Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab 238. Pencarian


__ADS_3

Baru sekitar 10 menit Rakha menyerah untuk menghubungi Yure dan Gadlyn. Asisten Yure masuk keruangan Rakha tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Tu-Tuan. Pesawat yang tuan Yure dan nona Gadlyn tumpangi hilang kontak. Diperkirakan pesawat itu terjatuh," bibir asisten itu bergetar saat mengatakannya.


Bagaimana dia tidak tahu lebih dulu tentang insiden itu. Pasalnya dialah orang yang sudah mengurus tiket keberangkatan Yure dan Gadlyn.


Rakha yang masih memegang ponselnya, ponsel itu terlepas begitu saja dari tangannya. Tangan dan tubuh pria itu sampai bergetar hebat. Senyum dua orang yang dia sayangi, seakan menari-nari dipelupuk matanya.


Rakha dengan kewarasan yang masih tersisa, segera menghubungi Ezra dan keluarganya yang lain. Saat ini dia butuh dukungan, karena otaknya tiba-tiba tidak bisa berfungsi dengan benar.


"Kumohon kamu harus selamat Gadlyn. Jangan mematahkan hatiku sebelum aku memulainya," batin Rakha.


Rakha mengajak asisten Yure pergi menuju Bandara. Rakha ingin memastikan sendiri dimana Pesawat itu terjatuh. Karena Rakha orang besar, semua akses informasi terbuka lebar untuknya. Ditambah Ezra dan Yuda juga ikut turun tangan.


"Mama. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Yure. Aku tidak mau hidup lagi. Hikz," Ezka terisak.


"Jangan bicara sembarangan. Yure pasti kaan baik-baik saja. Sebentar lagi kalian sudah menjadi orang tua, kalian pasti akan bahagia selamanya," ujar Marinka berusaha menghibur Ezka.


Sementara itu di tempat berbeda, Meiza dan Moza yang mendengar berita itu, bermaksud langsung pulang ke tanah air. Sementara dari pihak Ando, Mereka mengirim Anser untuk membantu pencarian Yure.


"Menurut radar terakhir, diperkirakan pesawat jaruh di perairan pulau B," ujar salah seorang tenaga kerja yang bertugas memantau penerbangan.


Tanpa banyak bicara, Rakha bergegas pergi. Dia ingin memastikan sendiri dan ingin melihat puing-puing pesawatnya, jika memang pesawat itu jatuh diperairan.


"Siapkan 4 helly kopter. Aku ingin mencarinya sendiri," ujar Rakha memerintahkan anak buahnya.


"Uda. Apa itu diperlukan? tim SAR dan TNI angkatan Laut juga sudah di kerahkan pemerintah untuk menginvestigasi jatuhnya pesawat," ucap Ezra.


"Nggak bisa pa. Selain Yure, ada Gadlyn yang juga ikut dalam perjalanan itu. A-Aku...," suara Rakha tercekat ditenggorokkannya.


Ezra dan Yuda saling berpandangan, Sesaat kemudian Yuda mengangguk kearah Ezra.


"Baiklah. Berhati-Hatilah. Kabari Papa kalau kamu membutuhkan bantuan," ujar Ezra.

__ADS_1


"Iya Pa." Jawab Rakha.


Tanpa banyak membuang waktu lagi, Rakha bergegas pergi. Rakha memutuskan menjadi seorang relawan, meskipun beberapa pihak sudah melarangnya karena statusnya yang tidak sesuai. Rencana pencarian dengan hellykopter terpaksa dia tunda dulu, karena ingin mengetahui korban yang ditemukan terlebih dahulu.


Namun Rakha berhasil meyakinkan mereka. Rakha pun diperbolehkan menjadi Relawan, yang membatu pencarian korban dan puing-puing pesawat.


Deg


Tubuh Rakha bergetar hebat, saat jatuhnya pesawat memang berada di perairan yang saat ini sedang mereka tuju. Beberapa puing pesawat telah ditemukan, termasuk beberapa korban yang sudah meninggal dunia.


"Tidak...tidak...tidak...Gadlyn. Kamu harus tetap hidup. Kamu belum ku perbolehkan mati. Awas saja kalau kamu berani meninggalkan aku. Yure, aku tahu kamu pria kuat...ingatlah! ada anak-anak yang menantimu, kamu harus tetap hidup demi mereka."


Rakha menyeka air matanya yang sempat terjatuh. Pria itu membantu mengangkat korban yang mengapung namun dengan kondisi yang sudah meninggal. Ratusan kantung mayat juga sudah disiapkan. Karena menurut informasi, Pesawat hari ini mengangkut penumpang sebanyak 102 orang.


