Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.61.Curhat


__ADS_3

"Dek. Akhir pekan nanti rencananya abang mau ngambil cuti,"


"Cuti?" tanya Marinka sembari memasangkan dasi untuk suaminya.


"Ya. Rencananya abang ingin mengajakmu keluar kota, bukankah abang pernah berjanji ingin mengajakmu pergi ke pemandian air panas?"


"Jadi abang ingin mengajakku ke sana?"


"Ya. Abang ingin menepati janji itu."


"Aku tahu abang ingin menepatinya karena menganggap ini liburan terakhir kita," batin Marinka.


"Baiklah, adek setuju," ucap Marinka sembari mengusap dasi Ezra yang baru selesai dia pasangkan.


"Kalau begitu persiapkan untuk keberangkatan kita kesana."


"Emm."


"Kita sarapan sekarang?"


"Ya."


Ezra dan Marinka menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Kini Marinka sedikit melunak, karena dia menganggap dirinya dan Ezra akan berpisah, dan akan membuat kenangan terakhir untuk suaminya itu.


"Hari ini abang sedikit pulang terlambat ya dek. Adek tidak perlu menunggu abang buat makan malam," ujar Ezra sembari mengunyah nasi goreng seafood buatan Marinka.


"Ya bang. Apa abang mau meeting penting lagi?"


"Emm. Hari ini ada investor dari luar negeri yang datang, jadi abang banyak melakukan persentasi buat kerjasama kami."


"Semoga semua yang abang rencanakan berjalan lancar ya bang."


"Amiin."


"Dek."


"Emm?"


"Minggu depan Jihan akan pulang,"


Marinka menghentikan kunyahannya, saat mendengar Ezra menyebut nama Jihan.


"Apa bang Ezra ingin memberikan peringatan khusus untukku? bang Ezra seolah ingin memberitahu bahwa nyonya pemilik rumah ini yang sesungguhnya sudah datang,"


"Benarkah?"


"Ya."


"Bagus dong bang,"


"Ya." Ezra menatap Marinka dengan lekat, sementara Marinka berpura-pura tidak tahu.


"Sepertinya Marinka sama sekali tidak terpengaruh, baguslah. Berarti perceraian kami nanti tidak membawa dampak yang buruk untuk dia. Aku sempat khawatir dia akan sedih dan tidak bisa menerima, ternyata aku salah."


"Abang berangkat dulu ya dek,"

__ADS_1


"Ya bang."


Marinka mengantar Ezra hingga kedepan teras, Marinka juga membiarkan Ezra mengecup keningnya setelah dirinya mencium tangan pria itu.


"Hah...sudah hampir tiba ya? kuat...kuat..." Marinka mengusap-usap dadanya.


Marinka masuk kedalam rumah untuk bersiap pergi ke kampus. Banyak perubahan yang teman-teman Marinka rasakan pada sahabatnya itu akhir-akhir ini. Marinka lebih banyak terlihat melamun dan tidak banyak bicara.


"Sebenarnya kamu kenapa sih Ka?" tanya Rehan yang sudah tidak tahan melihat wajah Marinka yang selalu muram.


"Rei...biasakah aku mempercayaimu?"


"Ada apa?"


"Maukah kamu mengantarku ke suatu tempat?"


"Kemana?"


"Akan aku tunjukkan, aku ingin bercerita padamu tentang banyak hal. Maukah kamu mendengarkanku?"


"Baiklah. Tapi berjanjilah kamu akan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi."


Marinka dan Rehanpun pergi ketempat yang Marinka inginkan. Ternyata Marinka membawa Rehan kesebuah danau buatan, tempat dimana dia selalu menumpahkan kesedihannya.


"Ada apa denganmu sebenarnya? kamu seperti memiliki masalah yang begitu besar?"


"Rei...pernahkah kamu mencintai seorang gadis? atau apakah saat ini kamu sedang terlibat sebuah hubungan yang manis?"


"Ya, saat ini aku memang sedang menjalani hubungan serius dengan seorang gadis. Kenapa?"


"Bagaimana rasanya memiliki hubungan yang berjalan dengan timbal balik?"


"Maksudku, apa kalian saling mencintai?"


"Tentu saja."


"Bagaimana rasanya?"


"Tentu saja menyenangkan."


