
"Jadi dia menolakmu?" tanya Rehan.
"Tidak. Tapi aku memang tidak mengatakan yang sebenarnya tentang kehamilanku."
"Kenapa?"
"Dia sudah menyiapkan berkas perceraian kami sejak lama, aku tidak ingin mengecewakan niatnya itu. Lagipula memang tidak ada cinta untukku, aku tidak ingin menghalangi kebahagiaannya hanya karena aku mengandung anaknya."
"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"
"Rehan. Maukah kamu membantuku? aku ingin menghilang dari kehidupan dia untuk selamanya. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku mengandung anaknya, yang akan membuat kebahagiaannya rusak."
"Apa kamu yakin? aku bisa saja membantumu, itu berarti kamu juga harus mengurus kepindahan kuliahmu."
"Aku yakin. Tekadku sudah bulat. Kalau aku disini, aku tidak akan bisa melupakannya, terlebih dia pasti tahu aku mengandung anaknya. Yang kutakutkan bukan dia, tapi wanita itu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan anakku,"
"Baiklah. Apa kamu mau pindah ke Paris? keluargaku ada disana, aku akan mengantarmu. Kita akan meminta bantuannya,"
"Aku mau. Rehan aku akan sangat berterima kasih padamu, kapan kita akan berangkat?"
"Kita harus mengurus surat pindahmu dulu, aku juga harus bicara dulu dengan sepupuku."
"Baiklah. Besok aku akan mengurus surat pindahku, sementara kamu membicarakan masalahku pada sepupumu itu."
"Kamu tenang saja. Aku yakin dia akan senang, karena kamu sangat berbakat."
"Katakan pada sepupumu, aku ingin bekerja dengannya. Aku butuh uang untuk kelangsungan hidupku disana."
Mendengar itu Rehan jadi terkekeh.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Kamu lucu sekali, seolah sepupuku sudah pasti menerima kehadiranmu disana."
pukkkk
Marinka memukul bahu Rehan dengan bibir mengerucut.
"Kamu jangan mengecilkan hatiku. Aku sudah terlampau bersemangat untuk kabur keluar negeri. Jadi jangan songong, nanti kalau aku jadi disigner terkenal, aku bisa pura-pura lupa padamu."
Rehan tertawa keras saat mendengar perkataan Marinka yang menurutnya lucu terdengar diteliganya.
"Jadi kamu mau kemana sekarang?"
"Antar aku kerumah sahabatku."
"Baiklah. Tunjukkan saja jalannya."
"Emm."
Tepat pada pukul 5 sore, Marinka sudah berada didepan pintu kontrakkan Sera dengan koper besar ditangannya.
Tok
Tok
Tok
Kriekkkk
Sera yang kebetulan dapat libur kerja, membuka pintu dengan mata yang masih menganguk. Mata Sera terbuka seketika , saat melihat wanita cantik didepan rumahnya.
"Maaf kamu siapa? maksud saya, anda mencari siapa?" tanya Sera.
"Saya mencari Sera saputri."
"Ya saya sendiri. Anda siapa?"
"Marinka."
"Marinka?"
__ADS_1
"Marinka diningrat."
Sera menatap wanita cantik didepannya. Dilihat dari segi manapun, wanita itu sama sekali tidak mirip dengan sahabat yang sudah lama dia cari selama ini.
"Marinka diningrat yang mana?"
"Ckk...minggir, aku mau masuk. Kakiku pegal berdiri seperti ini,"
Marinka mendorong Sera dan langsung duduk disebuah karpet. Sementara itu Sera yang merasa heran terpaksa pasrah saat Marinka masuk begitu saja kedalam kontrakkannya.
"Kamu beneran Marinka sahabatku?" tanya Sera.
"Iya."
"Mana mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Marinka Sahabatku tidak secantik ini,"
"Jadi kamu mau bilang kalau aku yang dulu jelek? kamu sahabatku apa bukan Ra?"
"Inka?"
"Hem,"
"Inka, ini beneran kamu?"
"Ya. Sera saputri binti Sutejo."
Grrepppp
Sera berhambur kepelukkan Marinka sembari terisak.
Pak
puk
puk
Sera memukul Marinka lumayan keras hingga Marinka meringis kesakitan.
"Awww...sakit Sera sutejo. Apa kamu mau membunuhku dan calon keponakkanmu?"
Tangan Sera berhenti diudara saat mendengar ucapan Marinka.
"Apa maksudmu? kamu begitu banyak hutang penjelasan sama aku. Sekarang kamu malah mengaku hamil?"
"Ya mau gimana lagi, memang itu kenyataannya."
"Sebenarnya kamu selama ini kemana saja? dan ini, ada apa dengan wajah ini? kenapa kamu jadi oplas begini?"
"Ceritanya sangat panjang, aku takut kamu akan mengantuk saat mendengarku bercerita."
