
"Kamu kenapa?" tanya Karin saat melihat putri semata wayangnya menangis.
Grepppp
Gadlyn langsung masuk kedalam pelukkan Karin. Dia menumpahkan semua kesedihannya pada ibunya itu.
"Reno selingkuh ma. Hikz...." ujar Gadlyn terisak.
"Se-Selingkuh? mana mungkin? kalian kan selalu bersama, dimana dia punya kesempatan buat selingkuh?" tanya Karin.
"Tentu saja kita mikirnya gitu? karena kita sama sekali tidak terpikirkan orang yang menjadi selingkuhannya orang yang paling dekat dengan kita."
"Siapa?" tanya Karin.
"Poppy." Jawab Gadlyn sembari melerai pelukkannya.
"Poppy?" Karin menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Apa kamu yakin?" tanya Karin.
"Tentu saja. Karena barusan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, saat mereka sedang berhubungan intim di apartement Poppy. Gila ya ma? ini Poppy loh? yang sudah ku anggap saudara sendiri, yang sudah mama anggap anak sendiri, tega sekali dia,"
Karin terdiam. Kejadian ini mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam. Dan dia sangat sedih perbuatan buruknya dulu, harus putrinya merasakan imbasnya.
"Ya sudah. Kamu tidak usah sedih lagi, anggap Reno bukan jodohmu. Beruntung kamu tahunya sekarang, kalau tahunya pas sudah nikah, itu akan lebih sakit lagi." ujar Karin.
Gadlyn terdiam. Terkadang orang lebih mudah menasehati, dari pada saat merasakanya sendiri. Gadlyn kemudian berdiri, setelah mengatakan pada Karin, dia ingin pergi beristirahat. Namun pada kenyataannya, dirinya kembali terisak di kamar, hingga matanya bengkak.
"Dasar cowok matre. Jadi dia keberatan aku jadi OG? ini semua karena Rakha, banyak pekerjaan lain yang bisa aku kerjakan, kenapa harus jadi OG? Lihat saja, aku akan membuatmu benar-benar sakit diabetes," gerutu Gadlyn dengan beruraian air mata.
Sementara itu ditempat berbeda, Reno dan Poppy semakin larut dalam percintaan panas mereka. Nafas mereka saling memburu, setelah usai bercinta untuk yang ketiga kalinya.
Cup
Reno mencium kening Poppy saat akan mencabut kepemilikkannya.
"Kamu bicara apa dengan si OG itu?" tanya Reno.
"Maaf. Aku meminta maaf sama dia, dan aku bermaksud mengembalikan dia padamu." Jawab Poppy dengan wajah polosnya.
"Kamu bicara apa sih? aku sudah tidak mencintai dia lagi, bukankah kamu mencintaiku sejak lama?"
"Aku memang sangat mencintaimu, bahkan itu sudah sejak lama. Aku belum menceritakan satu fakta yang lain padamu tentang dia."
"Apa?"
"Sebenarnya dia sudah lama tahu kalau aku menyukaimu, tapi karena dia cantik, kamu langsung tergoda padanya. Dan dia sekali lagi menyakitiku, merebut tiap laki-laki yang aku sukai."
"Benarkah?"
"Emm. Dan kejadian seperti itu sudah berlaku sejak kami sekolah menengah atas. Dia seperti sengaja melakukannya."
__ADS_1
"Kalau seperti itu, kenapa kamu masih mau berteman dengan wanita jahat itu?"
"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur berteman juga. Lagi pula berkat kesabaranku, akhirnya aku bisa memiliki pria yang aku sukai bukan?"
"Benar. Kamu tidak usah khawatir, kita akan selalu bersama,"
"Lalu kapan kamu akan menikahiku?" tanya Poppy.
"Sayang. Karier kita baru saja di mulai, apa kamu tidak ingin memiliki pernikahan impian? aku ingin menikah secara megah denganmu. Itulah sebabnya aku menyuruhmu pakai kontrasepsi dulu. Setelah uang kita terkumpul, kita baru rencanakan pernikahan kita. Apa kamu setuju?"
"Emm." Poppy mengangguk dan masuk kedalam dekapan Reno.
Mereka berdua larut dalam pikiran dan seringai mereka masing-masing.
*****
Gadlyn bergegas menaiki motornya. karena terlalu banyak menangis hampir sepanjang malam, dirinya kini hampir terlambat pergi bekerja.
Dengan menggunakan masker dan kaca mata hitam, dirinya membelah jalan bersama motor maticnya.
Tiiiiiiiiinnnnnnn
Bruuuukkkk
Sebuah mobil mangklakson dan sengaja berjalan mepet kearah Gadlyn, hingga Gadlyn hilang keseimbangan dan jatuh tersungkur di aspal. Mobil itu kemudian berhenti dan membuka kaca mobilnya.
"Aduh. Maaf ya OG, tadi kami menghindari lubang, jadi terpaksa mepet jalan kamu deh," ujar Reno sementara Poppy hanya mengulum senyumnya.
Reno hafal betul kalau yang mengendarai motor matic itu adalah Gadlyn, meskipun gadis itu menggunakan masker dan kaca mata hitam serta seragam OG. Itu di karenakan motor yang dikendarai Gadlyn sudah sering mereka pakai saat pergi berkencan.
