Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.212. Salah Hadiah


__ADS_3

Gadlyn meletakkan secangkir teh di atas meja Rakha. Rakha yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, tidak menggubris kedatangannya.


Rakha menghentikan gerakkan tangannya, saat merasa ada seseorang yang memperhatikannya.


"Ada apa?" tanya Rakha.


"Mau nunggu komen." Jawab Gadlyn.


"Komen? komen apa?" Rakha bingung.


"Tuh." Jawab Gadlyn sembari menunjuk dengan bibirnya.


Rakha menoleh ke arah secangkir teh yang Gadlyn letakkan di atas meja.


"Tuan kan tahu, karier ku sangat penting. Saya sekolah tinggi-tinggi juga untuk membahagiakan orang tua dan mengabdi di perusahaan ini. Jadi apapun akan aku lakukan, meski harus berlatih membuat teh atau kopi setiap hari," sambung Gadlyn.


Tanpa banyak bicara, Rakha meraih cangkir teh dan segera menyesap isi di dalamnya. Sesaat kemudian Rakha tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Masih bisa ku terima. Untuk selanjutnya buat teh seperti ini tiap hari," ujar Rakha.


"Benarkah?" Gadlyn gembira.


"Ya." Jawab Rakha singkat.


"Apa itu artinya saya sudah bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan ijazahku?" tanya Gadlyn harap-harap cemas.


"Mulai besok kamu sudah bisa jadi serketaris pribadiku." Jawab Rakha.


"Ser-Serketaris pribadi?" Gadlyn terkejut.


"Kenapa? tidak mau? kalau tidak mau tetaplah selamanya jadi OG," ujar Rakha.


"Mau tuan." Jawab Gadlyn cepat.


"Nggak apalah jadi serketarisnya. Meskipun dia sulit di tangani, tapi kelihatannya dia orang yang cukup baik. Ya walaupun mulutnya seperti petir," batin Gadlyn.


Rakha membuka laci meja kerjanya dan meraih amplop coklat. Rakha kemudian menyodorkannya pada Gadlyn, yang membuat gadis itu jadi kebingungan.


"Tuan. Ini apa ya?" tanya Gadlyn.


"Uang buat beli pakaian kantor. Beli baju yang layak, dan jangan sampai kekurangan bahan. Aku tidak menyukai itu." Jawab Rakha.


"Ap-Apa ini akan di potong dari gajih saya?" tanya Gadlyn.


Rakha menaikkan sebelah alisnya sembari menatap ke arah Gadlyn.


"Anggap itu upah karena kamu sudah membuatkan kopi dan teh untukku." Jawab Rakha asal.


Rakha tidak punya alasan lain, untuk memberi Galdyn uang, tanpa gadis itu berpikir macam-macam.


"Terima kasih tuan. Tuan baik sekali," Gadlyn berjingkrak senang, dan langsung berhambur memeluk Rakha.


Tubuh Rakha menegang seketika. Baru kali ini dia di peluk oleh seorang wanita.

__ADS_1


"Eh? ma-maaf tuan.Tadi saya terlampau senang," ujar Gadlyn.


Gadlyn segera menjauhkan diri sembari membungkuk berkali-kali.


"Ehemm...lain kali perhatikan sikapmu," ucap Rakha dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Ba-Baik tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Permisi," Gadlyn secepat kilat ingin keluar dari ruangan itu.


"Tunggu!" Langkah kaki Gadlyn terhenti, saat Rakha menghentikan dengan suaranya.


"Ya tuan?" tanya Gadlyn, sembari berbalik badan.


"Itu. Tentang hadiah yang ku janjikan, aku akan mengirimnya kerumahmu dengan jasa kurir," ucap Rakha.


"Hadiah?" tanya Gadlyn.


"Ya. Hadiah yang ku janjikan padamu waktu itu," ucap Rakha.


Gadlyn tersenyum senang, menampilkan deretan giginya yang putih bersih.


"Terima kasih tuan. Semoga rejeki anda bertambah, dan anda cepat menemukan jodoh," ujar Gadlyn.


"Keluarlah," ujar Rakha.


Gadlyn pun keluar ruangan itu. Tanpa gadis itu tahu, Rakha tidak suka dengan do'a Gadlyn yang menyebutkan tentang jodoh dirinya.


"Dari sekian banyak do'a, kenapa harus ada kata jodoh dari mulut gadis itu. Menyebalkan!" gerutu Rakha.


*****


"Haduh...sepertinya dunia ini sangat sempit ya? ketemu lagi sama si OG," ujar Reno.


"Sayang. Kamu nggak boleh gitu, OG juga manusia loh," timpal Poppy.


Kalau orang tidak tahu, ucapan Poppy seperti sedang membela Gadlyn. Tapi pada kenyataannya ucapan gadis itu sarat akan ejekkan.


Gadlyn memutar bola mata dengan malas. Kini dirinya sudah bisa move on sepenuhnya dari Reno. Bahkan kini hanya ada kebencian dan dendam dalam dirinya untuk pria yang pernah dia cintai selama tiga tahun itu.


