
6 Bulan kemudian....
"Sayang. Aku takut," ujar Moza.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu wanita hebat dan kuat, itulah Tuhan memilihmu untuk kujadikan istri. Berdo'alah, aku menunggumu di luar," ujar Anser.
"Kenapa tidak kamu saja yang mengoperasiku?" tanya Moza dengan lelehan air mata.
Entah kenapa kehamilan kali ini Moza sering sekali menangis.
"Sayang. Aku merasa tidak sanggup kalau mengoperasi istri sendiri. Lebih baik aku nggak usah lihat." Jawab Anser.
"Kamu mah gitu. Nggak sayang aku," ucap Moza.
"Moza. Jangan membuat suamimu merasa bersalah, dan merasa khawatir," ujar Marinka.
"Pokoknya jangan nyesal aja kalau aku mati di meja...."
Hap
Mulut Moza langsung ditutup rapat oleh telapak tangan Anser. Mata pria itu sampai membuka lebar, karena tidak suka mendengar ucapan Moza.
"Sayang. Kamu jangan ngomong sembarangan bisa nggak sih? kamu mau lihat aku dan anak- anak sedih?" tanya Anser yang di jawab gelengan kepala oleh Moza.
"Tapi aku pengen kamu yang operasi aku," ujar Moza dengan lelehan air mata.
Anser menghela nafas panjang, dan akhirnya menyetujui permintaan Moza. Moza akhirnya masuk ke dalam meja operasi setelah bersalaman dengan saudara-saudaranya. Dan Anser segera bersiap untuk melakukan operasi pada istrinya sendiri.
Setelah memakan waktu hampir 1 jam. Anak-Anak Anser dan Moza pun lahir selamat. Mereka di anugerahi sepasang bayi kembar dalam keadaan sehat. Keadaan Moza juga stabil.
Bayi-Bayi merekapun di masukkan dalam inkubator, untuk segera di hangatkan. Dan setelah melakukan operasi, Moza kemudian di pindahkan ke ruang perawatan setelah sadarkan diri dari pengaruh obat anastesi.
Ezra dan Marinka tersneyum bahagia saat melihat cucu-cucu mereka sudah lahir ke dunia.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putra putri kalian?" tanya Ezra.
"Kali ini anak-anak akan diberi nama oleh opa dan omanya." Jawab Moza.
"Bagitu ya?" Ezra tampak berpikir keras.
"Bagaimana kalau raja dan Queen saja?" tanya Marinka.
"Bagus juga." Jawab Anser.
"Untuk nama belakangnya terserah mau ngambil dari keluarga papanya atau ngambil dari keluarga ibunya," ujar Ezra.
"Akan kita rembukkan lagi," ucap Anser.
"Ah... melihat banyak anak dan cucu begini, aku jadi pengen hidup 1000 tahun lagi," ujar Ezra.
"Harus dong pa. Pokoknya sampai papa punya cicit, cucut dan cecet," ujar Meiza sembari terkekeh.
"Papa kayaknya yang nggak sanggup," ucap Ezra.
Marinka tiba-tiba menyeka air matanya, dan itu tertangkap oleh Ezra. Ezra kemudian mendekat kearah Marinka, dan memeluk pundak istrinya itu.
"Ada apa. Hem?" tanya Ezra.
__ADS_1
"Kebersamaan ini rasanya aku tidak ingin cepat-cepat berakhir. Tapi mengingat usia kita, rasanya itu tidak akan lama lagi. Membayangkan itu rasanya aku tidak sanggup," ujar Marinka dengan lelehan air mata.
"Mama jangan bicara gitu dong ma. Mama pasti selalu sehat. Pokoknya mama harus jaga kesehatan sama papa juga. Pokoknya sampai cucu-cucu kalian menikah dan memiliki anak lagi," ujar Moza sedih.
"Amiin." Rakha mengaminkan.
Sementara di tempat berbeda, Joana juga menjadwalkan operasinya jatuh pada hari ini juga. Joana dan Moza sudah sepakat, kalau mereka akan membuat anak-anak mereka lahir dengan ulang tahun yang sama. Dan sesuai harapan, saat ini telah lahir anak Joana dan Abizard dengan jenis kelamin laki-laki. Terlebih bayi itu mengikuti ras ibunya yang bule.
"Sayang. Lihatlah putra kita sangat tampan," ujar Abizard.
"Ya. Tampan seperti papanya. Lalu apa kita jadi memberikan dia nama yang waktu itu?" tanya Joana.
"Jadi dong. Albintang Abian Abimanyu," ujar Abizard.
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Abizard berdering. Abizard tersenyum, karena itu berasal dari Marinka.
"Ya Tante," ujar Abizard.
"Apa putramu sudah lahir?" tanya Marinka.
"Sudah tante. Bagaimana dengan kak Moza? apa anaknya sudah lahir juga?" tanya Abizard.
"Ya. Semuanya berjalan sempurna. Abizard, tante sudah membicarakan ini dengan mama dan papamu. Tapi tante tetap ingin membicarakan hal ini denganmu," ujar Marinka
"Bagaimana kalau acara syukuran kelahiran putramu dan anak-anak Moza dijadikan satu? kita buat acara meriah di kota J," tanya Marinka.
"Tante ingin kita foto sekeluarga besar. Kapan lagi akan datang moment seperti ini kan?" sambung Marinka.
"Kapan tante?" tanya Abizard.
Sekitar dua minggu lagi aja kali ya? nunggu jahitan luka operasi istrimu dan Moza kering dulu. Nanti 3 hari sebelum acara akan tante kabari saja," ucap Marinka.
