicara hampir di dekat pintu keluar.
"Makasih ya sudah nyerahin Reno buat aku. Akhirnya dia bisa jadi milik aku seutuhnya," ujar Poppy setengah berbisik kemudian mengedipkan mata kearah Gadlyn.
Melihat itu Gadlyn tertawa keras, hingga matanya barair.
"Oh...astaga, ternyata kamu sudah merencanakannya sejak lama? apa Reno tahu wajahmu yang bermuka dua seperti ini? yang dia anggap lemah lembut?" tanya Gadlyn
"Karena setiap pria yang aku sukai, selalu berakhir menyukaimu termasuk Reno. Tapi sekarang hasil kerja kerasku membuahkan hasil, pria yang aku cintai sudah melihat kearahku. Dan Gadlyn, sepertinya pamormu sekarang sudah turun, mungkin susuk yang kamu gunakan sudah luntur," ujar Poppy, yang membuat Gadlyn jadi terkekeh mendengarnya
"Ucapanmu mencerminkan kualitas dirimu. Kamu sudah tahu seperti apa rupaku dan bodyku. Aku cantik dan sexy alami. Aku tidak perlu memberikan mahkotaku, agar pria mau melirikku. Tidak seperti seseorang yang sudah kehilangan harga diri," sindir Gadlyn.
"Kamu berdo'a saja, semoga suatu saat Reno tidak berpaling darimu. Karena kalau sampai itu terjadi, maka kamu harus merasakan rasa sakit seperti yang aku alami saat ini."
"Kamu ambil saja Reno. Karena pria sampah memang cocok dengan wanita sampah sepertimu. Bye!!!" sambung Gadlyn.
Gadlyn langsung berbalik badan dan membuka handle pintu, kemudian keluar dari apartement itu.
"Heh...sok tegar. Paling keluar dari sini juga mewek," ujar Poppy dan kembali masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Benar apa yang Poppy katakan. Tubuh Gadlyn saat ini memang sudah merosot dilantai, setelah pintu dibelakangnnya tertutup rapat. Gadlyn terisak, dia benar-benar merasa sakit hati atas semua penghianatan yang dilakukan oleh pacar dan sahabatnya sendiri.
"Tega sekali kamu Reno. Padahal aku sangat mencintaimu, kamu adalah hidupku, segalanya bagiku. Sekarang aku harus bagaimana tanpa kamu? hikz..."
Gadlyn segera menghapus air matanya, dia tidak mau Poppy dan Reno melihat air mata kelemahannya. Dia tahu, mungkin untuk kedepannya dia agak sedikit susah move on. Tapi bukan berarti dia mau terpuruk selamanya.
Gadlyn memang sudah lama berpacaran dengan Reno. Dia bertemu Reno saat sama-sama kuliah di Harvard. Sementara Poppy adalah sahabatnya sejak mereka sekolah menengah atas. Tapi dia benar-benar tidak menyangka, kalau sahabat yang dia anggap saudara, menusuk dirinya dari belakang.
Drap
Drap
Drap
Gadlyn berlari kearah lift. Dan ketika lift terbuka, dirinya masuk dengan tidak sabar, padahal ada orang yang hendak keluar.
Brukkkk
Gadlyn menabrak bahu seorang pria. Gadlyn kemudian membungkuk tanda permintamaafan dirinya, namun Gadlyn tidak memperlihatkan wajahnya yang sedang beruraian air mata. Dan sampai lift itu tertutup kembali, dirinya sama sekali tidak tahu siapa orang yang sudah dia tabrak itu.
"Itu kan Gadlyn? ada apa dengannya? kenapa dia menangis?" ucap Yure.
"Selidiki apa yang terjadi padanya," ujar Rakha.
"Baik." Jawab Yure.
Kedua pria itu kemudian melanjutkan pergi ke apartemen milik Yure yang ternyata berada satu koridor dengan Poppy. Setelah selesai bergangi pakaian, Rakhapun bergegas pulang kerumah pribadinya. Yah...Rakha saat ini memang memiliki rumah pribadi, karena dia tidak ingin serumah dengan adik-adiknya yang sangat berisik menurutnya. Sebagai putra tertua dan putra satu-satunya diantara 3 adik perempuannya, dia cukup terganggu dengan sikap adiknya yang sangat manja padanya. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk punya rumah pribadi sendiri.
__ADS_1