Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.177. Kesempatan Bicara


__ADS_3

"Nikmati hari-hari indah kalian, sebelum hari indah itu berakhir. Tertawalah, selagi kalian bisa tertawa. Karena takutnya kalian tidak akan punya lagi kesempatan untuk mendengar tawa kalian sendiri," ucap Marinka dengan penuh wibawa.


Deg


Deg


Deg


Degup jantung Karin dan Galang bertalu-talu. Ekspresi mengerikan dibalik senyum misteriusnya begitu membekam dalam ingatan dan mata mereka.


"Sial. Kenapa sekarang Marinka bisa jadi sosok yang mengerikan? apa itu karena dia sudah menjadi orang kaya dan mempunyai suami yang berpengaruh?" batin Karin.


"Apa pesan untuk Orang yang sudah mengadopsi anda?" tanya Rafly.


"Banyak-Banyak bertaubat saja. Karena tidak semua orang yang kalian anggap bodoh, selamanya akan bisa di bodohi. Karena tua dan mati itu hal yang pasti, jadi banyak-banyak bertobat sajalah," ucap Marinka.


"Pesan untuk mantan mertua?" tanya Rafly.


Marinka terdiam. dia sedikit bingung, karena mantan mertuanya itu sejujurnya bukan orang jahat di matanya. Hanya saja mereka terlalu mengikuti angin yang berhembus, jadi terkesan plin plan dan tidak bisa membedakan hal yang benar.


"Mungkin harus lebih bijaksana saja." Jawab Marinka singkat.


"Dan terakhir apa pesan anda untuk kedua orang tua anda. Terutama ibu anda?" tanya Rafly.


Marinka terdiam sejenak, dan kemudian menghela nafas panjang.


"Jika tidak pandai mencintai apa yang anda miliki, maka jangan pernah membuatnya hadir. Jika anda tidak pandai mengingat sesuatu, maka jangan pernah bangkitkan ingatkan itu. Karena anda tidak pernah mengingat, maka mari saling melupakan. Anda tidak ingin mengingat saya sebagai masa lalu, maka saya juga bisa mengatakan bahwa anda juga bukan satu-satunya masa depan bagi saya." ujar Marinka.


Perkataan itu benar- benar menusuk perasaan Lilian. Wanita parubaya itu bahkan menangis meraung hingga Mario pun jadi bingung harus mengendalikannya.


"Bunda. Kendalikan diri bunda, kenapa bunda seperti ini?" Mario pun jadi ikut menangis.


Sungguh pria itu tahu betul, bagaimana perjuangan sang bunda yang ingin sekali menemui putrinya. Namun keinginannya itu terhalang restu suami yang mempunyai perangai seperti seorang diktator. Selama puluhan tahun hari-hari Lilian dihabiskan didalam rumah, tanpa bisa keluar. Karena sejujurnya pria itu tahu, sampai matipun cinta Lilian sama sekali bukan untuknya. Beruntung dirinya bisa membuat Lilian menghadirkan sosok Mario, walaupun hasil dari sedikit memaksa.


"Dia tidak ingin bertemu bunda, dia membenci bunda. Hikz..."


Suara isakkan Lilian nyaris tak terdengar, sebab suara Lilian sudah habis, karena terlalu banyak menangis.


"Bunda ingin bertemu kakak kan? kalau begitu izinkan Mario menemuinya, Mario akan bicara padanya agar mau menemui bunda sekali saja," ujar Mario.


"Tidak Mario. Berjanjilah pada bunda, kamu tidak akan pernah menemuinya," ucap Lilian.

__ADS_1


"Jadi bunda mau bagaimana?" tanya Mario.


"Bunda akan menuruti semua keinginanya." Jawab Lilian.


"Maksud bunda apa?" tanya Mario.


"Dia tidak ingin bunda menemuinya, maka itulah yang akan terjadi. Jadi sampai bunda mati, biarkan dia tidak tahu kalau bunda adalah ibu kandungnya."


"Tapi bunda...."


"Tidak Mario, dengarkan kata-kata bunda. Jangan sekalipun menemuinya, biarkan dia bahagia dengan keluarga barunya. Bunda tidak apa-apa, melihat dia sudah bahagia, bunda juga turut bahagia. Apa kamu mengerti?" tanya Lilian.


"Mengerti bunda. Tapi bagaimana kita harus menghadapi paman Satyo? terus terang Mario tidak sanggup menghadapinya sendiri. Tadinya Mario pikir bisa meminta bantuan kakak, meskipun sebenarnya Mario sama sekali tidak perduli dengan kekuasaan yang di tinggalkan Romo. Mario hanya ingin jadi orang biasa saja," ucap Mario.


"Mau tidak mau kamu harus jadi penerus Romomu. Bunda yakin kamu bisa membawa perubahan. Kalau usaha Romo mu sampai jatuh ketangan paman Satyo, maka semua usaha leluhurmu akan hancur," ucap Lilian.


"Apa kamu tahu? bahkan sejujurnya sampai detik ini bunda masih menaruh kecurigaan padanya. Meski penyebab meninggalnya Romomu di vonis karena serangan jantung, tapi bunda mengira tidak sesederhana itu."


"Maaf bunda. Bisakah bunda jujur padaku? aku sudah lama ingin menanyakan hal ini padamu,"


"Apa?" tanya Lilian.


