
Ezra melintir-lintir rambut Marinka, kebiasaan saat dirinya bingung ketika akan memulai pembicaraan. Marinka tiba-tiba duduk dengan berurai air mata, dan Ezrapun mengikuti gerakan istrinya itu.
Ezra meraih kedua sisi wajah Marinka yang tengah menangis tersedu sedan itu, sembari menghapus air mata Marinka dengan kedua telapak tangannya.
"Maafin abang yang sudah membuat adek nangis berkali-kali. Abang nggak bermaksud ingin membuat adek sedih dengan menyimpan rahasia sebesar itu. Tapi percayalah, abang juga tidak berdaya."
"Tapi abang sudah membuat adek kecewa dengan menyembunyikannya. Abang kan tahu adek nggak mau berhubungan lagi dengan masa lalu kejam itu."
"Ya justru itu abang menyembunyikannya, karena abang nggak mau membuat adek terluka. Tapi honey, setelah abang pikir-pikir, itu bukan solusi yang baik dengan selalu membenci masa lalu kita tanpa tahu kebenarannya seperti apa."
"Maksud abang apa? apa abang sedang berpihak pada mereka?"
"Hey sayang...apa yang adek katakan? abang selalu mendukungmu, dan akan selalu begitu. Saat ini kamu sedang marah, kamu butuh istirahat. Nanti kita bicarakan lagi ya?"
"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan kalau itu menyangkut tentang wanita kejam itu."
Marinka kembali berbaring dan membelakangi Ezra. Ezra menghela nafas panjang, dia tahu akan seperti ini jadinya saat kebenaran itu terbongkar.
Ezra terpaksa membiarkan Marinka tenang dulu dan kembali berbaring sembari memeluk Marinka dari belakang.
*****
Cup
Ezra mencium puncak kepala Marinka dan juga mencium bibir istrinya itu sekilas. Tanpa sadar saat tertidur Marinka sudah berbalik badan, sehingga Ezra lebih leluasa menatap wajah istrinya yang tengah tertidur lelap.
"Sayang. Bangunlah, sudah sore. Waktu sholat sudah hampir habis," bisik Ezra.
Blammmm
Mata Marinka terbuka seketika, saat mendengar perkataan suaminya. Wanita itu bergegas turun dari tempat tidur dan membersihkan diri. Setelah selesai, dirinya kemudian melaksanakan ibadah yang terbilang cukup terlambat itu.
"Kemarilah!" ujar Ezra setelah melihat Marinka selesai sholat dan tengah melipat mukenah.
Marinka meletakkan peralatan sholat di tempatnya, wanita itu kemudian medekati suaminya dengan duduk di tepi tempat tidur.
"Apa saat ini adek sudah bisa diajak bicara?" tanya Ezra.
"Apa yang mau abang bicarakan? kalau abang mau membicarakan tentang orang itu, lebih baik tidak usah. Adek sama sekali tidak tertarik mendengarnya." ujar Marinka.
__ADS_1
"Sayang. Walau bagaimanapun dia adalah ibu kandungmu, orang yang sudah melahirkanmu. Abang tahu kamu sangat kecewa, karena bunda sudah menitipkanmu di panti asuhan. Tapi setidaknya kamu dengarkan dulu penjelasannya." ucap Ezra.
Marinka terkekeh saat mendengar Ezra menyebut Lilian dengan sebutan Bunda.
"Sepertinya abang sudah sangat akrab dengan orang itu. Bahkan Abang sudah memanggilnya dengan sebutan bunda."
Ezra meraih wajah Marinka dengan kedua tangannya. Mata Marinka dan Ezra pun bertemu.
"Sayang. Dengarkan abang, abang nggak mau kamu menyesal di kemudian hari karena mungkin bunda tidak memiliki waktu yang banyak untuk menjelaskannya padamu. Coba kamu bayangkan, saat hari itu datang. Hari dimana penyesalan itu tiba, saat kamu mulai menyadari arti keberadaanya yang sangat kamu rindukan selama ini. Dan saat kamu datang menemuinya, dia malah sudah terbujur kaku dan siap akan di kebumikan."
Deg
Deg
Deg
Jantung Marinka berdegup dengan kencang saat mendengar semua ucapan Ezra.
"Abang tahu adek sedang marah, kesal dan kecewa. Sebenarnya abang ingin sekali menjelaskannya padamu. Kenapa bunda Lilian terpaksa menitipkanmu di panti asuhan itu. Tapi bunda Lilian melarangku untuk menceritakannya, karena dia ingin menceritakannya langsung."
