Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.142. Menyembunyikan Identitas


__ADS_3

"Kenapa bang?" tanya Marinka saat melihat suaminya itu menghela nafas panjang.


"Seperti biasa para wartawan ingin mengorek tentang designer pakaian yang sedang buming saat ini, dengan berdalih sebagai permintaan dari masyarakat." Jawab Ezra.


"Dan jawaban adek tetap sama bang, saat ini belum waktunya adek muncul. Ada tujuan lain yang belum adek capai,"


"Abang mengerti. Abang sangat menghargaimu untuk menyembunyikan identitasmu itu."


"Sebenarnya alasan yang paling mendasar adalah anak-anak kita bang. Kita tidak tahu, bahaya apa yang akan mengancam kedepannya. Tapi minimal kita harus meminimalisir kejahatan dalam bentuk apapun," ujar Marinka.


Sebenarnya alasan yang diberikan Marinka cukup masuk akal, mengingat dirinya pernah mengalami tindak kejahatan. Wanita itu bahkan rela wajahnya tidak dikenal dunia, meskipun barang yang dia jual sudah mendunia, asalkan keluarganya tetap aman. Padahal sebenarnya Ezra sangat mampu untuk memberikan perlindungan pada istrinya itu, karena dirinya mempunyai banyak bodyguard handal dan orang-orang terlatih. Tapi Marinka tetap saja menolak, dengan alasan yang sama.


"Nanti kalau sudah waktunya, adek pasti akan muncul. Tapi tidak untuk saat ini," sambung Marinka.


"Lakukan senyaman dirimu. Tidak ada yang boleh memaksamu termasuk abang. Abang ingin adek tetap menjadi diri sendiri, tidak tergantung dengan perintah orang lain," ujar Ezra sembari mengusap puncak kepala istrinya itu.


"Makasih ya bang sudah ngertiin adek?"


"Sudah seharusnya bukan?" ucap Ezra.


"Ya sudah kita tidur yok bang? adek capek banget hari ini,"


"Emang hari ini Ezka minta berapa kali naik escalator?" tanya Ezra, dirinya memang datang terlambat saat menjemput anak dan istrinya itu.


"Ngak kehitung bang.Yang pasti semua orang ngelihat kearah kami, kayak kita yang nggak pernah naik tangga begitu." Jawab Marinka.


Ezra tertawa keras mendengar cerita istrinya itu.


"Lalu gimana respon si uda?" tanya Ezra


"Huu...jangan ditanya bang. Si uda nggak berhenti menggerutu. Kayaknya dia sudah mengerti arti kata malu."


"Bisa dibayangkan betapa masamnya wajah anak itu,"


"Mama...papa...buka pintunya," teriak Ezka dari luar pintu.


Marinka dan Ezra saling berpandangan saat mendengar teriakkan Ezka. Marinka bergegas turun dari ranjang, untuk membukakan putrinya itu pintu.


Kriekkkk


Marinka melihat ada sisa air mata di pipi putrinya itu, dan sudah bisa Marinka tebak, pasti itu ada hubungannya dengan Rakha.


"Ada apa. Hem? kenapa nangis?" tanya Marinka.

__ADS_1


Ezka langsung memeluk Marinka, pelukkan yang bahkan belum mencapai pinggangnya itu.


"Nggak mau tidul sama uda lagi, uda jahat." Jawab Ezka dengan wajah cemberut.


Marinka menggendong putrinya itu , membawa gadis kecil itu untuk masuk kamarnya dan membaringkannya diatas tempat tidur, dengan posisi ditengah-tengah.


"Ada apa lagi. Hem? bertengkar dengan uda lagi?" tanya Ezra sembari mengusap puncak kepala putrinya.


"Iya. Uda jahat, nggak mau tidul sama uda lagi. Dia juga bilang nggak mau tidul sama Ezka. Jadi Ezka mau tidul sama mama papa saja."


"Memangnya uda jahat kenapa sih?" tanya Ezra.


"Uda bilang Mr. John suka Ezka. Nanti udah besar Mr. John akan menikah dengan Ezka. Pokoknya Ezka nggak mau,"


"Menikah? memangnya menikah itu apa?" tanya Ezra untuk memastikan.


"Tidak tahu. Pokoknya tidak mau menikah itu,"


Ezra mengulum senyumnya, Marinka hanya bisa menyembunyikan tawanya.


"Memang uda tahu darimana Mr. John suka Ezka?" tanya Ezra.


"Katanya mata Mr. John suka kedip-kedip genit sama Ezka."


"Sayang. Mr. John begitu bukan karena dia suka Ezka, tapi Mr. John matanya sedang sakit. Jadi mata Mr. John itu memang suka kedip-kedip sendiri. Tapi meskipun begitu, kita tidak boleh menghina orang lain, terlebih Mr. John orang yang lebih tua dari Ezka. Nanti biar papa yang bilangin sama uda ya?" ujar Ezra.


