Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.260. Terkejut


__ADS_3

Ting tong


Ting tong


Ting tong


Krieekkkk


"An-Anser?" Moza yang membuka pintu terkejut saat melihat kedatangan Anser secara tiba-tiba.


Sementara itu Anser memasang senyum terbaiknya, saat melihat Moza di hadapannya.


"Masuklah!" ujar Moza.


"Meiza mana?" tanya Anser.


"Ada di kamar. Dia kecapek'an baru pulang ujian praktek soalnya. Kamu kesini nggak kuliah?"


"Aku kan sedang nyusun skripsi. Jadi untuk sementara hanya dipusingkan urusan skripsi saja." Jawab Anser.


"Akan aku panggilkan Meiza," ujar Moza.


"Tidak usah. Biar aku saja," ujar Anser.


Anser begitu samangat ingin bertemu wajah gadis yang membuatnya mabuk akhir-akhir ini. Anser menekan Handle pintu, dan mendapati Meiza tengah tidur dengan masih menggunakan seragam.


"Sepertinya dia sangat lelah," ujar Anser sembari melepas sepatu gadis pujaannya itu.


Anser memandang wajah Meiza dengan menarik sebuah kursi dan kepalanya dia baringkan ditepi tempat tidur itu. Karena lelah, Anserpun ikut tertidur.


Sementara itu Moza yang melihat adegan itu, tampak begitu sedih. Namun dia tidak mau egois. Cukup pengalaman cinta segitiga antara Meiza dan Ezka dijadikan pelajaran buat Moza. Menurutnya lambat laun dia pasti bisa melupakan Anser, seperti Meiza yang sudah bisa move on dari Yure.


"Hegggghhh...heggghhhh,"


Meiza menggeliat merenggangkan otot-ototnya saat gadis itu baru terbangun dari tidur. Namun betapa terkejutnya dia, saat melihat Anser tengah bertopang dagu sembari tersenyum kearahnya.


"Apa aku ini sedang berhalusinasi? kenapa mataku menangkap sosok Anser di depanku. bocah tengil itu nggak mungkin disini kan?" ucap Meiza sembari mengucek-ngucek matanya, namun senyum Anser bahkan bertambah lebar.


Grriiyuuttttt


Anser mencubit pipi Meiza, dan gadis itu menjerit kesakitan.


"Ini bukan mimpi. Kan aku sudah bilang ingin membuktikan keseriusan ucapanku padamu," ujar Anser.


Mendengar suara Anser yang benar-benar nyata, Meiza bergegas bangkit dari tempat tidur. Di tatapnya pria yang berada dihadapannya itu. Meiza tahu Anser dan dirinya mempunyai kegilaan yang sama yang tidak bisa di prediksi orang lain.


Meiza turun dari tempat tidur dan melepas seragamnya yang hanya menyisakan blouse berwarna putih.


"Kamu ini bikin aku jantungan saja. Aku tahu kamu hanya bermain-main dengan ucapanmu semalam. Bilang saja kamu kesini karena ada urusan lain. Jadi sekalian mampir kan?"


Anser berjalan mendekati Meiza dan hanya menyisakan jarak beberapa jengkal saja.


"Tujuanku ke London cuma satu, yaitu kamu. Aku tahu kamu pasti akan mengira aku bermain-main dengan ucapanku tadi malam. Tapi kamu juga harus tahu, kalau aku ini tipe orang yang tidak suka membuang-buang waktu."

__ADS_1


"Jadi Meiza. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Anser.


Deg


Deg


Deg


Jantung Meiza jadi berdebar-debar saat mendapat pertanyaan yang di luar dugaannya itu. Meiza menatap dalam mata Anser. Gadis itu jadi teringat saat kebersamaannya dengan Anser. Gadis itu akui dia sangat percaya pada pria itu, bahkan dirinya juga merasa nyaman.


"Ap-Apa kamu mencintaiku?" tanya Meiza terbata.


Satu lagi pemikiran aneh gadis yang bernama Meiza putri hawiranata ini. Dia hanya butuh dicintai, tidak perduli dia mencintai orang itu atau tidak.


"Aku sangat mencintaimu dan itu sudah sangat lama sekali." Jawab Anser.


"Kalau begitu mari kita menikah," ujar Meiza yang membuat Anser melonjak senang dan langsung memeluk Meiza.


"Apa kamu juga mencintaiku?" tanya Anser.


"Tidak." Jawab Meiza.


"Tidak apa-apa. Setelah kita menikah nanti, aku akan membuatmu mencintaiku," ujar Anser sembari mengelus puncak kepala Meiza.


"Anser. Apa aku sedang bermimpi?" tanya Meiza.


"Apa kamu ingin bukti nyata lagi?" tanya Anser sembari menjauhkan Meiza dari dekapannya.


*****


"Makan malam yuk?" ajak Yugie.