"Iya. Kamu benar, dunia ini memang sempit sekali. Tiap jalan cuci mata, selalu saja bertemu sampah yang merusak pemandangan mata." Jawab Gadlyn dengan pandangan meremehkan.


"Eh...ngomong-ngomong belanjaanmu banyak sekali Lin? emang gajih OG bisa beli barang mahal dan sebanyak itu?" tanya Poppy.


Gadlyn mengerti arah pertanyaan Poppy. Meski gadis itu tidak berkata secara langsung, tapi Gadlyn tahu Poppy ingin mengatakan uang yang dia dapat bukan hasil dari kerja sebagai OG.


"Bekerja jujur jadi OG, pasti akan mendapat berkah. Buktinya aku mendapat bonus dari hasil keja kerasku." Jawab Gadlyn.


Perkataan Gadlyn di tertawakan oleh Poppy.


"Aduh maaf ya Lin. Bukan aku nggak percaya sama ucapanmu. Meski bosmu seorang dermawan, tapi dia nggak mungkin ngasih seorang OG sampai puluhan juta. Kecuali kemungkinannya hanya ada satu," ujar Poppy.


"Maksudmu apa?" tanya Gadlyn.


"Ya itu. Kecuali kamu sudah di tiduri oleh bosmu itu. Maaf ya Lin kalau ucapanku salah, aku cuma asal menebak saja." Jawab Poppy.

__ADS_1


"Benar juga. Jadi kamu begitu frustasi putus denganku, dan tertekan menjadi seorang OG. Jadi kamu memutuskan untuk menjual diri pada bosmu, berharap ingin naik jabatan begitu?" tanya Reno.


"Rasanya aku ingin sekali menjejali mulut sampah kalian itu dengan air comberan. Otak kalian itu hanya di penuhi dengan ************ saja. Menjijikkan," ucap Gadlyn sembari berlalu pergi.


Gadlyn memutuskan untuk pergi ketempat lain. setelah selesai membeli apa yang dia cari, Gadlynpun memutuskan untuk pulang.


"Gadlyn...Gadlyn...aduh...buruan deh kamu masuk," Karin menyeret tangan Gadlyn saat gadis itu baru saja memarkirkan mobil di depan rumahnya


"Ada apa sih ma?" tanya Gadlyn penasaran.


"Lihat itu," tunjuk Karin pada sebuah boneka besar yang di bungkus rapi.


Besar boneka itu bahkan melebihi tubuh Gadlyn sendiri, karena boneka itu dibuat secara khusus.


"Kamu sudah punya pacar lagi? cepat kenalin sama mama dong," tanya Karin.


"Tunggu dulu ma. Ini boneka untuk siapa dan dari siapa?" tanya Gadlyn.


"Kata kurirnya hadiah untukmu. Tapi dia tidak menyebutkan dari siap." Jawab Karin.


"Hadiah?" Gadllyn tampak berpikir.


Sesaat kemudian dia menutup mulut dengan tangannya, dia teringat bahwa Rakha berjanji akan mengirimi dirinya hadiah.


"Jadi hadiah yang dia maksud boneka? boneka babi lagi. Hadeh, aku ini bukan si Poppy penyuka boneka babi. Lagi pula, sejak kecil tidak ada satupun boneka yang aku mainkan. Aku lebih suka main mobil-mobilam daripada main boneka," batin Gadlyn.


Tring


Tring


Tring


"Ya tuan?" Gadlyn langsung masuk ke kamarnya sembari menggendong boneka babi itu.


"Tuan? tuan siapa yang menelponnya? apa itu si Rakha?" batin Karin.


"Apa hadiahnya sudah sampai?" tanya Rakha.


"Sudah. Tapi kenapa anda memberikan boneka sebagai hadiah?" tanya Gadlyn.


"Bukankah kamu suka boneka babi? waktu di mall, tidak sengaja aku melihatmu membeli sebuah boneka babi," tanya Rakha.


"Maaf tuan. Tapi aku tidak suka boneka. Terlebih itu boneka babi. Waktu itu aku membelikannya untuk mantan sahabatku yang sifatnya persis kayak babi." Jawab Gadlyn.


Pukkk


Rakha meninju tempat tidurnya, sembari menggigit lidahnya. Dia tidak menyangka, akhirnya dia bisa juga melakukan hal konyol.


"Tuan? tuan jangan marah ya? meski tuan salah memberi hadiah, tapi hadiah boneka juga tidak buruk. Aku akan mengajak bonekanya tidur bersamaku, seolah aku tidur bersama tuan,"


Hap


Gadlyn menutup mulutnya yang bicara asal, hanya karena ingin membuat Rakha senang dan tidak tersinggung. Tapi dia tidak menyangka, kalau mulutnya terlalu licin, hingga harus berkata ambigu. Sementara itu, disisi lain wajah Rakha sudah bersemu merah mendengar ucapan Gadlyn.

__ADS_1


Tit


Panggilan itupun secepat kilat Gadlyn akhiri.


__ADS_2