Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.60. Mengurus Perceraian


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


"Sayang. Dua minggu lagi aku akan pulang, aku sudah menyelesiakan semua kontrak yang ada disini. Apa kamu sudah mengurus perceraianmu dengan Marinka?"


"Belum."


"Kok belum?"


"Apa sebaiknya menunggu kamu pulang saja dulu?"


"Tidak perlu, aku ingin surat pengajuan cerai itu harus ada disaat aku pulang nanti, jadi kita bisa minta tanda tangan Marinka secara bersama. Aku ingin aku yang menjadi saksi perpisahan kalian."


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"


"Loh kenapa? sejak awal kan dia memang sudah tahu perjanjian kalian bagaimana? kenapa dia harus keberatan saat aku yang menjadi saksi perpisahan kalian? dia juga tahu kalau kamu itu memang milikku."


"Ya baiklah kalau itu maumu. Akan aku urus secepatnya surat itu, yang terpenting cepatlah kamu kembali kesini."


"Ya Honey. Sabar ya?"


"Emm."


"Yang terpenting kamu harus mengingatkan Marinka tentang perceraian kalian itu, jadi dia harus bersiap-siap pergi dari rumahmu."


"Iya. Ya sudah ya? masih banyak pekerjaan kantor, aku tutup dulu telponnya.


"Oke."


Ezra segera mengakhiri panggilan itu, pria itu menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya.


"Bagaimana caraku memulai pembicaraan tentang perceraianku pada Marinka. Apa dia akan baik-baik saja?" ucap Ezra.


Ezra menekan ponselnya untuk membuat panggilan pada Yuda.


"Yud. Keruanganku ya? ada hal penting yang ingin aku bicarakan,"


"Oke."


Yuda bergegas pergi keruangan Ezra. Dia ingin mendengarkan hal penting apa yang Ezra ingin bicarakan padanya.

__ADS_1


"Ada apa? wajahmu terlihat cemas,"


"Aku tidak sedang cemas, aku butuh bantuanmu untuk mengurus sesuatu."


"Bantuan apa?"


"Dua minggu lagi Jihan pulang. Aku ingin kamu mengurus perceraianku dengan Marinka."


Mendengar itu, Yuda tertegun. Dia bukan berada dalam posisi Marinka, tapi hatinya bisa merasakan sakit. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan perasaan Marinka saat dia tahu Ezra benar-benar akan menceraikannya.


"Zra. Apa kamu benar-benar yakin ingin menceraikan Marinka? apa kamu yakin selama kebersamaan kalian tidak pernah tumbuh perasaan lain?"


"Apa maksudmu? sepertinya kamu tidak suka aku berpisah dengan Marinka."


"Tentu saja. Karena Marinka 1000 kali lebih baik dari wanita pilihanmu itu."


"Yud. Aku hanya butuh kamu mengurus surat perceraianku, bukan malah mengomentari hubunganku dan Jihan. Jangan sampai aku melupakan kalau kamu pernah menjadi sahabat baikmu."


Yuda tersenyum sinis, saat mendengar ucapan Ezra. Dia tahu betul Ezra saat ini benar-nenar dibutakan oleh rasa cintanya dengan Jihan.


"Aku akan urus semuanya, aku hanya ingin mengingatkan satu hal padamu, jangan sampai setelah Marinka pergi jauh darimu, dan tidak berniat kembali lagi padamu, kamu baru akan menyesalinya. Karena aku orang pertama yang akan menentang hubunganmu kembali bersama Marinka."


Yuda meninggalkan ruangan Ezra begitu saja. Sementara itu Ezra memijat keningnya, dia benar-benar sedang berada dalam suatu dilema yang besar.


"Aku akui di sisi lain aku terlihat kejam, tapi aku harus bagaimana lagi? aku tidak mungkin terjebak selamanya diantara dua wanita seperti itu. Lagipula aku juga tidak tahu, bagaimana perasaan Marinka sebenarnya terhadapku. Sepertinya dia hanya menganggapku benar-benar sebagai kakaknya. Itulah sebabnya, aku tidak merasa ragu saat ingin mengajukan perceraian ini, karena aku yakin dia akan baik-baik saja."


