Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.159. Gemetar


__ADS_3

Galang mengerutkan dahinya saat membuka kaset itu di laptopnya. Didalamnya ada sekitar 10 video yang jelas sekali terlihat dari covernya, video itu sangatlah mencurigakan. Jantung Galang berdegup dengan kencang , saat akan menekan tombol play dengan tanda panah kecil dilayar laptopnya. Pria itu masih berharap yang akan dia tonton bukan pertunjukkan yang bisa memicu jantungnya berhenti berdetak. Namun harapan itu seakan pupus, saat dirinya sudah membuka video urutan pertama.


Tidak bisa di elakkan lagi, di video itu sudah terlihat jelas, kalau pemainnya benar adalah istrinya dan pria berotot yang ada di beberapa foto yang pernah dia lihat. Tubuh Galang bahkan gemetar saat menyaksikan video itu. Jelas sekali Karin melakukan hal itu dengan suka rela tanpa paksaan. Bahkan wanita itu berkali-kali meneriakkan nama pria itu dan menginginkan lebih.


Tidak sampai selesai menontonnya, Galang kembali membuka video itu satu persatu. Dan Galang bisa melihat, Karin melakukannya bukan dalam satu hari. Galang bisa melihat pakaian yang Karin kenakan berbeda-beda distiap video. Sangat sesuai jika di cocokkan dengan foto-foto yang dia dapat sebelumnya.


Gigi Galang bergemeratuk. Dirinya benar-benar seperti pecundang.


"Bagus sekali Karin. Kamu benar-benar sudah menghinaku. Pantas saja setiap kali diajak bercinta, kamu sering menolak. Ternyata istriku sudah dipuaskan oleh laki-laki lain," ujar Galang dengan tangan yang masih gemetar.


"Jadi ini alasanmu pergi setiap hari ketempat itu? aku jadi curiga, dia selalu meminta uang belanja lebih dari yang biasa aku berikan. Jadi dia memberikan uang itu pada pria yang sudah memberikan jasa memuaskan dirinya itu?"


"Hebat sekali kamu Karin. Hahaha...wanita yang kucintai dan selalu aku banggakan, ternyata tidak lebih dari seorang ja**ng. Bahkan aku tanpa ragu mencampakkan Marinka, demi menjadikan dia satu-satunya wanita yang ada dihatiku. Karin, aku sungguh membencimu!"


Brakkkkk


Galang meruntuhkan semua barang-barang yang ada di meja kerjanya. Pria itu terlihat sangat murka, tubuhnya bahkan gemetar dengan hebat karena menahan gejolak amarah yang benar-benar ingin meledak.


"Baiklah Karin, aku ingin melihat aksimu itu secara langsung, aku ingin melihat seperti apa saat kamu tahu aku ada disana menyaksikan perselingkuhanmu itu," gigi-gigi Galang bergemeratuk.


Galang memutuskan pulang kerumah lebih awal. Pikirannya yang kacau balau tidak membuat dia berkonsentrasi lagi untuk meneruskan pekerjaannya.


"Mas. Kamu sudah pulang? tumben pulang cepat?" tanya Karin.


"Kenapa? apa kamu akan menemui pria itu lagi, dan bercinta sepuasnya kalau aku tidak ada dirumah?" batin Galang.


"Sejujurnya saat ini aku ingin sekali menjambak rambutmu, dan membenturkan kepalamu didinding. Agar otak kotormu, dan sifat ja**ng mu sedikit menguap. Kalau saja tidak memikirkan anak, aku sudah mencekiknya hingga mati,"

__ADS_1


"Ya. Tolong buatkan aku teh!" ujar Galang.


"Tunggu ya mas," ujar Karin.


Karin segera turun kebawah, untuk membuatkan teh untuk Galang. Seperti hari-hari sebelumnya, Karin selalu membuat teh dengan takaran sesuka hatinya, namun Galang selalu memakluminya. Namun tidak kali ini, Galang yang memang masih dibalut rasa emosi tingkat tinggi, langsung melontarkan ketidaksukaannya itu pada Karin.


"Kita sudah berapa lama sih menikah?" tanya Galang.


"Kurang lebih 4 tahun Mas. Kenapa? mas mau ngajak aku liburan ya? sebentar lagi hari anniversary kita loh mas,"


Galang hanya tersenyum kecut dalam hatinya. Sungguh miris yang dia rasakan saat ini.


