Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.288. Kamu Menipunya


__ADS_3

"Maksud kamu apa? apa status suami tidak tinggi dihatimu sehingga kamu dengan mudah menyerahkan suamimu pada orang lain?" tanya Ilyas.


"Loh. Kan sama saja. Kamu mau ngorbanin nyawa buat istri dan anak. Daripada mati, mending kamu nikah sama Joana. Minimal kamu bisa melihat anak-anak nanti." Jawab Meiza.


"Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Ilyas.


"Cinta juga kalau mau ngajak mati buat apa. Aku masih sayang nyawaku. Aku begini juga demi nyelamatin anak-anak kamu loh. Kamu masih saja mikirin cintai tai kucing." Jawab Meiza.


"Kenapa kamu ingin memberikan suami pada orang lain? apa karena aku sudah cacat?" tanya Ilyas.


"Joana berjanji akan mengajakmu terapi sampai sembuh. Kamu juga jabgan egois. Aku saja tidak keberatan, kenapa kamu malah banyak tanya," ujar Meiza.


"Sepertinya Meiza bisa dipercaya. Bahkan dia mengajak Ilyas berdebat tepat di depanku. Dia tidak mungkin pura-pura, karena dia sama sekali tidak tahu rencana kedatanganku," batin Joana.


"Terserah kalian berunding dengan cara bagaimana. Selama aku menyelidiki tentang Deryl, kalian tetap lakukan terapinya. Secepatnya aku akan menemui kalian lagi," ujar Joana sembari meraih pistol diatas meja dan berbalik badan akan pergi.


"Tunggu!"


Ilyas mendorong kursi roda dengan tangannya, dan beralih tepat di depan Joana.


"Hentikan kegilaan ini Joana. Keluarlah dari lingkungan Deryl. Deryl bukan orang baik. Dia bisa melakukan apa saja demi tujuannya tercapai."


"Kamu lihatlah aku. Aku dan kamu bertahun-tahun bersamanya. Tapi tetap saja kebersamaan itu sama sekali tidak dia anggap. Bahkan dia menyuruhmu untuk melenyapkan aku bukan?" tanya Ilyas.


"Bagaimana jika aku setuju untuk mundur dari lingkungan Deryl? apa kamu mau pergi bersamaku?" tanya Joana.


"Joana. Kenapa kamu harus membuat suatu hubungan yang tidak pasti menjadi semakin rumit. Aku sangat menyayangimu. Kamu sudah seperti adikku sendiri. Seharusnya kamu bisa merasakan itu." Jawab Ilyas.


"Aku memang bisa merasakannya. Tapi itu perasaan cinta," ucap Joana.


"Joana kamu...."

__ADS_1


"Joana. Serahkan semuanya padaku. Aku akan langsung menjalankan kesepakatan kita. Aku yakin kamu akan kembali lagi, setelah tahu tentang Deryl. Satu lagi. Saat kamu sudah mengetahui semuanya, aku harap kamu tidak usah mengeluarkan air mata untuk pria sampah itu," ujar Meiza yang sengaja memotong pembicaraan Ilyas.


"Baiklah." Jawab Joana.


"Lalu kamu mau bagaimana memberi laporan untuk Deryl? dia pasti menanyakan hasil kerjamu bukan?" tanya Meiza.


"Bisakah kamu mengatur agar kamu berada dirumah sakit untuk sementara waktu?" tanya Joana.


"Aku mengerti maksudmu. Tidak usah khawatir aku akan melakukannya." Jawab Meiza.


Joana mengangguk, dan kemudian melirik sekilas kearah Ilyas. Lalu Joana berbalik badan dan pergi. Ilyas menoleh kearah Meiza, dan langsung pergi ke kamar. Meiza hanya bisa menghela nafas, mungkin akan sulit membujuk suaminya itu.


"Sayang. Kamu dengar dulu penjelasanku," ucap Meiza setengah berteriak.


"Kamu terlalu berani bermain-main Meiza. Tubuhku sampai gemetar saat melihat dia ada disini. Sementara kamu dengan santai mengajak dia bernegosiasi hal gila," gerutu Ilyas sembari berusaha menaiki tempat tidur.


