Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.82. Dilarang


__ADS_3

"Ayo kita kerumah Marinka," ujar Ezra.


"Ckk..cuci dulu mukamu, setelah itu kita sarapan. Bertemu Marinka juga harus punya tenaga, tenaga buat merayu wanita itu agar mau kembali bersamamu."


"Dia mencintaiku, dan aku mencintainya, jadi tidak perlu usaha yang keras bukan? lagipula kami baru berpisah beberapa hari, tidak mungkin perasaannya berubah secepat itu."


"Baiklah. Tapi apapun itu, kamu harus sarapan dan mandi dulu. Barangkali nanti ada adegan saling *****, kan malu kalau nafasmu bau jigong."


"Eh? benar juga, aku pinjam pakaianmu ya? beruntung hari ini hari libur, jadi kita bisa main kerumah Marinka sepuasnya."


"Ya terserah saja. Karena ini hari bahagiamu, maka aku akan menuruti semua keinginanmu."


Ezra bergegas masuk kedalam kamar mandi, bahkan pria itu bersiul-siul karena terlampau senang. Sementara itu Yuda sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Menu cepat saji, namun mengenyangkan dan juga sehat. Setidaknya itu menurut pemikiran Prayuda Bagaskara.


"Omelet mie sayur telur ala Prayuda Bagaskara siap disantap," ujar Yuda sembari mencium aroma hasil masakkannya.


"Apa yang kamu masak?" tanya Ezra ketika pria itu baru keluar dari kamar Yuda.


"Omelet. Cepatlah sarapan, setelah itu kita bisa pergi,"


"Emm."


Ezra bergegas menyantap omelet buatan Yuda. Dia tidak ingin membuang-buang waktu, karena dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Marinka.


"Selesai," tutur Ezra sembari mendorong piringnya kedepan.


"Buru-Buru amat Zra, aku aja baru makan separuh."


"Kamu sengaja ya makannya dibikin slow begitu? buruan dong,"


"Sabar dong Zra. Marinka juga nggak akan lari kemana,"


"Ckk...lelet banget kayak emak-emak." gerutu Ezra.


Setelah menunggu Yuda hampir 7 menit, Ezra dan sahabatnya itu segara pergi untuk menemui Marinka di apartemen setelah sebelumnya sempat mengambil kunci serep di rumah Ezra.


Ting tong


Ting tong


"Sepertinya dia memang tidak ada didalam Yud,"


"Coba kamu telpon nomor ponselnya!"


Ezra mencoba membuat panggilan di nomor ponsel Marinka, namun nomor itu masih saja tidak aktif.


"Nggak aktif."


"Ya sudah, coba kamu buka dengan kunci serepmu itu."


Ctekkk


Ceklekkkk


Pintu apartement itu terbuka. Suasana yang Ezra tangkap perrtama kali adalah sunyi sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Dek..." seru Ezra.


Ezra berjalan menuju arah kamar Marinka, dan mengetuk pintu kamar itu.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Dek, apa kamu ada didalam?" tanya Ezra dari arah luar pintu.


Ceklek


Karena merasa tidak ada jawaban dari dalam, Ezra menekan handle pintu kamar itu.


"Yud. Dia nggak ada dirumah, kemana Marinka Yud?" wajah Ezra mendadak tidak enak dilihat.


Yuda mengerutkan dahinya dan mencoba berpikir. Tidak sengaja Yuda melihat sebuah amplop putih diatas nakas dan segera meraihnya.


"Apa itu?" tanya Ezra.


"Sepertinya sebuah surat."


Ezra menyambar kertas itu dari tangan Yuda dan membukanya dengan tergesa-gesa.


Dear Abang...


"Saat abang menemukan surat ini, mungkin adek sudah berada ditempat yang sangat jauh. Maaf, adek pergi tanpa berpamitan lebih dulu. Karena adek yakin itu tidak diperlukan.


Adek ucapkan selamat ya bang, atas pernikahan abang dan kak Jihan. Adek Do'akan semoga abang bahagia dan segera dikaruniai momongan.


Oh ya, adek juga mengucapkan terima kasih banyak atas semua bantuan abang selama ini. Wajah baru, materi yang berlimpah, juga kasih sayang abang yang sangat banyak buat adek. Adek juga baru tahu belakangan ini, bahwa pemilik sapu tangan di danau itu adalah abang, maaf ya bang sapu tanganmu kubawa satu setidaknya benda itu bisa jadi pengobat rinduku pada abang.


Tolong abang katakan juga permintamaafanku pada Papa dan Mama. Katakan pada mereka maaf kalau adek punya banyak salah dan sempat membohongi mereka. Katakan juga pada mereka, bahwa adek sangat menyayangi mereka.


