
Ting tong
Ting tong
Ceklekkk
"Tuan Yuda. Anda sudah datang? aku sudah siap, apa kita langsung pergi sekarang?"
"Ya Tuhan...kenapa ada bidadari kesasar kesini? ini semua salah Ezra, kenapa dia merubah wajah Marinka secantik ini? kalau begini aku bisa gagal fokus menyetir," batin Yuda.
"Tuan? apa anda baik-baik saja?" tanya Marinka pada Yuda yang menatap dirinya lekat.
"Eh? a-ayo!"
Marinka menyambar tasnya dari atas meja dan mengunci pintu apartementnya setelah keluar. Marinka terlihat sangat cantik dengan gaun selutut motif bunga berwarna merah jambu.
"Tuan. Kemana kita akan mendaftar?" tanya Marinka setelah memasuki mobil dan mobil itu maju dengan perlahan.
"Ezra sudah merekomendasikanmu kesalah satu universitas terbaik di kota ini, kebetulan EH Group merupakan donatur terbesar dikampus itu."
"Begitu? aku sangat senang mendengarnya, semoga aku tidak mengecewakan jerih payah kalian yang sudah membantuku."
"Aku yakin kamu bisa, dan kusarankan berhati-hatilah."
"Berhati-Hati?"
"Ya. Kamu sangat cantik, pasti akan banyak pria yang mengejarmu. Kadang kecantikan itu suka membawa malapetaka sendiri,"
"Ah...tuan bisa saja."
"Serius. Kusarankan jangan mudah percaya pada siapapun, termasuk yang mengaku sebagai temanmu."
"Baiklah, aku akan mendengarkan nasehatmu."
"Oh ya, bagaimana pertemuan dengan keluarga Ezra kemarin?"
"Berlangsung baik, keluarga tuan Ezra semuanya baik padaku. Terkadang aku merasa bersalah karena sudah menipu mereka."
"Kalau begitu buatlah agar hubungan kalian bukan sebuah tipuan."
"Maksud tuan apa?"
"Marinka, terus terang aku lebih suka kamu yang menjadi istri Ezra selamanya, daripada si Jihan itu."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu mengapa, wanita itu seperti ingin memanfaatkan Ezra saja."
"Jangan begitu. Tuan Ezra bukan orang bodoh yang asal pilih wanita, terlebih mereka berpacaran selama 3 tahun. Lagipula mana aku percaya diri dan bermimpi bisa menjadi istri sungguhan tuan Ezra. Beliau lelaki sempurna, sedangkan aku ini adalah seorang janda yang tidak diinginkan oleh siapapun."
"Jangan merasa rendah diri begitu. Bagiku status tidaklah penting. Marinka, aku bisa merasakan kalau kamu itu orang yang tulus dan baik hati. Sebagai seorang pria, aku lebih membutuhkan sosok seperti itu ketimbang sosok wanita yang cantik dan berpendidikkan tapi susah diraih."
"Ya tuan tahu sendiri, jangankan diinginkan orang lain, identitas saja tidak jelas. Tapi sekarang aku sudah bisa menerima, dikehidupan yang baru ini aku siap membantu tuan Ezra sampai akhir. Aku akan membalas jasanya, meskipun harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri."
"Kenapa kamu mau melakukan semua itu?"
__ADS_1
"Tuan. Aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini. Bisa dibilang hidupku ini tidak ada artinya lagi, kalau waktu itu aku mati, pasti tidak ada juga yang menangisi kematianku. Jadi aku akan berusaha membuat hidupku kali ini bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak masalah aku harus mengorbankan hidupku untuk orang yang mau mengorbankan hidupnya untukku."
Yuda menyunggingkan senyumnya sembari melihat kearah depan, pria itu begitu kagum dengan sosok polos dan juga baik hati seperti Marinka.
"Entah mengapa aku berharap Ezra benar-benar jatuh cinta pada sosok Marinka ini, dan meninggalkan Jihan si wanita sombong itu," batin Yuda.
Yuda membelokkan mobilnya kearah sebuah gedung menjulang, banyak sekali para mahasiswi dan mahasiswa yang berlalu lalang disana.
"Kamu kenapa?"
"Eh? a-aku mendadak gugup," ujar Marinka.
"Kamu harus semangat, disinilah perjalanan awalmu akan dimulai. Kamu harus jadi orang hebat, agar kelak tidak ada yang meremehkan dirimu."
"Ah...iya terima kasih untuk motivasinya. Seharusnya aku bersyukur bisa ketahap ini, ini adalah impianku sejak dulu agar bisa sekolah diperguruan tinggi."
"Nah...jadi harus semangat dong," Yuda.
"Baiklah, ayo kita turun!"
Marinka dan Yuda turun dari mobil, mereka pergi menuju ruangan Rektor, karena Ezra sudah membuat janji.