"Hal gila apa sih?" tanya Meiza sembari membantu Ilyas naik keatas tempat tidur.


"Kenapa? apa karena aku sudah cacat? tidak lagi memuaskanmu seperti dulu? tidak bisa memberimu nafkah?" tanya Ilyas.


"Hey...sayang. Kenapa ucapanmu merambat kemana-mana hem? kamu paling tahu kalau akulah yang paling mencintaimu di dunia ini. Aku pikir kamu mengerti kode-kode dariku."


"Menghadapi macan berbahaya, tidak harus menggunakan kekerasan. Kamu sudah tahu betapa Joana sangat berbahaya. Kamu pikir dengan perutku yang sebesar ini, apa aku bisa leluasa berkelahi dengannya? mana mungkin aku memprovokasinya, kita harus menggunakan akal cerdik dalam situasi genting sekalipun," sambung Meiza.


"Jadi apa kamu benar-benar menipunya? sayang. Akan berbahaya kalau dia sampai tahu," tanya Ilyas.


"Dibilang menipu tidak juga. Karena semua yang aku katakan tentang Deryl dan tentang keluargaku 100% benar. Cuma satu yang bohong," ujar meiza.


"Apa?" tanya Ilyas.


"Tentang keikhlasanku menyerahkan suamiku padanya. Mana mungkin aku rela. Enak saja mau membuatku jadi janda. Kalau itu sampai terjadi, aku akan memotong burungmu dulu, baru aku akan menyerahkanmu padanya. Kalau sudah tidak punya burung, dia mau digoyang pakai apa? ubi kayu?"

__ADS_1


Jawaban Meiza benar-benar membuat bola mata Ilyas melotot.


"Emang kamu bisa setega itu melakukannya?" tanya Ilyas dengan bibir cemberut.


"Kenapa tidak? biar adil." Jawab Meiza.


"Sayang. Percayalah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Papa dan Uda Rakha pasti akan segera bertindak. Lagi pula papa dan mama sudah menemui Deryl," ujar Meiza.


"Benarkah? lalu bagaimana hasilnya? apa dia mau berdamai?" tanya Ilyas yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Meiza.


"Dia tetap pada pendiriannya, bahwa orang tuanya itu tidak bersalah. Dan dia menolak mentah-mentah ajakkan damai dari papa." Jawab Meiza.


"Sudah kuduga. Akupun sudah berulang kali memperingatkan dia. Aku bahkan sudah menyuruhnya menyelidikki dulu akar permasalahanya. Dia bahkan bersumpah menolak menikah sebelum salah satu di keluarga Hawiranata ada yang mati," ujar Ilyas.


"Sangat ambisius. Lalu apa kamu setuju dengan rencanaku? ini hanya berpura-pura. Karena aku sudah membuat kesepakatan dengannya. Aku akan menyerahkanmu, setelah dia berhasil melenyapkan Deryl. Aku sudah memanipulasi pola pikir gadis itu, kita hanya menunggu hasilnya saja,"


"Aku takut dia akan bertambah brutal, saat dia tahu kita sudah menipunya." Jawab Ilyas.


"Maka saat kita mengalami situasi seperti itu, kita harus melakukan pengorbanan yang sebenarnya," ujar Meiza.


"Apa maksudmu?" tanya Ilyas.


Meiza menggenggam tangan Ilyas dengan erat.


"Saat itu benar-benar terjadi, kita harus mengambil keputusan bijak. Mungkin kita akan menderita saat kita hidup terpisah. Tapi yang diperut ini," Meiza meletakkan tangan Ilyas diperutnya.


"Anak kita harus tetap selamat, meskipun kita dipaksa berpisah," sambung Meiza dengan meneteskan air mata.


Grepppppp


Ilyas memeluk Meiza dengan erat. Untuk sesaat dirinya merasa Egois. Tapi dia lupa, Meiza adalah seorang calon ibu. Dia pasti akan melindungi anak-anaknya, meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2