Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.87. Rawat Inap


__ADS_3

"Jadi dia belum boleh pulang hari ini dok?" tanya Yuda.


"Belum tuan. Mengingat kondisi nona Regia yang masih membutuhkan perawatan, saya sarankan nona harus di opname dulu malam ini . Kita akan melihat perkembangannya terlebih dahulu, kalau sudah membaik kemungkinan besok dia bisa dibawa pulang."


"Baiklah. Saya permisi dulu,"


"Emm."


Yuda kembali masuk keruangan dimana tempat Regia terbaring.


"Bagaimana? apa aku bisa dirawat jalan saja tuan? aku tidak betah disini," tanya Regia.


"Siapa juga yang betah tinggal dirumah sakit. Tapi dokter bilang kamu harus dirawat dulu satu malam disini."


"Tapi tuan, aku bisa merawat diriku sendiri dirumah. Aku tidak mau menginap dirumah sakit."


"Terus saja cerewet. Kalau kamu tidak mau nurut, aku akan nelpon Ezra agar dia memecatmu. Mau?"


"Ja-Jangan tuan. Ini kan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan?"


"Jelas saja ada. Kalau kamu sakitnya sampai lama, itu artinya kamu akan izin bekerja lebih lama juga, dan itu sangat merugikan perusahaan."


Regia terdiam. Gadis itu kemudian melirik kearah ponselnya yang berada diatas meja dan lirikkan itu tertangkap oleh Yuda.


"Mau ponselmu?"


"Emm. Aku harus mengabari keluargaku,"


Yuda meraih ponsel itu dan memberikannya pada Regia. Regia pun membuat panggilan untuk sang adik.


"Mbak Gia? mbak ada dimana? kok jam segini mbak belum pulang?" tanya Bulan.


"Bulan. Kamu jagain Ibu dulu ya? mbak nggak bisa pulang hari ini, karena mbak ada lembur di kantor."


"Mbak nggak pulang? sampai kapan? jangan lama ya mbak,"


"Tidak lama. Besok sore sudah pulang,"


"Mbak ngomong langsung deh sama ibu, biar ibu nggak cemas."


"Ya baiklah, berikan ponselnya sama ibu,"


Drap


Drap


Drap


Langkah kaki Bulan terdengar tergesa-gesa, Regia tahu Bulan saat ini sedang menuju kamar Ibunya yang tengah berbaring di dalam kamar.


"Bu. Mbak Gia nelpon," ujar Bulan sembari meletakkan ponsel itu ditelinga ibunya.


"Ya Gi?"


"Bu. Malam ini Gia nggak pulang. Gia ada lembur dikantor,"


"Sampai kapan?"


"Besok sore sudah pulang."


"Ya baiklah. Kamu hati-hati ya?"


"Apa ibu sudah minum obat?"


"Sudah. Obatnya cukup untuk hari ini,"


"Tidak apa. Besok Gia akan beli obat lagi buat ibu."

__ADS_1


"Terima kasih nak. Maaf, gara-gara ibu uangmu habis."


"Ibu ngomong apa, Ibu dan Bulan adalah sisa keluarga yang aku miliki. Ibu harus sembuh,"


"Iya. Ibu masih ingin menyaksikan kamu menikah, dan ibu juga ingin menggendong cucu."


Regia melirik ke arah Yuda yang tampak sibuk dengan ponselnya.


"Ya sudah. Gia tutup dulu telponnya ya bu?"


"Ya."


Regia mengakhiri panggilan itu, dan Yuda memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Kenapa kamu berbohong sama ibu kamu? itu ibu kamu loh yang kamu bohongi?"


"Aku tahu tuan pasti menuduhku biasa melakukan kebohongan, tapi aku memiliki tujuan lain. Ibuku bukan sakit biasa, dia terkena gagal ginjal dan harus segera dilakukan cangkok ginjal." Regia menjeda sejenak kalimatnya.


"Dua minggu yang lalu dokter sudah mengabari, bahwa ada donor ginjal buat ibu. Tapi biaya operasi sangatlah besar, tapi tiba-tiba tuan datang dan memberikan aku sejumlah uang, aku akan menggunakan uang itu untuk operasi ibu nanti." sambung Regia.


"Aku hanya tidak ingin ibu dan adikku khawatir dengan keadaanku. Kadang berbohong tidak selamanya buruk, asalkan demi kebaikkan."


"Sudah? kalau sudah aku mau pulang,"


"Pulang?"


