Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.9. Percuma


__ADS_3

Marinka memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya, mengingat tidak ada perkembangan antara hubungannya dengan Galang. Dengan tekad yang berani, Marinka memutuskan untuk memberitahu keluarga suaminya, berharap mereka mau meperjuangkan hak nya sebagai menantu dan sebagai seorang istri.


"Marinka?"


"Ma,"


Marinka mencium pipi kanan dan pipi kiri mama mertuanya itu.


"Kamu datang sendiri? Galang mana?"


"Mas Galang lagi ngantor Ma."


Rini mengajak Marinka duduk diruang tamu, sesaat kemudian Papa mertua Marinka juga muncul dari arah belakang.


"Pa?" Marinka mencium tangan pria parubaya itu.


"Galang kemana? kok kamu datang sendiri?" tanya Surya.


"Mas Galang pergi ngantor Pa."


"Oh ya, apa udah ada berita gembira untuk kami?" tanya Rini dengan senyum semringah.


"Berita gembira?" Marinka mengulang pertanyaan itu.


"Ya. Apa kamu sudah hamil?" tanya Rini.


Marinka langsung terdiam seketika, sungguh hatinya merasakan perih saat pertanyaan itu seketika mengusik relung hatinya.


"Pa, Ma, aku kesini ingin membicarakan hal penting dengan kalian."


Rini dan Surya saling berpandangan satu sama lain.


"Ada apa?" tanya Rini.


Seketika itu juga air mata Marinka jatuh dan terisak hebat.


"Hey...kok malah nangis? ada apa nak?" tanya Rini yang kemudian mendekati Marinka untuk menenangkan wanita itu.


"Ma, aku bingung harus menceritakannya dari mana. Aku takut Mas galang akan membunuhku kalau sampai menceritakan ini pada kalian, tapi aku benar-benar sudah tidak sanggup menyimpan beban ini sendirian. Aku cuma punya kalian saat ini,"


"Ada apa?" tanya Surya.


"Ma-Mas Galang sudah menikah lagi dua bulan yang lalu." Marinka kembali terisak.


"Ap-Apa?" Surya dan Rini terkejut.

__ADS_1


"Dan yang lebih menyakitkan lagi, maduku itu adalah adik angkatku sendiri. Anak kandung dari papa Herman."


"Dan...dan...dan wanita itu sedang mengandung saat ini. Hikz..."


Rini dan Surya terdiam. Mereka jadi bingung harus bersikap bagaimana terhadap putranya itu. Disisi lain perlakuan Galang memang kejam terhadap Marinka, tapi mereka juga tahu bahwa wanita yang dicintai putranya itu memang wanita yang sedang mengandung calon cucu mereka saat ini.


"Semua ini memang salah kami Marinka. Sejak awal kami tahu Galang menyukai anak Pak Herman, tapi kami kurang menyukai gadis itu. Sekarang melihat kejadian seperti ini, kami jadi bingung juga. Terlebih wanita itu sedang mengandung buah cinta mereka," ujar Surya.


"Sekarang ada dimana wanita itu?"


"Ada dirumah Ma."


"Jadi selama ini kalian tinggal satu atap?"


"Emm." Marinka menganggukkan kepalanya.


"Apa kalian akur?" tanya Rini.


Marinka terdiam, diluar dugaannya sang ibu mertua menanyakan hal itu. Marinka sangat tahu kemana arah ucapan itu.


"Aku memang bisa menerima dia sebagai maduku, demi cintaku pada Mas Galang. Tapi yang tidak bisa aku terima adalah, Mas Galang sama sekali tidak berlaku adil padaku, bahkan sampai detik ini Mas Galang belum pernah menyentuhku."


"Mereka bahkan dengan kejam mengusirku dari kamar utama, untuk ditempati mereka berdua. Aku diperlakukan layaknya pembantu dirumahku sendiri. Aku harus apa sekarang Ma?"


"Bercerailah!" ucap Surya.


"Kenapa Papa bicara begitu?"


"Marinka. Mendengar dari ceritamu, posisimu sama sekali tidak menguntungkan. Kamu tentu tahu, masalah perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku tahu kamu menginginkan agar kami berada dipihakmu, tentu saja kami simpatik terhadapmu."


