Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.150. Sumur Berair


__ADS_3

Flashback On


Rakha diam-diam mencuri dengar apa yang dibicarakan Jihan ditelpon disalah satu sudut rumahnya. Karena tidak mendengar dari awal, Rakha hanya Mendengar Jihan menyinggung perihal kapal pesiar dan menghabisi seseorang yang tidak dia sebutkan namanya.


Setelah sampai di kapal, lagi-lagi Rakha melihat gerak gerik Jihan yang mencurigakan. Diapun mengikuti Jihan hingga dibawah anak tangga. Rakha kemudian mendengarkan percakapan Marinka dan Jihan. Karena percakapan mulai tidak terarah, Rakhapun merekamnya lewat video diponselnya.


Rakha cukup syok saat melihat jihan tertembak dan dibuat jatuh ke laut. Meskipun tangannya gemerar, dia tetap mengabadikan semua itu lewat ponsel. Setelah itu Rakha berlari sekencangnya untuk memberitahu bodyguard Ezra untuk menolong mamanya. Kemudian diapun masuk ke kamar dan memberitahu Ezka tentang kejadian yang dia lihat, dan mengajak adiknya itu sedikit berakting untuk mengulur waktu karena sembari memberitahu bodyguard, Rakha juga membuat panggilan untuk Ezra.


Flashback Off


"Papa. Bisakah papa membuat tante jelek jatuh kelaut sepelti mama? uda pengen liat tante jahat dimakan hiu," ujar Rakha dengan tatapan membunuh kearah Jihan.


"Tidak! jangan lakukan itu Ezra. Please..." mohon Jihan


"Kasihan hiunya. Hiunya jadi makan daging orang jahat. Yuda,"


"Ya?"


"Apa sumur waktu itu belum ditimbun?"


"Belum."


"Perintahkan pada orang-orang kita untuk menggalinya sedikit lebih dalam. Jika waktu itu sumurnya kering, sekarang aku menginginkan sumur itu berisi air. Aku ingin melihatnya mati disana!" ujar Ezra yang membuat tubuh Jihan jadi gemetar.


Ezra kemudian mengajak Rakha dan Ezka untuk melihat tempat kejadian. Rakha yang nyaris tidak pernah menangis, tiba-tiba memeluk Ezra untuk menumpahkan rasa takutnya.


"Apa uda takut? anak laki-laki tidak boleh cengeng dan harus kuat."


"Uda takut kehilangan mama Pa. Hikz..." Tubuh anak itu bergetar karena terisak.


Sebenarnya Ezra juga merasakan hal yang sama, tapi dia tidak ingin membuat anaknya bertambah takut dan khawatir.


"Mama akan baik-baik saja kan pa?" tanya Ezka.


"Pasti dong. Papa sudah mengerahkan banyak orang untuk menyelamatkan mama. Sekarang kalian beristirahat dikamar dulu ya? papa mau bicara serius dengan om Yuda."


"Ya pa." Jawab Rakha sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


Rakha dan Ezka kembali ke kamar, sementara itu Ezra menatap laut lepas dengan tumpahan air mata yang sudah sejak tadi dia tahan.


"Adek. Abang harap adek baik-baik saja, jangan tinggalin abang, abang nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu," batin Ezra.


Ezra melihat beberapa kapal suruhannya masih berusaha mencari Marinka bersama tim SAR. Dan terlihat juga ada kapal asing yang sudah menjauh dan bertolak belakang dengan kapalnya.


"Bersabarlah. Aku yakin Marinka pasti akan segera kita temukan."


"Dimana Jihan? jangan sampai komplotannya membawa dia kabur." tanya Ezra.


"Dia sudah aku ikat dan ku masukkan kedalam kamar dan kemudian menguncinya dari luar. Apa kamu sungguh ingin melenyapkan dia kedalam sumur? aku hanya ingin memastikannya."


"Ya. Saat dia sudah terlihat lemas karena kehabisan tenaga, masukkan kembali tanah galian sumur dan ratakan seperti semula." Jawab Ezra.


Yuda bergidik sendiri membayangkan betapa susahnya Jihan bertahan hidup karena lemas dan tertimbun tanah. Tapi itulah Ezra, pria itu tidak bisa di provokasi, maka akibatnya akan fatal.