"Aku siap mendengarkanmu meskipun ceritamu panjangnya 3 hari 3 malam."
Marinka mengehela nafas panjang sebelum dia menceritakan semua apa yang dia alami. Air mata kedua wanita itu sama-sama tidak bisa dibendung, mereka sama-sama terisak disela-sela cerita Marinka yang menyayat hati.
Sera menghapus air matanya, dan kembali memeluk sahabatnya itu.
"Sekarang apa rencanamu kedepannya?"
"Aku rencananya akan kabur keluar negeri?"
"Kamu mau ninggalin aku lagi?"
"Kamu mau ikut?"
"Ikut. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu Marinka. Saat kehilanganmu aku benar-benar merasa terpukul."
"Kalau begitu bersiaplah. Tapi apa kamu tidak masalah hidup susah denganku?"
__ADS_1
"Tidak masalah. Kita bisa mencari uang bersama, dan membangun kehidupan kita sendiri disana."
"Itu bagus."
"Tapi Marinka, apa kamu yakin tidak ingin memberitahu pria itu tentang keberadaan anaknya? bukan apa-apa, sangat sulit menjadi seorang single parents."
"Aku yakin aku pasti bisa. Kalau aku memberitahu dia tentang keberadaan anak ini, aku takut dia akan mengambil anakku dan membesarkannya bersama wanita itu."
"Benar juga. Sebagai bibinya aku juga tidak rela kalau sampai itu terjadi. Kalau begitu kita hidupi anak ini bersama, karena aku adalah ibu angkat dari anakmu ini."
"Terima kasih Sera. Kamu adalah sahabat terbaikku,"
"Aku jadi penasaran, bagaimana reaksi dari mertuamu?"
"Aku belum memberitahu mereka tentang perceraian kami. Mungkin bang Ezra sudah memberitahukannya,"
"Sebelum pergi sebaiknya kamu hubungi dia untuk meminta maaf pada mereka."
"Aku juga berencana begitu. Apa sebaiknya aku telpon sekarang saja ya?"
"Kenapa tidak kamu temui langsung saja?"
"Aku merasa tidak punya muka buat ketemu mereka. Dari awal aku sudah berbohong pada mereka, padahal mereka sangat baik padaku."
"Ya sudah, kamu hubungi sekarang saja."
"Emm."
Marinka kemudian membuat panggilan untuk mertuanya.
"Marinka?"
"Ma-Mama," ucap Marinka dengan suara bergetar.
"Kamu ada dimana nak?"
"Ada dirumah teman."
"Pulanglah kemari, kamu tidak usah takut. Papa dan Mama tidak marah padamu, sejak awal papa dan mama sudah tahu semuanya, bahkan tentang surat kontrakmu dengan anak nakal itu.'
"Kalian sudah tahu semuanya?"
"Ya. Tidak penting kami tahu darimana, yang terpenting kamu jangan pergi kemanapun. Bagi kami, kamu adalah menantu terbaik kami, kami tidak perduli dengan latar belakangmu ataupun kedudukkanmu. Kami hanya menginginkan kamu yang menjadi menantu kami. Jika Ezra tetap bersikeras menceraikanmu, maka jadilah putri kami. Kami akan mengeluarkan dia dari kartu keluarga dan memasukkanmu menjadi putri kami."
"Hikz...maafkan Inka sudah berbohong pada kalian. Marinka tidak bermaksud begitu,"
"Kebonganmu kebohongan yang manis. Kamu anak yang baik, dasar anak nakal itu saja yang matanya jereng."
"Mama jangan berkata seperti itu, ini sama sekali bukan salah bang Ezra, karena ini memang kesepakatan dari awal."
"Tapi..."
"Ma...Inka mohon restuilah mereka, kasihan bang Ezra. Dia putra Mama satu-satunya, tanpa ridho kalian, hidupnya tidak akan berkah. Mama dan papa jangan marah padanya, Inka tidak apa-apa kok."
"Marinka, bolehkah mama bertanya satu hal padamu?"
"Ya."
"Meskipun pernikahan kalian berdasarkan kesepakatan? apa kamu mencintai Ezra?"
Marinka terdiam, air matanya jatuh seketika.
"Ya. Marinka sangat mencintai abang, bahkan terlampau mencintainya hingga yang tersisa hanya sebuah keikhlasan untuk melupakan."
"Jangan menangis. Kamu harus kuat, kamu sangat cantik, buat anak nakal itu menyesal sudah mencampakanmu."
"Ma. Sekali lagi Inka minta maaf ya kalau punya salah, mama dan papa harus jaga kesehatan. Kurangi makanan manis,"
Masayu tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya. Meskipun Marinka hanya sekedar menantu, tapi perhatian yang diberikan Marinka selama ini sudah seperti seorang putri kandung.
Setelah berbincang banyak hal, Marinka mengakhiri panggilan itu dengan mata yang sudah membengkak.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