Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.308. Bukan Level


__ADS_3

"Apa-Apaan ini?" tanya Yeni sembari bangkit dari tempat duduknya.


Joana dan Abizard melepaskan pagutan mereka. Dapat mereka lihat, nafas Yeni saat ini tengah naik turun karena emosi yang di sebabkan oleh rasa cemburu.


"Sayang. Siapa dia?" tanya Joana.


"Astaga...tenyata istriku ini lumayan jahil. tapi aku suka," batin Abizard.


"Dia Yeni. Sahabatku." Jawab Abizard.


"Oh ya?" Joana turun dari pangkuan Abizard dan duduk dengan normal disamping Abizard. Disibaknya rambut, dan dibusungkannya dada. Dapat Yeni lihat, ada banyak tanda merah yang Abizard buat untuk istrinya itu.


"Kamu mau sok tidak mengenalku ya?" tanya Yeni sembari duduk kembali.


"Bukan. Aku ini punya kebiasaan yang langka. Aku agak sulit mengenal orang. Apalagi orang yang bukan level sama aku." Jawaban Joana hampir membuat Abizard tertawa keras, namun sebisa mungkin dia menahannya agar Yeni tidak tersinggung.


"Sombong sekali kamu. Apa kamu pikir sudah berhasil menikahi Abi, kamu tidak akan tersingkir suatu saat nanti? aku paling mengenal Abizard, dia pasti mencampakkanmu suatu saat nanti," ujar Yeni.


"Begitu ya? tapi ketimbang mengkhawatirkan istriku, lebih baik kamu khawatirkan diri sendiri dulu. Kalau aku menikahimu, kamu tidak hanya akan aku campakkan, bahkan aku bisa melemparkan kamu kejalanan," ucap Abizard.


"Abi. Kenapa kamu bersikap begini sama aku? sebelum kamu mengenal dia, kamu tidak begini sama aku. Apa aku ini tidak ada artinya bagi kamu?" tanya Yeni.


"Maaf ya Yen. Tadinya aku nggak mau bersikap begini sama kamu. Tapi kamulah yang memaksaku melakukannya. Aku harus harus berusaha mati-matian agar rumah tanggaku selamat dari pengacau sepertimu."


"Maaf Yen. Aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabat, tidak bisa lebih. Istriku hanya bisa Joana, bukan siapapun, apalagi kamu. Aku harap kamu bisa mengerti dan bisa menerima apa yang aku katakan padamu," sambung Abizard.


Yeni tertunduk sedih, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa kamu tidak kembali saja dengan kekasihmu yang sudah merenggut kehormatanmu?" tanya Abizard.


"Hidup tidak hanya butuh cinta, tapi juga uang dan kedudukkan. Dan dia tidak memiliki itu semua." Jawab Yeni.


"Seharusnya dari awal kamu tidak menyerahkan kehormatanmu dengan sembarang orang. Terlebih sejak awal kamu sudah tahu, kalau dia tidak memiliki apa yang kamu mau."


"Lagipula kebahagiaan tidak harus kamu nikmati dengan semua itu. Banyak juga orang bergelimang harta, tapi dia tidak bahagia. Jangan sampai saat kamu menyadarinya, kamu sudah terlambat dan dia sudah bersama orang lain."


"Dia memang sudah bersama orang lain sekarang." Jawab Yenu sedih.


"Kalau begitu kamu perbaiki dirimu. Aku juga sedang berusaha memperbaiki diriku. Kalau kita sudah sama-sama baik, maka kita akan mendapat hal yang terbaik. Seperti aku, aku sudah mendapat hal baik itu sekarang, ucap Abizard sembari merangkul pundak Joana.


Yeni melirik kearah Joana, sementara Joana menatapnya denga tatapan datar. Joana kemudian menghela nafasnya.


"Maaf ya Yen. Aku tidak bisa berbagi suami dengan siapapun. Karena apa yang menjadi milikku, tidak boleh direbut siapapun termasuk kamu sahabatnya."


"Kalau menurutku sahabat tetap saja cocok jadi sahabat, kalau kamu jadi istrinya belum tentu hubunganmu akan baik seperti saat kalian bersahabat," Sambung Joana.


Tanpa banyak kata, Yeni akhirnya pergi dari rumah itu.


"Aku baru tahu. Kalau ternyata istriku sejahil ini. Hem?" ujar Abizard sambil mengusap kepala Joana.

__ADS_1


"Hanya dua cara yang aku pikirkan, saat akan menyingkirkan saingan cintaku. Dan ini salah satu caranya," ujar Joana.


"Lalu bagaimana dengan cara yang satunya?" Abizard.


"Karena aku sangat menghargai dia sebagai sahabatmu, makanya cara yang satunya tidak kupakai. Seharusnya otaknya sudah tidak lagi bersarang di kepalanya, karena akan ku ledakkan." Jawab Joana.


"Sadisnya," ujar Abizard.


"Ngantuk. Pengen tidur," ucap Joana.


"Ayo kita istirahat," ujar Abizard.


"Kamu nggak balik ngantor?" tanya Joana.


