
"Mereka akan melakukan sidang perceraian hari ini, apa adek sudah puas?" tanya Ezra.
"Tentu saja belum. Itu masih terlalu ringan buat mereka. Rasa sakit yang aku rasakan waktu itu tidak sebanding dengan yang mereka rasakan saat ini. Aku ingin membuat mereka benar-benar sampai tidak bisa tertawa lagi." Jawab Marinka.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?" tanya Ezra.
"Aku akan menemui bajingan itu." Jawab Marinka.
"Menemuinya? yang benar saja. Bagaimana kakau dia mengambil keuntungan darimu saat kalian bertemu?" tanya Ezra.
Marinka mengalungkan kedua tangannya di leher kekar suaminya, dan mengecup sekilas bibir merah pria itu.
"Apa abang cemburu. Hem?" tanya Marinka.
"Abang akan menghukummu, kalau adek sampai berani macam-macam dengan pria lain." Jawab Ezra sembari merangkul pinggul Marinka.
"Nggak akan. Pokoknya nggak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian," ujar Marinka.
"Huussssttt...jangan pernah ucapkan tentang kematian didepanku. Abang nggak bakalan sanggup kalau adek ninggalin abang lebih dulu. Lebih baik abang saja yang duluan,"
"Nggak mau bang. Adek juga nggak bakalan sanggup kalau abang pergi duluan. Hah...pokoknya jangan bahas tentang itu lagi. Itu benar-benar mengerikan kalau dibayangkan." ucap Marinka.
"Adek benar. Kalau itu sampai terjadi, mungkin abang benar-benar akan menjadi gila," Ezra membawa Marinka dalam dekapannya.
"Ah...rasanya, adek benar-benar pengen hidup 1000 tahun lagi kalau begini. Kalau teringat masa yang lalu, rasanya adek nggak menyangka mendapat kebahagiaan yang luar biasa seperti ini. Punya suami hebat, anak-anak yang cerdas, juga karier yang cemerlang."
"Jangan ingat-ingat lagi masa lalu yang buruk. Apalagi saat abang menyakiti hatimu dulu, terus terang abang merasa malu kalau mengingat semua itu,"
"Adek sudah ikhlas memaafkan abang, jadi abang jangan lagi merasa bersalah ya?" Ezra mencium puncak kepala Marinka dengan penuh kasih sayang.
Seperti yang Ezra katakan, saat ini Galang dan Karin tengah berada diruang sidang. Setelah melakukan mediasi namun berakhir gagal, saat ini mereka akan melakukan sidang yang terakhir dan hakimpun sudah memutuskan mereka sudah sah bercerai.
Meski sebelumnya Karin sudah berusaha maksimal, agar Galang mau diajak rujuk bersamanya, namun tetap saja Galang menolak mentah-mentah dirinya. Karena Galang yakin, setelah dirinya bercerai dengan Karin, Marinka akan segera menemuinya dan bersedia diajak rujuk kembali.
Karin menangis terisak saat mendengar putusan pengadilan. Dia benar-benar tidak rela kehilangan Galang, si sumber mata uangnya. Namun kendati demikian, Galang tetap memberikan harta gono gini meskipun tidak seberapa.
"Tamat sudah riwayat kita Karin. Ini semua karena kebodohan kamu. Hancur sudah harapan pengen kaya sampai mati," ujar Paulin.
__ADS_1
"Udah dong ma. Aku lagi stres, kok mama malah nambahin beban pikiran aku sih? lagian mas Galang juga janji mau kasih kompensasi buat aku, kita bisa pakai itu buat modal usaha."
"Usaha apa? kita nggak punya skil apa-apa? mau buka restauran, kedai, atau kuliner apalah itu, kita nggak ada yang bisa masak. Beda kalau ada Marinka disini, ah...andai anak itu masih ada pasti kita bisa manfaatin dia," ujar Paulin.
"Marinka lagi...Marinka lagi...Marinka udah mati Ma, mama lupa?" tanya Karin kesal.
