
Kriekkkkkk
Anser menekan handle pintu dan mendapati kamar itu tampak kosong. Anser juga tidak mendengar ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi, karena Moza tanpa sadar tertidur di dalam bathup.
Anser mendorong pintu kamar mandi dan mendapati Moza tengah tertidur di dalam bathup. Anser perlahan mendekati Moza, dan ditatapnya wajah lelap itu.
"Dia mencintaiku? sejak kapan? sejak kecil aku memang lebih akrab dengannya, tapi aku sama sekali tidak bisa membaca gelagatnya. Pandai sekali dia menyembunyikan perasaannya?" batin Anser.
"Moza. Kamu memang bukan gadis yang aku cintai, tapi aku tahu kamu itu orang yang sangat baik. Aku janji padamu aku akan belajar mencintaimu, dan menerima segala kekurangan dan kelebihanmu," batin Anser.
Anser perlahan mengangkat tubuh telanjang Moza dari dalam bathup. Dan dia cukup terpana saat melihat keindahan tubuh istrinya itu.
"Sial. Si otong pakai acara bangun lagi," batin Anser.
Moza yang merasa tubuhnya sedikit melayang, langsung membuka matanya dan membuat matanya terbelalak sempurna.
"A-Ans. Apa yang kamu lakukan? a-aku tidak pakai baju ini," ujar Moza malu.
"Kenapa? kamu itu istriku. Aku berhak melihat semua aset berhargamu." Jawab Anser.
Moza segera menyilangkan tangan didadanya. Dia cukup malu dengan keadaannya saat ini.
"Tidak usah ditutupi. Aku sudah melihat semuanya," ucap Anser yang berusaha bersikap tenang.
"Dia sangat tenang. Terlihat sekali kalau dia memang menganggapku sebagai temannya. Sampai-Sampai dia sama sekali tidak bernafsu, meskipun aku bertelanjang di depannya," batin Moza.
"Kenapa wajahnya mendadak murung? apa aku salah bicara?" batin Anser.
Anser meraih handuk dan ingin menyeka sisa air di tubuh Moza. Namun Moza langsung menyambar handuk itu dan menyeka tubuhnya sendiri. Moza segera melilitkan handuk ditubuhnya, dan mencari baju didalam kopernya.
Sementara itu Anser segera masuk kamar mandi, karena ingin menenangkan ular kobranya yang sudah terlanjur bangun. Saat dirinya selesai dengan urusannya, dia keluar dan mendapati Moza tengah menikmati kopi yang dia bawa sembari menatap keluar jendela.
Moza menoleh kearah Anser sejenak, dan kembali menatap kearah luar jendela.
Grepppp
Anser memeluk Moza dari arah belakang, dan menempatkan dagunya diatas bahu istrinya itu. Moza membiarkan Anser melakukan hal yang dia sukai.
"Ans," Moza mulai membuka suaranya.
"Hem?"
__ADS_1
"Mari kita bercerai." Jawab Moza, yang membuat Anser jadi terkejut dan membalikkan tubuh Moza.
"Apa yang kamu katakan? hati-hati saat berucap," tanya Anser.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Kita tidak saling mencintai bukan? pernikahan kita waktu itu hanya ingin menyelamatkan reputasi keluarga saja."
"Sekarang semuanya sudah selesai. Aku tidak ingin mengikatmu dengan hubungan seperti ini. Aku ingin membebaskan kamu dari hubungan yang mungkin membuatmu tersiksa," sambung Moza.
"Dasar bodoh. Selalu memikirkan perasaan orang lain, lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?"
"A-Ada apa dengan perasaanku? aku baik-baik saja," ucap Moza sembari menghindar dari tatapan mata Anser.
Anser meraih dagu Moza, hingga matanya bersitatap dengan istrinya itu.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Anser.
Deg
Jantung Moza terasa berhenti berdetak saat mendapat pertanyaan itu.
"Apa Meiza mengatakan perasaanku pada Anser. Meiza ini selalu bertindak sesuka hati, tanpa paham dampaknya padaku," batin Moza.
"Ap-Apa Meiza mengatakan sesuatu padamu?" tanya Moza.
"Karena aku melihat kalian bicara dipantai itu." Jawab Moza terus terang.
