Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.132.Tak Terlihat


__ADS_3

"Kamu beneran masih mau nerima Renata? wanita ini nggak ada bedanya loh ama si Jihan." Ujar Ezra sembari mengatur kecepatan mobilnya.


"Apa menurutmu aku ini pria tampan, kaya, dan bodoh?" tanya Ando.


"Ya kan kamu sendiri yang bilang,"


"Ah...memang ya, kadang kalau kita berkorban untuk orang lain, pasti nggak terlihat kalau kita nggak ngomong."


"Berkorban untuk orang lain? maksudmu apa?"


"Wanita itu dari awal pertemuan kami selalu menanyakan tentang dirimu. Dia pikir kamu sama sepertiku yang masih lajang. Terlebih saat dia tahu kamu sudah menjadi pengusaha nomor satu si kota J. Setelah aku bilang kamu sudah punya istri dan anak, barulah dia melihat kearahku dan ingin mendekatiku.'


"Benarkah? jadi kedekatanmu dan Renata akhir-akhir ini cuma hubungan palsu saja."


"Emm." Ando mengangguk.


"Lagipula aku sudah menyelidiki dia saat pertama kali bertemu dengannya."


"Benarkah? lalu apa yang kamu dapat dari penyelidikkanmu itu?" tanya Ezra.


"Dia bercerai dari suaminya memang benar karena kasus KDRT, tapi ada faktor yang membuat itu terjadi."


"Faktor apa?"


"Renata ini seorang hiper, sedangkan suaminya selalu sibuk bekerja. Suaminya jarang berada dirumah, sehingga memberi kesempatan bagi Renata untuk berselingkuh. Tapi ternyata ada faktor lain juga kenapa suaminya jarang pulang, ya aku nggak nyelidikin sih, suaminya punya wanita lain apa nggak. Yang pasti dia jarang pulang karena Renata sudah divonis dokter nggak akan pernah bisa mempunyai keturunan."


"Waduhh...kasihan juga ya si Renata." ujar Ezra.


"Ya. Kalau mendengar kisah hidupnya memang menyedihkan. Tapi bukan berarti dia bisa berbuat seenaknya didunia ini. Apa kamu tahu? bahkan dia sempat menggodaku beberapa hari yang lalu."


"Menggodamu? apa dia ingin menaiki ranjangmu?" tanya Ezra.


"Kurang lebih seperti itu."


"Kenapa nggak diladeni? kan lumayan gratis," ujar Ezra terkekeh.


"Gratis gigimu. Enak saja keperjakaanku di renggut donat seribuan, minimal donat mahal dong." cebik Ando.


"Lagian kamu sudah jelas-jelas ada Sera yang menyukai kamu, tapi malah nolak. Padahal dia jelas gadis baik-baik, cantik lagi."


"Iya. Aku sudah lihat perubahannya itu, tapi aku tidak menyukainya. Aku lebih suka dia yang dulu,"


"Kenapa? bukannya tambah lebih bagus."


"Aku tidak suka kecantikan istriku dinikmati oleh pria lain."


"Cih...suami posesif. Jangan-Jangan abis mandi, istrimu tidak kamu perbolehkan nyisir rambut. Jadi kuntilanaklah itu," ucap Ezra asal.


"Lagian kenapa kamu nggak nyoba jalani saja dulu hubungan sama dia, siapa tahu cocok. Kasihan loh, dia sampai mogok kerja." sambung Ezra.


"Mogok kerja?"


"Loh, emang kamu nggak tahu? dia sudah 3 hari ada dirumah, Arin udah bujukin dia buat masuk kerja, tapi dianya nggak mau."


"Huffffttt...ini pasti karena kejadian tempo hari."


"Kejadian apa?"


"Dia bertengkar dengan Renata dan mau menghajar wanita itu. Beruntung aku cepat menghentikannya. Tapi mungkin dia pasti mengira aku membela Renata, padahal bukan itu tujuanku menghentikannya. Aku nggak ingin tangan halusnya jadi kotor menyentuh wanita itu."


"Jadi sebenarnya kamu ini ada hati atau tidak dengan Sera?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Lagipula aku tidak mau dia mengira aku hanya menjadikan dia pelampiasan karena gagal bersama Arin. Bukankah alasanku cukup masuk akal?"


"Ya kamu benar, kalau begitu coba buka hati kamu buat dia, siapa tahu ada kecocokkan. Kalau nggak cocok ya sudah cari yang lain."


"Emm. Tapi sepertinya aku kudu merayu dia dulu ini. Dan sepertinya aku harus pindah ke satu butik yang sama untuk sementara waktu. Oh ya, kapan pembangunan pabrikmu itu?"


"Sudah mulai jalan. Aku ingin menyelesaikan itu secepatnya, agar kreatifitas istriku cepat tergali. Kasihan dia, sepertinya dia sudah mulai bosan dirumah."


"Baguslah."


