
"Kenapa?" tanya Ezra.
"Mbak, berapa kalau tas ranselnya saja?"
"50 juta." Jawab sang pegawai.
"Ya sudah saya ambil yang ranselnya saja."
Marinka mengambil kartu Ezra, dan menyodorkannya pada pegawai toko. Sementara itu Ezra tampak diam, wajahnya berubah jadi masam. Setelah membayar tas tersebut, Marinka segera menarik tangan Ezra untuk keluar dari tempat itu.
"Sepertinya nggak ada yang perlu kita beli bang, kita pulang yuk?" ujar Marinka.
Tanpa menjawab Ezra mengikuti saja kemauan Marinka, karena wanita itu menggandeng tangannya tanpa lepas.
Sepanjang jalan pulang Ezra hanua diam saja tanpa bicara, Marinka yang lelah tidak terlalu memperhatikan kalau saat ini Ezra sedang marah padanya. Wanita itu malah tertidur lelap dan sedikit mendengkur.
Tap
Tap
Tap
Ezra menaiki anak tangga perlahan sembari menggendong tubuh Marinka. Wanita itu tampak lelap, hingga tidak sadar kalau saat ini dia sedang berada dalam gendongan ezra.
Ezra menatap Marinka yang tertidur pulas diatas tempat tidur, wajah polos tanpa beban itu membuat siapapun akan tenang saat menatapnya.
Ezra kemudian ikut berbaring disamping Marinka dan memeluk erat istri kecilnya itu.
*****
Tak ada pembicaraan seperti biasanya pagi ini, Ezra tampak memasang wajah datar dan itu membuat Marinka heran.
"Kenapa pagi ini bang Ezra terlihat beda? apa dia sedang marah padaku? tapi aku salah apa?" tanya Marinka.
"Abang mau nambah nggak?"
"Tidak. Sudah kenyang,"
"Makasih ya bang udah beliin adek tas,"
"Emm." Jawab Ezra singkat.
Setelah selesai sarapan, Ezra langsung pergi ke kantor. Sementara Marinka langsung pergi ke kampus.
Tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari Ezra, bahwa pria itu akan pulang terlambat. Marinka menunggu kepulangan Ezra hingga larut malam dan melewatkan makan malamnya.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, saat Ezra tiba dikediamannya, dan melihat makanan diatas meja tampak utuh yang berarti Marinka belum makan malam.
Kriekkkk
Ezra perlahan membuka pintu kamar dan mendapati Marinka tengah tertidur di sofa. Pria itu menghela nafas panjang, dan memindahkan Marinka ke atas tempat tidur. Namun baru saja Pria itu meletakkan Marinka dibusa empuk itu, Marinka tiba-tiba terbangun. Tatapan Marinka dan Ezra terkunci, karena jarak mereka yang terlampau dekat.
"Abang sudah pulang?"
"Emm." Ezra segera menjauhkan tubuhnya dan segera masuk kedalam kamar mandi.
"Bang Ezra kenapa ya? apa dia sedang ada masalah?" ucap Marinka lirih.
Setelah menunggu hampir 15 menit, akhirnya Ezra keluar juga. Pria itu kemudian memakai piyama tidurnya dan berbaring disamping Marinka.
__ADS_1
"Abang sudah makan malam?"
"Sudah." Jawab Ezra tanpa menoleh.
Greppp
Marinka menarik bahu Ezra hingga pria itu mau tak mau terlentang.
"Abang kenapa? abang marah? apa adek punya salah?"
"Abang lelah." Jawab Ezra dan kemudian kembali membelakangi Marinka.
Marinka kemudian turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Mendengar pintu tertutup, Ezra kemudian berbalik badan.
"Apa aku terlalu berlebihan? dia bahkan sama sekali tidak merasa, kalau aku sedang merajuk dengannya," ujar Ezra.
Sementara itu, Marinka yang merasa perutnya sangat lapar, makan dengan lahap. Karena tidur lebih cepat, matanya jadi segar. Marinka memutuskan untuk nonton tv diruang tamu.
"Sudah hampir jam 1, kenapa dia nggak naik keatas lagi?" ucap Ezra.
Ezra yang penasaran turun kebawah, untuk mengetahui keberadaan Marinka.
"Ngapain malam-malam nonton tv dibawah?" tanya Ezra.
"Ngantuknya ilang."
"Naiklah, ini sudah malam."
"Sebentar lagi,"
Ezra merebut remot tv dari tangan Marinka dan menekan tombol off pada remote itu. Ezra kemudian menyeret tangan Ezra untuk naik keatas, dan terpaksa diikuti oleh Marinka.
"Abang kenapa sih? adek punya salah?" tanya Marinka saat mereka sudah tiba didalam kamar.
