Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.66.Surat Cerai


__ADS_3

"Sayang..."


Jihan yang baru datang berhambur kedalam pelukkan Ezra. Karena menahan rindu cukup lama, Jihan dan Ezra bercumbu mesra dan cukup lama. Ezra bahkan membuat gadis itu duduk diatas meja ruang kerjanya dan mengakses semua aset gadis itu yang biasa dia nikmati.


"Ah...sayang...aku merindukanmu," bisik Jihan dengan suara sensualnya ketika Ezra masih sedang asyik bermain di puncak dadanya.


"Aku juga merindukanmu," tutur Ezra dengan pandangan mata yang berkabut gairah.


Setelah dirasa cukup, Ezra menghentikan aktifitasnya itu, dan membantu Jihan merapikan pakaiannya.


"Sayang. Aku ingin melihat surat cerai yag sudah kamu urus itu. Sekalian surat kontrak pernikahan antara kamu dan Marinka."


Ezra mengambil sebuah Map berwarna biru, dan memberikannya pada Jihan.


Plukkkk


Selembar cek jatuh tepat dikaki Jihan. Gadis itu meraih cek itu, dan matanya pun terbelalak saat melihat nominal yang ada dikertas berukuran persegi panjang itu.


"Apa ini?"


"Cek untuk Marinka. Walau bagaimanapun dia istriku, sudah seharusnya aku memberikan harta gono gini yang tidak sebanding dengan pengorbanannya itu."


"Tapi ini terlalu banyak sayang. 500 milyar bukan jumlah yang sedikit loh, apalagi dia menikah kontrak denganmu hanya 6 bulan saja."


"Kamu juga tidak menyentuh dia kan? jadi aku rasa itu terlalu banyak."


"Itulah masalahnya, aku sudah melakukan hal lebih padanya. Uang itu tidak ada artinya, jika dibandingkan keperawanannya yang berharga," batin Ezra.


"Sayang. Seharusnya kita berterima kasih padanya, bukan malah meributkan hal seperti ini."


"Hah...baiklah, terserah saja. Apa kamu sudah menandatangani surat cerainya?"


"Kamu lihat saja sendiri,"


Jihan tersenyum senang, saat dia melihat tanda tangan Ezra sudah nangkring diatas sebuah materai.


"Aku sangat bahagia, makasih karena kamu sudah menepati janjimu padaku. Aku benar-benar merasa beruntung dicintai pria hebat dan setia sepertimu."


"Itu karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak pernah berniat menduakan cintamu, karena kamu adalah segalanya."


"Hari ini adalah hari terakhir kontrak pernikahanmu bukan? aku ingin dia pergi hari ini juga dari rumahmu."


"Jangan begitu, dia sangat baik padaku selama ini. Jangan hanya karena ini, silahturahmi kita jadi terputus. Ku mohon jangan menyinggungnya, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri."


"Tidak bisa. Karena malam ini aku ingin menginap disini, aku tidak nyaman kalau ada dia. Lagipula kenapa mesti tidak enak? ini kan memang sudah perjanjian dari awal. Dia harus pergi, setelah aku kembali."

__ADS_1


Ezra menghela nafas panjang, sikap keras kepala Jihan memang sukar dikendalikan. pria itu terpaksa menuruti apa yang dimau kekasihnya itu.


"Baiklah. Sesuai keinginamu,"


"Oh...honey, love you so much,"


Cup


Cup


Cup


Jihan dan Ezra kembali bercumbu mesra, hingga suara decap keduanya terdengar dari balik pintu yang sama sekali tidak tertutup rapat.


Marinka menutup mulutnya, agar suara isak tangisnya tidak terdengar sampai kedalam dan menyadarkan dua insan yang sedang bercumbu mesra bahwa ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


Marinka menyelinap pergi tanpa Ezra dan Jihan ketahui. Wanita itu masuk kedalam kamarnya sendiri kemudian menutup pintu itu rapat-rapat.


Brukkkk


Tubuh Marinka merosot kelantai, dengan bersandar didaun pintu. Berkali-Kali Marinka membenturkan belakang kepalanya dengan pelan, air matanya mengalir tanpa bisa dia tahan. Marinka menangis sembari mendekap surat hasil pemeriksaan yang diberikan dokter, yang memberitahukan bahwa dirinya saat ini sedang hamil.


"Dia bahkan sudah menyiapkan surat cerai itu sejak lama, bahkan dia juga sudah menandatanganinya. Tidak ada kesempatan lagi untukku, dia memang mengharapkan perceraian ini."


