
"Yud. Entar malam temani aku pergi ya?"
"Kemana?"
"Ada undangan untuk acara resepsi pernikahan anak salah seorang kolega kita."
"Males ah Zra. Kamu pergi saja sendiri, paling males pergi kondangan nggak punya pasangan."
"Kenapa bingung? manfaatin aja si Gendis, lagian penyelidikkanmu tentang dia belum selesai kan? jadi anggap aja bonus, apalagi dia kan teman kamu juga Yud."
"Lalu kamu bagaimana? apa tidak masalah nggak punya gandengan?"
"Aku sudah punya."
"Sudah punya? siapa?"
"Rahasia dong,"
"Ckk...sok misterius."
"Ya sudah cepat kamu kasih tahu Gendis, biar dia mempersiapkan diri."
"Baiklah."
"Sekalian panggilkan Regia kemari, ada yang ingin aku tanyakan."
"Ogah ah, kamu panggil lewat telpon saja."
"Ckk...kita harus hemat tagihan telpon. Lagian mulutmu itu masih berfungsi dengan baik. Sekalian buktikan padaku, kalau kamu itu nggak baper sama Regia."
"Oke baiklah, akan aku buktikan sama kamu. Baper apanya? emang siapa si mata empat itu?" gerutu Yuda sembari keluar dari pintu.
Tap
Tap
Tap
Regia mendongakkan kepalanya saat melihat seseorang berhenti tepat dihadapan meja kerjanya. Regia kembali menundukkan kepalanya melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan kehadiran Yuda dihadapannya.
"Sikap macam apa itu? dia bahkan tidak perduli meski aku ada dihadapannya. Gadis ini sepertinya ingin aku berikan pelajaran,"
Brakkkk
Yuda memukul meja Regia, hingga gadis itu terjengkit kaget dan jantungnya berdebar.
"Sudah merasa paling cantik ya? atau sudah merasa paling kaya sendiri disini?"
Brakkk
"Jawab!"
Regia sama sekali tidak menjawab ucapan Yuda, gadis itu masih saja tertunduk. Yuda jadi emosi karena merasa di abaikan.
Tap
Yuda mencengkram dagu Regia, cengkraman itu mendadak lemah saat melihat air mata Regia sudah mengalir membasahi pipi gadis itu.
__ADS_1
"Ckk...menyebalkan! sana pergi keruangan Ezra, dia memanggilmu!"
Yuda kemudian pergi begitu saja, sementara Regia melepas kaca matanya untuk menyeka air matanya itu.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" ujar Ezra.
Ezra menatap Regia yang matanya tampak memerah.
"Maafkan dia, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri," ujar Ezra.
Tanpa Yuda dan Regia tahu, Ezra memantau mereka dari cctv ponselnya.
"Ma-Maksud tuan bagaimana?"
"Aku berani bertaruh, kalau sebenarnya Yuda itu menyukaimu. Tidak usah malu, aku tahu kamu menyukai Yuda kan?"
"Mana mungkin tuan Yuda menyukaiku, dia sangat membenciku. Terlebih sudah ada Gendis yang dia sukai,"
"Dia tidak menyukai Gendis,"
"Maaf tuan. Tapi tanpa sengaja waktu itu aku mendengar sendiri percakapan tuan dan tuan Yuda. Termasuk....termasuk saat tuan Yuda menghina kekuranganku."
"Kamu jangan berkecil hati, aku tahu dia tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Kalau kamu mau bukti, pergilah denganku malam ini."
"Pergi? pergi kemana?"
"Tapi tuan, mana mungkin saya jadi pasangan anda? saya akan mempermalukan anda nantinya."
"Belajarlah percaya diri. Kalau kamu sendiri tidak percaya dengan dirimu sendiri, bagaimana kamu percaya bisa menaklukkan hati Yuda? jangan mudah cepat meyerah,"
"Tidak tuan. Saya akan menemani tuan ke acara itu, tapi kalau urusan hati saya pada tuan Yuda, saya sudah memutuskan untuk menguburnya dalam-dalam."
"Kenapa? apa segitu sakit hatinya kamu sama dia?"
"Tidak. Meskipun bukan dia, dari dulu aku memang sering di bully. Tapi itu tidak apa-apa, sejak awal saya juga tidak berhadap tuan Yuda membalas perasaan saya, karena saya sadar saya ini siapa. Jadi saya sudah memutuskan, akan menganggap tuan Yuda rekan kerja saya di kantor."