"Bukan. Aku hanya berpikir, bagaimana mungkin selama 4 tahun kamu tidak bisa membuat teh dengan benar. Selalu kemanisan, mungkin kalau si cek, aku sudah terkena penyakit diabetes."


"Kok mas baru ngeluh sekarang? sudah hampir 4 tahun mas nggak pernah mengatakan apapun."


"Seharusnya tidak perlu dikatakanpun kamu sebaiknya belajar, kecuali lidahmu itu sudah benar-benar mati rasa. Aku hanya merasa aneh, apapun yang kamu buat sangat berbeda dengan hasil masakkan Marinka, padahal dulu kamu satu rumah dengan dia kan?"


"Pikir saja sendiri," ujar Galang yang langsung meninggalkan Karin.


Galang pergi ke balkon rumahnya, kebiasaan merokok yang sudah lama dia tinggalkan, jadi terulang kembali saat ini. Pikiran pria itu benar-benar stres saat ini. Sejujurnya dia sudah muak melihat wajah Karin, tapi dia masih ingin bersabar. Dia ingin menangkap basah wanita itu, agar wanita itu tidak bisa mengelak lagi.


"Sekarang aku harus memikirkan dimana aku harus mencari Marinka. Bagaimanapun caranya, aku harus mengajaknya rujuk. Dia pasti masih sangat mencintaiku, sehingga dia mau membantuku membongkar kebusukkan Karin,"


"Ah...Marinka, seharusnya kamu itu terlalu mudah dicintai. Tapi kenapa hatiku waktu itu tertutup karena melihat kecantikkan dan keseksian Karin. Dan inilah akhir dari sifat serakahku itu,"


Galang kembali menghembuskan asap rokok ke udara. Sementara Karin di kamar berpura-pura merajuk. Wanita itu pikir Galang masih sama seperti dulu, yang selalu memanjakan dirinya, dan akan selalu membujuknya dengan barang mewah setiap kali dirinya merajuk.

__ADS_1


Namun kali ini Galang tidak lagi melakukan hal itu. Meski Karin baru sekali melakukan penghianatan, Galang tidak mau memberikan kesempatan pada istrinya itu.


"Ini sudah jam 9 malam, kenapa mas galang belum masuk kamar juga? apa dia pergi keluar? tapi kenapa nggak bilang-bilang?" ujar Karin lirih.


Sementara itu Galang kini sedang tertidur lelap diruang tamu, pria itu ingin mengumpulkan tenaga untuk menangkap basah istrinya keesokkan harinya.


*****


"Mas mau berangkat kerja?" tanya Karin.


"Ya."


"Ya sudah kita sarapan bersama,"


"Tidak usah. Aku sedang buru-buru karena ada meeting penting pagi ini," ujar Galang.


"Oh gitu. Ya sudah, biar kuantar sampai teras,"


Galang cuma diam saja, dia tidak menolak Karin, karena dia tidak ingin Karin curiga. Meskipun sebenarnya hati Galang sedang meletup-letup saat ini.


"Aku pergi dulu," dengan berat hati Galang mencium kening Karin, yang terasa comberan dimata pria itu.


"Hati-Hati ya mas,"


Galang tak menyahuti ucapan Karin, Pria itu langsung berbalik badan dan pergi begitu saja. Seperti yang Galang duga, Karin kembali pergi dengan pakaian olahraga ketatnya. Pakaian yang digunakan untuk kamuflase, untuk menutupi perselingkuhannya dengan pria pemilik pusat kebugaran.


Setelah mobil Karin melaju, Galang yang menunggu di ujung jalan, kemudian mengikuti kepergian Karin. Dan benar saja, disaat semua orang berolahraga dibawah, dia sendirian yang naik keatas. Dengan memberikan sedikit jeda, Galang kemudian naik keatas meskipun sempat terjadi adu mulut dengan sang kasir.

__ADS_1


Galang melihat kekanan dan ke kiri setelah berhasil menaiki tangga. Tidak sulit baginya menemukan keberadaan pintu yang sering dia lihat lewat foto misterius itu. Dan benar saja, dari arah luar Galang sudah bisa mendengar suara-suara erotis yang biasa ia dengar dari mulut istrinya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2