Deg
"Jadi dia melihatnya? dia pasti sangat terluka. Sama seperti saat aku terluka melihat Meiza dengan Ilyas," batin Anser.
"Maaf," ujar Anser
"Tidak masalah. Tapi kalau bisa cari wanita lain saja. Jangan ganggu Meiza, dia sudah punya orang yang dia cintai," ucap Moza sembari tersenyum hambar.
"Jadi apa benar kamu mencintaiku?" tanya Anser.
"Hah...tidak bisa ditutupi lagi ya? kamu benar, aku memang mencintaimu. Tapi itu tidak ada gunanya, aku juga tidak suka memaksakan kehendak pada orang lain."
"Jadi Ans. Daripada kamu tersiksa, terlebih ada perasaan tidak enak hati. Mari kita bercerai saja. Aku ingin membebaskanmu, agar kamu bisa meraih kebahagiaanmu sendiri," sambung Moza.
Greppppp
__ADS_1
Anser membawa Moza dalam pelukkannya.
"Dasar bodoh. Orang yang kamu cintai sudah berhasil kamu dapatkan. Kenapa harus melepaskannya dengan mudah. Harusnya kamu berusaha membuatnya jatuh cinta padamu."
"Tapi aku tidak punya kemampuan seperti itu. Aku tidak punya pengalaman, atau hal istimewa yang bisa menarikmu kearahku. Aku tidak seperti Meiza yang bisa membuatmu jatuh cinta padanya dengan mudah," ujar Moza dengan lelehan air mata.
"Tapi kamu punya hati yang murni. Hati kamu baik," ucap Ans.
"Hati yang baik tidak cukup bagi seseorang untuk dicintai. Ada milyaran wanita berhati baik di luar sana, namun tetap saja mendapat penghianatan. Aku tidak punya hati sekuat itu. Melihatmu melirik Meiza saja, membuat hatiku sakit. Untuk itu aku ingin bercerai saja, agar aku tidak perlu lagi merasakan rasa sakit itu," ujar Moza.
Anser menjauhkan Moza dari dekapannya. Disekanya air mata istrinya itu.
"Aku mohon beri aku kesempatan untuk belajar mencintaimu. Bantu aku melupakan Meiza. Kamu ingatlah kata-kataku ini, sampai mati aku tidak ingin bercerai denganmu. Dan sampai mati aku tidak akan menduakanmu," ujar Anser.
"Sungguh?" tanya Moza.
"Sungguh. Aku berjanji padamu. Maka dari itu beri aku kesempatan untuk belajar mencintaimu. Kamu mau kan?"
Moza tersenyum dan kemudian mengangguk. Anser mengikis jaraknya dan Moza. Perlahan tapi pasti Anser melabuhkan ciuman di bibir Moza yang membuat mata wanita itu jadi melotot.
"Tutup matamu saat sedang berciuman. Ini ciuman pertamamu kan? aku akan mengajarimu cara berciuman," ujar Anser.dan kemudian kembali me**mat bibir istrinya itu.
Anser menuntun tangan Moza agar bertengger dilehernya. Mereka sama-sama saling memperdalam ciuman mereka. Hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman yang saling menuntut.
Hah
Hah
Hah
Pasokkan oksigen yang menipis, membuat mereka menghentikan ciuman panas itu.
"Aku janji padamu, sampai ada cinta dihatiku untukmu. Aku tidak akan mengambil mahkotamu yang berharga," ujar Anser sembari membelai pipi Moza dengan lembut.
"Ya." Jawab Moza sembari masuk kedalam pelukkan Anser.
Hati Moza cukup lega. Karena Anser sudah tahu perasaannya, tanpa dia susah payah menjelaskannya.
"Makan yuk?"
"Emm."Moza mengangguk.
__ADS_1
Anser dan Mozapun makan bersama sembari berbincang banyak hal untuk menumbuhkan perasaan mereka masing-masing. Sejak dulu Anser memang suka bicara dengan Moza, karena selain nyambung, dia juga sangat menyenangkan. Anser yakin tidak butuh berapa lama lagi dia pasti akan mencintai Moza. Terlebih saat dia mencium istrinya itu, ada getaraan halus yang mulai bermain direlung hatinya.
To be continue...🤗🙏