
Ezra menggeser tiap lembaran foto yang ada di ponselnya. Foto kenangan antara Marinka dan dirinya ditiap liburan. Foto yang terlihat manis dan mesra.
"Dek. Kamu ada dimana? abang sangat merindukanmu. Tolong beri abang petunjuk, agar abang bisa menemukanmu. Kenapa kamu begitu ingin menjauh dariku, sehingga tanpa jejak sedikitpun adek ninggalin abang,"
Tes
Air mata Ezra menetes begitu saja, saat mengenang istri yang sangat dia rindukan itu.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," ujar Ezra sembari menyeka air matanya.
"Belum pulang?" tanya Yuda.
"Sebentar lagi, kamu duluan saja."
"Baiklah. Aku duluan ya?"
"Emm."Ezra mengangguk.
Yuda keluar dari ruangan Ezra dan menuju meja Regia.
"Sudah siap pulang?"
"Sudah."
"Biar aku antar,"
"Tidak usah tuan,"
"Jangan membantah."
"Ba-Baiklah,"
Yuda berjalan lebih dulu, sementara dibelakang Regia senyum-senyum sendiri. Bagi gadis itu, ini sebuah kemajuan yang sangat pesat untuk perjuangannya selama ini. Meski masih terlihat jutek, Yuda jauh lebih lembut dari sikap yang dia tunjukkan selama ini. Dan Regia berharap, Yuda segera mengungkapkan perasaannya. Regia tidak ingin ciuman pertamanya dicuri tanpa ada rasa tanggung jawab dari pria itu."
Yuda membukakan pintu untuk Regia gadis itu masuk dengan perasaan berbunga-bunga.
"Kenapa diam saja? apa dia tidak ingin meneruskan ucapan dia yang sempat tertunda tadi? jadi sebenarnya dia menyukaiku apa tidak?" batin Regia.
"Apa akhir pekan nanti kamu punya acara?"
"Akhir pekan? tidak ada." Jawab Regia.
"Meskipun ada, batalkan saja. Aku ingin mengajakmu keluar,"
"I-Iya." Regia bersorak dalam hati.
"Apa ini namanya ajakkan kencan? ah...akhirnya pria galak ini ngajak aku kencan juga," batin Regia.
"Dulu waktu dengan pacarmu, kamu suka diajak kencan kemana?" tanya Yuda.
"Pacar?"
"Ya pacar,"
"A-Aku tidak pernah pacaran." Jawab Regia tertunduk.
"Jadi aku..." Yuda tidak meneruskan kata-katanya karena takut dianggap terlalu percaya diri.
__ADS_1
"Tuan kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, tidak jadi." Jawab Yuda.
"Belok kanan," ujar Regia yang hampir saja Yuda salah membelokkan arah mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun akhirnya sampai disebuah gang kecil.
"Berhenti disini saja tuan, gang menuju rumahku terlalu sempit. Mobil tuan tidak akan cukup," ujar Regia.
"Biar aku antar sampai rumahmu,"
"Tidak usah. Ini sudah jam 8 malam, lembur hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran, jadi tuan pulang saja untuk beristirahat."
"Baiklah. Sampai jumpa besok,"
"Emm. jangan lupa kabari kalau sudah sampai,"
"Ya." Jawab Yuda.
Yuda menekan klaksonnya sebanyak satu kali, saat akan melajukkan mobilnya, sementara Regia melambaikan tangannya untuk melepas kepergian Yuda. Namun saat dirinya akan berbalik badan, suara seseorang memanggil dirinya.
"Regia Renata,"
Regia berbalik badan dan mendapati seorang pria menyeringai kearahnya.
"Anda siapa?" tanya Regia.
"Ada seseorang yang ingin bertemu anda,"
"Seseorang? siapa?"
"Kamu akan tahu setelah ikut dengan saya."
"Saya tidak mau." Regia segera berbalik badan karena merasa ada yang tidak beres dengan pria itu.
Jalanan yang mulai sepi, tidak seorangpun tahu saat pria itu sudah membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan yang sudah diolesi obat bius. Regiapun langsung tidak sadarkan diri.
"Ehhmmm"
Mata Regia perlahan terbuka, saat pengaruh obat bius sudah mulai melemah. Mata Regia sedikit buram karena matanya masih ingin menyesuaikan dengan cahaya disekitar ruangan itu.
"Sudah bangun Regia Renata?" tanya seorang wanita yang Regia kenal.
"Kamu? apa mau mu? kenapa kamu menculikku?"
"Seharusnya kamu sudah tahu kenapa aku sampai menculikmu."