"Apa bunda benar-benar yakin tidak ada kaitannya dengan kematian Romo?" tanya Mario.


"Apa maksudmu? apa menurutmu bunda bisa melakukan hal sekejam itu?"


"Mario masih berpikir positif, bahwa bunda tidak melakukannya. Tapi jujur saja, dimalam pergantian tahun baru, Mario tidak sengaja melihat bunda mengakat bantal sembari menatap Romo yang tengah terlelap tidur. Mario tidak tahu kenapa bunda tidak jadi melakukannya, karena aku mengira ke esokan harinya pasti akan terjadi kehebohan. Itulah sebabnya aku tidak melihat apa yang bunda lakukan hingga akhir. Bunda tahu kenapa Mario tidak menghentikan bunda saat itu?"


"Itu karena aku selalu berada dipihakmu hingga akhir. Aku hanya berpikir, sudah saatnya bunda bahagia, dan berhenti menerima siksaan dari pria kejam itu. Jadi aku harap bunda jangan lagi berbohong padaku tentang kematiannya karena Mario sama sekali tidak perduli tentang hal itu," sambung Mario.


Lilian tertegun mendengar pengakuan Mario. Malam pergantian tahun itu, adalah malam puncak kesabarannya di uji. Setelah di paksa melayani pria yang gila bertempur di ranjang itu, timbul niat membunuh dihatinya setelah melihat suaminya lelap tertidur karena kelelahan.


Namun saat teringat dengan Marinka, Lilian mengurungkan niatnya itu. Sudah puluhan tahun dirinya tersiksa lahir dan batin, tidak masalah baginya menunggu sebentar lagi, karena kesehatan pria itu akhir-akhir ini sudah menurun.


"Tidak Mario. Meski awalnya niat membunuh itu memang ada, tapi kematian Romo mu sama sekali tidak ada kaitannya dengan bunda." Jawab Lilian.


"Baguslah. Berarti Romo memang meninggal karena serangan jantung. Sekarang kita hanya perlu memikirkan bagaimana caranya agar paman Satyo tidak merebut peninggalan Romo, sebelum Mario resmi di nobatkan." ucap Mario.


"Kita pasti akan menemui banyak kesulitan. Tidak masalah, kita akan pertahankan selagi mampu. Kalau memang tidak bisa, apa boleh buat yang penting kita sudah berusaha." ujar Lilian.


"Besok bunda akan kembali," Sambung Lilian.

__ADS_1


"Ya. Mario akan menyusul setelah semesteran berakhir." Jawab Mario.


Sementara itu Marinka dan Ezra keluar lebih dulu dari studio, setelah sesi wawancara selesai. Saat sedang menuju sebuah lift, langkah mereka terhenti karena Galang memanggil nama Marinka.


Kini pria yang pernah menghancurkan hati Marinka, sudah berada dihadapan wanita itu. Tatapan mata itu begitu sendu, hingga Ezra yang tidak senang hampir saja melayangkan sebuah tinju.


"Abang...." Marinka menghentikan aksi Ezra itu. Ezra memalingkan wajahnya, karena dia benar-benar sudah tersulut emosi saat ini.


"Marinka. Berikan aku kesempatan bicara denganmu," ujar Galang.


Marinka melihat sosok Karin muncul di belakang Galang, dan kemudian berhenti diantara Marinka dan pria itu. Marinka kemudian mengalihkan pandangan matanya dari Karin, kembali ke Galang.


"Hari ini aku sangat lelah. Terlebih tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, nanti jika sudah saatnya tiba, kalian terima saja apa yang akan aku lakukan terhadap kalian para pembunuh!"


"Tidak Marinka. Justru hal itu yang harus kita bicarakan. Sepertinya ada yang harus aku klarifikasi soal itu. Dari ceritamu menggambarkan seolah-olah akulah yang bertanggung jawab atas kejadian kebakaran itu. Tapi aku sama sekali tidak mengerti, karena aku sama sekali tidak terlibat." ujar Galang.


Marinka tersenyum sinis, saat mendengar pengakuan Galang yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.


"Kamu bebas mengatakan apapun yang ingin kamu katakan. Tapi aku sama sekali tidak percaya setiap ucapan yang kamu katakan."


"Tidak Marinka kamu harus percaya padaku, please...beri aku kesempatan menjelaskan semuanya. Aku yakin ada kesalahfahaman disini," ujar Galang sembari meraih tangan Marinka.


"Lepaskan tangan istriku brengsek!" hardik Ezra sembari mendorong tubuh kekar Galang dengan kasar.


"Abang, kendalikan dirimu. Ini tempat umum," ujar Marinka setengah berbisik.


Untuk mengendalikan situasi yang terlanjur panas, Marinka terpaksa menyetujui permintaan Galang.


"Baiklah. Kita akan bertemu dirumah Karin 2 hari lagi."


"Sayang...." Ezra protes.


"Abang percaya adek kan? kalau abang keberatan, abang boleh ikut nantinya." ucap Marinka.


Ezra terpaksa menurut, meskipun sebenarnya dia sangat keberatan.


"Kenapa harus dirumah Karin? kenapa tidak di rumahku atau di tempat lainnya?" tanya Galang.


"Aku tidak ingin putrimu menyaksikan kelakuan orang tuanya yang bobrok." Jawab Marinka yang membuat Galang terdiam.


Tanpa banyak bicara lagi , Marinka dan Ezrapun melenggang pergi.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2