
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Paulin yang langsung berdiri tegak sembari menatap ibu-ibu sosialita yang melihat sinis kearahnya.
Bugh
Bugh
Bugh
Para ibu-ibu sosialita itu melemparkan semua barang-barang mereka ditubuh Paulin.
"Apa maksudnya ini?" tanya Paulin.
"Seharusnya kami yang nanya, apa maksud kamu menjual berlian palsu pada kami? kamu pikir kami ini orang bodoh yang mau menerima ditipu? dasar penipu kamu Paulin!" hardik salah seorang ibu-ibu sosialita.
"Palsu apa? mana mungkin saya menjual berlian palsu?" tanya Paulin.
"Kamu pikir kami ini bodoh? kami sudah meriksanya pada ahli berlian, dan sudah terbukti kalau semuanya palsu,"
"Nggak...nggak...ini pasti ada yang salah, nggak mungkin berlian itu palsu," ucap Paulin.
"Tidak usah mengelak lagi, kalau kamu mau berlianmu itu ambil saja, kami tidak butuh yang imitasi begitu. Kamu pikir kami ini gembel? yang mau barang murahan begitu? sekarang cepat kembalikan uang kami! kalau nggak, kamu akan kami seret ke polisi!"
"Eh? jangan dong ibu-ibu, bagaimana kalau ganti dengan berlian yang lain?" tanya Paulin.
"Kami nggak mau? kami cuma mau uang kami kembali, kami tidak percaya denganmu lagi."
"Sekarang cepat kembalikan uang kami!"
Suara ibu-ibu saling bersahutan yang membuat Paulin jadi panik. Wanita itu segera masuk kedalam untuk mengambil uang cash. Paulin stres karena harus mengembalikan uang para pelangannya yang jumlahnya sangat fantastis itu.
"Ibu- Ibu maaf sekali, saya baru bisa mengembalikan 1 Milyar dulu. 29 M nya ada di bank. Nanti saya akan transfer ke rekening ibu-ibu,"
"Awas ya kalau nggak di kembalikan, kamu nggak akan selamat dari penjara,"
Para ibu-ibu itu segera pulang kerumahnya, sementara Paulin terduduk lemas di lantai. Paulin baru menyadari bahwa dirinya sudah ditipu seseorang. Beberapa hari yang lalu ada yang menjual berlian padanya dengan harga yang sangat miring, karena tergiur dengan keuntungan besar, Paulinpun membelinya. Dia sudah membayangkan keuntungan yang bisa dia raih, karena harga belinya yang benar-benar sangat murah jika dibandingkan dengan berlian yang biasa dia beli dari langganannya.
Satu hal yang Paulin tidak tahu, orang yang menjual berlian itu adalah orang suruhan Marinka. Dan semua hasil penjualan berlian palsu itu, Marinka sumbangkan ke panti asuhan dan di bagikan pada orang yang membutuhkan.
"Ma kamu kenapa?" tanya Herman yang panik melihat istrinya berada di lantai.
"Habis Pa ...habis semua uang kita. Kita gagal jadi orang kaya Pa."
"Ada apa?" tanya Herman.
__ADS_1
"Mama kena tipu, berlian yang mama beli ternyata palsu. Dan ibu-ibu itu menuntut minta dikembalikan uangnya, kalau nggak mama mau dimasukkan kedalam penjara."
"Kenapa bisa begini? kenapa mama bisa ceroboh?" tanya Herman.
"Ya mau gimana lagi Pa. Penipu itu benar-benar sangat meyakinkan. Mobil yang dia bawa saja lambourgini." ujar Paulin.
"Ya sudahlah, tidak usah disesali. Lagian kita tidak perlu khawatir. Kita bisa minta modal usaha lagi dengan Galang nantinya. Beruntung kita mendapat menantu yang kaya raya."
Namun kata-kata Herman terhenti, saat melihat Karin menggeret sebuah koper besar ditangannya.
"Karin? kamu mau kemana?" tanya Herman.
Karin langsung berhambur kepelukkan Paulin sembari terisak. Paulin mengajak Karin masuk kedalam rumah untuk mendengarkan cerita anaknya itu. Alangkah terkejutnya Herman dan Paulin saat mendengar cerita Karin.
