
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas Rakha dan Gadlyn saling memburu, saat pasangan suami istri itu baru saja mengerang panjang ketika sama-sama mendapat pelepasannya.
"Sayang sudah ya? aku sudah nggak kuat lagi," Gadlyn benar-benar menyerah saat mereka usai melakukan percintaan yang ke 5 kalinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Rakha benar-benar tidak memberi Gadlyn ampun. Pria itu sudah seperti harimau buas yang tengah kelaparan.
Cup
Rakha mencium kening Gadlyn dan memeluknya.
"Tidurlah," ujar Rakha.
"Aku mau pipis dulu," ucap Gadlyn yang segera menjauhkan diri dari dekapan Rakha.
Gadlyn perlahan menapakkan kakinya ke lantai. Namun saat wanita itu berdiri, Gadlyn tiba-tiba terduduk dilantai karena lemas. Rakha yang melihat Gadlyn terduduk di lantai, langsung melompat dan menggendong Gadlyn keatas tempat tidur.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Rakha panik.
"Aku tidak tahu, kakiku gemetar dan terasa lemas." Jawab Gadlyn.
"Tungguhlah. Biar aku siapkan air hangat untukmu. Agar tubuhmu rileks. Maaf ya sayang? lain kali aku tidak akan mengajakmu terlalu bekerja keras lagi," ujar Rakha sembari mengusap puncak kepala Gadlyn.
"Tidak apa. Selagi aku mampu melayanimu, aku akan melakukannya. Aku tidak akan memberimu kesempatan mengeluh, karena tidak puas dengan pelayananku.Hingga memberikanmu alasan untuk mencari kepuasan dengan wanita lain," ucap Gadlyn.
"Wanita lain apa. Wanita lain belum tentu sebersih dan sesuci dirimu. Aku tidak ingin wanita lainnya, wanita yang kuinginkan hanya dirimu saja," ujar Rakha.
Rakha kemudian menyiapkan air panas untuk mereka berdua. Setelah selesai, merekapun berendam dalam satu bathup yang sama.
Sementara itu di tempat berbeda. Anser tengah menatap langit malam didalam kamarnya yang atapnya terbuah dari kaca bening.
"Aku tidak bisa begini terus. Memikirkan Meiza benar-benar membuatku jadi kurang waras," ujar Anser.
Sejak pertemuan Anser dan Meiza di pernikahan Rakha, perasaan Anser terhadap Meiza semakin menjadi. Anser jadi teringat saat malam di tengah pesta resepsi itu, Meiza gadis berwajah datar dan dingin itu mengajak Anser pergi keluar menuju puncak. Udara yang dingin karena hujan yang lebat membuat dua insan tanpa status itu, menginap disebuah vila dan tidur di kamar yang sama.
Semalaman Anser tidak dapat tidur, dan hanya memandangi wajah cantik Meiza yang tampak terlelap lelah. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, sehingga dia terlalu percaya pada Anser yang notabene seorang pria yang normal.
"Seharusnya London belum terlalu malam bukan?"
Anser meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Meiza. Namun saat itu Meiza tengah berada di kamar mandi, dan Moza lah yang menerima panggilan itu saat tahu itu adalah Anser.
"Ya Ans?" tanya Moza diseberang telpon.
__ADS_1
"Meiza apa kamu...."
"Ini bukan Meiza, tapi Moza. Meiza lagi dikamar mandi. Ada apa sih?" tanya Moza.
"Huffffttt hampir saja," ucap Anser lirih namun masih bisa di dengar oleh Moza.
"Ada apa sih? kok terdengar urgent banget," tanya Moza.
"Nggak apa. Masih lama ya? kalau lama nanti ku telpon lagi," tanya Anser.
"Tuh baru keluar dari kamar mandi. Nih...Anser nelpon,"
Bisa Anser dengar kalau Moza memberikan ponselnya pada Meiza.
"Ya Ans?" tanya Meiza.
"Meiza kamu sudah punya pacar belom?" tanya Anser tanpa basa basi.
"Kamu nelpon cuma buat nanya itu doang?" tanya Meiza.
"Timbang jawab doang susah amat sih?"
"Belum." Jawab Meiza.
"Apa kamu punya rencana buat nikah muda?" tanya Anser.
"Nikah Yuk?" tanya Anser.
"Anser sialan. Loe ngerjain gue ya?"
