
Ezra menggenggam kedua tangan Marinka dan menatap mata wanitanya itu.
"Abang tidak bisa menjelaskannya secara rinci untuk membuat adek percaya dengan ucapan abang. Tapi adek harus tahu, cuma adek yang ada dihati abang. Adek jangan berpikiran yang macam-macam tentang abang dan Aceline, sekarang abang tidak hanya punya adek, tapi abang juga sudah punya anak."
"Sekarang abang mau mendengar pendapat adek tentang berita itu. Apa menurutmu abang tipe pria yang mudah berpaling hanya karena wanita itu cantik dan berkedudukkan?" tanya Ezra.
Marinka terdiam sembari menatap kedalam mata Ezra. Sejenak kemudian Marinka tersenyum, yang membuat hati Ezra cerah seketika.
"Adek akan percaya, kalau abang melakukan sesuatu untukku."
"Apa?"
"Maukah abang mengklarifikasi itu di media?"
"Itu sudah abang pikirkan. Sebenarnya abang sama sekali tidak perduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Abang lebih perduli dengan pendapat adek tentang abang. Tapi sekarang abang sudah sedikit lega, ternyata adek tidak seperti yang abang pikirkan."
"Memangnya abang mikir apa?"
"Abang mengira adek akan ngamuk-ngamuk, pecahin gelas dan piring, terus mukulin abang,"
"Ckk...mana mungkin adek begitu," ujar Marinka.
Ezra melingkarkan tangan dipinggang Marinka dengan posesif.
"Itulah sebabnya abang semakin mencintaimu," ujar Ezra yang membuat pipi Marinka jadi merona.
"Dek, bolehkan abang..."
"Bang. Nanti dilihat papa mama," ujar Marinka.
"Ke kamar yuk?"
"Nggak mau, adek mau masak buat makan siang. Sebaiknya abang tungguin anak-anak. Lagian abang nggak boleh begitu, kita kan bukan muhrim lagi bang."
"Ya makanya kita nikah lagi yuk dek?"
"Belum saatnya bang. Abang itu ibarat warna masih abu-abu sekarang. Adek nggak mau salah ngambil keputusan, yang akan membuat adek menyesalinya."
Ezra menghela nafasnya, dia tahu rasa trauma yang Marinka rasakan cukup dalam, dan dia bisa memaklumi hal itu.
"Sekarang abang lepasin adek ya? adek mau masak. Hari ini adek akan masak menu kesukaan abang," ujar Marinka.
Cup
__ADS_1
Ezra mengecup kening Marinka. Lagi-Lagi pipi wanita itu kembali merona.
"Makasih sayang," ucap Ezra sembari melepaskan pelukkannya.
Marinka tidak menjawab ucapan Ezra. Setelah berbalik badan, wanita itu jadi senyum-senyum sendiri.
"Dia tadi menyebutku sayang kan? ah...ini seperti mimpi," batin Marinka.
"Bagaimana Marinka? apa dia marah?" tanya Masayu.
"Tidak. Dia itu wanita yang luar biasa, dia bukan seperti wanita pada umumnya. Tingkat kesabarannya sudah teruji, dia juga dewasa. Aku benar-benar beruntung memiliki dia," ujar Ezra.
"Baru tahu kamu? kalau wanita itu si Jihan, sepatu high hills sudah nancep dikeningmu," timpal Baskoro.
"Besok aku akan membuat klarifikasi di media,"
"Apa itu permintaan Marinka?"
"Ya. Sekalian aku ingin mengajaknya ikut konfrensi pers, aku ingin mengumumkan bahwa dia istiku satu-satunya."
"Bagus. Kami mendukungmu, pokoknya jangan lagi menyakiti perasaan Marinka. Dia istri yang baik, kamu akan sulit mendapatkan wanita seperti itu dizaman sekarang." ucap Baskoro.
"Iya Pa."
"Apa ini Lady? kenapa kamu jadi bahan pemberitaan hari ini. Hem?" tanya Margereth yang baru tiba dari luar.
"Yah...kakak pasti sudah memprediksinya bukan? pria asing dan tampan, yang digandeng mesra oleh putri bungsu dari seorang duke dan duchess, tentu saja akan jadi perbincangan hangat,"
"Sepertinya kamu tidak keberatan tentang pemberitaan itu? apa kamu menyukai pria tampan itu?"
"Ya. Dia sangat layak bukan? tapi sayangnya dia sudah memiliki istri dan dua orang anak."
"Benarkah? oh...sangat disayangkan sekali. Mungkin kalau dia seorang duda, masih bisa diterima. Tapi seorang pria beristri, akan mencoreng nama keluarga Lady Aceline."
"Ya. Aku mengerti, aku juga tidak ingin maju lagi. Tapi aku penasaran seperti apa wanita yang sudah membuat pria tampan itu menolak seorang putri bangsawan ini," ujar Aceline sembari menyesap kembali tehnya.