Gadlyn tidak menggubrisnya, karena suaranya saat ini nyaris hilang, sebab terlalu banyak menangis. Dan kini dia harus kembali menangis karena lengan dan hatinya sakit secara bersamaan. Lengan Gadlyn berdarah, karena luka setelah menggerus aspal.
Gadlyn meraih sapu tangan dalam tasnya dan membalut lengannya dengan kain segi empat itu.
Rakha memindai matanya dari atas sampai bawah, saat melihat penampilan Gadlyn yang tampak aneh.
"Sudah telat hampir 15 menit, dan sekarang harus berdandan aneh seperti ini. Apa kamu sengaja ingin menarik perhatianku? buka kaca mata dan maskermu!" ujar Rakha.
"Ta-Tapi tuan, mata saya lagi sakit. Hidung saya lagi flu, nanti anda ketularan." Jawab Gadlyn dengan suara yang hampir hilang.
"Kenapa dengan suara kamu?"
"Sakit tenggorokkan tuan."
"Penyakit kok paket lengkap. Sudah seperti makanan saja kamu. Cepat buka semuanya! saya nggak mau terima alasan,"
Gadlyn meletakkan kopi diatas meja Rakha, dan perlahan membuka kaca mata dan masker yang menutupi wajahnya. Gadlyn yang malu langsung tertunduk, terlebih Rakha menatapnya dengan sangat intens.
"Apa istimewanya pria itu? sehingga dia menangisinya sampai mata bengkak dengan wajah sembab begitu? apa karena otaknya terlalu pintar, jadi sedikit eror dalam mengenali pria baik?" batin Rakha.
Yah...Rakha saat ini memang sudah tahu, kalau penyebab Gadlyn menangis ketika bertemu di lift, disebabkan patah hati oleh seorang pria dan dikhianati oleh sahabatnya.
__ADS_1
Rakha kemudian meraih cangkir kopi, dan hendak meminumnya. Namun belum sempat meminum kopi itu, matanya menangkap sapu tangan yang melilit di lengan Gadlyn.
"Kenapa lenganmu dibalut sapu tangan? apa itu trend baru?" tanya Rakha asal.
"Bukan apa-apa tuan," ujar Gadlyn dengan wajah yang masih tertunduk.
"Kemarilah!" ucap Rakha.
"Eh?"
"Apa kamu tuli? aku bilang kemarilah!" ucap Rakha.
Gadlyn mendekat. Dia merasa takut kalau-kalau Rakha akan memukulnya karena dirinya yang datang terlambat dan berdandan aneh.
"Buka!" perintah Rakha.
"Eh? maksud tuan apa? meski saya cuma OG dan tuan menerima saya kerja disini, tuan tidak bisa berbuat seenaknya sama saya. Saya tidak menyangka tuan sama mesumnya dengan Reno si brengsek itu," Gadlyn jadi emosi.
Ctakkkkkkk
Rakha menyentil dahi Gadlyn dengan cukup kuat, hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Apa yang kamu pikirkan dengan otak kecilmu itu ha? siapa yang mau berbuat mesum padamu? apa kamu pikir kamu itu layak disentuh olehku?"
"Lalu kenapa tuan menyuruhku membuka baju?"
"Apa telingamu itu jarang dibersihkan? apa tadi ada kata-kata saya yang mengatakan buka baju?"
"Eh?" Gadlyn jadi terdiam. Seingatnya Rakha memang cuma mengucapkan kata buka saja.
"Buka sapu tangan di lenganmu itu!"
Gadlyn mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya. Karena baper dengan masalahnya, dia jadi berpikir semua pria sama seperti mantan kekasihnya itu.
Gadlyn perlahan membuka sapu tangannya, dan Rakha bisa melihat luka di lengan Gadlyn cukup terbuka. Rakha kemudian mengambil kotak P3K yang ada di loker meja kerjanya, dan kemudian menyodorkannya pada Gadlyn.
"Bersihkan lukamu biar tidak infeksi!" ucap Rakha.
Gadlyn menatap Rakha dengan heran dan sedikit terkejut.
"Kenapa melihatku seperti itu? apa kamu berharap aku mengoleskan obat untukmu? jangan mimpi!"
"Ti-Tidak. Saya cuma ingin mengucapkan maaf dan terima kasih. Maaf tadi sudah salah paham dan mengatai anda. Dan terima kasih juga atas perhatian tuan."
"Tahu juga kamu minta maaf dan berterima kasih. Sekarang keluarlah! obati lukamu di pantry saja,"
"Baik tuan." Gadlyn membawa kotak P3K itu keluar bersamanya. Namun baru saja menutup pintu, suara teriakkan dari dalam mengagetkanya
Bruuuuaarrr
"Gadlyyyyyyynnnnnnnnn...." teriak Rakha setelah menyemburkan kopi yang dia minum.
__ADS_1
Gadlyn segera kabur dari tempat itu. Dia tidak ingin kena semprot karena membuatkan kopi Rakha dengan 7 sendok gula.
TO BE CONTINUE...🤭🙏