
Ezra yang sedang berada di klub malam bersama teman-temannya sedikit terganggu saat merasakan getar ponsel diatas meja.
"Angkat Zra," ujar Yuda.
"Malas. Nggak ada namanya, palingan rekan bisnis. Kurang kerjaan nelpon malam-malam gini," tutur Ezra.
"Sombong amat pengusaha nomor satu. Nelpon lagi tuh, siapa tahu penting bro," timpal Ando.
"Angkat aja Yud. Kalau rekan bisnis yang nelpon, bilang aja aku ada kerjaan."
Yuda akhirnya menerima panggilan telpon itu dan membuat pengeras suara.
"Ha-Hallo tuan Ezra,"
Mendengar suara wanita diseberang telpon, Ezra yang semula bersandar disofa, jadi duduk tegap seketika. Pria itu juga langsung menyambar ponselnya dari tangan Yuda.
"Siapa ini?"
"Karin tuan, maaf mengganggu anda."
"Ada apa?"
"Nyonya Marinka sedang mabuk saat ini, dia sudah saya amankan disebuah kamar. Apa tuan bisa datang menjemputnya?"
"Apa? Marinka mabuk? kenapa bisa mabuk?"
Mendengar suara Ezra yang menggelegar, Karin mendadak takut seketika.
"Jaga dia untukku. Jangan biarkan orang lain menyentuhnya. Apa kamu mengerti? aku akan datang kesana sekarang!"
"I-Iya."
Ezra mengakhiri panggilan itu, dan beranjak seketika.
"Ada apa?" tanya Yuda.
"Marinka mabuk."
"Mana mungkin Marinka mabuk,"
"Ini pasti kerjaan wanita bandit itu. Aku akan menjemput Marinka, aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya."
"Apa kami perlu membantumu?" tanya Ando.
"Tidak perlu. Kalian happy-happy saja malam ini,"
"Hati-Hati," ujar Yuda.
"Emm." Ezra mengangguk dan kemudian melenggang pergi.
Dengan kecepatan penuh Ezra mengendarai mobil sportnya, dia tidak ingin terlambat karena takut Karin dan Galang berbuat yang tidak-tidak pada Marinka.
Sementara itu Karin tampak mondar mandir didepan pintu kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya galang.
"Aku memberikan anggur merah untuk Marinka, tapi ternyata dia peminum yang payah, jadinya dia mabuk hanya dengan minum satu setengah gelas."
"Ckk...kamu ini bikin masalah saja, bagaimana kalau Ezra marah."
"Biar aku yang bicara dengannya nanti. Aku bisa menggunakan kehamilanku sebagai alasan."
__ADS_1
"Terserah saja, yang penting hubungan kita dengannya harus tetap aman."
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi masalah apapun. Aku akan mengatasi semuanya."
"Kalau begitu aku akan membubarkan tamunya dulu, Ezra pasti tidak senang melihat istrinya jadi bahan tontonan."
"Ya."
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki Ezra begitu mantap terdengar, saat pria itu tiba diteras rumah Galang. Suasana sudah tampak sepi, karena Galang sudah membubarkan semua tamu undangan.
"Dimana istriku?"
"Diatas." Jawab Galang.
Ezra setengah berlari menaiki anak tangga, dan saat dia tiba diatas, dia mendapati Karin yang tengah mondar mandir didepan pintu.
"Tuan...."
"Dimana dia?" Ezra memotong ucapan Karin.
"Di dalam." Jawab Karin.
Ezra menekan handle pintu dan mendapati Marinka tengah berbaring ditempat tidur sembari meracau.
Tanpa basa basi Ezra langsung menggendong Marinka, tanpa mengucapkan kata sedikitpun, Ezra langsung melenggang pergi begitu saja.
"Tu..."
"Biarkan saja, kita bisa mendatangi rumahnya untuk meminta maaf dengan tulus."
Mobil sport milik Ezra melesat pergi meninggalkan halaman rumah Galang. Sementara itu Marinka tampak bernyanyi-nyari dan terkadang tertawa sendiri.
Setelah sampai dirumah, Ezra meletakkan Marinka diatas tempat tidur mereka. Ezrapun turun kebawah untuk membuat obat pereda mabuk.
"Dek. Kamu minum ini ya? biar mabukmu hilang," ujar Ezra sembari membuat Marinka duduk.
Namun diluar dugaan, Marinka malah menepis minuman itu dan mengalungkan tangannya dileher Ezra.
"Kamu mirip sekali dengan suamiku, iya...sangat mirip," Marinka menekan pelan hidung Ezra.
"Tapi kan kamu cuma mirip, bukan dia? suamiku itu sangat tampan dan baik hati. Dia tidak pernah memarahiku seperti mantan suamiku. Mantan suamiku sangat galak, bahkan dia sering memukulku. Padahal aku kan nggak salah,"
"Tapi suamiku yang sekarang berbeda,"
Marinka tersenyum dengan wajah yang sudah memerah.
