
"Hey...kok malah melamun sih? serasa kakak jadi supir nih," ujar Ando.
Sera mengembangkan senyumnya, bibirnya tidak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang identitas Renata.
"Tadi siapa kak?"
"Siapa? Renata?" ujar Ando.
"Ya. Dia siapanya kakak?" tanya Sera.
"Bukan siapa-siapa, dulu dia teman sekolah saat di SMA. Ezra juga kenal kok, bahkan mereka pernah berpacaran."
"Dia? mantannya Ezra?"
"Ya. Dulu aku juga sempat suka sama dia, tapi dia lebih milih sama Ezra. Mereka pun berpacaran, tapi nggak gitu lama."
"Kenapa mereka putus?"
"Renata pengen nikah muda tapi Ezra nggak siap. Jadilah Renata nikah sama suaminya itu, tapi seperti yang dia bilang tadi, dia sudah cerai dengan suaminya."
"Kalau sekarang? kakak masih suka sama dia?"
"Kamu kenapa nanya gitu? kakak jadi menyangka kamu sedang cemburu loh," ujar Ando yang membuat pipi Sera jadi memerah.
"Kakak bercanda, lagipula mana mungkin kamu suka sama kakak?" sambung Ando.
"Kenapa nggak mungkin?"
"Soalnya kamu masih muda, sama kayak Arin. Seleramu sama Arin pasti berbeda."
Ingin rasanya Sera mengungkapkan perasaannya, tapi bibirnya mendadak kelu karena dia ingin memastikan perasaan Ando pada Renata terlebih dahulu.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku yang tadi," ujar Sera mengalihkan pembicaraan.
"Yang mana?"
"Kakak masih suka sama Renata?"
"Tidak. Prinsip kakak, kalau yang lewat ya sudah, nggak ada istilahnya kembali, apalagi balikkan sama mantan."
"Gimana kalau dia deketin kakak? soalnya dia kan minta nomor ponselnya kakak tadi."
"Kakak rasa dia ingin menanyakan tentang Ezra, buat apa dia nanyain kakak? dulu aja dia nggak gubris aku kok,"
"Benar juga. Kakak harus bantuin kak Ezra dan Arin. Jagan sampai ada pelakor dirumah tangga mereka."
"Kamu tenang saja. Kalau dia sampai menanyakan Ezra, aku akan menyesatkannya." Jawab Ando sambil terkekeh.
"Oh ya, kamu kalau mau minta libur bilang aja ya? kamu jangan terlalu fokus bekerja, sampai lupa buat cari pasangan hidup. Nanti keterusan kayak kakak ini,"
__ADS_1
"Mau cari dimana? yang didepan mata aja sulit ditaklukkan." Jawab Sera keceplosan.
"Maksudnya? kamu mau naklukkin siapa?"
"Kakak." Jawab Sera sembari menggigit lidahnya.
Sera berpikir tidak ada salahnya dia bergerak cepat, entah mengapa sejak bertemu dengan Renata, dia jadi takut orang yang dia sukai ditikung. Mendengar ucapan Sera, jelas Ando tertawa keras. Pria itu berpikir Sera sedang bercanda saat ini. Sampai akhirnya tawa itu mereda, saat Sera menatap dirinya dengan wajah yang sangat serius.
"Ka-Kamu serius?" tanya Ando.
"Aku tahu moment ini nggak tepat, terlebih aku juga seorang wanita. Kakak juga belum begitu sembuh dari luka patah hati, tapi aku tidak mau menunda lagi. Aku ingin kakak tahu secepatnya, setelah itu terserah kakak mau menanggapinya bagaimana."
"Sebenarnya aku suka sama kakak, bahkan rasa suka itu sudah ada sejak pertama kali kita bertemu," ujar Sera yang kemudian terdiam karena ingin melihat respon Ando.
"Sial, baru pertama kali ditembak cewek kenapa jantung jadi berdebar gini. Lagipula aku nggak punya perasaan sama dia, bagaimana caraku menolaknya agar dia tidak tersinggung," batin Ando.
"Wah...kamu hebat loh, salut banget untuk gadis yang memiliki keberanian sepertimu. Kamu benar, ini memang terlalu tiba-tiba buat kakak. Tentu kamu pasti tahu, tidak mungkin kan kita berpindah hati terlalu cepat? bukan kakak menolakmu, kita kan nggak tahu rahasia tuhan? siapa tahu kedepannya kita memang jodoh. Iya kan?"
"Sungguh penolakkan yang amat teramat halus." batin Sera.
"Ya kakak benar. Kakak tidak usah terlalu pusing memikirkan ucapanku, aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku saja."
"Emm." Ando mengangguk.
"Tapi kamu juga jangan terpaku dengan perasaanmu itu. Kamu masih sangat muda, kamu masih bisa mendapatkan yang lebih segalanya."
"Tentu. Hidup itu terus berjalan, lagipula setelah kupikir-pikir aku ini terlalu percaya diri. Tapi nggak apalah kak, yang penting aku sudah lega," ujar Sera.