"Baiklah. Akan aku bicarakan dulu dengan Joana. Kalau dia setuju kami akan langsung berangkat ke kota J." Jawab Abizard.
"Baiklah kami tunggu kabar baiknya ya!"
"Iya tante." Jawab Abizard.
Merekapun mengakhiri percakapan itu. Joana bertanya dengan menaikkan alisnya.
"Ini tante Marinka ngasih masukkan. Katanya bagaimana kalau acara syukuran anak kita digabung dengan acara syukuran dengan anak kak Moza? mereka ingin membuat acara meriah, jadi moment itu akan digunakan untuk foto keluarga besar kita." Jawab Abizard.
"Menurutmu bagaimana sayang?" tanya Abizard.
"Kalau aku sih nurut saja. Mau disana mau disini sama saja, yang penting berkah buat anak kita." Jawab Joana.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberi kabar pada tante Marinka kalau kita setuju Mungkin sekitar dua minggu lagi acara itu akan diadakan katanya," ujar Abizard.
"Tidak masalah. Semoga sampai waktunya aku juga sudah sehat," ucap Joana.
"Amiin." Jawab Abizard.
__ADS_1
*****
Dua minggu kemudian....
"Sayang. Sudah siap belum?" tanya Abizard.
"Ya. Aku tengah memakaikan bintang baju, apa semuanya sudah berkumpul di bawah?" tanya Joana.
"Ya. Tamu undangan juga sudah ramai. Sudah saatnya orang-orang mendo'akan anak-anak." Jawab Abizard.
Joana bergegas mengganti pakaian putranya dengan pakaian khusus yang sudah disiapkan keluarga Hawiranata. Hari ini adalah acara syukuran atas lahirnya putra Joana, dan juga putra putri Moza.
Setelah selesai, Joana dan Abizard turun kebawah bersama dengan putra mereka. Suasana memang sudah terlihat ramai, Keluarga Hawiranata juga sudah berkumpul semua. Merekapun membawa putra mereka ketengah-tengah acara berlangsung agar dido'akan.
Setelah acara selesai, merekapun melakukan sesi foto keluarga dengan menyewa seorang fotografer handal. Satu persatu mereka difoto bersama keluarga kecil mereka, dan kemudian barulah mereka berfoto ramai-ramai satu keluarga besar.
Grepppppp
Ezra yang tengah memperhatikan putra putri serta cucu mereka yang tengah melakukan sesi foto, sedang tersenyum bahagia sembari menggenggam erat tangan Marinka.
"Rasanya aku seperti mimpi memiliki keluarga sempurna seperti ini," ujar Ezra.
"Emm. Aku juga. Kalau mengingat masalalu yang buruk dulu, rasanya ini memang benar-benar seperti mimpi," ucap Marinka.
"Ah...aku sangat senang karena bisa menua bersamamu. Jika ada kehidupan yang lainpun, aku ingin dipertemukan kembali denganmu," ujar Ezra sembari merangkul bahu Marinka dan menyatukan kening mereka.
"Lihatlah papa dan mama. Sudah seusia ini, tapi masih saja romantis. Nanti kita seperti itu juga ya yank?" ucap Gadlyn.
"Tentu. Mereka sejak aku kecil memang seperti itu. Kadang aku suka sebal saat melihat mereka bermesraan tidak tahu tempat. Tapi kini aku mengerti, bersikap romantis terhadap pasangan memang diperlukan, agar mempunyai rasa saling memilikki satu sama lain,"
"Papa dan mama merupakan barometer bagi kita anak-anaknya, agar kedepannya menjalani rumah tangga jauh lebih baik lagi agar rumah tangga kita tetap harmonis sampai usia senja," sambung Rakha.
"Emm. Kamu benar. Sebagai anak dari broken home, mereka memang layak jadi panutan. Semoga anak-anak kita tidak akan pernah merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu," ujar Gadlyn.
"Tentu." Jawab Rakha sembari merangkul pundak istrinya.
Ternyata tidak hanya Rakha dan Gadlyn saja yang memperhatikan keromantisan Ezra dan Marinka. Anak-Anaknya yang lain juga. Mereka semua perlahan mendekat kearah orang tua berusia senja itu, dan menyergapnya.
"Ehemmm...yang benar saja dong Pa. Disini banyak anak, mantu, plus cucu-cucu. Kok malah mesra-mesraan sih?" ledek Moza.
"Kalau mau tahu rahasia rumah tangga awet ya begini. Apa kalian tahu? selama menikah 25 tahun lebih, kami nyaris tidak pernah bertengkar," ucap Ezra.
"Benarkah? romantis sekali," ujar Meiza.
"Ya. Segala sesuatu selalu kami bicarakan dengan kepala dingin. Karena tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kuncinya jangan biarkan masalah berlarut-larut, dan jangan pernah menyimpan sesuatu atau uneg-uneg dari pasangan," ucap Ezra.
"Dan jangan pula suka membesarkan masalah, hanya karena ingin mencari perhatian pasangan kita. Apalagi main kode-kodean agar pasangan kita mengerti apa yang kita mau. Pokoknya segala sesuatu dibicarakan saja terus terang," timpal Marinka.
Semua pasangan yang berada dihadapan Ezra dan Marinka jadi merangkul pundak pasangan mereka masing-masing. Mereka berharap bisa terus seperti Ezra dan Marinka hingga maut memisahkan mereka.
🌹END🌹
Terima kasih Author ucapkan karena sudah mendukung karya receh author selama ini. Silahkan dukung karya author yang lain ya teman-teman🤗🙏
Jangan lupa mampir di karya author yang terbaru ya."KAU GADAIKAN DIRIKU"
__ADS_1