"Apa maksudmu? aku tidak pernah merasa ada melakukan salah padamu,"
"Ckk...berpura-pura lugu di depanku sama sekali tidak ada gunanya."
"Aku mohon lepaskan aku nona Jihan. Urusanmu ada dengan tuan Ezra bukan? aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kalian."
"Masih mau sok bersikap polos rupanya. Sebaiknya kamu serahkan saya uang 160 milyar milikku,"
"160 milyar? uang apa itu? aku tidak memgerti apa yang kamu bicarakan.
Plakkkkk
Jihan menampar wajah Regia dengan cukup keras.
"Jangan membuat kesabaranku habis, karena aku bukan tipe orang yang sabar luar biasa."
__ADS_1
"Aku bersumpah, aku tidak tahu apapun tentang uang yang kamu bicarakan."
"Masih tidak mau mengaku kamu?"
"Awwwww sakittt," Regia meringis kesakitan karena Jihan menjambak rambut gadis itu dengan keras.
"Tahu sakit, tapi masih keras kepala? katakan dimana uangku? atau katakan dengan siapa kamu bersekongkol?"
"Aku bersumpah, aku benar-benar tidak tahu dimana uangmu."
"Lalu ini apa? ini akun bankmu bukan?" Jihan memperlihatkan nomor rekening atas nama Regia Renata
Regia mengerutkan dahinya, kemudian gadis itu teringat saat Yuda meminjam akun miliknya dan memberikan uang 500 juta secara cuma-cuma.
"Apa uang yang Yuda maksud, adalah uang dari Jihan? tapi kenapa? aku harus bagaimana ini?" batin Regia.
"Bagaimana? apa sudah ingat?"
"Maaf nona Jihan, tapi mungkin itu bukan Regia saya, ada banyak nama yang sama di dunia ini. Terlebih untuk apa saya berbohong dalam situasi seperti ini,"
"Bohong!" hardik Jihan.
"Sungguh. Kalau saya memiliki uang sebanyak itu, untuk apa saya bekerja dengan orang lain? saya akan membuat usaha sendiri dan mungkin saya bisa menjadi bosnya."
"Baiklah kalau kamu tidak ingin mengaku, jangan salahkan aku berbuat kejam."
"Apa yang akan kamu lakukan? aku sungguh tidak tahu apa-apa."
"Kamu akan tahu setelah merasakannya," Jihan menyeringai jahat.
Jihan kemudian memberikan kode untuk orang suruhannya. Jihan kemudian pergi begitu saja tanpa menghiraukan suara jeritan Regia yang meminta pertolongan.
"Apa mungkin bukan dia? seharusnya dia mengakuinya saat mendapat perlakuan seperti itu. Apa jangan-jangan memang bukan dia? apa aku sudah salah sasaran?" batin Jihan.
Setelah hampir 40 menit, pria suruhan Jihan keluar dari ruangan itu dengan senyum puas dibibirnya.
"Antar gadis itu dimana tempat pertama kamu menculikmya,"
"Baiklah." Jawab Pria itu.
Tap
Tap
Tap
Jihan mendekati Regia yang sudah lemah tak berdaya, degan pakaian yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Jangan coba-coba mengatakan ini pada siapapun, kalau tidak ingin video bugilmu tersebar diseluruh jagad maya." ancam Jihan.
"Jangan salahkan siapapun, karena ini kesalahanmu yang tidak ingin mengakui uang itu."
Jihan pergi begitu saja, sementara pria suruhan gadis itu segera membawa Regia pergi dan meninggalkan Regia begitu saja dijalan tempat dirinya menculik Regia beberapa jam yang lalu.
Regia berjalan tertatih dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, saat dirinyan tiba dirumah. Beruntung suasana sudah sepi, jadi tidak ada seorangpun tahu tentang keadaan yang menimpa dirinya.
Byurrrr
Byurrr
Byurrr
Regia menyiram tubuhnya bergayung-gayung hingga tubuh itu menggigil kedinginan. Jangan ditanya bagaimana air mata Regia, gadis itu menangis terisak hingga dadanya terasa sesak. Sekeras dan sekuat mungkin Regia menggosok tubuhnya karena ingin membersihkan bekas pria yang sudah menodainya, namun sekuat apapun dia berusaha rasa kotor yang dia rasakan tetap saja menghinggapi perasaannya.
__ADS_1
Regia merasakan sedih luar biasa, terlebih saat mengingat sosok Yuda. Dia tahu sudah berkorban begitu besar untuk pria itu, tapi setelah apa yang dia alami, dirinya akan menyerah terhadap pria itu, karena merasa dirinya sudah tidak layak lagi.
TO BE CONTINUE...🤗🙏