
"Maaf," tutur Ezra lirih disela pelukkan terakhir mereka.
"Kenapa abang meminta maaf padaku?"
"Aku merasa banyak salah padamu dek."
"Abang tidak ada salah. Adek berterima kasih karena abang sudah banyak membantuku selama ini. Abang sudah memberikan kehidupan baru untukku, dan abang memberikan adek kesempatan memiliki seorang kakak yang sangat menyayangiku."
"Juga abang memberikan kesempatan untukku, untuk jatuh cinta lagi," batin Marinka.
"Jaga diri adek baik-baik ya? abang pasti akan sering mengunjungi apartementmu."
"Ya. Oh ya, mungkin adek tidak akan datang saat mediasi atau saat sidang perceraian."
"Kenapa?"
"Bukankah tidak diperlukan? dengan begitu perceraiannya cepat terjadi. Nanti kalau akte cerainya sudah keluar, adek titip sama abang dulu ya? saat perlu nanti, baru akan adek ambil."
Entah mengapa ada rasa sakit yang Ezra rasakan, saat mendengar kata-kata itu dari mulut Marinka.
Marinka perlahan melerai pelukkan mereka. Sekuat hati Marinka menahan air matanya agar tidak jatuh didepan Ezra.
"Abang jaga kesehatan ya? kaos kaki abang ada diloker lemari sebelah kiri, cukuran jenggot abang adek letakkan di loker meja rias. Jangan lupa bersihkan sesudah memakainya, biar tidak karatan nanti abang bisa terkena infeksi. Semua handuk abang ada di loker lemari sebelah kanan, dasi abang sudah adek gantung jadi satu disatu hanger, dan...."
"Hussssttttt"
Ezra meletakkan jari telunjuknya di bibir tipis Marinka. Wanita itu menelan air ludahnya agar air matanya yang tertahan tidak jatuh. Namun diluar dugaanya, air mata Ezra yang sudah membasahi wajah pria itu.
Grepppp
Ezra kembali membawa Marinka dalam pelukkannya. Sementara Marinka semakin menguatkan hatinya, dia tidak ingin air matanya tumpah dihadapan pria itu.
"Abang jangan sedih, kan kita akan ketemu lagi. Lagipula adek nggak pergi jauh kok," dusta Marinka sementara Ezra menganggukkan kepalanya sembari terisak.
"Adek pergi dulu ya bang. Nyampai apartemen adek harus nyusun pakaian lagi,"
Ezra perlahan melepas pelukkannya, Marinka meraih wajah Ezra dan menghapus air mata pria itu.
Cup
Ezra mengecup kening Marinka, wanita itu memejamkan matanya dan langsung membalikkan badannya. Air mata Marinka sudah tidak bisa dia tahan lagi. Marinka bergegas keluar pintu dan menutupnya dengan tubuh bergetar hebat.
"Hikz....selamat tinggal bang...hikz..."
Marinka menarik kopernya dan menuruni anak tangga, sementara didalam ruangan itu tubuh Ezra terhuyung kebelakang hingga tubuhnya membentur meja kerjanya. Tubuh pria itu mendadak lemas, setelah melepas kepergian Marinka. Ezra seperti merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.
__ADS_1
"Nyo-Nyonya mau kemana?" tanya pelayan saat melihat Marinka pergi dengan sebuah koper besar.
Marinka bergegas menghapus air matanya, dan tersenyum kearah para pelayan.
"Aku minta maaf ya, kalau selama tinggal dirumah ini pernah membuat salah, atau membuat perasaan kalian tidak senang."
"Nyonya. Sebenarnya apa yang terjadi? nyonya mau kemana?"
"Aku harus pergi. Nyonya sebenarnya sudah datang, aku dan tuan kalian akan bercerai."
"Ap-Apa?" para pelayan terkejut.
"Nyonya jangan pergi. Kami semua menyayangi nyonya." salah seorang pelayan sudah terisak.
"Iya nyonya. Kami tahu siapa yang nyonya maksud. Nona Jihan bukan orang baik seperti nyonya. Nyonya jangan meninggalkan tuan,"
"Tuan kalian akan bahagia bersama dia. Karena tuan sangat mencintainya. Kalian perlakukan nona Jihan, sama seperti kalian memperlakukanku. Aku pergi dulu ya?"
"Nyonya..." para pelayan menangis bersamaan. Sementara Marinka pergi tanpa menoleh lagi.
Disepanjang jalan menuju apartement, Marinka tidak hentinya menangis. Kenangan yang dia ukir bersama Ezra terlampau banyak, hingga membuatnya merasakan sakit yang luar biasa dengan perpisahan ini.
Shhaaaaaaaaa
Hujan tiba-tiba turun deras, sederas air mata Marinka yang mengalir.