Setelah menyelesaikan semua persyaratan dan berbincang panjang lebar bersama Rektor, akhirnya Marinka resmi diterima sebagai mahasiswi diperguruan tinggi itu, sebagai salah satu Mahasiswi jurusan disign.
"Hah...aku sangat lega," ujar Marinka saat memasuki mobil.
"Besok adalah hari pertamamu kuliah, jadi bersemagatlah."
"ya...semangat," Marinka mengepalkan tangannya kedepan.
"Nanti akan ada yang mengantar jemputmu setiap hari,"
"Kenapa? bukankah itu lebih aman?"
"Bukan itu masalahnya, aku hanya merasa seperti anak TK. Itu membuatku tidak nyaman dan tidak leluasa bergerak."
"Baiklah, akan aku bicarakan hal ini pada Ezra terlebih dahulu."
"Terima kasih."
"Sekarang lebih baik kita makan siang dulu, setelah itu baru pulang."
"Baiklah,"
Yuda kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari berbincang, hingga sampailah mereka pada salah satu restauran mewah.
"Kenapa anda membawaku kesini?"
"Kenapa?"
"Ini pemborosan namanya, meskipun anda kaya, seharusnya makan di warteg juga tidak masalah. Apa lambung anda akan lecet saat mencicipi makanan di warteg?"
Yuda terkekeh mendengar ucapan Marinka.
"Aku hanya tidak tega membawa gadis cantik makan di warteg,"
__ADS_1
"Kalau begitu lain kali jangan merasa seperti itu, sejujurnya aku lebih suka makanan rumahan."
"Apa kamu pandai memasak?"
"Kalau pandai sih tidak juga, tapi masih bisalah buat suamiku kekenyangan."
"Itu juga bagus. Buat Ezra menyukaimu dengan cara itu."
"Hemm..mulai lagi, aku mana berani memimpikan pria seperti dia. Pokoknya niatku cuma satu, dia harus bahagia dengan pilihannya nanti. Oh ya makanan apa yang tuan Ezra sukai dan tidak sukai?"
"Ah.. ya, untung saja kamu menanyakan hal ini, sebenarnya Ezra menyukai apa saja terlebih makanan pedas. Tapi satu makanan yang jangan pernah kamu kasih ke dia,"
"Apa?"
"Ezra memiliki alergi pada semua jenis keju."
"Keju?"
"Ya. Kalau dia sampai makan itu akibatnya sangat fatal, kulitnya akan melepuh dan juga disertai dengan sesak nafas."
"Baiklah, aku akan mengingatnya."
"Nah...makanan kita akhirnya sampai juga,"
"Astaga banyak sekali, apa kita akan menghabiskan semuanya?" Marinka dibuat terkejut saat melihat beberapa menu telah tersaji diatas meja.
"Harus. Anggap ini sebagai perayaan, karena kamu sudah berhasil masuk ke universitas bergensi itu."
"Tuan, anda baik sekali. Suatu saat aku pasti yang akan mentraktir anda makan di restaurant ini,"
"Baiklah, aku tunggu janjimu itu. Untuk itu kamu harus jadi orang sukses, karena makanan disini paling murah 5 juta sekali makan." Yuda sedikit berbisik.
"Ap-apa? kenapa mahal sekali? apa mereka membuatnya dengan cairan emas?" Yuda lagi-lagi terkekeh mendengar ucapan Marinka.
"Aku jadi tidak tega memakan makanan ini, tapi kalau tidak dimakan ini sangat sayang kan? setidaknya ini seharga 5 juta bukan? ayo tuan Yuda, jangan sungkan lagi, mari kita sikat sampai habis."
"Oke." Yuda mengulum senyumnya.
Saat sedang asyik menyantap makanan mahal itu, tiba-tiba Marinka menangkap sosok yang sangat dia kenal. Mereka tampak bahagia, tanpa merasa bersalah atau kehilangan dirinya sedikitpun.
Yuda yang melihat Marinka seperti menatap sesuatu, mengikuti arah pandang Wanita itu. Dapat Yuda lihat, ada kilatan amarah dimata Marinka, tangan wanita itu juga sedikit bergetar.
"Bukankah itu direktur utama GS Group? pria yang dinobatkan sebagai pengusaha nomor 3 di kota J?"
"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Yuda.
Marinka mengalihkan pandangannya pada Yuda, dan tersenyum penuh arti.
"Tidak hanya mengenalnya, bahkan kami pernah tidur seranjang bertiga."
"Apa maksudmu?"
"Pria itu, dialah orang yang bertanggung jawab atas semua penderitaan yang aku alami. Dan wanita itu juga yang sudah merebut semua hal baik dalam hidupku. Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan mereka semua."
"Jadi dia mantam istri dari Galang?" batin Yuda.
__ADS_1
"Suatu saat dia akan menyesal telah mencampakkanmu,"
Marinka menoleh kearah Galang dan Karin kembali, wanita itu memasang senyum misterius, hanya dia yang tahu apa yang dia rencanakan nantinya.