"Baguslah kalau kamu berbesar hati. Jangan karena cinta buta, kita jadi memisahkan orang yang saling mencintai dan juga memishkan anak-anak dari ayahnya. Kamu masih bisa mendapatkan pria yang lebih segalanya, mulai sekarang kamu juga harus berhenti menolak tiap lamaran yang datang. Kamu juga harus mulai memikirkan masa depanmu itu,"
"Emm." Aceline tersenyum santai.
*****
"Lady. Pria itu membuat konfrensi pers, apa anda mau melihatnya?" tanya Agathe.
__ADS_1
"Nyalakan tv nya!" ujar Aceline.
Marinka tersenyum manis kearah kamera, sejujurnya saat ini dia sangat gugup karena baru pertama kali berada disituasi seperti itu.
"Saya Ezra selaku pemilik Diamond corp, ingin mengklarifikasi tentang pemberitaan yang beredar di media kemarin. Pemberitaan itu cukup membuat keluarga saya terkejut, terlebih untuk istri saya. saya tidak ingin ada kesalahfahaman disini, jadi saya ingin memberitahu bahwa saya dan Lady Aceline tidak memiliki hubungan apapun."
"Kami hanya berteman, dan hanya sebatas antara penjual dan pelanggan berlian saja. Jadi untuk kedepannya, saya mohon dengan sangat jangan ada pemberitaan seperti ini lagi. Terima kasih."
"Lalu seperti apa tanggapan anda sendiri melihat pemberitaan yang beredar selaku istri?" tanya Salah seorang wartawan.
Momen ini yang paling Aceline tunggu-tunggu. Dia ingin melihat seperti apa cara istri Ezra yang pria itu banggakan dihadapan dirinya. Dia ingin tahu, kenapa wanita yang ada dilayar kaca itu bisa meluluh lantakkan hati pria tampan yang dia kagumi itu. Aceline meletakkan jari didagu dan bibirnya, dia masih menunggu detik-detik Marinka membuka mulutnya.
"Sayang. Kalau kamu tidak ingin menjawabnya, kita bisa mengakhiri ini semua."
"Apa abang percaya padaku?"
Ezra menatap mata Marinka. Pria itu memang tidak pernah melihat atau mendengar Marinka berbicara didepan publik. Terlebih saat ini bahasa yang harus digunakan haruslah bahasa internasional ataupun bahasa prancis. Terus terang Ezra sedikit merasa gugup, namun dia menganggukkan kepalanya tanda dirinya mempercayai wanita itu sepenuhnya. Marinka tersenyum dan kemudian menatap mantap kedepan kamera.
"Saya Marinka Diningrat, selaku istri dari Ezra pemilik Diamond corp. Sebelumnya saya minta maaf kalau bahasa prancis yang saya gunakan sedikit belepotan, karena saya baru 7 bulan menetap di kota Paris ini," ujar Marinka tersenyum manis.
"Hubungan suami istri itu ibarat sebuah gelas, dimana kalau mengalami retak sedikit saja, akan sulit kembali seperti semula. Tapi kita ini hanya manusia biasa, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya air yang tenang, sesekali akan beriak saat terkena lemparan batu. Begitu juga rumah tangga kami, mungkin sudah saatnya dihantam sedikit masalah yang akan membuat kami akan selalu kuat saling mencintai."
Grepppp
Dari arah bawah, tangan Ezra menggenggam kuat tangan Marinka seakan ingin menyalurkan kekuatan untuk wanitanya itu.
"Saya percaya cinta suami saya hanya untuk saya dan anak-anak. Kami juga ingin meminta maaf pada Lady Aceline, kalau pemberitaan ini membuat beliau merasa tidak nyaman. Mungkin dilain kesempatan kita bisa bertemu untuk sekedar berbincang hangat," Marinka kembali mengulas senyumnya. Senyum itu bisa Aceline rasakan, bahwa itu sebuah senyum yang sangat tulus.
"Bukankah wanita ini sangat luar biasa Agathe? tidakkah kamu perhatikan gaya bicaranya itu? aku nyaris mengira dia ini salah seorang keturunan bangsawan, padahal hanya seorang mahasiswa saja."
"Benar Lady. Tutur katanya sangat memikat, ditambah mimik wajahnya semuanya berbicara. Sepertinya dia seorang wanita yang sangat tulus."
"Mungkin kita bisa mengabulkan harapannya itu,"
"Harapan yang mana?"
"Berbincang hangat denganku. Aku ingin menilainya lebih dekat, aku ingin tahu apa kecantikan yang dia miliki itu asli? atau hanya kamuflase kamera? aku tidak percaya orang dari kalangan biasa memiliki kecantikan sempurna seperti itu," ujar Aceline.
Aceline kembali menyimak kata-kata yang Marinka ucapkan. Setelah menyampaikan kata-kata yang menyiratkan hubungan rumah tangga mereka yang baik-baik saja, Marinka dan Ezra pun mengakhiri jumpa pers itu dengan senyum mengembang kearah Kamera.
Sementara disudut rungan berbeda, seorang wanita yang mengenakan kaca mata hitam, tampak tertegun setelah sebelumya tersedak saat Marinka mulai berbicara.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1