"Apa kamu sudah gila. Hah? kamu selingkuh dengan orang yang nggak sebanding. Apa otakmu itu sudah dimasuki kotoran babi? kamu ini benar-benar buat mama darah tinggi Karin," hardik Paulin.
"Karin khilaf ma," Jawab Karin tertunduk.
"Jadi apa yang mau kamu lakukan? mama nggak mau tahu ya, bagaimanapun caranya kamu harus berhasil merayu Galang lagi.Cuma dia harapan satu-satunya keluarga kita,"
"Iya. Sekarang Karin mau beri dia waktu dulu, saat ini dia sedang marah. Besok atau lusa aku akan menemuinya lagi,"
"Kamu jangan datang sendiri. Kita harus datang sekeluarga."
Sementara itu di tempat berbeda Marinka tengah sibuk mempersiapkan grand opening produknya, yang akan diadakan seminggu lagi. Marinka juga berencana akan segera membuka jati dirinya di hadapan publik, setelah urusan balas dendamnya sudah kelar.
"Sayang. Kamu jadi mau buat diskon 30% untuk produknya?" tanya Ezra.
"Jadi bang. Soalnya kan udah janji. Lagian anggap saja ini sedekah, karena ini brand awal saat pulang ke tanah air."
"Abang akan dukung apapun keputusan adek." ucap Ezra.
"Emmm...dek,"
"Ya bang?"
"Abang minta maaf ya? sebenarnya akhir-akhir ini abang nyuruh orang buat mantau misi adek itu. Yang ingin abang tanyakan, sebenarnya adek pengen pasangan itu jadi seperti apa? apa abang bantu saja biar cepat kelar,"
"Jangan bang. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan abang. Adek mau menuntaskannya sendiri, biar rasanya puas."
"Apa adek menginginkan mereka masuk penjara atas kejadian itu?" tanya Ezra.
"Minimal memang harus seperti itu. Tapi adek ingin mereka mengakui secara langsung, atas pembunuhan berencana itu."
__ADS_1
"Baiklah, abang akan mendukung semua rencanamu. Kalau nanti butuh bantuan, adek katakan saja pada abang,"
"Ya bang."
"Dek,"
"Hem?"
"Rakha dan Ezka sudah besar, apa sebaiknya kita buat lagi?" tanya Ezra dengan tangan yang tidak lagi bisa di kondisikan.
"Buat apaan bang?" tanya Marinka.
"Ya buat anak. Abang kan sendiri, adek juga sendiri. Jadi kita buat rumah kita jadi ramai dengan kehadiran banyak anak,"
"Tapi bang adek sekarang lagi repot. Nggak sanggup buat ngurus bayi lagi,"
"Nyicil aja dulu buatnya, noh...si Ando bininya bunting lagi. Abang nggak mau kalah saing sama dia,"
"Hisssttt...abang ini apaan sih bang? kok buat anak jadi ajang perlombaan?"
"Abang pengen ngerasain jadi suami siaga, merawat kamu saat hamil, dan nemenin kamu saat lahiran. Waktu itu kan abang nggak ngerasain itu semua dek?" ujar Ezra sembari sedikit meremas gundukkan indah milik Marinka.
"Jadi abang beneran pengen kita punya anak lagi?" tanya Marinka.
"Iya. Mau ya dek?" tanya Ezra.
"Ya udah," ujar Marinka.
"Cihuyyyy...." Ezra bersorak sembari melepaskan semua kain yang ada pada tubuhnya.
"Eh? abang mau apa?" tanya Marinka.
"Tentu aja nyicil dek." Jawab Ezra.
Marinka memutar bola mata dengan malas. Ezra memang paling bisa meruntuhkan semua pertahanannya. Marinka hanya bisa pasrah saat Ezra sudah membolak balik dirinya layaknya seperti ikan bakar.
*****
Karin, Paulin dan Herman menunggu didepan rumah Galang. Karena mereka sama sekali tidak diperbolehkan masuk oleh pelayan, atas perintah dari galang.
Sementara itu Galang kini tengah berada di jalan pulang, pria itu juga sudah menyuruh orang tuanya buat datang kerumah, untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Karin. Karena Galang tidak ingin berlarut-larut berhubungan yang tidak jelas dengan Karin, dia ingin mengakhiri semuanya. Terlebih saat ini dia sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Marinka.
TO BE CONTINUE ...🤗🙏
__ADS_1