Abang jangan sedih ya? kan sudah ada kak Jihan, jika suatu saat Tuhan mengizinkan, kita pasti akan bertemu lagi. Oh ya...akta ceraiku kakak simpan dulu ya? kali saja adek dapat jodoh baru, adek pasti membutuhkan itu hehehe...sudah dulu ya bang...jaga kesehatan ya...adek sayang abang, adek pasti merindukanmu.


tertanda


Tes


Tes


Tes


Air mata Ezra terjun bebas. Tangan pria itu sampai bergetar setelah membaca isi surat itu.


"Ada apa?" tanya Yuda.


Plukkkkk


Surat itu terlepas dari tangan Ezra, pria itu terhuyung lemas hingga membentur tempat tidur. Yuda yang melihat situasi tidak biasa itu, segera memungut surat yang ada dilantai. Secepat kilat Yuda membacanya, setelah selesai pria itu menoleh kearah Ezra dengan penuh rasa iba.


"Dia ninggalin aku Yud...di-dia ninggalin aku...di-dia...hikz...."


Yuda memeluk sahabatnya itu. Ezra benar-benar rapuh saat ini.


"Ba-Bagaimana bisa dia membalasku dengan sangat kejam seperti ini? apa aku begitu menyakiti hatinya, sehingga pergipun dia tidak ingin berkompromi lagi denganku?"


"Yud. Menurutmu dia saat ini ada dimana? apa kamu sudah mengirimkan uang 500 milyar itu? aku tidak ingin dia hidup dalam kekurangan."


"Sudah."


Ezra bergegas mengecek uang keluar masuk yang berasal dari ATM yang dia berikan pada Marinka. Namun tak ada satupun transaksi yang keluar dari akun itu.


"Ckk...bahkan hingga detik ini uang lamapun tidak pernah dia tarik. Wanita ini sehemat apa?"

__ADS_1


"Yud. Bagaimanapun caranya, kita harus menemukan keberadaan Marinka. Aku tidak ingin dia sampai dimiliki orang lain."


"Baiklah. Kita akan mencarinya diseluruh pelosok negeri. Tapi kamu harus bersabar, mungkin ini tidak akan mudah."


"Kamu cek semua penerbangan mulai dari tanggal kami memutuskan berpisah, sampai sekarang. Periksa penerbangan baik dalam maupun luar negeri."


"Baiklah."


Tring


Tring


Tring


Ezra mengerutkan dahinya saat melihat ada panggilan dari rumahnya.


"Ada apa?" tanya Ezra.


"Tu-Tuan. Ada nona Jihan datang kerumah, dia memaksa ingin masuk."


"Apa kamu tidak dengar dengan apa yang aku katakan? aku sudah bilang pada seluruh pelayan dan security bukan? kalau gadis yang bernama Jihan itu tidak boleh masuk kerumah kita."


"Tapi dia dengan lancang sudah masuk rumah tuan. Bahkan saat ini dia sudah berada di kamar tuan, dan mengunci pintunya dari dalam."


"Ckk..." Ezra berdecak kesal dan segera mengakhiri panggilan itu.


"Ada apa?"


"Wanita tidak tahu malu itu memaksa masuk kerumah. Sekarang dia berada didalam kamarku dan menguncinya."


"Wanita itu benar-benar gila. Apa beberapa hari ini kamu masih tidak mengangkat telpon dari dia?"


"Ya."


"Pantas saja. Mungkin dia merasa frustasi kamu abaikan."


"Sejujurnya aku malas buat bertemu dia lagi Rasanya aku ingin mencekik wanita itu sampai mati. Sekarang gara-gara dia Marinka pergi meninggalkan aku."


"Cih...mengkambing hitamkan orang. Padahal diri sendiri juga bodoh, sudah di ingatkan malah bebal."


"Berhentilah mengumpatku,"


"Siapa yang mengumpatmu?"


"Daripada mengumpatku, pikirkan kira-kira Marinka pergi kemana."


"Apa mungkin dia kembali ke panti asuhan?"


"Eh? benar juga. Waktu itu Marinka pernah memberitahuku tentang panti asuhan itu. Ayo kita langsung kesana saja."


"Lalu bagaimana dengan Jihan?"


"Aku tidak ingin menemui wanita itu. Biarkan dia disana sampai berjamur. Bila perlu aku beli rumah baru, agar dia tidak bisa menggangguku."


"Luar biasa yang banyak duit, jangan lupa kalau mau beli, belikan juga aku satu ya?"


"Ckk...Yud..."


"Bercanda...lagian tidak ada salahnya royal dengan teman sendiri, daripada royal dengan yang onoh,"


Ezra tidak menanggapi ucapan Yuda, pria itu segera melenggang dan menarik tangan sahabatnya itu, karena ingin mengajak pria itu pergi ke panti asuhan.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2