Percakapan itu terputus saat mereka sudah sampai di butik. Seperti yang Sera perkirakan, Renata memang ingin mengincar Ando, terbukti hampir tiap hari wanita itu berusaha menaklukkan hati Ando dengan mendatangi pria itu sembari membawa makanan. Sera sudah pasrah kalau perasaannya tidak pernah terbalaskan, karena dia tahu saingan cintanya adalah wanita berkelas.
*****
"Kejutan..." ujar Ezra dengan membawa sebuket besar bunga mawar merah.
"Abang?" Marinka segera berhambur kepelukakan suaminya.
"Kangen abang?"
"Banget. ini benar-benar kejutan buat adek,"
"Kalau gitu service abang," bisik Ezra.
Wajah Marinka merona, dia terlampau malu digoda dengan hal seperti itu. Ezra tidak ingin menyiakan kesempatan, pria itu segera mendorong Marinka ke sofa panjang sembari berperang bibir dengan istrinya itu. Rasa rindu yang mereka pendam selama hampir sebulan, kini akan terbayarkan dengan penyatuan mereka.
"Ah... bang, pindah ke kamar yuk?" ujar Marinka disela-sela cumbuan manis dari Ezra.
"Kita belum pernah mencobanya disini, abang sudah tidak tahan lagi," ucap Ezra dengan suara berat.
Ezra kembali mencumbu istrinya itu dan bergegas melepaskan semua kain yang ada padanya dan juga istrinya.
__ADS_1
"Ah...bang..." Marinka menggeliat saat dirinya yang tengah berada dipangkuan pria itu diakses penuh oleh Ezra.
"Abang ingin kamu yang memimpin kali ini," bisik Ezra.
Marinka mengerti ucapan suaminya, setelah benda kebanggaan suaminya itu melesak masuk, perlahan dirinya bergerak diatas tubuh pria itu.
Ruangan itu kini terasa berubah jadi panas, karena aktifitas panas pasangan suami istri itu. Suara-Suara merdu mereka saling bersahutan memenuhi ruangan hening itu, dinginnya Ac bahkan sama sekali tak mengurungkan niat keringat mereka yang ingin keluar, dan tubuh mereka tumbang bersama saat pelepasan kesekian kalinya sudah mereka dapatkan.
"Kamu sangat cepat belajar sayang," ujar ezra disela-sela nafasnya yang memburu.
Marinka tidak menjawab ucapan itu, wanita itu malah mengeratkan pelukkannya karena saat ini mereka sedang berada disofa yang agak lumayan sempit.
"Abang lama kan disini?" tanya Marinka.
"Ya. Abang sudah menyerahkan urusan perusahaan pusat sama Yuda, jadi abang akan mengurus perusahaan disini sementara waktu."
"Ah...adek senang dengernya. Oh ya bang, sepertinya Ando bakal melepas masa lajangnya,"
"Benarkah? siapa gadis beruntung itu? apa itu Sera?"
"Bukan. Tapi Renata,"
"Renata? Renata yang mana ini?"
"Renata mantan abang itu. Sera yang cerita, kalau saat ini Ando sedang dekat dengan Renata."
"Mana mungkin, Renata sudah menikah."
"Dia sudah bercerai dari suaminya."
Ezra terdiam. Pria itu jadi berpikir Ando dekat dengan Renata, karena frustasi dengan hubungannya dan Marinka.
"Abang akan bicara dengan Ando nanti. Adek jangan salah faham, abang hanya tidak ingin Ando terjebak dalam situasi yang rumit. dia sahabatku, aku ingin dia mendapatkan yang terbaik."
"Adek percaya abang kok,"
"Makasih sayang,"
*****
Lilian membuka hasil tes DNA yang dia lakukan dua minggu yang lalu. Beruntung sat itu orang suruhannya berhasil mendapatkan rambut Marinka, saat wanita itu sedang berbelanja disalah satu supermarket terbesar di kota Paris.
Tangan Lilian bergetar, dengan air mata yang sudah jatuh diatas kertas putih itu. Wanita paruh baya itu sangat bahagia, saat mengetahui Marinka adalah benar-benar putrinya yang dia telantarkan selama ini.
"Bunda akan berusaha memperbaikki kesalahan bunda sama kamu putriku. Tapi bunda sangat bahagia, ternyata kamu sudah bersuami dengan orang hebat seperti dia. Sebentar lagi kita akan bertemu, maaf mungkin awal pertemuan kita nanti bunda belum bisa berterus terang, tapi bunda ingin kamu tahu, bunda melakukan itu agar kita sedikit-sedikit bisa lebih dekat." ujar Lilian lirih.
Lilian melipat bukti DNA itu dan memasukkannya kedalam tas. Wanita itu bergegas pergi untuk kembali memesan sebuah tiket ke Paris. Wanita itu akan memulai perkenalannya dengan putrinya di Paris, dia sangat berharap usahanya itu tidak berakhir sia-sia.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1