
"Kamu marah sama kakak?" tanya Ando.
"Nggak." Jawab Sera.
"Lagian aku punya hak apa marah sama kakak? kita kan nggak punya hubungan apa-apa." sambung Sera.
"Benar juga. Lagian kenapa kamu mesti marah juga, kakak kan nggak punya hubungan apa-apa juga dengan Renata."
Ando memperhatikan raut wajah Sera, setelah dirinya memberikan pernyataan itu. Dan benar saja, wajah gadis yang minim pengalaman dalam cinta itu pun cerah seketika. Sera langsung menoleh kearah Ando, sementara itu Ando menaikkan alisnya.
"Itu kan nggak mungkin kak. Ku dengar dia kesana nyaris tiap hari. Terus dia juga suka bawa makanan, dan berada diruangan kakak dalam waktu yang lama."
"Oh...jadi selama ini kamu suka mata-matain kakak ya? katanya nggak cemburu? kok kepo?"
"Eh?"
Ando terkekeh melihat ekspresi malu di wajah Sera. Kini Ando baru tahu sisi Sera yang masih polos, gadis itu seolah belum terjamah dari dunia luar.
"Berapa kali kamu pacaran?" tanya Ando.
"Ngapai kakak tanya-tanya?"
"Biar kakak tahu sepayah apa dirimu itu,"
"Jangan sembarangan. Aku ini sudah pengalaman, mantanku juga ada banyak."
"Banyak? berapa?"
"Eh? berapa ya?" Ando menahan tawanya, karena dia tahu Sera sedang berbohong saat ini.
"Hah...iya...iya nyerah deh. Aku memang nggak pengalaman. Lagian bukan urusan kakak juga. Lebih baik kakak urusi saja si Renata itu.
"Kenapa harus ngurusin dia? dia nggak ada hubungannya denganku."
"Sudahlah kak, aku ikut pusing kalau kakak berbelit-belit gini. Jadi intinya kakak kesini cuma mau ngajakin aku kerja di butik kan? ya sudah aku kerja lagi nanti disana. Sekarang kakak mending pulang saja,"
"Mulai besok kakak akan berada satu butik denganmu."
"Ka-kak mau satu butik denganku? kenapa?"
"Suka-Suka kakak dong, itu kan butik kakak juga,"
Sera cemberut mendengar jawaban Ando. Padahal dia sempat berharap, Ando pindah karena tidak ingin jauh darinya.
"Ya sudah kakak pulang dulu, jangan lupa besok mulai masuk kerja."
"Iya...iya..bawel,"
Ando mengusap puncak kepala Sera, yang membuat gadis itu jadi merona. Ando melangkah pergi keluar dan berpamitan dengan Marinka. Sementara itu dikamar Sera sedang mengelus-elus dadanya setelah kepergian Ando. Gadis itu masih merasakan debaran yang begitu kencang, tiap kali berdekatan dengan Pria itu.
*****
Keesokan harinya...
Sera berangkat kerja dengan penuh semangat, hari ini dia terlihat cantik dengan penampilan barunya. Bahkan dia sempat beberapa kali melihat penampilannya di cermin, untuk melihat betapa sempurnanya dia hari ini.
"Ada apa dengan penampilanmu akhir-akhir ini?" tanya Ando.
"Memangnya kenapa kak? kan bagus buat narik pelanggan."
"Narik pelanggan apa narik perhatian laki-laki?" tanya Ando yang membuat senyum Sera raib seketika.
"Kakak kalau ngomong yang benar dong. Kalau Renata yang berpakaian sexy, kakak nggak merasa terganggu sama sekali. Bahkan kakak bisa mengurungnya seharian diruang kerja kakak. Tapi kalau aku yang sexy, kenapa kakak ngomongnya gitu? serasa aku ini nggak laku banget kesannya. Ya walaupun memang iya belum laku,"
"Aku nggak melarangnya, karena itu bukan urusanku."
"Lalu aku? apa aku sudah menjadi urusan kakak?"
__ADS_1
Ando terdiam, dia juga bingung kenapa dia tidak menyukai penampilan Sera yang baru.
"Hah...terserah saja." Ando menyerah.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" ujar Ando.
Kriekkk
"Maaf tuan, ada seseorang yang mencari anda."
"Siapa?" tanya Ando.
"Dia bilang calon istri anda."
Deg
Jantung Sera terasa berhenti seketika saat mendengar ucapan rekan kerjanya itu. Wajah Sera yang muram, langsung tertangkap oleh Ando.
"Oh...calon istriku sudah datang, suruh dia masuk!"
"Jadi dia sudah punya calon istri? hah...iya juga, kenapa aku masih saja tidak tahu diri, mana mungkin pria sempurna seperti dia tidak punya cadangan kekasih." batin Sera.
Tap
Tap
Tap
Kriekkkk
"Sayangkuuuuu...aku datang..."
"Hah? dia calon istrinya? ini sih lolly banget. Pantas saja aku nggak dilirik, ternyata dia ini punya bakat jadi pedofil," batin Sera.
"Sayang. Aku kan calon istrimu, jadi tolong berikan aku sedikit uangmu untuk membeli ponsel baru," rengek gadis yang bernama stevi itu
"Ponselmu masih bagus, bukankah kamu baru membelinya dua bulan yang lalu?" tanya Ando.
"Sudah bosan. Stevi butuh yang lebih canggih, sekarang sekolah serba online, jadi Stevi butuh yang lebih bagus lagi "
"Hah...baiklah, nanti sore kita cari yang baru ya? saat ini kakak nggak punya uang cash."
"Ah...sayangku...kamu memang yang terbaik," Stevi mencium pipi Ando yang membuat Sera mengepalkan tangannya.