"Tapi Marinka, sampai kapan kamu mau berbagi suami dengan orang lain. Beruntung kamu belum disentuh oleh Galang, kamu masih bisa melanjutkan hidupmu kedepannya. Carilah kebahagiaanmu sendiri."


"Tidak Pa. Aku tidak punya siapapun selain kalian, bahkan orang tua angkatku sudah membuangku demi anaknya bisa masuk di keluarga ini. Aku mohon jangan buang aku juga, aku akan bertahan demi Mas Galang. Aku sangat mencintainya,"


"Kalau itu memang pilihanmu, kami bisa apa? kami tidak mungkin kan menyuruh Galang menceraikan wanita itu, terlebih saat ini dia sedang mengandung penerus keluarga kami. Jadi mau tidak mau kami harus merestui hubungan mereka," ujar Rini.


Marinka menyeka air matanya. Kini dia mengerti, tidak ada gunanya dia berlama-lama berada dirumah itu. Karena dia sudah menemukan semua jawabannya.


"Marinka, jika suatu saat kamu sudah tidak tahan lagi, maka sebaiknya ajukan saja perceraian. Kamu jangan khawatir, kami akan memberikan kompensasi untukmu, agar kamu bisa melanjutkan hidupmu kedepannya nanti "


"Emm." Marinka hanya menganggukan kepalanya.


Bukannya dia ingin menerima tawaran itu, tapi karena dia sudah tidak tahan lagi berada lama-lama dirumah itu.


"Kalau begitu Marinka pulang dulu Ma, Pa."

__ADS_1


"Ya. Berhati-Hatilah," ujar Surya.


Marinka langsung beranjak dari tempat dudukya. Mulai dari keluar pintu, hingga kedepan pagar rumah itu, air mata Marinka tidak bisa berhenti mengalir. Bekali-Kali Marinka menarik nafas panjang, berharap mengurangi rasa sesak didadanya.


Marinka segera menyetop sebuah taksi, dan minta diantarkan kesebuah danau buatan yang biasa dia jadikan tempat menenangkan diri.


"Ternyata percuma saja datang kerumah itu. Mereka semua sama saja. Tapi tidak apa-apa, aku percaya, kesabaranku pasti berbuah manis," ucap Marinka lirih.


"Tidak apa tidak ada yang menginginkanku, asalkan aku masih bisa melihat Mas Galng, itu sudah cukup bagiku,"


"Ayo Marinka, bersemangatlah. Ini bukan akhir dari segalanya, kamu tidak boleh menyerah. Yakinlah suatu saat Mas Galangmu akan melihat kearahmu,"


Marinka berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Wanita itu berbaring disebuah bangku yang tersedia didanau buatan itu. Karena terlalu lelah menangis, diapun jatuh tertidur.


"Apa menangis adalah hobbynya? wanita ini sangat ceroboh, bagaimana bisa dia tidur disembarang tempat begini? apa dia tidak takut ada orang berbuat jahat padanya?"


"Ckk...aku sedang buru-buru, tapi kalau aku meninggalkannya sendiri, bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin menjahilinya?"


Pria itu menoleh ke kiri dan kekanan, kemudian menemukan sebuah ide agar Marinka cepat terbangun.


"Kak, bangun!"


Seorang anak kecil yang biasa berjualan bunga ditempat itu, membangunkan Marinka dari tidur lelapnya.


"Eh? aku ketiduran disini?"


"Kak, ada yang kasih bunga untuk kakak,"


"Bunga?"


"Ya."


"Siapa? mana orangnya?"


"Dia sudah pergi. Tapi kami selalu memanggilnya Om ganteng."


Marinka menatap setangkai bunga mawar berwarna merah yang disodorkan oleh anak yang kira-kira usianya baru 9 tahun.


"Terima kasih. Kalau bertemu Om ganteng, bilang Makasih dari kakak."


"Ya."


Anak kecil itu pergi setelah memberikan bunga itu. Marinka tersenyum manis saat menatap ke arah mawar merah itu.


"Ah...andai saja Mas Galang yang memberikannya," ujar Marinka lirih.

__ADS_1


Marinka beranjak dari kursi panjang berwarna hitam. Wanita itu bergegas pulang, karena tidak ingin terlambat sampai kerumah.


__ADS_2