Setelah mengantar Ezra, Ando bergegas pulang kerumah. Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat dirinya tiba dirumah. Ando segera merebahkan diri untuk beristirahat.


"Sayang. Kamu belum tidur?" tanya Ezra.


"Belum bang. Adek nggak bisa tidur,"


"Kepikiran abang ya?"


"Emm." Marinka mengangguk sembari masuk dalam pelukkan Suaminya.


"Sekarang abang sudah pulang, kamu tidurlah."


"Ya. Tapi tidurnya mau dipeluk,"


"Istriku manja banget sih. Hem? kemarilah!" ujar Ezra sembari merentangkan tangannya. saat mereka sudah berada diatas tempat tidur.


Marinka pun segera masuk kedalam dekapan Ezra. Merekapun tertidur dalam pelukkan satu sama lain.


*****


"Kamu dimana?" tanya Ando diseberang telpon.


"Kenapa masih dirumah? sekarang kakak ada di butik, kata karyawan lain kamu sudah 3 hari nggak masuk kerja. Kenapa? kamu sakit?" Ando pura-pura tidak tahu.


"Aku baik-baik saja. Cuma lagi malas kerja saja."


"Malas? apa kamu mau di pecat?"


"Mau pecat ya pecat saja." hardik Sera sembari mengakhiri panggilan telpon itu.


"Hah...beginilah kalau minim pengalaman. Cara merayu wanita saja nggak becus," ujar Ando.


Ando memutuskan untuk mendatangi Sera kerumah Marinka. Disepanjang jalan dia memikirkan cara merayu Sera agar mau kembali bekerja. Ando juga sudah memutuskan membuka hatinya untuk Sera. Dia ingin mencobanya lebih dulu.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Kriekkkk


"Kak Ando?" Marinka cukup terkejut dengan kedatangan Ando didepannya.


Ando menyunggingkan senyum melihat wanita yang pernah dia cintai itu.


"Sera nya ada?" tanya Ando.


"Ada. Ada apa dengan Sera kak? kalian sedang bertengkar? kok dia sampai mogok kerja gitu," Marinka pura-pura tidak tahu.


"Ada sedikit kesalahfahaman saja,"

__ADS_1


"Duduklah kak, biar Arin panggilkan sera dulu. Oh ya, kakak mau minum apa?"


"Tidak usah, kakak sudah ngopi tadi."


"Baiklah tunggu bentar."


Tok


Tok


Tok


Kriekkkk


"Ada apa Rin?"


"Ada Ando tuh di depan,"


"A-Ando kesini? mau ngapain dia?"


"Mau bujukin tuan putri yang lagi merajuk."


"Bilang aja sama dia, aku lagi malas ngomong sama dia."


"Yakin malas ngomong sama kakak?" Ando tiba-tiba muncul, yang membuat tubuh Sera jadi tegang seketika.


"Ya-Yakinlah, orang nggak penting juga. Lagian ngapain kakak kesini? ntar pacarnya marah loh," ujar Sera sembari memalingkan muka.


"Aih...berat nih kayaknya obrolan kalian. Kalian selesaikan baik-baik ya? tolong jagain barang-barang aku kak, Sera kalau ngamuk suka lempar-lempar barang,"


"Rinnnn...." mata Sera melirik, yang membuat Marinka terkekeh.


Marinka meninggalkan Ando dan Sera untuk menyelesaikan masalah mereka. Sementara itu terjadi kecanggungan antara Sera dan Ando.


"Sebaiknya kakak pulang saja. Aku juga sudah memutuskan buat ngundurin diri dari butik.


"Tidak bisa begitu dong, urusan pribadi nggak bisa dibawa-bawa ke pekerjaan."


"Urusan pribadi apa? aku nggak ngerasa punya masalah pribadi dengan kakak," elak Sera.


"Perasaan kakak nggak ada bilang, kalau kamu punya masalah pribadi dengan kakak."


"Sudahlah kak, apapun itu pokoknya aku mau berhenti kerja." Sera kembali memalingkan wajah dan duduk ditepi tempat tidur.


Ando melangkah masuk dan duduk disebelah Sera. Pria itupun meraih dagu Sera yang tertoleh kesamping.


"Kamu cemburu. Hem?" tanya Ando sembari menatap dalam mata Sera.


Deg


Deg


Deg


Jantung Sera langsung berdebar-debar, jaraknya dan Ando saat ini terlaku dekat. Hingga jantung Sera terasa melompat-lompat keluar.


"Jantung nggak tahu diri. Kelihatan banget kalau masih ada hati sama ini orang. Aku harus jawab apa ini?" batin Sera.


"Jangan kepedean. Laki-Laki banyak di dunia ini. Terlebih laki-laki penyuka gadis ting-ting," sindir Sera.


Ando mengulum senyumnya mendengar ucapan Sera yang terdengar ceplas ceplos. Meski belum memiliki perasaan khusus, tapi dia merasa nyaman berada didekat Sera.

__ADS_1


__ADS_2