Jujur saja Rakha tidak pernah takut melihat darah apalagi mayat yang mengenaskan. Tapi dengan insiden ini, dia sangat takut. Kalau-Kalau mayat yang dia bantu naik keatas malah mayat Yure dan Gadlyn.


"Gadlyn aku mencintaimu. Aku menyukaimu, aku ingin kamu bersamaku. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, aku mohon jangan kecewakan aku. Aku tidak menginginkan gadis yang lainnya,"


Semalaman Rakha tidak bisa tidur, begitu juga dengan keluarganya yang lain. Sementara di lain tempat, Karin hanya bisa menangis sendiri dirumah.


*****


Keesokkan harinya...


Rakha yang belum tidur sama sekali bergegas pergi ke posko untuk mencari informasi tentang identitas korban yang berhasil ditemukan. Pasalnnya memang ada korban yang ditemukan dengan kondisi yang sulit dikenali. Jangan ditanya bagaimana situasi posko saat ini. Disana sudah banyak keluarga korban yang ramai berdatangan hanya untuk memastikan keadaan keluarga mereka yang belum ditemukan, maupun yang sudah ditemukan.


Rakha bisa bernafas lega, saat mengetahui nama Yure dan Gadlyn tidak ada di antara 36 korban yang berhasil ditemukan. Rakha bertekad akan kembali menjadi relawan dalam pencarian korban yang belum ditemukan.


Namun di hari kedua pencarian korban. Semangat Rakha mengendur, pria itu seolah hilang semangat hidup. Pasalnya mereka menemukan korban pilot, co pilot, serta 2 orang pramugari dan dua orang pramugara. Jantung Rakha seolah berhenti berdetak, saat jumlah korban yang berhasil ditemukan semakin bertambah jumlahnya. Hari kedua mereka berhasil menemukan 54 orang dalam kondisi sudah tidak bernyawa.


Tubuh Rakha bergetar di ujung kapal. Pria itu menangis hebat, karena bayang-bayang kehilangan Yure dan Gadlyn seolah sudah berada didepan mata.


Sementara itu Marinka kini tengah membujuk Ezka yang menolak makan sebelum kabar ditemukannya Yure, sampai ditelinganya.

__ADS_1


"Sayang. Yure pasti akan marah, kalau tahu kamu menyiksa diri dan membiarkan anak-anak kalian kelaparan. Ingat! disini tidak hanya kamu yang membutuhkan asupan Nutrisi, anak-anakmu juga butuh," bujuk Marinka.


"Tapi Ma. Ezka benar-benar takut saat ini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Yure. Hikz..." Ezka terisak.


"Kak Yure akan baik-baik saja,"


Suara Meiza berhasil mengalihkan perhatian Ezka dan Marinka. Kedua putri kembar Marinka itu baru tiba, karena kemarin mereka tidak mendapatkan tiket pesawat.


Greppppp


Meiza memeluk erat Ezka. Kini dirinya sadar, saat seperti ini Ezkalah orang yang paling membutuhkan kehadiran Yure. Sementara dirinya bisa dibilang hanya sekedar terobsesi.


"Maafkan Mei kak. Maafkan Mei," Meiza terisak.


Ezka membalas pelukkan Meiza dengan erat. Kedua kakak adik itu larut dalam kesedihan yang berbeda.


"Baru datang?" tanya Anser yang baru tiba tadi pagi. Pria itu bermaksud ingin menjadi relawan seperti Rakha, tapi Rakha melarangnya karena situasi yang tidak memungkinkan.


"Bagaimana? apa sudah dapat info tentang keberadaan kak Yure?" tanya Moza pada Anser.


"Belum. Kami selalu memantaunya dari berita tv. Tadi sudah ada sekilas info, menyatakan korban yang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal sudah bertambah." Jawab Anser.


"Apa tidak ada korban yang selamat?" tanya Meiza sembari melepaskan pelukkannya pada Ezka.


"Sejauh ini belum ada berita yang menyatakan ada korban selamat atau luka-luka. Kita masih memantaunya melalui berita di tv, atau info langsung dari Uda Rakha." Jawab Anser.


"Uda Rakha? kenapa jadi Uda Rakha?" tanya Moza.


"Uda Rakha memutuskan jadi relawan, membantu tim SAR untuk mencari para korban kecelakaan." Jawab Anser.


Moza dan Meiza terdiam. Mereka tahu betul apa yang dirasakan Rakha saat ini. Rakha pasti sangat terpukul kehilangan Yure, karena Yure adalah sahabat terbaiknya selama ini. Setidaknya itulah yang mereka pikirkan saat ini.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2