"Sekarang Ezka kembali ke kamar ya?" tanya Ezra.


"Nggak mau pa, Ezka mau tidul disini aja."


"Nggak boleh. Bukankah Ezka menginginkan adik?"


"Bang...." mata Marinka melotot, tapi Ezra nggak mau tidur tanpa memeluk istrinya itu.


"Apa adiknya sudah ada?"


"Belum. Mama dan papa lagi berusaha. Makanya Ezka tidak boleh tidur disini,"


Ezka tampak berpikir, lalu kemudian gadis kecil itu setuju untuk kembali ke kamarnya. Ezra mengantar Ezka untuk kembali ke kamarnya, Rakha yang tengah asyik main ponsel cuma melirik sekilas, kemudian fokus kembali dengan ponsel ditangannya.


"Uda. Stop main Hp nya! ini sudah malam, sudah waktunya tidur."


Rakha langsung berhenti main ponsel seketika. Ezra kemudian mendekati putranya itu untuk menasehatinya. Ezka yang mendengar Rakha dinasehati merasa puas hatinya gadis kecil itu senyum-senyum sendiri dari balik selimut.

__ADS_1


*****


"Bagaimana? apa adek setuju untuk mengikuti permintaan publik? mereka hanya ingin tahu, apa idola mereka laki-laki atau perempuan, mereka juga ingin tahu suara idola mereka seperti apa," ujar Ezra.


"Ya ampun bang, sampai segitunya ya? adek pikir adek cuma mau berada dibelakang layar saja. Tidak pernah mau muncul didepan publik."


"Nikmati saja. Kalau adek mau menolak tidak masalah,"


Marinka nampak terdiam, wanita itu menimbang-nimbang tawaran itu.


"Jangan dipaksakan, seperti yang abang bilang, tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa adek, untuk melakukan hal yang tidak adek sukai," ujar Ezra sembari mengusap puncak kepala istrinya itu.


"Tidak bang. Kali ini adek nggak mau mengecewakan fans terus menerus. Ya meski adek belum bisa muncul sepenuhnya didepan publik."


"Baiklah. Berarti adek sudah memutuskannya, abang akan atur tempat wawancaranya ditempat paling private,"


"Makasih ya bang,"


"Berapa orang wartawan yang adek mau, untuk wawancara nanti?"


"Lebih sedikit, lebih bagus bang." Jawab Marinka.


"Baiklah. Abang mengerti,"


Ezra kemudian menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mengatur tempat yang bagus untuk Marinka di wawancarai. Pria itu tahu respon yang akan terjadi setelah istrinya itu muncul, dengan separuh penampilannya. Namun Ezra akan selalu mendampingi istrinya itu, untuk memberikan wanita itu kekuatan.


*****


Gaun panjang berwarna ungu membalut tubuh Marinka yang ramping. Wanita itu berjalan dengan anggun, saat memasuki ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Jangan ditanya bagaimana reaksi para wartawan saat dirinya mulai memasuki ruangan yang di dekor indah itu. Marinka mengenakan topeng yang hanya menutupi mata, dengan aksen bulu-bulu disamping topeng itu.


"Istriku masih terlihat cantik, meskipun wajahnya ditutupi dengan topeng itu," batin Ezra yang melihat acara itu dari ujung ruangan.


Marinka duduk dengan anggun dan tenang, meskipun kamera berkali-kali memotret dirinya tanpa henti. Sang pembawa acara kemudian mulai memandu acara yang ditayangkan secara langsung ditelevisi itu.


Semua wartawan sudah menyiapkan pertanyaan demi pertanyaan yang ampuh, untuk mengorek sisi kehidupan sang designer yang tengah naik daun itu. Dan pertanyaan itu dimulai dengan identitas nama dan darimana dirinya berasal.


"MD sendiri merupakan nama asli saya. Tapi maaf, untuk saat ini saya belum bisa memberitahu apa kepanjangan dari inisial itu untuk sebuah alasan pribadi. Tapi saya akan membocorkan sedikit darimana saya berasal, saya berasal dari negara yang sangat saya cintai Indonesia." Marinka menjawabnya dengan tenang dan penuh wibawa.


Kata Indonesia di garis bawahi oleh wartawan, dan mereka bertanya kembali tentang negara yang belum mereka ketahui itu. Marinka dengan bangga menceritakan tentang negaranyan itu dengan singkat dan jelas. Para wartawan kemudian bertanya tentang semua profil dirinya yang dijawab Marinka dengan jujur. Marinka juga mengabarkan tentang niatnya ingin membuka pabrik untuk brandnya di negara asalnya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


YUK MAMPIR JUGA DI KARYA AUTHOR YANG LAIN YA TEMAN-TEMAN...

__ADS_1


"Suamiku Ceo Ganas


"Sarlince ( cinta sepihak )


__ADS_2