"Kak, dia siapa? sepertinya dia sedang cemburu," bisik Stevi.
"Calon kakak iparmu," bisik Ando.
"Benarkah? akhirnya aku tidak perlu lagi berpura-pura jadi calon istrimu itu. aku senang julukkan bujang lapuk akhirnya lepas juga darimu," bisik Stevi.
"Dasar adik durhaka," ujar Ando.
"Hai kakak ipar, kenalin aku Stevi. Adik sepupu kak Ando," ujar Stevi sembari mengulurkan tangan.
"Eh?" Sera yang kebingungan hanya mengikuti alur saja dan menjabat tangan mungil Stevi. Sementara itu Ando menepuk dahinya karena lupa memberitahu Stevi.
"Sayangku...jangan lupa janjimu. Aku pergi dulu ya," ujar Stevi sembari melambaikan tangan.
Namun langkahnya terhenti karena ada seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk.
"Ando. Aku mau bicara penting sama kamu," ujar Renata.
__ADS_1
Stevi memperhatikan penampilan Renata yang terlalu terbuka dan berlebihan. Gadis polos itu kembali menghampiri Ando.
"Kakak dia siap?" tanya Stevi.
"Aku calon kakak iparmu." Jawab Renata dengan tidak tahu malunya.
"Mana mungkin, kakak iparku kan dia? lagian mana mungkin kak Ando mau dengan tante. Tante sudah terlihat tua dan sama sekali tidak cocok dengan kak Ando."
"Lancang sekali kamu?" Renata yang tersinggung langsung mendekati Stevi, namun dihadang oleh Sera.
"Berani kamu maju selangkah saja, aku akan membuat wajahmu bolong dengan sepatuku ini," ujar Sera sembari mengacungkan sepatunya.
"Kamu berani denganku?" hardik Renata.
"Kenapa tidak berani? sudah lama aku tidak menghajar orang, mungkin hari ini ngidamku kesampaian. Kamu tinggal pilih, tangan kananku membawaku ke rumah sakit, tangan kiriku mengirimmu ke kububuran."
Stevi dan Ando menyembunyikan tawa mendengar ucapan Sera.
"Kakak. Kakak ipar sangat keren. Dia sangat cocok jadi kakak iparku," bisik Stevi.
"Benarkah? aku akan menikahinya kalau kamu setuju," bisik Ando.
"Sangat setuju. Aku menyukainya, kamu jangan pilih si pipiot itu. Apa kakak tidak lihat dia itu terlihat seperti nenek sihir,"
"Ya baiklah, kakak akan menurutimu," bisik Ando.
"Kamu menyingkirlah! aku tidak ada urusan denganmu, aku ingin bicara dengan kekasihku."
Sera terdiam, dalam hal ini dia merasa kalah. Karena dirinya merasa tidak memiliki status apapun dengan Ando. Sementara yang Sera tahu, Ando sangat dekat dengan Renata.
"Stevi kamu pulanglah," ujar Ando.
"Iya kak." Jawab Stevi dan melambaikan tangan kearah Sera.
"Duduk Re," ujar Ando.
Sera hendak melangkah pergi meninggalkan Ando dan Renata diruangan itu.
"Diam ditempatmu, kemarilah!" ujar Ando yang membuat gadis itu kebingungan.
"Tapi aku ingin bicara berdua denganmu." ujar Renata.
"Kamu silahkan bicara saja, atau tidak sama sekali." tegas Ando.
"Ndo. Aku minta maaf atas kejadian semalam. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu."
"Kejadian semalam? memangnya mereka berdua ngapain semalam?" batin Sera.
Ando tidak menggubris ucapan wanita itu, Renata jadi berbicara panjang lebar.
"Aku terpaksa melakukan itu, aku butuh biaya hidup. Tapi perasaanku tetap sama kamu Ndo."
"Maaf Re. Dari awal aku tidak pernah menyukaimu,"
"Bohong! kamu sendiri yang bilang sangat menyukaiku."
"Aku tidak berbohong. Tapi maaf karena aku berbohong mengatakan suka padamu. Re, harusnya kamu sadar sedang berada diposisi seperti apa. Tidak perlu memaksakan diri agar bisa disukai orang lain. Apa kamu pikir aku akan mau dengan wanita yang sudah sisa dari banyak pria? aku ini tidak bodoh, aku masih bisa mendapatkan yang terbaik."
"Tidak Ndo. Aku yakin kamu pasti masih suka sama aku kan?"
"Maaf Re. Mungkin dulu iya, tapi perasaan itu sudah lama terkubur. Aku tahu kamu mendekatiku hanya ingin mengorek tentang Ezra. Tapi maaf harus kukatakan padamu, sampai kapanpun kamu nggak akan berhasil. Saranku hiduplah dengan lebih baik. Jadikan pengalaman dengan suamimu jadi pelajaran yang berharga. Maaf, tapi aku tahu semua tentang dirimu dan mantan suamimu itu."
"Apa kamu menolakku gara-gara dia?" tanya Renata sembari mengalihkan pandangannya pada Sera.
"Tidak. Karena sebelum bertemu denganmu lagi, aku memang sudah dekat dengan dia lebih dulu. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan siapapun. Saranku, berhentilah dari pekerjaan hinamu itu."
Renata sama sekali tidak menggubris ucapan Ando. Wanita itu segera beranjak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sera melirik ke Arah Ando. Ingin sekali gadis itu bertanya, karena dia masih dalam keadaan bingung saat ini.
Ayo teman-teman jangan lupa Vote, Like, koment dan kasih hadiah yang banyak🤭🤭🤭🤭