*****


Hari ini adalah hari ketiga setelah kejadian itu, namun Ezra dan orang-orang suruhannya sama sekali tidak menemukan keberadaan Marinka. Ezra kini mulai dilanda frustasi, dia benar-benar takut kehilangan Marinka.


"Aku harus bagaimana Yud? aku nggak bisa tanpa Marinka. Dia cinta matiku, kalau dia mati, aku mau mati juga Yud. Hikz..."


Ezra memeluk Yuda sembari terisak. Pria itu terlihat begitu rapuh.


"Istigfar kamu Zra...ingat ada anak-anak. Aku yakin Marinka baik-baik saja, terlebih tidak ada mayat yang ditemukan ditempat kejadian."


"Tapi kita juga tidak menemukan Marinka dirumah sakit manapun di kota ini. Aku benar-benar ketakutan Yud. Bagaimana caraku menjelaskan pada anak-anak nantinya."


"Jangan pernah putus harapan. Perbanyaklah berdo'a, aku yakin pasti ada keajaiban nanti. Sekarang kamu hanya perlu fokus mencari Marinka, sementara biarkan dulu anak-anak dirumah papa dan mamamu."


"Emm." Ezra mengangguk.


*****


"Kenapa putri saya belum siuman juga dok?" tanya Lilian.


"Bersabarlah. Sebenarnya Marinka ini benar-benar orang yang sangat beruntung bisa lolos dari maut. baruntung peluru itu hanya menembus sisi kepala bagian samping, itu akan berbeda kalau pelurunya sampai mengenai bagian tengah kepala terlebih batang otaknya, sudah dipastikan Marinka pasti tidak akan selamat."

__ADS_1


"Kira-Kira sampai kapan dia koma begitu?" tanya Lilian.


"Secara keseluruhan semuanya sudah membaik, dia juga sudah lewat dari masa kritis, jadi kita hanya perlu menunggu dia sampai siuman saja." Jawab Dokter.


Lilian yang tengah berada diruangan dokter itu tampak berwajah murung. Wanita parubaya itu hampir terkena serangan jantung, saat mendengar laporan dari orang suruhannya bahwa Marinka tertembak dan jatuh kelaut. Yah...sejak Lilian tahu Marinka sudah kembali ketanah air, Lilian diam-diam mengutus orang untuk melindungi Marinka meskipun dia tahu ada orang-orangnya Ezra yang selalu melindungi Marinka. Beruntung Lilian mengambil keputusan itu, sehingga dia bisa menyelamatkan putrinya dengan cepat.


Tring


Tring


Tring


Ponsel Lilian berdering, Lilian pun keluar ruangan karena ingin menerima panggilan telpon itu.


"Bagaimana? dimana gadis itu?" tanya Lilian.


"Maaf nyonya. Gadis itu sudah dilenyapkan oleh suami dari nona putri." Jawab seorang pria diseberang telpon.


Lilian menghela nafas panjang, dia tidak bisa terima Jihan mati dengan mudah. Wanita parubaya itu ingin sekali ikut andil dalam misi pelenyapan gadis yang sudah membuat putrinya menderita.


"Bagaimana dengan cucu-cucuku dan juga menantuku?" tanya Lilian.


"Tuan Ezra mengalami stres berat atas kehilangan nona putri. Sedangkan anak-anak sementara di titipkan pada opa dan omanya."


"Baiklah, pantau terus!"


"Baik nyonya." Jawab pria itu.


Lilian mengakhiri percakapan itu dan bergegas kembali keruangan dokter untuk berpamitan. Namun saat dirinya sedang ingin melangkah pergi dari ruangan itu, Seorang suster masuk keruangan dokter dengan tergesa-gesa.


"Ada apa?" tanya dokter.


"Maaf dok. Pasien di ruangan 204 sudah siuman." Jawab suster itu.


Senyum Lilian langsung terbit dari bibirnya, bahkan cairan bening sudah berkumpul banyak dipelupuk matanya. Lilian dan dokter itupun bergegas keruangan itu, karena ingin melihat perkembangan kondisi Marinka.


Saat Lilian dan dokter tiba diruangan itu, Marinka baru saja membuka matanya sembari meraba-raba seluruh wajah dan tubuhnya. Melihat itu Lilian dan dokter mengira Marinka sedang memastikan apakah dia masih hidup atau sudah berada dialam lain.

__ADS_1


__ADS_2