
"Jihan? kenapa kamu ada disini?" tanya Ezra.
"Kalau nggak disini, aku nggak bakalan tahu kekasihku bergandengan mesra dengan istri kontraknya."
Ezra dan Marinka yang menyadari tangan mereka masih berpaut, segera melepas secara bersamaan.
"Sayang. Kamu jangan salah faham ya? ini nggak seperti yang kamu bayangkan. Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu bisa ada disini?"
"Aku nggak tenang biarin kamu disini dengan wanita lain, makanya aku susulin kesini."
"Bukankah kamu sibuk?"
"Sesibuk apapun, aku akan samperin kamu kalau hati aku nggak tenang. Ternyata kebuktikan? kamu happy banget jalan sama dia?"
"Kak Jihan jangan salah faham ya? kita nggak ada apa-apa kok. Aku udah anggap bang Ezra seperti kakakku sendiri."
"Ya emang. Emang seharusnya kamu tahu diri kamu itu siapa."
"Sayang. Kenapa kasar gitu? malu didengar orang,"
"Kamu buat aku takut tahu nggak?"
"Nggak ada yang perlu kamu takutin, kami nggak ada apa-apa. Sini!"
Ezra merentangkan tangannya agar Jihan segera masuk dalam pelukkannya. Jihan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan segera berhambur kepelukkan Ezra.
Jihan melirik kearah Marinka yang tampak biasa saja melihat adegan itu.
"Sayang. Kamu nggak nyuruh aku masuk?" tanya Jihan yang masih berada dalam pelukkan Ezra.
Ezra melirik kearah Marinka, seolah meminta persetujuan istrinya itu. Marinka tersenyum dan mengangguk.
Jihan bergelayut manja, saat Ezra membawanya masuk dan duduk disebuah sofa panjang.
"Kamu kapan datang?"
"Sekitar 2 jam yang lalu." Jawab Jihan sembari kepalanya yang tetap berada dibahu kekar kekasihnya itu.
"Kamu lama disini? gimana dengan kerjaan kamu?"
"Kamu nggak suka ya aku ada disini?"
"Kok gitu jawabnya? aku kan cuma nanya, kamu lama nggak disini?"
"Ya habisnya kamu kayak nggak suka gitu aku disini."
"Sayang. Kamu kok perasa banget sekarang. Hem?"
"Aku cemburu kamu kesini sama dia," ucap Jihan lirih.
Sementara itu Marinka berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia sangat bingung saat ini, karena berada ditengah-tengah pasangan kekasih itu.
"Sayang. Aku kangen banget sama kamu," ucap Jihan sembari mengubah posisi duduknya yang berada dipangkuan Ezra.
Sungguh Ezra merasa tidak enak hati pada Marinka, tapi untungnya Marinka bersikap biasa saja dan tampak tidak menghiraukan apa yang sedang Jihan lakukan terhadapnya.
"Sayang. Aku mau tidur disini malam ini," ucap Jihan.
"Tidak bisa begitu. Bagaimana dengan Marinka?"
__ADS_1
"Aku nggak perduli sama dia. Kenapa kamu harus nggak enak sama dia?"
"Ya kan statusnya saat ini dia istriku. Bagaimana kalau sampai papa mamaku tahu kalau kita tidur sekamar bertiga?"
"Yang nyuruh sekamar bertiga siapa? kamu buka kamar yang baru dong,"
Ezra menghela nafas panjang, dia takut kalau tidak menuruti kemauan Jihan, pujaan hatinya itu akan merajuk dan marah padanya.
Ezra melirik kearah Marinka yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Emm...Marinka,"
"Ya bang?"
Marinka menoleh kearah Ezra yang memanggil namanya, tampak Jihan bergelayut dipangkuan Ezra sembari mengalungkan tangan dileher pria itu.
"Emm...apa kamu tidak keberatan kalau aku membuka kamar baru untukmu?"
"Maksudnya gimana bang? apa malam ini aku akan tidur bersama kak Jihan?"
"Enak aja. Emangnya aku mau tidur sama kamu?" hardik Jihan kasar.
"Bu-Bukan begitu."
Ezra terlihat bingung menjelaskannya, dia benar-benat malu menyampaikan maksudnya pada gadis polos seperti Marinka.
"Sayang. Biar aku saja yang menjelaskan sama dia. Jadi gini Marinka, malam ini kamu tidur dikamar lain, sementara malam ini aku tidur sama Ezra."
"Apa? tapi mereka kan bukan suami istri? apa selama ini bang Ezra sudah biasa melakukan itu sama Jihan?" batin Marinka.
"Oh...oh gitu ya? ya udah nggak apa-apa kok." Jawab Marinka.
"Bang Ezra bukakan saja kamar baru untukku. Adek nggak apa kok,"
"Makasih Marinka." Jawab Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk.