"Gue serius. Gue mau ngajakin loe nikah. Kalau loe mau, gue bakal ajakin orang tua gue buat ngelamar loe. Mau ya?" ujar Anser.
Meiza terdiam. Gadis itu cukup syok dengan ajakan Anser yang secara tiba-tiba. Namun sekali lagi Meiza ingin memastikan keseriusan pria itu. Sebab dia masih penasaran, kenapa Anser tiba-tiba punya pemikiran seperti itu terhadapnya.
"Mei?" seru Anser saat pria itu tidak mendengar suara Meiza.
"Hem?"
"Kok diam Mei? aku seriusan ini nanya?"
"Ans. Jangan bermain-main. Pernikahan itu suatu hal yang sakral. Lagian kita tidak saling mencintai bukan?"
"Apa menurutmu aku pria yang baik?" tanya anser.
"Ya."
"Apa menurutmu aku sudah layak dijadikan suami?" tanya Anser.
__ADS_1
"Sepertinya sudah." Jawab Meiza.
"Lalu kamu mau apalagi? mending kamu milih yang pasti-pasti aja Mei."
"Kamu nggak takut sama aku Ans? kamu sendiri yang bilang, kalau aku ini galak, berwajah dingin dan datar," tanya Meiza.
"Setelah kupikir-pikir aku butuh istri berwajah dingin dan datar, jadi istriku sudah dipastikan tidak akan tebar pesona pada pria lain." Jawab Anser.
"Apa kamu bisa memberikan aku sebuah alasan, agar aku percaya kalau kamu benar-benar menginginkan aku jadi istrimu?" tanya Meiza.
Anser terdiam. Pria itu berpikir keras untuk memberikan bukti nyata keseriusannya pada gadis itu. Saat Meiza tidak mendengar respon apapun dari Anser, Meiza jadi meragukan keseriusan ucapan Anser. Namun keraguan itu hanya bertahan beberapa detik saja, saat Anser berkata dengan penuh keyakinan.
"Tunggu sampai besok. Besok kamu akan tahu betapa seriusnya ucapanku," ujar Anser.
"Aduh Ans. Kamu ada-ada aja deh bikin aku serangan jantung aja," ucap Meiza.
"Tunggu sampai besok ya? benar-benar ditunggu loh," ujar Ans.
"Oh ya ganti mode vc dong. Mau lihat wajah jutekmu," sambung Ans.
Anser langsung merubah panggilan biasa menjadi video call.
"Cantiknya bidadariku," rayu Anser.
"Untung jauh loe. Kalau dekat udah gue timpuk pakai sendal. Bisa-Bisanya modusin gue," ujar Meiza.
"Tungguin besok ya? see you,"
Meiza dan Anser saling bertatapan sejenak. Meiza ingin melihat keseriusan diwajah pria itu. Dan entah menga Meiza menilai Anser begitu serius mengatakannya.
Setelah percakapan itu selesai, Moza yang sempat mencuri dengarpun bertanya pada saudara kembarnya itu.
"Ada apa?" tanya Moza.
"Anser sudah gila. Dia ngajakin aku nikah tiba-tiba." Jawab Meiza.
"Ap-Apa?" Moza terkejut.
"Gila kan? nggak tahu keseriusan seperti apa yang ingin dia buktikan besok," ujar Meiza.
"Apa selama ini kalian punya hubungan?" tanya Moza.
"Tidak ada. Makanya aku terasa seperti disambar petir saat dia ngajakin nikah tiba-tiba. Alah...lagian nggak usah didengar. Kamu tahu sendiri seperti apa si Anser itu. Agak rada-rada tuh anak," ucap Meiza.
"Kamu salah Mei. Justru aku tahu betul sifat Anser yang bisa bercanda saat serius, dan bisa serius dalam bercanda. Andai saja Anser mengatakan itu padaku, tentu aku tidak akan berpikir dua kali buat nerima dia," batin Moza.
Yah...Moza saudara kembar Meiza memang sudah sejak lama menyukai Anser. Itulah sebabnya dia memutuskan menjadi dokter, karena berharap dia bisa menjadi patner yang baik buat Anser nanti. Sementara malah sebaliknya, Anser ingin jadi dokter saat tahu Meiza mengambil jurusan dokter.
__ADS_1
Moza tak lagi banyak bicara. Gadis itu tidur membelakangi Meiza. Tanpa Meiza tahu, Moza meneteskan air matanya.