
"Kalau masih sakit, biar baby sitter saja yang urus anak-anak. Wajahmu juga sudah terlihat pucat karena lelah," ujar Rakha.
"Nggak apa sayang. Ini sudah resiko jadi seorang ibu," ucap Gadlyn sembari terus memberikan asi pada putra putrinya.
"Tapi ini sudah jam 2 malam. Kamu juga perlu istirahat," ujar Rakha.
Sudah satu minggu sejak kelahiran anak-anak mereka, Rakha terlihat sangat rewel. Gadlyn tidak tahu kenapa Rakha bersikap begitu. Terkadang saat Gadlyn bangun tidur karena ingin menyusui bayi-bayi mereka, Rakha ikut bangun dan menempel pada Gadlyn tang tengah memberikan asi.
Pernah juga Rakha sampai tertidur dipangkuan Gadlyn, karena tidak mau wanita itu tinggal menyusui bayinya. 3 kali Gadlyn terbangun di tengah malam, 3 kali pula Rakha ikut ke kamar bayi.
"Sayang. Kalau punya anak ya memang begini," ujar Gadlyn sembari tersenyum.
"Tapi kamu perhatiannya jadi kurang ke aku. Anak-Anak selalu bisa menikmati ***** kamu, sementara aku nggak." Rakha cemberut.
Mendengar ucapan Rakha, tentu saja mata Gadlyn jadi terbelalak.
"Sayang. Kamu cemburu dengan anak kamu sendiri?" tanya Gadlyn.
"Ya habisnya kamu lupain aku." Jawab Rakha dengan bibir mengerucut.
"Astaga...bayi besarku pengen di manja juga. Hem?" Gadlyn mengusap-usap kepala Rakha.
"Emang harus 40 hari beneran ya masa nifasnya?" tanya Rakha.
"Katanya sih iya. Ada apa sih?" tanya Gadlyn.
"Pengen akunya. Tiap kamu ngeluarin itu, dia selalu bangun," ujar Rakha sembari menunjuk kearah dada Gadlyn dan juga kejantanannya sendiri.
"Ya ampun sayang. Kamu harus lihat situasi juga dong. Ini kan demi anak kita sendiri," ujar Gadlyn yang kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tapi lama sekali nunggu 40 hari. Jadi gimana nasibnya ini," lagi-lagi Rakha menunjuk kejantanannya.
"Biarkan aku selesaikan menyusui bayi kita. Kamu kembali dulu ke kamar. Nanti akan aku tunjukkan gimana caranya menjinakkan harimaumu itu," ujar Gadlyn.
Dengan berat hati Rakha menuruti ucapan Gadlyn. Rakha kembali ke kamar, sembari menunggu Gadlyn kembali. Selang 30 menit kemudian Gadlyn kembali masuk kamar, namun sudah mendapati Rakha tengah mendengkur halus.
"Aih...bayi besarku sedang cemburu rupanya. Seharusnya kalau anak-anak ada kakak tertua, mungkin ini yang dinamakan sibling," ujar Gadlyn lirih.
Gadlyn kemudian berbaring disamping Rakha, dan kemudian memeluk pria itu dari belakang.
*****
__ADS_1
Gadlyn perlahan membuka matanya, dan melihat suasana tampak sepi. Tidak seperti biasanya yang ribut, kali ini kamarnya tampak hening karena Rakha tidak membuat keributan.
"Eh? kemana dia?" gumam Gadlyn saat memeriksa kamar mandi, Rakha juga tidak ada disana.
Gadlyn bergegas turun untuk mencari keberadaan suaminya itu, namun ternyata Rakha sudah berangkat ke kantor.
"Apa dia marah padaku? tidak biasanya dia pergi tanpa pamit," ujar Gadlyn.
Gadlyn memeriksa tudung makanan. Sarapan yang dibuat oleh pembantupun tidak Rakha sentuh. Yang artinya pria itu tidak sarapan dirumah. Perasaan Gadlyn jadi tidak tenang, Gadlyn bergegas naik keatas untuk menghunungi Rakha. Namun beberapa kali dia hubungi, Rakha sama sekali tidak menjawab. Padahal biasanya jangankan berkali-kali, suara ponsel baru berdering dua atau tiga detik, Rakha langsung mengangkatnya.
"Hah...sepertinya dia benar-benar marah. Harimau ini kalau sudah marah sulit sekali dijinakkan. Cara satu-satunya yang bisa menjinakkan dia cuma diatas ranjang. Tapi aku kan lagi masa nifas," ucap Gadlyn lirih.
Gadlyn kemudian menyuruh pelayan memasak buat bekal makan siang Rakha. Karena Gadlyn ingin pergi ke kantor untuk membujuk harimaunya itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.45. Saat Gadlyn tiba dikantor. Demi suaminya dia menahan sakit diperutnya, akibat luka operasi yang baru 1 minggu yang lalu dia jalani. Dia merasa tidak tenang, dengan sikap Rakha yang seperti itu.
"Nyonya," semua karyawan menyapa Gadlyn. dengan ramah.