"Ya udah pesan sekarang saja kamarnya. Biar Aku temani kamu, sekalian kita makan malam romantis berdua." ucap Jihan.
"Marinka kamu mau ikut makan malam nggak!" tanya Ezra.
"Kok ajak dia? kan aku bilang makan malam romantis berdua,"
"Sayang. Kasihan Marinka belum makan malam,"
"Ya kan bisa pesanin makanan hotel."
"Nggak apa kok Bang, kalian pergi aja. Benar kata kak Jihan, nanti abang pesanin aja makanan hotel, adek nggak apa kok."
"Ya sudah. Kamu tidur aja duluan dikamar ini, biar kamar baru saja yang abang tempati bersama Jihan."
"Iya bang."
Jihan dan Ezra pergi dari kamar itu untuk makan malam diluar. Marinka kini bisa bernafas lega, karena Ezra dan Jihan sudah tidak ada lagi dalam kamar itu.
"Astaga...kehidupan orang-orang kaya sangat mengerikan. Apa wanita jaman sekarang memang seperti itu? bagaimana bisa bergelantung seperti anak kera begitu, padahal belum sah menikah."
"Tapi setidaknya nasib mereka lebih mujur. Nah aku? dua kali nikah nggak ada yang mau nyentuh aku, aihh...nasib...."
__ADS_1
"Tapi nggak apalah, jangan disesali karena semuanya memang keputusan yang aku ambil sendiri. Lagian niat aku juga ingin buat bang Ezra bahagia kan?"
Marinka kembali melihat layar ponselnya dan melihat-lihat hasil jepretan di kamera ponselnya.
Sesekali Marinka tersenyum melihat tingkah konyol dirinya dan Ezra. Saat berdua, mereka seolah tidak mempunyai batasan apapun dan seperti pasangan normal lainnya.
Karena terlalu lelah menghabiskan waktu berjalan-jalan seharian, Marinka jatuh tertidur hingga melewatkan makan malamnya.
"Sayang. Aku mohon sama kamu jangan bicara kasar sama Marinka ya? seharusnya kita berterima kasih sama dia, dia sudah membantu kita dengan tulus," ujar Ezra.
"Ya. Aku minta maaf ya, mungkin karena tadi aku terlalu baper saat liat kamu gandengan tangan sama dia."
"Kamu tenang aja. Aku dan Marinka sudah sepakat, hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik, tidak lebih dari itu."
"Iya, aku percaya sama kamu."
"Harus. Hubungan kita ini bukan sehari dua hari, aku tidak mungkin menghianati cinta kita demi hubungan baru,"
"Aku tahu kamu hanya mencintaiku, begitu juga sebaliknya."
"Emm. Jadi dari sini kedepannya, jangan ada rasa saling curiga atau cemburu buta lagi ya?"
"Oke."
"Oh ya? Kamu lama ke Turkinya?" tanya Ezra.
"Besok aku harus kembali lagi, setelah melihatmu perasaanku sudah lega."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke bandara besok."
"Eh? tidak usah, aku sudah terlanjur memesan taksi kesana."
"Bagitu?"
"I-Iya. nggak apa kan?"
"Ya nggak apa."
"Ya udah kita pulang yuk? aku capek banget hari ini,"
"Oke."
Ezra dan Jihan kembali ke hotel dan memasuki kamar yang sudah mereka pesan. Saat tiba didalam kamar, Jihan yang sudah tidak sabar langsung menc*um mesra Ezra. Rasa rindu yang Ezra rasakan, membuat pria itu tidak keberatan untuk membalas ciuman mesra yang bahkan cenderung menuntut itu.
"Ah..."
Jihan mende*ah saat Ezra sudah bermain diceruk lehernya dan mere**s lembut aset kebanggaannya dari luar. Jihan yang menginginkan lebih, menanggalkan dres ketat miliknya hingga bersarang dipinggangnya.
"No baby. Belum waktunya kita melakukan itu, tunggu 6 bulan ya?"
"Ckk...kamu selalu gitu deh? kamu nggak menginginkan aku?"
"Aku sangat ingin sayang. Tapi kita harus bersabar, kita lakukan sewajarnya saja."
"Kamu nyebelin tahu nggak!"
Jihan langsung merajuk, dan mengganti pakaiannya dengan lingerie yang lebih menggoda. Jujur saja Ezra benar-benar tidak kuat melihat pemandangan indah itu, tapi entah mengapa dia jadi teringat Marinka. Meskipun menurutnya mereka tidak saling mencintai, tapi hubungan pernikahan mereka sangat suci. Jadi dia ingin sedikit menghargai ikatan suci itu, dengan tidak melakukan hal-hal diluar batas.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1