"Nggak. Lagian aku juga bosnya." Jawab Abizard.


Merekapun memutuskan istirahat bersama siang itu.


*****


Dua bulan kumudian....


Ilyas tampak merenung diatas kursi roda. Sesekali dia memukul-mukul kakinya karena kesal. Sejak terapi di Jerman, kakinya memang mengalami sedikit kemajuan. Tapi bisa di bilang bukan kemajuan yang berarti. Jika sebelum terapi dirinya sama sekali tidak bisa menggerakkan jari-jari kakinya, sekarang jari-jari itu sudah bisa di gerakkan.


Bruukkkkk


"Akkkkkhhh..."


"Meiza...." ucap Ilyas lirih.


"Sayang. Kamu kenapa? buka pintunya!" ujar Ilyas dari luar kamar mandi.


"Sayang.To-Tolong aku, aku jatuh dari kamar mandi. Hiks...darahnya banyak sekali, aku takut." Jawab Meiza.


"Apa kamu nggak bisa buka pintunya?" tanya Ilyas.


Tak ada lagi jawaban dari dalam, yang membuat Ilyas bertambah panik.


"Sayang. Apa kamu baik-baik saja? sayang!"


Dor


Dor


Dor


Ilyar menggedor pintunya dengan lumayan keras.


"Tolong...tolong...." teriak Ilyas.

__ADS_1


Sementara itu pelayan sama sekali tidak mendengar teriakkan Ilyas, karena mereka tengah beberes sembari mendengarkan musik. Entah mendapat kekuatan darimana Ilyas yang lumpuh mendadak berdiri seketika. Pria itu kemudian mendobrak kamar mandi, dan mendapati Meiza pingsan di kamar mandi, dengan darah menggenang di dilantai.


Ilyas bergegas menggendong Meiza dengan panik. Dan berteriak memanggil supir untuk diantar ke rumah sakit.


"Ya Tuhan... tolong selamatkan istri dan anak-anakku," ujar Ilyas dengan bibir bergetar.


Rencananya akan operasi sesar 3 hari lagi, terpaksa batal. Rencananya Meiza akan operasi Cesar berbarengan dengan anak-anak Moza. Jadi anak-anak mereka mempunyai ulang tahun ditanggal yang sama. Namun Tuhan berkehendak lain, Meiza saat ini tengah berjuang hidup dan mati.


"Supri. Apa kamu bawa ponsel?" tanya Ilyas pada supir pribadinya.


"Bawa Tuan." Jawab Supri.


"Tolong pinjam ponselmu. Aku akan menghubungi tuan besar," ujar Ilyas.


Supri bergegas mengambil ponselnya dari saku celana, dan menyerahkannya pada Ilyas.


"Supri? ini kan supir lama yang pindah kerja di tempat Meiza. Ada apa dia menghubungiku?" ucap Ezra.


Ezra menggeser tanda panah hijau, untuk menerima panggilan telpon itu.


"Ada apa Pri?" tanya Ezra.


"Pa. Ini Ilyas pa," ujar Ilyas dengan suara panik


"Ilyas? ada apa? kenapa kamu terdengar panik bergitu?" tanya Ezra.


"Meiza jatuh di kamar mandi pa. Kata dokter plasentanya hancur, dan harus segera ambil tindakkan operasi. Ilyas ada di EH hospital." Jawab Ilyas.


"Ap-Apa? papa akan segera kesana," ujar Ezra yang segera mengakhiri panggilan itu.


"Ada apa sayang?" tanya Marinka.


"Meiza masuk rumah sakit. Sekarang dia harus di operasi, saat jatuh di kamar mandi plasentanya hancur." Jawab Ezra.


"Ya Allah...ayo kita pergi kerumah sakit,"


Ezra dan Marinka bergegas pergi kerumah sakit .Tidak lupa Ezra juga mengabari semua keluarganya tentang keadaan Meiza saat ini.


Krieekkkk


Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah panik. Dia tahu, kariernya saat ini sedang dipertaruhkan, kalau sampai dia salah dalam memberikan informasi mengenai anak dari pemilik rumah sakit itu.


"Bagaimana keadaan istriku dan anak-anakku?" tanya Ilyas.


"Maaf dokter Ilyas. Kami butuh pernyataan anda sekarang.Saat ini keadaan nona Meiza sedang kritis akibat perdarahan. Jika dihadapkan dengan dua pilihan, yang mana akan ada selamatkan? anak-anak, atau istri anda?" tanya dokter.


Ilyas tertegun saat mendengar ucapan dokter dihadapannya itu. Dia sangat menginginkan anak-anak itu hidup, tapi dia lebih ingin istrinya yang hidup saat ini. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengambil keputusan yang sangat berat itu.


"Selamatkan istriku," ujar Ilyas.

__ADS_1


"Dan juga cucu-cucuku," timpal Ezra dari arah belakang punggung Ilyas.


Dokter dihadapan Ilyas menelan ludahnya. Wajah Ezra saat ini sudah seperti singa dalam pandangan matanya.


__ADS_2