Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.240. Ditemukan


__ADS_3

"Stop!" Rakha memberikan perintah pada pilot agar menurunkan hellykopter di bibir pulau yang sedikit dia curigai.


Melihat Hellykopter yang Rakha tumpangi bergerak turun, ketiga Hellykopter lainnya juga ikut bergerak turun.


Rakha menutup hidungnya, saat melihat dua mayat dibibir pulau. Jantung Rakha berdegup kencang, karena takut dua mayat itu adalah Yure dan Gadlyn. Kondisi kedua mayat itu sudah sulit dikenali, karena sudah membengkak dan membusuk. Tapi dengan nalurinya, Rakha yakin kalau mayat laki-laki dan perempuan itu bukanlah Gadlyn dan Yure.


"Bagaimana dengan kedua mayat ini bos?" tanya anak buah Rakha.


"Masukkan kedalam kantung mayat, dan masukkan kedalam hellykopter. Ada kemungkinan kedua orang ini adalah korban dari pesawat itu juga." Jawab Rakha.


"Baik Bos." Jawab anak buah Rakha.


Drap


Drap


Drap


Suara langkah kaki yang berlari sempat tertangkap oleh indera pendengaran Rakha. Rakha kemudian melihat area sekitar, dan melihat sebuah jalan setapak yang seperti pernah dilalui orang.


Drap


Drap


Drap


Suara kaki yang berlari itu semakin lama semakin dekat terdengar, Rakha yang memiliki tingkat kewaspadaan tinggi segera memerintahkan anak buahnya untuk bersembunyi didalam hellykopter. Rakha takut itu adalah suara langkah kaki binatang buas atau sebagainya.


Hosh


Hosh


Hosh


Seorang pria keluar dari arah semak-semak, dengan nafas tersenggal-senggal. Mata Rakha terbelalak, tubuhnya sedikit bergetar. Untuk sesaat kemudian tangisnya pecah. Tatapan mata Rakha dan Yure bersitatap satu sama lain.


"Hahahahaha,"


Tiba-Tiba Yure tertawa dengan sangat keras. Pria itu menjatuhkan lututnya diatas hamparan pasir yang mulai mengering.


Drap


Drap


Drap


Dengan langkah besar Rakha berlari kearah Yure dan berhambur kepelukkan sahabatnya itu. Tangis keduanya pecah bersama, Rakha beberapa kali menepuk-nepuk kepala sahabatnya itu.


"Aku tahu kamu tidak semudah itu mati. Aku akan mengencingi kuburanmu, kalau sampai kamu berani meninggalkan aku. Hikz...." Rakha terisak.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti datang mencariku. Sekuat mungkin aku bertahan, meskipun setiap malam aku merasa hantu kedua mayat itu menggangguku,"


Rakha melerai pelukkannya dan mengusap air matanya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatmu berada di pulau ini?" tanya Rakha.


"Aku yakin kamu bisa menemukanku. Itulah sebabnya aku meletakkan mayat itu, agar menjadi pusat perhatianmu. Aku tahu kamu punya indera yang tajam, dengan tingkat kecerdasan yang mumpuni."


Namun saat sedang asyik mengobrol, Tiba-Tiba Rakha jadi teringat sosok Gadlyn. Rakha kemudian mencengkram kedua bahu Yure dengan erat, karena ingin menanyakan keberadaan Gadlyn.


"Aduh sakit Ka. Nggak mati karena pesawat meledak, malah mati ditanganmu. Sama aja bohong dong aku berjuang hidup?" ucap Yure.


"Katakan dimana Gadlyn?" tanya Rakha.


"Astoge...aku sudah meninggalkannya jauh dibelakang. Aku ingin segera mengejar suara hellykopter, jadi tanpa sadar berlari sekencang mungkin untuk cepat sampai kesini." Jawab Yure.


"Kamu meninggalkannya? bagaimana kalau sampai dia dimakan binatang buas?"


"Maaf Rakha. Aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi saat itu. Sekarang lebih baik kita mencarinya kedalam hutan," ujar Yure.


"Apa kamu hafal jalannya?" tanya Rakha.


"Tidak." Yure menggeleng yang membuat Rakha jadi panik. Tapi dia cukup lega, karena mengetahui Gadlyn masih hidup.


"Semuanya. Ikut semua kedalam hutan. Bawa senjata kalian. Kita harus menemukan nona Gadlyn bagaimanapun caranya," ucap Rakha.


Merekapun mulai bergerak mencari kedalam hutan belantara itu.


"Tentu saja untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Sudah 5 hari kami makan buah hutan, yang kamipun tidak tahu apa itu layak dimakan atau tidak. Kami bahkan sempat makan ikan mentah yang terdampar dibibir pulau." Jawab Yure.