"Hah...baiklah. Sepertinya Yuda akan merasakan penyesalan yang sama dengan saya. Regia, setelah pulang kantor nanti, kamu akan saya ajak ke tempat teman saya. Dia seorang MUA."
"Apa saya memang perlu memakai jasa seorang MUA?"
"Bukankah kamu tidak ingin mempermalukan saya?"
"Baik tuan." Jawab Regia.
Regia kemudian undur diri dari hadapan Ezra, sementara Yuda yang menguping pembicaraan dari balik pintu, bergegas pergi.
"Yud...Yud..."
"Eh?"
"Kok bengong sih? nanti malam beneran jadi pergi kan sama tuan Ezra?"
__ADS_1
"Ya." Jawab Yuda singkat.
"Sok cantik banget sih dia? kalau dia berhenti menyukaiku, lalu siapa lagi yang mau dia sukai? memangnya ada yang mau sama dia?" batin Yuda.
Setelah jam pulang kantor, Ezra dan Regia pergi ke tempat Yuanita.
"Siapa lagi ini? bini loe kan belum ketemu? ini malah ngembat wanita lain lagi," bisik Yuanita.
"Jangan bepikir sembarangan. Dia ini gebetan si Yuda. Buat dia secantik mungkin, aku ingin dia benar-benar berubah, biar mata si Yuda melar kayak dicelup minyak tanah."
"Loe pikir mata Yuda terbuat dari karet gelang?"
""Ya pokoknya make over abis deh si Regia. Karena aku ingin membuat Yuda cemburu dengan Regia."
"Eh? tidak perlu tuan. Saya sudah bilang, saya ingin mengubur perasaan saya untuk dia. Lagipula kami memang tidak ada kecocokkan "
"Ingin mengubur, belum tentu berhasil bukan? aku akan memperlihatkan padamu, bahwa sebenarnya dia itu memiliki perasaan padamu, tapi sama sekali tidak dia sadari."
"Hah...terserah tuan saja," ujar Regia menghela nafas panjangnya.
"Lagipula anggap ini aksi balas dendam saya sama dia. Dia selalu mengolok-olokku waktu itu."
"Kekanakkan sekali loe Zra," Yuanita terkekeh.
"Loe tau sendiri seresek apa si Yuda itu. sekarang giliran gue yang ngobrak ngabrik perasaan dia."
"Ya sudah gue mau make over dia dulu,"
"Oke. Ntar jam 7 malam aku jemput dia,"
"Sipp,"
Ezra melenggang pergi menuju rumahnya.
"Hah...coba ada Marinka, aku pasti perginya sama dia. Sayang, kamu ada dimana? apa adek tidak merindukan abang?" batin Ezra.
Tepat pada pukul 7 malam, mobil Ezra tiba ditempat Yuanita. Sesuai dugaan pria itu, Regia sebenarnya gadis yang sangat cantik dan sexy. Terlebih saat kaca mata tebalnya dilepas dan diganti dengan menggunakan softlens.
"Sempurna. Yuda pasti tergila-gila saat melihatmu nanti."
"Tuan, apa penampilan saya benar-benar cantik?"
"Sangat. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu harus berpenampilan seperti ini. Saya yakin Yuda akan jatuh cinta sama kamu."
Regia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ezra. Baginya, saat Yuda jatuh cinta padanya karena dia berubah jadi cantik, itu berarti cinta yang dia peroleh sama sekali tidak tulus. Regia ingin Yuda mencintai dia apa adanya, terutama kekurangannya.
Setelah menempuh perjalanann hampir 20 menit, Ezra dan Regia tiba disebuah hotel bintang 5. Yuda dan Gendis yang datang lebih dulu, menunggu Ezra tepat didepan pintu gerbang.
"Itu dia tuan Ezra," ujar Gendis saat melihat Ezra datang dengan gagah dan tampan.
Namun senyum Gendis mendadak hilang, saat melihat sosok cantik yang menggandeng lengan Ezra. Tidak jauh berbeda dengan Gendis, Yuda mengerutkan dahinya karena merasa familiyar dengan sosok cantik dan sexy disebelah sahabatnya itu.
"Yud," sapa Ezra.
Yuda tidak menjawab sapaan Ezra, mata Yuda masih terpanah dengan sosok cantik disebelah Ezra. Setelah menatap gadis itu dengan seksama, mata Yuda sedikit melebar karena baru menyadari, sosok gadis didepannya itu adalah sosok gadis yang sering dia sakiti.
"Re-Regia," ucap Yuda lirih.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