"Jangan tidak-tidak, tapi sikap abang menunjukkan lain. Mending abang memarahiku, daripada mendiamkanku. Atau katakan saja terus terang kesalahanku apa? jadi adek bisa memperbaikinya." Mata Marinka mulai berkaca-kaca.
Melihat Marinka yang akan menangis, Ezra mendadak panik. Pasalnya dia tidak menduga kalau Marinka akan sesensitif itu.
Grepppp
Ezra memeluk Marinka, Marinka jadi langsung terisak.
"Abang jangan begitu lagi, adek merasa tidak enak hati kalau abang acuh begitu."
"Maaf," ujar Ezra lirih.
"Jadi sebenarnya abang marah kenapa?" Marinka melepaskan dekapan Ezra.
"Abang hanya tidak suka adek menolak pemberian abang."
"Pemberian? pemberian apa?"
"Tas itu." Jawab Ezra tertunduk.
"Astaga, jadi abang marah karena adek menolak tas 950 juta itu?"
"Emm." Ezra mengangguk kemudian tertunduk.
"Bang. Bukanya adek nggak menghargai pemberian abang, tapi menurut adek uang segitu terlalu berlebihan hanya untuk menuruti gaya hidup. Abang tidak pernah tahu rasanya hidup susah dan tinggal dipanti asuhan, mungkin abang tidak pernah merasakan yang namanya makan mie instan dengan kerupuk nyaris setiap hari."
__ADS_1
"Bang. Uang 950 juta, jika kita sumbangkan dipanti asuhan, kita bisa memberikan mereka makanan layak selama 2 sampai 3 tahun. Adek bukannya tidak mengahargai pemberian abang, tapi adek lebih suka membeli barang yang memang bakal adek butuhkan dan sering adek pakai. Kalau tas itu? adek mau pakai kemana?"
"Abang jangan salah faham lagi ya? tas ransel itu juga sudah lumayan mahal buat adek. Adek sangat berterima kasih untuk itu."
Cup
Ezra tiba-tiba mencium kening Marinka, yang membuat wajah Marinka bersemu merah seketika.
"Kamu wanita yang baik yang pernah abang kenal. Maaf sudah membuatmu sedih, abang tidak tahu kalau keinginan setiap wanita berbeda."
Bukan tanpa alasan Ezra berpikir demikian, pasalnya pria itu teringat gaya hidup Jihan dan Marinka sungguh jauh berbeda. Jika Jihan bisa meghabiskan uang milyaran dalam sebulan, Marinka bahkan belum menarik sepeserpun uang nafkah yang dia berikan. Kenapa dirinya tahu? itu karena setiap penarikan akan langsung terhubung dengan ponselnya.
"Ya sudah kita bobok yuk? abang jangan marah lagi ya? adek bisa sedih kalau abang begitu lagi,"
"Ya." Ezra menyunggingkan senyumnya.
Ezra kemudian membawa Marinka kedalam pelukkannya, merekapun tidur dengan mendekap satu sama lain.
*****
"Bang bangun! sepertinya kita kesiangan,"
Blammmm
Mata Ezra terbuka seketika, pria itu meraih ponselnya dan melihat jam dibenda pipih itu sudah menunjukkan pukul 6.30.
Ezra bergegas bangun dan masuk kedalam kamar mandi, sementara itu Marinka bergegas turun kebawah untuk menyiapkan sarapan pagi suaminya.
"Maaf Nyonya, kami sudah membuat sarapan dan bekal untuk tuan."
"Hah...syukurlah, kami bangun kesiangan semua. Makasih ya?"
"Sama-Sama Nyonya."
"Dek...."
Ezra berteriak dari arah kamar atas. Marinka bergegas naik keatas kembali.
"Pasangin abang dasi,"
"Ya." Marinka tersenyum.
"Bang. Adek minta maaf ya, sarapan dan bekal hari ini dibuat oleh pelayan kita. Adek tidak sempat masak buat abang."
"Tidak apa-apa. Abang juga mungkin tidak sarapan dirumah, soalnya abang ada meeting penting pagi ini."
"Loh, jadi sarapannya gimana? nanti abang nggak konsen meetingnya kalau perut nggak keisi?"
"Biar nanti Yuda yang menyiapkan sarapan dikantor."
"Hah...adek benar-benar minta maaf ya bang? adek jadi merasa bersalah deh."
"Nggak apa, kamu kan juga nggak sengaja."
"Ya udah, biar adek antar sampai depan."
"Emm."
Ezra dan Marinka turun sembari bergandengan tangan, tidak lupa Marinka memberikan bekal untuk Ezra bawa ke kantor.
__ADS_1
Cup
Ezra mengecup kening Marinka, saat pria itu akan memasuki mobil. Mendapat ciuman tak terduga, Jantung Marinka jadi berdegup tak menentu. sementara itu para pelayan hanya bisa baper saat melihat kemesraan sang majikan.