"Tentu aja nggak lupa. Mama cuma bilang seandainya."
"Ya pokoknya mama nggak usah nyebut nama dia dirumah ini lagi. Karin nggak suka kalau dibanding-bandingin ama dia. Apalagi dibandingin ama orang yang nggak bernyawa gitu," Karin benar-benar tersulut emosi.
"Ya jadi gimana hidup kita selanjutnya ini? mana papa kamu udah di pecat dari perusahaan. Usaha berlian mama macet gara-gara kena tipu, sekarang kamu malah kayak gini," ujar Paulin.
"Nanti aku akan coba lamar kerjaan," ujar Jarin.
"Baguslah, setidaknya ijazahmu bisa digunakan." ucap Paulin.
Karin memijit keningnya yang terasa berdenyut. Kini dirinya sedikit merasa cemas, karena tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan gaya hidupnya yang mewah.
****
Sementara itu Karin sudah akan menyerah, karena mencari pekerjaan saat ini sangatlah sulit. Sampai wajahnya semringah, saat melihat sebuah loker yang terpajang di salah satu pohon, dan tampaknya loker itu baru saja ditempel.
Tanpa Karin tahu, seseorang menyeringai dari balik pohon, karena merasa berhasil memperdaya wanita itu. Karin bergegas mendatangi tempat yang bersangkutan. Karin sangat bersemangat, karena peluangnya menurut Karin sangatlah besar.
"Wah...sayang sekali, untuk posisi yang anda lamar, sudah ada yang mengisi mbak," ujar sang resepsionist.
"Benarkah? tanya Karin.
"Iya mbak. Ya maklum saja MD collection saat ini sedang buming, bahkan pelamarnya ada yang datang dari luar kota. Soalnya gajih yang di tawarkan juga besar."
"Oh gitu. Jadi benar-benar nggak ada lowongan lagi ya?" tanya Karin.
"Ada mbak. Itupun cuma satu, yang ngelamar lumayan banyak. Ini cuma nunggu bu manager saja, karena dia yang akan memutuskan langsung."
"Posisi apa yang kosong?" tanya Karin.
"Cleaning service mbak."
__ADS_1
"Apa? Cleaning service?" tanya Karin.
"La iya. Emang kenapa dengan Cleaning service. Posisi itu disini nggak sembarangan loh. Karena disini apapun profesinya sangat di hargai. Gajih Cleaning service saja dua kali lipat gaji UMR."
"Masak sih?" tanya Karin.
"Nggak percaya amat si mbak. Makanya pelamar disini tu ada Ribuan orang,"
"Ya udah, aku nitip lamarannya kalau gitu."
"Mbak yakin mau kerja jadi CS?"
"Lihat entar deh, yang penting titip lamaran dulu," ujar Karin.
Karin kemudian pergi dari tempat itu, sang resepsionist hanya mengacungkan jempolnya pada orang dibalik sebuah tembok.
"Hah...capek," ujar Karin.
"Gimana? apa udah dapat kerjaannya?" tanya Paulin.
"Belum ma. MD collection buka loker, tapi cuma jadi cleaning service,"
"Apa? kamu ambil kerjaan itu? Karin, jauh-jauh mama kuliahin kamu keluar negeri, bukan mau jadiin Cleaning service begitu, jangan bikin malu deh."
"Gajihnya dua kali lipat dari UMR."
"Masak sih?"
"Mungkin karena MD sukses, mereka juga sanggup menggaji karyawanya segitu,"
"Apa kamu nggak malu kalau kerja begitu?" tanya Paulin.
"Ah ...bodo amat lah Ma. Nggak ada yang kenal juga disana," ucap Karin.
"Benar juga. Ya udah kamu nggak apa deh kerja disana dulu, ntar kalau udah ada panggilan kerja yang lebih baik lagi, baru pindah kerjaan." ujar Paulin.
Karin tidak lagi menanggapi ucapan Paulin, saat ini di lebih dipusingkan untuk menemukan cara agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, agar gaya hidupnya tetap bisa terpenuhi.
__ADS_1