"Tidak masalah. Saya turun didepan apartement saja."
"Baiklah."
Setelah sampai, supir taksi bergegas menurunkan koper. Hujan yang deras, membuat supir itu bergeas masuk kembali kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Sementara itu Marinka menarik kopernya perlahan, dia tidak perduli meski hujan sudah membasahi seluruh tubuhnya. Derasnya hujan, tidak mengalahkan air matanya yang turun bebas.
Langkah Marinka terhenti, saat dirinya menatap kedepan dan mendapati seorang pria bertubuh tegap, berdiri dihadapannya dengan sebuah payung ditangannya. Pria itu tiba-tiba melepaskan payungnya dan kemudian membentangkan tangannya. Tubuh Marinka semakin bergetar hebat karena tangisan. Dengan langkah cepat, Marinka segera masuk kedalam pelukkan pria itu.
"Hikz...." Marinka terisak.
"Menangislah sepuasmu, bebaskan semua beban dihatimu,"
Marinka menganggukkan kepalanya dengan cepat sembari terisak. Bukan hanya terisak, tangisan itu seperti berubah jadi sebuah jeritan yang memilukan.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Yuda.
Marinka tak sanggup lagi berkata-kata, hanya kepalanya saja yang berbicara.
"Hah..."
__ADS_1
Kepala Yuda menengadah kelangit, air hujan yang membasahi mereka berdua seolah ingin menghapus kesedihan.
"Jangan bilang, ku mohon jangan bilang padanya kalau aku mencintainya kak,"
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan bilang. Berjanjilah padaku, hikz...."
"Hussssttt...ya kakak janji tidak akan bilang." Yuda mengeratkan pelukkannya.
Marinka melerai pelukkannya setelah perasaannya sedikit lega.
"Sekarang lebih baik kamu bersihkan dirimu, kakak takut kamu sakit."
"Emm." Marinka mengangguk.
Yuda mengantar Marinka hingga masuk kedalam unit apartemen wanita itu. Setelah sama-sama membersihkan diri, Marinka dan Yuda duduk diruang tamu untuk mengobrol.
"Kakak sangat menyayangkan keputusan Ezra untuk menceraikanmu,"
"Ini bukan salahnya kak. Dari awal perjanjiannya memang begitu,"
"Tapi terus terang saja, aku lebih suka kamu yang menjadi istrinya daripada wanita jahat itu."
"Jangan begitu. Sejahat apapun Jihan, bang Ezra sangat mencintainya. Kita harus mendukung apapun keputusannya."
"Ezra tolol sekali tidak bisa membedakan berlian dengan tembaga."
"Kakak memujiku berlian? makasih banyak loh, Inka jadi tersanjung." Marinka terkekeh.
Yuda menatap senyum diwajah Marinka. Senyum yang penuh luka.
"Apa rencanamu selanjutnya setelah bercerai?"
"Apalagi, Inka ingin meneruskan kuliah, lulus, dan jadi seorang disigner ternama."
"Kakak percaya kamu mampu melakukannya. Jangan patah semangat, jangan gara-gara seorang pria, tujuan hidupmu jadi buyar. Buktikan padanya, kalau kamu sukses tanpa dia. Aku berharap kamu mendapatkan pria yang benar-benar tulus mencintaimu Marinka."
"Makasih atas semangatnya kak. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kebaikkan kalian. Kalian sudah membantuku sejauh ini, aku sangat berterima kasih untuk itu. Itulah sebabnya aku menyembunyikan perasaanku padanya, karena aku sadar diri, aku tidak sepadan dengannya. Dari segi apapun dia adalah orang yang hebat dan bukan orang yang pantas untuk aku gapai. Namun karena aku terlena dengan kebaikkannya, aku jadi kurang ajar dan berani mencintainya."
"Kamu tidak salah mencintainya Marinka. Ezra memang layak dan mudah untuk dicintai. Dia pria baik dan lemah lembut, wanita manapun aka jatuh hati padanya. Tapi yang kakak sesalkan adalah, kenapa Ezra tidak bisa memilih wanita yang tepat, dia selalu terpaku pada jasa Jihan yang pernah menyelamatkan hidupnya."
"Menyelamatkan hidupnya?"
"Ya. Kurang lebih 4 tahun yang lalu, Ezra pernah dirampok dijalan xx, Ezra sempat terkena pukulan benda tumpul dikepalanya, beruntung saat itu ada Jihan yang lewat dan membawanya kerumah sakit JJ. Sejak keajadian itu mereka dekat dan berpacaran."
__ADS_1
Mendengar itu Marinka menyunggingkan senyumnya, bahkan Marinka cenderung terkekeh yang membuat Yuda jadi heran.
TO BE CONTINUE...🤗🙏