Rakha tidak bisa membayangkan betapa sulitnya bertahan hidup selama 5 hari dipulai itu.


"Bagaimana kondisi Gadlyn? apa dia terluka?" tanya Rakha.


"Banyak terdapat memar dan goresan menurut penglihatanku. Tapi aku tidak tahu apa dia mendapat luka yang lebih serius atau tidak. Soalnya kerjaannya hanya menangis tanpa mengeluh. Saat ini dia sedang demam, saat malam dia selalu mengigau memanggil namamu." Jawab Yure.


"Memanggil namaku? tapi kenapa aku? kenapa tidak mamanya?"


"Pertanyaan konyol. Biasanya orang mengigau karena mengikuti naluri juga. Tentu saja dia begitu karena dia mencintaimu." Jawab Yure.


"Di-Dia mencintaiku? darimana kamu tahu? apa dia mengatakannya padamu?" tanya Rakha.


"Tidak." Jawab Yure.


"Kamu ini. Apa kamu ingin kubuang ketengah laut saja?"


"Buat apa capek-capek mencariku kalau mau kamu bunuh?"


"Paling tidak aku puas karena kamu mati ditanganku." Jawab Rakha yang langsung mendapat cebikkan dari Yure.

__ADS_1


Rakha tiba-tiba menghentikan langkahnya, karena merasa mendengar sesuatu. Tidak hanya Rakha, Yure dan yang lainnya juga mendengarnya.


"Bos apa itu suara kuntilanak yang sedang menangis?" tanya Anak buah Rakha yang sedikit ngeri mendengarnya.


"Badan saja yang digedein. Sama kunti aja takut. Bila perlu kamu kawinin tuh kunti," ujar Yure.


"Emang kamu nggak takut Yur?" tanya Rakha.


"Yaaaaaaaa....takut juga sih." Jawab Yure yang langsung mendapat pukulan pelan dibahunya.


Rakha berjalan perlahan dan melihat ada seseorang yang sedang menangis sembari meringkuk dibawah pohon besar.


"Mau sampai berapa lama lagi kamu ingin menangis disini?" tanya Rakha.


Mendengar suara yang dia kenal, Gadlyn langsung mendongakkan kepalanya dan melihat keberadaan Rakha yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Gadlyn dengan sisa kekuatannya, segera bangkit dari duduknya dan menyeret kakinya yang terluka.


Melihat Gadlyn yang tidak dalam keadaan baik, Rakha bergegas menghampiri Gadlyn. Gadlyn segera berhambur kepelukkan Rakha dengan tangis yang pecah dan tubuh bergetar hebat.


"Sudahlah. Ada aku disini, semuanya pasti akan baik-baik saja."


Rakha masih memasang gaya coldnya, padahal saat ini dalam hatinya bersorak gembira. Rakha semakin mengeratkan pelukkannya pada gadis itu.


"Ehemmm...Gadlyn, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu," ujar Rakha saat pelukkan mereka terlerai.


"Tidak tuan. Aku duluan, aku ada yang ingin kusampaikan," ucap Gadlyn.


"Tidak. Aku yang harus duluan," ujar Rakha.


"Berhentilah mendikteku. Ini bukan kantor, jadi harus aku duluan yang ngomong. Setelah mendengar apa yang akan kukatakan, terserah tuan mau menanggapinya bagaimana," ucap Gadlyn.


"Memangnya ucapan penting apa yang ingin kamu katakan, melebihi pentingnya kata yang harus kamu dengar dari mulutku?"


Glekkkk


Gadlyn menelan ludahnya. Dia sangat takut kalau kata yang akan dia ucapkan adalah kata yang tidak penting bagi Rakha.


"A-Aku...." Gadlyn terbata, sementara Rakha jadi mengerutkan dahinya.


"Kenapa? apa rahangmu terbentur paus? hingga kamu jadi sulit bicara?" tanya Rakha.


"Rakha Hawiranata. Aku mencintaimu," ucap Gadlyn tiba-tiba sembari memejamkan matanya.


Tak ada respon apapun dari Rakha namun sesaat kemudian Gadlyn merasakan bibirnya dipagut lembut oleh Rakha. Gadlyn tiba-tiba membuka matanya, Rakha sejenak melepaskan pagutannya.


"Tutup matamu saat sedang berciuman," ucap Rakha lirih.


Gadlyn yang masih terkejut, langsung menuruti perintah Rakha. Entah karena naluri atau karena takut, Gadlyn kemudian memejamkan matanya kembali saat Rakha mencium bibirnya dengan mesra.


Mata Rakha terbuka sejenak, dan melirik kearah orang-orang yang tengah menonton adegan mereka. Tatapan itu begitu membunuh, sehingga orang-orang itu jadi membalikkan badan seketika.

__ADS_1


To be continue...🤗🙏


__ADS_2