"Tapi karena kamu mirip suamiku, kamu mau kan menciumku? aku belum pernah ciuman soalnya. Siapa tahu nanti dia mau menciumku, aku kan bisa belajar darimu."
"Dek. Sadarlah,"
Terus terang saat ini Ezra tengah dilanda kegugupan. Pasalnya Marinka saat ini sudah berada dipangkuannya dan mengalungkan tangannya denga erat. Ezra bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat Marinka menerpa wajahnya.
Cup
Marinka mencium Ezra lebih dulu, ciuman itu benar-benar kaku, dan itu membuat Ezra sangat heran. Ezra berusaha menghentikan ciuman Marinka , karena takut dirinya hilang kendali. Pasalnya barang kebanggaannya sudah mengacung sempurna sejak tadi.
__ADS_1
Namun Marinka dengan nalurinya semakin memperdalam ciuman itu, yang membuat Ezra mau tak mau terbuai dan membalas dengan ciuman serupa.
Brukkkk
Marinka tiba-tiba mendorong tubuh Ezra, hingga pria itu terlentang diatas tempat tidur. Marinka yang sudah hilang kendali melepaskan pakaiannya sendiri, hingga pemandangan indah itu begitu terpampang jelas didepan matanya.
Glekkkkk
"Tubuhnya indah sekali, bahkan lebih indah dari Jihan," batin Ezra.
Ezra yang tidak tahan digoda seperti itu langsung membalikkan posisinya. Terlebih sebelumnya Marinka sudah berhasil membuka sabuk celananya dan menggenggam miliknya.
"Marinka apa kamu akan menyalahkan aku saat tersadar nanti? tapi bukankah kamu istriku? seharusnya tidak masalah bukan?"
Ezra dengan tergeasa-gesa melepas semua kain yang melekat ditubuhnya dan melemparkannya kesembarang arah.
Marinka dan Ezra mulai saling menc**bu satu sama lain.
"Ah...bang..."
Marinka tak kuasa menahan suara merdunya saat Ezra bermain dengan lihai dipuncak dadanya.
"Apa kamu sadar siapa aku?"
"Suamiku,"
"Siapa nama suamimu?"
"Ezra Hawiranata," Tubuh Marinka meliuk-liuk karena Ezra bicara sembari memberikan sentuhan-sentuhan lembut.
Ezra kembali bermain dipuncak dada indah itu, kian lama cum***n itu makin turun, Ezra benar-benar lupa akan janjinya pada Jihan. Bukit indah Marinka tampak menggoda sehingga dia begitu tergoda untuk bermain disana.
"Ahh...emmmpptt...abanggggg..." Des**an Marinka semakin menggelitik Ezra untuk semakin gencar mempermainkan istrinya itu. Tubuh Marinka semakin meliuk hebat, dan meremas rambut hitam pria itu.
Tidak berapa lama kemudian Marinka menge***g karena mendapatkan pelepasan pertamanya.
"Abang ingin memasukimu, boleh?" bisik Ezra.
Marinka mengangguk, dengan mata yang sayu. Ezra kemudian memposisikan miliknya diantara dua paha Mulus Marinka. Perlahan Ezra menekan miliknya, namun bergitu sulit masuk. Ezra menyadari barang kebanggaanya berukuran tidak biasa, tapi dia pikir bukankah Marinka sudah tidak lagi perawan?
Ezra kembali menekan miliknya, meskipun. sedikit sulit.
"Awww...bang...sakitttt..."
Ezra menghentikan aksinya itu, karena miliknya baru masuk beberapa saja. Melihat Marinka sudah tenang, Ezra kembali mendorong miliknya, dan kembali menemukan hambatan.
"Marinka, kamu masih perawan? kamu tidak menyesal memberikan ini padaku?"
Marinka yang sama sekali tidak sadar, menginginkan Ezra bertindak lebih. Ezra yang sudah tidak tahan lagi, mendorong miliknya semakin dalam, dan akhirnya berhasil menjebol pertahanan Marinka.
"Hikz ....sakit bang," Marinka terisak.
Ezra yang sudah terlanjur terbakar api gairah hanya bisa mencium kelopak mata dan kening Marinka. Pria itu kemudian memompa perlahan milik istrinya itu.
Tidak lama kemudian terdengarlah suara-suara merdu yang bersahutan dari keduanya. Tidak tahu berapa lama mereka melakukannya, yang pasti Ezra meminta itu secara berulang-ulang.
"Ahhh...bang..."
"Oh...Marinka..."
Sepasang insan yang sedang melakukan percintaan panas itu akhirnya sama-sama menge**ng untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Brukkkk
Tubuh Ezra benar-benar ambruk diatas Marinka, deru nafas mereka saling berlomba. Ezra menarik kepemilikkannya dan berbaring disamping Marinka. Setelah terpuaskan, kini Ezra jadi berpikir bagaimana menjelaskan pada Marinka keesokkan harinya. Dia menjadi merasa bersalah, karena seperti sedang memanfaatkan Marinka yang tengah tidak sadar.