"Hah...pusinggggg," Ezra mengacak-acak rambutnya sendiri.


Sementara itu ditempat berbeda, Marinka tampak terlihat melamun di taman kampus.


"Kamu kenapa sih Ka? aku perhatikan akhir-akhir ini sering melamun. Kamu sedang ada masalah?" tanya Arumi.


"Tidak ada. Aku cuma sedang banyak pikiran saja."


"Bingung deh sama orang tajir, punya suami ganteng harta berlimpah, tapi masih juga terlihat banyak masalah."


"Yah...namanya juga idup Rum, mana mungkin tidak punya masalah dan lempeng-lempeng saja."


"Sebenarnya kamu ada masalah apa?"

__ADS_1


"Maaf ya Rum, aku belum bisa cerita saat ini."


"Tidak apa-apa. Nanti saat kamu ingin bererita, aku siap mendengarkan semua keluh kesahmu."


"Makasih ya Rum."


"Emm. Apa kamu belum mau pulang? atau supirmu menjemputmu?"


"Aku pulang sendiri, supirku sedang ada perkerjaan lain."


"Ya sudah, aku duluan kalau gitu ya?"


"Emm. Hati-Hati,"


Arumi melenggang pergi meninggalkan Marinka seorang diri ditaman, Marinka kembali merenung disana.


"Dua minggu lagi, dua minggu lagi semuanya akan berakhir. Ya Tuhan...kenapa ini lebih berat aku rasakan, dari pada berpisah dengan Galang waktu itu. Ini lebih sakit dari pada waktu tahu Galang menghianatiku bersama Karin. Apa rasa cintaku pada Ezra lebih besar daripada cintaku pada Galang?"


"Aku harus kuat, jangan sampai bang Ezra tahu kalau aku memiliki perasaan lebih padanya. Dia pasti akan membenciku, dan mengira aku memanfaatkan semua kebaikkannya."


"Hah...rasanya ini seperti mimpi. Aku harus memikirkan akan tinggal dimana setelah kami bercerai nanti. Aku tidak ingin tinggal di Apartement pemberian bang Ezra, aku tidak ingin jadi bahan ungkitan bagi Jihan. Aku tahu Jihan tidak menyukaiku,"


Marinka beranjak dari kursi taman dan memesan sebuah taksi, Marinka pulang dengan membawa pikirannya sendiri.


Saat tiba didepan pagar, Marinka melihat Ezra baru pulang dari kantor, dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


"Adek baru pulang juga?"


"Iya. Adek duluan naik ya bang?"


Tanpa menunggu jawaban dari Ezra, Marinka bergegas membuka pintu utama dan segera menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


"Hah...maafkan adek bang, bukan maksudku ingin menghindarimu, tapi aku sangat takut imanku akan rusak." Tubuh Marinka merosot dibalik pintu kamarnya sembari terisak.


"Ada apa lagi dengan Marinka? kenapa dia seperti menghindariku? apa ini ada hubungannya dengan perceraian kami? tapi kan aku belum mengatakan apa-apa padanya?" Ezra bergumam heran.


Ezra bergegas memasuki rumah dan menaiki anak tangga. Pria itu bermaksud ingin bicara dengan Marinka dan ingin menyampaikan tentang perceraian mereka. Namun tangannya terhenti di udara, saat mendengar isak tangis Marinka dari luar pintu.


"Ada apa dengan Marinka? kenapa dia menangis? apa dia sedang ada masalah di kampusnya? kalau aku membicarakan tentang perceraian kami, tentu saja ini bukan waktu yang tepat, dia pasti akan bertambah sedih bukan? sebaiknya aku bicarakan nanti-nanti saja," batin Ezra.

__ADS_1


Ezra mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Marinka. Pria itu bergegas kembali kekamarnya dan membersihkan diri. Setelah selesai Ezra kembali membuat panggilan untuk sang pujaan hati, sementara Marinka masih terisak didalam selimut membenamkan diri.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2