
"Sayang. Kamu sudah siap?" tanya Yure saat pria itu kembali memasuki kamar Ezka.
"Aku sedang mengeringkan rambutku." Jawab Ezka.
Yure maju mendekati Ezka yang sedang duduk di depan meja rias. Yure mengambil alih hairdryer dari tangan Ezka, dan mulai mengeringkan rambut panjang Ezka yang tergerai.
Ezka menatap Yure dari pantulan cermin, merasa ada yang memperhatikan, Yure menatap cermin dan pandangan mata mereka beradu disana. Dengan nakal, Yure mengedipkan satu matanya dan membuat Ezka jadi tersipu.
Setelah selesai, Yure membantu Ezka menyisir rambutnya. Dan dengan gerakkan nakal, Yure bermain di ceruk leher Ezka yang membuat Ezka jadi merasakan gelenyar aneh ditubuhnya.
"Yur-Yure. Biar aku selesaikan dulu berdandan, biar kita cepat pergi," ucap Ezka.
Yure menarik tangan Ezka, hingga gadis itu berdiri dan pinggangnya dirangkul mesra oleh salah satu tangan Yure. Sementara tangan yang lain menyusuri wajah Ezka dan kemudian melabuhkan ciuman dibibir Ezka yang tampak menggoda.
Yure berhasil membuai Ezka, hingga gadis itu membalas ciuman pria yang dia cintai itu.
Hosh
Hosh
Hosh
"Kita harus berhenti sekarang. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin kalau kita jadi pergi kerumah sakit," ujar Yure dengan nafas tersenggal.
Yure meneyeka sisa ciumannya di bibir Ezka yang tampak masih basah.
"Tapi malam ini, jangan harap kamu bisa lepas, meskipun kamu minta ampun sekalipun," bisik Yure, yang membuat wajah Ezka merona.
Setelah melewati beberapa adegan romantis itu, mereka akhirnya tiba di salah satu rumah sakit terbesar di kota Paris. Dengan gugup Ezka berbaring diatas tempat tidur.
"Lihatlah. Kalian akan memiliki anak-anak yang luar biasa," ujar dokter.
"Anak-Anak?" tanya Yure.
"Ya. Nyonya Ezka sedang mengandung anak kembar saat ini." Jawab dokter.
"Kem-Kembar?" Yure terbata.
"Ya. Selamat tuan, anak-anak anda dalam keadaan sehat. Jaga kondisi nyonya agar selalu memberi asupan nutrisi yanh baik untuk calon bayi kalian," ujar dokter.
"Sayang. Apa kamu dengar itu? tidakkah kamu pikir itu luar biasa? aku sangat hebat, langsung membuahi dua sekaligus," ucap Yure.
Mendengar ucapan Yure, jelas Ezka memutar bola matanya dengan malas.
"Jangan kamu katakan hal ini pada keluargaku, mereka pasti akan menertawakanmu," ujar Ezka.
"Loh kenapa? memang kenyataannya aku hebat," timpal Yure.
__ADS_1
"Apa kamu lupa, di keluargaku kan memang memiliki keturunan kembar," ujar Ezka.
"Oh iya lupa," Yure tersenyum kaku.
"Jadi dok sudah berapa usia kandungan istri saya?" tanya Yure.
Pertanyaan Yure jelas membuat Ezka merona. Gelar sebagai istri, sangat menyenangkan di dengar oleh telinganya.
"Kurang lebih 6 minggu. Sangat di anjurkan banyak mengkonsumsi sayur dan buah ya?" ucap dokter.
"Baik. Terima kasih dok," ujar Yure.
"Emmm...dok, itu...amankah kalau ngajak istri saya berhubungan saat usia kandungan seperti sekarang ini?" tanya Yure.
Mata Ezka melotot mendengar pertanyaan dari Yure. Sementara dokter jadi tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dokter melirik ke arah Ezka, gadis itu memberi isyarat dengan gelengan kepalanya.
"Ehemm...sebenarnya tidak msalah melakukan hubungan suami istri di usia kandungan seperti sekarang ini. Dengan syarat kondisi kandungan sehat. Namun memang usia kandungan di trimester pertama agak sedikit rentan, jadi kalaupun ingin melakukannya harus dengan hati-hati." Jawab dokter.
"Baik saya mengerti," ujar Yure.