"Tuhan...aku tidak menyalahkan dia, karena ini memang kesepakatan dari awal. Tapi kenapa rasanya ini sangat sakit...hikz..."


Marinka terisak, hingga tersedu sedan. Wanita itu berdiri perlahan dan mengambil koper dari atas lemari. Marinka memasukkan seluruh pakaian yang bisa dia bawa, ketika dia membuka kotak perhiasan, dia jadi teringat saat Ezra memberikan benda itu padanya. Air matanya semakin mengalir dengan deras.


Marinka memasukkan perhiasan itu kedalam tasnya dan juga semua kartu yang diberikan oleh Ezra.


"Nyonya,"


"Ya?'


"Anda dipanggil tuan Ezra ke ruang kerjanya."


"Baiklah."


Marinka mencuci wajahnya agar merah dimatanya tidak terlalu kelihatan.


"Hah...sudah waktunya ya? mereka bahkan tidak sabar ingin menyingkirkanku dari rumah ini. Bahkan tidak ingin memberikanku kesempatan untuk melakukan perpisahan barang sehari dua hari dirumah ini."


Sreettttt


Marinka membuka tirai jendela kamarnya, dan menatap kearah taman belakang rumah itu. Taman yang indah, yang dia buat dengan tangannya sendiri. Taman yang dipenuhi dengan aneka bunga mawar yang cantik.

__ADS_1


"Selamat tinggal bunga-bungaku yang cantik, jangan nakal. Teruslah tumbuh dan berbunga dengan cantik. Nanti akan ada majikan baru yang mengurus kalian,"


Tes


Air mata Marinka kembali menetes, namun Marinka segera tersadar, bahwa saat ini kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oleh Ezra dan Jihan.


"Hah...kuat...kuat...kuat...kamu pasti bisa Marinka. Kamu jangan lemah, ingat! ada anakmu yang akan menjagamu kelak. Jadi kamu jangan takut sendiri lagi," tutur Marinka sembari mengelus dadanya.


Marinka menatap surat yang berasal dari dokter Hasan. Setelah lama berpikir, Marinka memutuskan memasukkan surat itu kedalam tasnya, dia ingin menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri dan untuk orang yang sudah terlanjur mengetahuinya.


"Ini keputusan yang terbaik bukan? meski aku lemah, tapi aku harus punya harga diri. Aku tidak ingin menjadikan anakku sebagai tameng untuk mendapatkan ayahnya, aku pasti bisa hidup tanpa dia. Ayo Marinka, semangatlah!"


Marinka mengoleskan sedikit bedak diwajahnya, dia ingin menyamarkan sedikit sembab dimatanya. Setelah itu dia keluar kamar dengan mengembangkan senyum palsunya.


Kriekkkkk


Seorang gadis cantik yang tak lain adalah Jihan, membuka pintu ruang kerja Ezra.


Deg


Deg


Deg


Entah mengapa jantung Ezra berdegup dengan kencang, saat tahu Marinka sudah berada didepan pintu. Bayangan keceriaan Marinka seakan menari dipelupuk matanya, dan entah mengapa pula bibir dan lidahnya menjadi kelu.


"Hai...kak Jihan, kakak sudah datang? kapan sampainya?" tanya Marinka sembari memberikan senyum terbaiknya.


"Masuklah!"


Jihan sama sekali tidak menanggapi sapaan Marinka dan menyuruh Marinka masuk kedalam.


"Apa dia sungguh tidak apa-apa? wajahnya tampak biasa saja saat melihat Jihan, itu artinya dia tidak masalahkan dengan perpisahan kami?"


Ezra memperhatikan tiap perubahan yang ada diwajah Marinka. Dia benar-benar ingin memastikan bahwa Marinka akan baik-baik saja.


"Apa kamu ingat hari ini adalah hari terakhir kontrak pernikahan kamu dan Ezra?" tanya Jihan.


"Emang ini sudah 6 bulan ya? ya ampun aku sampai nggak sadar loh kak, waktu cepat banget berlalu ya?"


"Bagus. Itu artinya kamu tidak lupa dan tidak membantah. Duduklah dan tanda tangani ini,"


Jihan menyodorkan sebuah map yang diatasnya terdapat sebuah berkas perceraian. Marinka melihat tanda tangan Ezra yang sudah lebih dulu berada diatas sebuah materai. Sementara itu ezra hanya menelan air ludahnya, lidahnya benar-benar kelu dan tidak bisa mengatakan apapun.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2