"Ya pulanglah, kamu nggak nyuruh atasan kamu buat nemanin kamu nginap dirumah sakit kan?"


Regia terdiam. Meskipun dia ingin ditemani, tapi mana mungkin dia berani mengungkapkan isi hatinya itu.


"Kata orang dirumah sakit banyak sekali hantu gentayangan, bagaimana kalau hantu itu melihatku sendiri kemudian menggangguku? aku harus bagaimana?" batin Regia.


Yuda menatap wajah Regia yang muram. Dia jadi teringat kejadian satu tahun yang lalu, ketika di kantor terjadi konslet listrik tiba-tiba. Seluruh ruangan menjadi gelap, termasuk toilet. Saat itu Regia tengah berada disana, karena ketakutan, Regia ditemukan pingsan setelah listrik menyala 1 jam kemudian.


"Aku pulang," ujar Yuda sembari berdiri dari sebuah kursi plastik.


"Ya Gi?"


"Kamu ada dimana?"


"Aku baru aja datang ditempat kerja. Kamu sudah pulang ya?"


"Aku ada dirumah sakit, alergiku kambuh. Rencananya aku minta temani kamu buat nginap dirumah sakit malam ini,"


"Kenapa tidak bilang dari tadi siang? aku sudah terlanjur dapat shif malam dan tidak ada yang mau menggantikan aku kalau mendadak begini."


"Aku takut. Aku sendirian disini,"


"Bulan?"


"Kalau Bulan kesini, bagaimana dengan ibu?"


"Benar juga. Maaf ya Gi, aku benar-benar tidak bisa, bukannya aku nggak mau."


"Nggak apalah. Aku pasti bisa melewatinya buat malam ini,"


"Semangat ya Gi? aku tutup dulu telponnya, pelanggan sudah mulai ramai."


"Oke."


Regia mengakhiri percakapan itu dan menghela nafas panjang.


*****


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Ceklekkk


Yuda menekan handle pintu dan memasuki ruang tempat dimana Regia dirawat. Yuda melirik arloji ditangannya, dan waktu baru menunjukkan pukul 9 malam ketika pria itu melihat Regia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Apa dia sepenakut itu? hemm...bagaimana kalau aku kerjain saja dia? hehehe..."


Ctekkkkkkk


Yuda mematikan lampu ruangan itu, yang membuat Regia langsung membuka seketika selimutnya.


"Hihihihi..."


Yuda membuat suara seolah-olah ada mahluk lain didalam ruangan itu.


"Aaakkkkkkkhhhh"


Mendengar teriakkan keras Regia, Yuda jadi panik sendiri. Pasalnya dia tidak ingin membuat seluruh orang-orang yang berada dirumah sakit, jadi terganggu oleh ulahnya itu.


Ctekkkkkk


Yuda menyalakan kembali lampunya dan segera berlari kearah Regia.


"Bisa diam tidak?" Yuda membekap mulut Regia.


Mata Regia yang tanpa mengenakan kaca mata itu menatap lekat kearah mata Yuda. Pandangan mata mereka jadi bertemu. Perlahan Yuda melepaskan bekapan tangannya.


"Ternyata tanpa kaca mata si culun ini cantik juga,"


"Tu-Tuan..."


Brukkkk


Regia berhambur dalam pelukkan Yuda. Yuda bisa merasakan kalau tubuh gadis itu sedikit bergetar.


"Tuan, tadi ada hantu."


"Hantu apa? mana ada yang seperti itu."


"Tapi tadi benaran ada hantu, aku dengar sendiri."


"Kalau aku bilang tidak ada ya tidak ada. Ini cuma alasan kamu aja kan? agar bisa peluk-peluk aku sembarangan."


"Eh?" Regia yang tersadar, segera melepaskan dekapannya pada Yuda.


"Tidurlah!"


"Tuan mau menemaniku malam ini?"


"Jangan bawel. Kalau masih tidak mau diam, aku akan pulang."


"Iya aku diam."


Regia kembali berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Wajah Regia yang sedikit bersembunyi menyunggingkan senyumnya. Tanpa dia sadari, perasaannya pada Yuda semakin dalam.


"Meskipun dia galak, tapi dia baik dan perhatian. Aku bisa tidur nyenyak malam ini."


"Tuan,"


"Hem?"


"Terima kasih sudah menemaniku,"


Yuda tidak menjawab ucapan Regia, Pria itu berpura-pura sibuk dengan ponselnya meskipun dia mendengar semua apa yang Regia ucapkan padanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2