Yure dan Ezka kemudian pulang, setelah menebus resep vitamin dari dokter.
"Memangnya tidak punya pertanyaan lain, selain pertanyaan konyol itu?" tanya Ezka.
"Pertanyaan yang mana?" Yure pura-pura tidak mengerti.
"Ckk...kamu tahu yang sedang aku bicarakan," ujar Ezka.
Ezka kembali memutar bola matanya dengan malas.
"Apa kamu pengen makan sesuatu?" tanya Yure.
"Apa saja. Aku tidak ada masalah dengan makanan." Jawab Ezka.
"Enak ya. Kalau aku sejak mengalami kehamilan simpatik, jadi tidak menyukai makanan yang biasa aku makan," ujar Yure dengan wajah mendung.
"Sekarang kamu ingin makan apa? biar aku masakkan untukmu," tanya Ezka sembari meletakkan tas di atas meja.
Grepppp
Yure memeluk Ezka dari belakang, dan meletakkan dagunya di bahu gadis itu.
"Aku sangat ingin memakanmu," bisik Yure.
"Apaan sih? kok jadi asal gitu?" tanya Ezka tersipu.
"Sebentar saja. Dokter juga tidak melarangnya selagi bermain aman," ujar Yure.
__ADS_1
Yure dengan tingkat kemesumannya tidak memperdulikan persetujuan Ezka lagi. Pria itu langsung beraksi, dan sofa diruang tamu menjadi saksi percintaan panas mereka di siang ini.
*****
Yure dan Ezka tiba di bandara tepat pada pukul 5 sore. Mereka sengaja melakukan perjalanan agak siang, karena Yure bermasalah dengan perutnya yang sering terjadi mual dan mutah.
Yure mengatar Ezka pulang lebih dulu, setelah itu dia akan kembali kerumah orang tuanya.
"Jangan pikirkan apapun. Yakinlah semuanya pasti akan baik-baik saja," ujar Yure sesaat sebelum Ezka turun dari mobil.
"Tapi aku benar-benar takut," ucap Ezka.
Yure membawa kepala Ezka ke dadanya untuk dia dekap.
"Jangan khawatir. Besok kita akan berkumpul, untuk membahas masalah ini. Ingat! sebelum aku datang, jangan membahas apapun dengan keluargamu. Apa kamu mengerti?" tanya Yure.
"Emm." Ezka mengangguk.
"Masuklah, dan beristirahatlah. Jangan lupa beri makanan bergizi untuk anak-anak kita," ujar Yure.
Ezka kemudian melepaskan pelukkannya, dan turun dari mobil. Gadis itu melambaikan tangannya, setelah supir taksi membunyikan klakson.
Marinka terlihat heran, saat melihat kepulangan Ezka yang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sebab setahunya Ezka ingin menetap di Paris, karena ingin mengelolah bisnis yang ada disana.
"Ma," sapa Ezka sembari memeluk Marinka.
"Kenapa berubah pikiran lagi. Hem?" tanya Marinka.
"Ada sesuatu yang penting akan kita bahas besok." Jawab Ezka.
"Kenapa harus besok? kenapa tidak sekarang saja?" tanya Marinka.
"Besok keluarga om Yuda juga akan datang kerumah kita, untuk membahas masalah ini. Ezka naik ke atas dulu ya ma," ujar Ezka.
"Tunggu! ada apa sebenarnya? kenapa seperti ada sesuatu yang gawat, hingga harus melibatkan keluarga om Yuda?" tanya Marinka.
"Maaf ma. Aku belum bisa memberitahu mama sekarang, ini harus jadi pembahasan bersama," ujar Ezka sembari berlalu dari hadapan Marinka.
Sementara itu Marinka tampak berpikir keras, dia jadi sangat penasaran dengan apa yang Ezra katakan.
*****
Ezka telihat gugup, jari-jari tangannnya saling bertautan satu sama lain. Saat ini dia sedang berada di tengah-tengah keluarganya dan juga keluarga Yure. Yure saat ini tengah duduk bersebelahan dengan Ezka. Pria itu ingin melindungi Ezka, jika memang terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian bahas, sehingga harus mengumpulkan kita sekeluarga besar seperti ini?" tanya Ezra.
Ezka dengan bibir bergetar, membuka suaranya.
__ADS_1
"Pa, ma,...."
TO BE CONTINUE....😘