"Alasan konyol. Lalu kenapa sampai detik ini dia tidak menjelaskannya? itu karena dia tidak punya ide untuk mengarang cerita bohong, agar aku percaya dengan semua yang akan dia katakan."
"Bunda sudah memutuskan sampai dirinya mati, dia tidak akan pernah menemuimu dan menjelaskan kenapa dia terpaksa meninggalkanmu di panti asuhan itu."
"Kenapa?"
"Karena kamu mengatakan tidak ingin bertemu dengannya, dan tidak ingin berbuat dosa saat berbicara dengannya. Bunda juga setuju saat adek mengatainya seorang ibu yang kejam, karena dia juga menganggap dirinya begitu."
"Sayang. Abang akan memberimu perumpamaan yang nyata. Jika seandainya, kamu dipaksa berpisah dari anak-anak dengan alasan demi keselamatan anak-anak, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ezra.
"Adek akan berpisah dengan anak-anak demi keselamatan mereka, walaupun itu sangat menyakitkan."
"Itulah yang terjadi pada bunda Lilian saat itu. Bunda juga tidak berdaya, tapi dia harus melakukan itu demi keselamatanmu. Dan masih berharap keajaiban itu ada dan bisa bertemu denganmu kembali."
"Tapi kenapa baru sekarang dia muncul?"
"Itu karena penyebab atau akar masalahnya sudah tercabut. Sekarang bunda sudah bebas, dan bisa leluasa bertemu denganmu. Tapi disaat dia sudah bisa bertemu denganmu, dia harus menarik dirinya kembali karena tidak ingin membuatmu terluka setelah bertemu dengannya kembali."
"Sayang. Abang tidak akan memaksamu, tapi menurut abang tidak ada salahnya memaafkan kesalahan orang tua, karena orang tua juga selalu memaafkan kesalahan anak-anaknya. Minimal temui dia sekali saja, setelah kamu mendengar semua penjelasannya, kamu tidak mau menemuinya pun tidak apa-apa. Tidak akan ada yang bisa memaksamu, termasuk abang."
__ADS_1
"Abang sayang kamu, abang sangat mencintaimu. Abang memberitahumu, karena abang tidak mau istri abang jadi anak yang durhaka pada orang tua. Temui dia selagi ada kesempatan,"
Greppppp
Marinka masuk kedalam pelukkan Ezra dengan isak tangis yang pecah. Ezra mengeratkan pelukkannya dan tidak terasa diapun ikut menangis. Dia paham betul apa yang Marinka rasakan saat ini, dia tidak menyalahkan Marinka karena Ezra bisa merasakan jika berada di posisi istrinya itu.
Cup
Cup
Cup
Ezra menciumi tiap inci wajah Marinka, dan menyeka air mata di wajah istrinya itu.
"Mau pergi?" tanya Ezra.
Marinka mengangguk, dan masuk kembali kedalam pelukkan Ezra.
"Ingatkan adek, kalau saat disana nanti adek lepas kendali."
"Pasti." Jawab Ezra.
"Apa kita akan membawa anak-anak?" tanya Marinka.
"Tentu. Kita juga harus mengenalkan mereka, kalau bunda adalah nenek kandung mereka."
"Bang. Siapa Mario itu? apa dia adik kandungku juga? tapi kenapa cuma aku yang dititipkan di panti asuhan?"
"Menurut cerita bunda, kamu dan Mario saudara beda ayah."
"Beda ayah? itu artinya ibuku menikah dua kali? apa karena menikah dengan pria lain dia jadi menitipkan aku di panti asuhan? jadi salah paham apanya kalau begitu?"
"Adek kenapa suka sekali ngambil kesimpulan sendiri? bukan seperti itu kejadian sebenarnya. Suami keduanya memang penyebab bunda menitipkanmu di panti asuhan, tapi bukan seperti itu keadaannya."
"Ah...lebih baik adek dengarkan langsung nanti cerita lengkapnya. Jangan suka menduga-duga. Nanti jadinya bisa di kategorikan fitnah."
Marinka terdiam. Meski begitu, pikirannya bercabang-cabang. Di pikirkan sekeras apapun, dia tidak bisa mencari cela apapun untuk menemukan kebenarannya.
TO BE CONTINUE....🤗🙏
__ADS_1