"Kak Gadlyn," Yure terkejut, saat melihat kedatangan Gadlyn. Dia ingat betul kalau Gadlyn baru satu minggu pasca menjalani operasi.
"Rakhanya ada?" tanya Gadlyn.
"Ada kak. Kakak kenapa kesini? kakak harus banyak istirahat dirumah, kan baru selesai operasi," tanya Yure.
Dapat Yure lihat wajah Gadlyn yang sedikit pucat. Dibawah matanya juga terdapat lingkaran hitam. Yure tahu Gadlyn pasti lelah, karena Ezka juga mengalami hal itu.
Tanpa bertanya lagi, Yure segera membuat panggilan untuk Rakha.
"Ada apa?" tanya Rakha.
"Ada kak Gadlyn datang kemari. Dia membawakan bekal untukmu." Jawab Yure.
Rakha terdiam. Pria itu kemudian berkata yang membuat Yure jadi heran.
"Ambil bekal makanannya. Suruh supir mengantar dia pulang," ujar Rakha.
Yure melirik kearah Gadlyn yang mungkin bisa mendengar ucapan Rakha. Yure segera menutup telponnya tanpa mengatakan apapun pada Rakha.
"Aku titip ini saja," ujar Gadlyn sembari menyodorkan bekal makanan buat Rakha.
"Kak...."
__ADS_1
"Biar aku naik taksi saja," ujar Gadlyn.
"Biar aku yang antar ya kak?" tanya Yure.
"Tidak usah. Aku ada keperluan lain," ujar Gadlyn yang langsung melenggang pergi begitu saja.
Yure yang geram dengan ulah Rakha, pria itu langsung menghampiri kakak iparnya itu dengan emosi jiwa.
Brakkkkk
"Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kamu bersikap seperti itu dengan Gadlyn? kamu tahu nggak sih betapa bahayanya dia keluar, padahal baru satu minggu perutnya di bedah."
"Luka operasinya pasti masih basah. Wajahnya tadi juga pucat. Apa kamu tidak tahu, banyak wanita yang mati karena perdarahan sehabis melahirkan? masa nifas itu masih sangat rentan. Kamu begitu menganggap remeh, bagaimana kalau dia mati dijalan?"
Deg
Jantung Rakha terasa berhenti berdetak saat mendengar ucapan Yure. Rakha kemudian menjelaskan kenapa dia bersikap seperti itu pada Gadlyn. Yure hanya bisa memijat keningnya atas kebodohan Rakha.
"Astoge Rakha Hawiranata. Sumpah ya? kalau aku jadi Gadlyn, sudah kuberi sianida kalau punya laki model kayak kamu. Kamu merajuk hanya karena cemburu pada anakmu? apa otakmu kemasukkan air comberan?"
"Coba kamu pikir. Ada berapa ibu di dunia ini yang menelantarkan anaknya. Ada berapa ibu yang tidak mau menyusui anaknya dengan alasan takut toketnya rusak. Sumpah, kamu mah parah banget. Kamu sudah nyakitin hati dia loh. Aku lihat wajahnya pucat, ada lingkaran hitam dibawah matanya. Itu tandanya dia sangat lelah dan kurang istirahat karena ngurusin keturunanmu itu. Kamu malah mikir hal mesum. Memalukan!"
"Apa supir mengantarnya pulang?" tanya Rakha
"Dia pulang sendiri. Bahkan saat aku menawarkan diri, dia menolakku mentah-mentah. Jujur ya, aku khawatir sama istrimu. Kamu sangat ceroboh Rakha. Aku harap kamu tidak menyesal, kalau sampai terjadi apa-apa sama dia," ujar Yure.
Rakha kemudian bangkit dari tempat duduknya dan segera berlari keluar. Kini dia baru sadar atas kekeliruannya. Jantungnya saat ini berpacu dengan cepat. Rakha bergegas pulang, karena ingin segera menemui istrinya itu.
Brakkkkk
Dengan nafas ngos-ngosan Rakha membuka kamarnya. Namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Gadlyn. Rakha kemudian memeriksa kamar bayi, namun juga tidak menemukannya.
"Nyonya belum pulang sejak mengantar bekal untuk tuan," ujar sang pelayan, saat Rakha bertanya pada mereka.
Rakha segera menghubungi Gadlyn, namun ternyata ponsel wanita itu ketinggalan dikamar. Rakha bertambah panik jadinya. Namun saat dalam kepanikkan itu, seseorang membuka pintu kamarnya.
Kriekkkkk
Gadlyn membuka pintu kamar, dan langsung bersitatap dengan Rakha. Rakha berjalan dengan langkah besar dan kemudian memeluk Gadlyn dengan erat.
"Maaf. Maafkan aku sayang," Rakha dengan menyesal mengucapkan kata-kata itu.
__ADS_1
Rakha bahkan meneteskan air matanya. Gadlyn tersenyum, dia cukup lega karena harimaunya itu sudah jinak kembali. Gadlyn kemudian menyeka air mata suaminya itu dan mencium kening pria itu.