"Lagi malas makan malam. Kamu makan saja sendiri ya? lagi nggak selera," ujar Vania.


"Kenapa? kamu sakit?" tanya Yugie.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Nanti saat kamu kesini, bawakan aku buah apel satu saja." Jawab Vania.


"Kamu mau diet? awas saja kalau kamu berani melakukan diet. Jangan siksa dirimu, aku menerimamu apa adanya meskipun berat tubuhmu satu ton," ucap Yugie.


"Huuu...keliatan banget gombalnya. Kalau berat tubuhku satu ton, yang ada aku sudah kamu korbankan buat lebaran haji," ujar Vania sembari mencebikkan bibirnya.


Sementara itu Yugie jadi tertawa sembari menarik hidung mancung istrinya.


"Ya sudah aku makan dulu ya? kamu nggak mau nemenin aku?" tanya Yugier.


"Lagi mager nih." Jawab Vania.


"Dasar istri pemalas," ujar Yugie sembari mengacak rambut Vania.


"Biar pemalas tapi kamu cinta kan?"


"Ho'oh." Jawab Yugie sembari berjalan keluar pintu kamar.

__ADS_1


Setelah Yugie keluar kamar, Vaniapun beraksi. Sikap anehnya beberapa waktu yang lalu, karena wanita itu ingin memberikan kejutan pada suaminya itu. Vania bergegas mengganti pakaiannya dengan lingerie berwarna merah yang baru dia beli dari pusat perbelanjaan.


Vania kemudian mematut dirinya dicermin, dia sedikit berdandan dan memoles lipstik dengan warna senada. Vania juga menyemprotkan parfum diarea-area tertentu. Setelah selesai, Vania segera masuk kedalam selimut.


Yugie yang baru selesai makan malam, segera memasuki kamarnya.


"Sayang. Ini buah apelnya," ujar Yugie. Tak ada jawaban dari Vania karena wanita itu sudah menenggelamkan dirinya dibalik selimut.


"Sayang ini...."


Perkataan Yugie terhenti saat pria itu menarik selimut istrinya. Vania kemudian tersenyum kearah Yugie yang tampak sudah menelan air ludahnya itu.


"Sa-Sayang. Ap-Apa haidmu sudah selesai?" tanya Yugie sembari meletakkan apel diatas meja.


"Sudah." Jawab Vania singkat sembari menggoda Yugie dengan kaki mulusnya.


Yugie yang hilang kesabaran langsung melucuti tiap kain yang ada di tubuhnya. Karena pria itu sudah tidak tahan dengan rasa sesak dibalik celana segitiganya. Mata Vania terbelalak saat melihat kejantanan suaminya yang sudah mengacung sempurna. Meski dirinya cukup malu melihat benda itu, namun dia lebih penasaran dengan rasa yang akan diberikan benda yang berukuran tidak biasa itu.


"Astaga. jadi saat mati lampu waktu itu, ular suamiku yang ku pegang? aku jadi malu saat teringat peristiwa itu," batin Vania.


"Malam ini tidak akan kuberi kesempatan dirimu melamun. Kamu cukup mengingat momen bersejarah malam ini saja."


Yugie perlahan mendekat dan mengungkung Vania dibawahnya. Tatapan keduanya beradu, dan mereka saling membelai wajah orang mereka cintai itu.


"Aku mencintaimu Vania,"


"Aku juga mencintaimu sayang." Jawab Vania.


Cup


Cup


Cup


Suara decap keduanya yang sedang bercumbu memecah kesunyian kamar itu.Perlahan Yugie menarik lingeri tipis yang Vania kenakan, hingga terpampanglah dua aset berharga istrinya itu.


"Sangat indah sayang," bisik Yugie. Setelah itu Yugie membenamkan wajahnya di puncak dada yang berwarna merah muda itu.


"Ahhh...sayang..." Vania tak kuasa menahan suaranya saat Yugie dengan lembut me**mat puncak dadanya itu.


Yugie sangat menyukai suara merdu Vania, hingga Yugie berusaha melakukan hal yang membuat istrinya itu kembali mengeluarkan suaranya.


Yugie kemudian menarik kain terakhir yang menutupi area terlarang milik istrinya. Tanpa basa basi Yugie sudah membenamkan wajahnya di liang lembab milik Vania.


"Ahhh...emmmpptt..."


Tubuh Vania bergelinjang hebat saat lidah Yugie sudah bermain nakal dibawah sana. Hingga makin lama, Vania merasakan getaran yang hebat dari dalam dirinya. Dan akhirnya getaran itu berubah menjadi suatu ledakkan yang membuat dirinya menjerit puas.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Yugie.


"Sangat siap. Aku ingin memberikan segalanya untukmu malam ini," ujar Vania setelah me**mat lembut bibir suaminya.


To be continue๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ

__ADS_1


__ADS_2