"Lalu menurut pendapatmu, bagaimana dengan hubungan yang sepihak? kamu mencintainya, tapi dia tidak mencintaimu. Tapi sekuat hati kamu ingin mempertahankan cinta yang kamu miliki untuknya."


"Itu namanya pembodohan diri. Dunia ini tidak selebar daun kelor, masih banyak orang lain yang bisa kita cintai dari pada mengemis untuk dimiliki."


"Bagitu ya?"


"Emang ada apa sih Ka?"


"Aku ingin bercerai dengan suamiku."


"Ap-Apa? ta-tapi kenapa? bukankah hubungan kalian baik-baik saja?"


"Diluar memang terlihat baik-baik saja, Tapi ..."


"Marinka, kalau kamu memang percaya padaku, lebih baik kamu ceritakan semua apa masalahmu itu. Siapa tahu aku bisa memberikan solusi untuk masalahmu itu."

__ADS_1


Marinka tanpa ragu menceritakan semua apa yang terjadi dengan rumah tangganya tanpa ada yang terlewatkan. Termasuk dirinya yang menjalankan sebuah pernikahan kontrak dengan Ezra.


"Ini benar-benar gila Marinka. Aku tidak menyangka gadis secantik kamu, mau melakukan sebuah pernikahan konyol seperti itu?"


"Aku tidak bisa memberitahumu apa alasannya. Tapi yang pasti aku sudah mengatakan sejujurnya padamu, bahwa saat ini aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya."


"Sebaiknya kamu buang saja sejauh mungkin perasaanmu itu. Karena kalau kamu masih ingin memaksakannya, maka kamu sendiri yang akan terluka."


"Ka. Aku bukan ingin melarangmu untuk jatuh cinta pada seseorang, tapi hakikatnya cinta tidak saling menyakiti, tapi saling beri dan saling menerima."


"Sejak awal hubungan kalian sudah salah, meskipun dari awal kamu sudah membentengi diri agar tidak jatuh dengan pesona pria itu, tapi kamu tidak bisa mengendalikan diri, malah jatuh dengan dalam."


"Jadi apa keputusan untuk bercerai ini sudah tepat?"


"Ya mau nggak mau harus kan? kan bukan kamu yang memutuskan, meskipun sebenarnya kamu tidak menginginkan perceraian itu."


"Iya kamu benar." Mata Marinka sudah berkaca-kaca.


Melihat Marinka menangis, Rehan tidak sampai hati melihatnya. Pria itu membawa Marinka kedalam pelukkannya.


"Hikz....sakit sekali rasanya Rei..."


"Ya aku tahu. Bebaskan beban dihatimu Marinka, percayalah. Rasa sedihmu tidak akan berlangsung lama. Kamu sangat cantik, kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih tampan dari dia."


"Tapi aku hanya menginginkan dia,"


"Sejak awal dia memang bukan milikmu, kalau kamu memaksa, itu artinya kamu akan menjadi wanita jahat. Marinka yang ku kenal bukan wanita jahat seperti itu, Marinka yang ku kenal wanita cantik, manis dan baik hati. Jadi jangan pernah menghancurkan harga dirimu demi pria yang tidak mencintaimu."


"Rehan benar. Aku sudah pernah cinta buta pada seorang pria dan berakhir dengan tragis. Kalau aku kembali terjebak disituasi yang sama, bukan tidak mungkin aku akan megalami hal serupa lagi,"


"Rei...apa suatu saat akan ada pria yang mencintaiku dengan tulus?"


"Pasti. Hanya laki-laki bodoh yang menyia-nyiakan wanita sebaik kamu,"


"Rei aku mau ice cream."


"Ice cream?"


"Ya. Di pojok situ ada penjual ice cream enak."


"Baiklah, kita akan membelinya."


Marinka dan Rehan beranjak dari tempat duduk mereka dan pergi membeli ice cream. Marinka teringat tempat itu karena Ezra pernah mengajaknya kesana.


Plakkk


Yuda menaruh sebuah berkas diatas meja kerja Ezra.


"Berkas apa ini?"


"Pesananmu. Sesaui yang kamu inginkan."


Ezra meraih berkas itu dan membacanya. Entah mengapa, jantungnya berdegup kencang saat tahu itu adalah sebuah berkas perceraiannya dengan Marinka.


"Kamu tinggal menandatanganinya saja. Terus Marinka juga tanda tangan disebelahnya."

__ADS_1


Yuda kemudian melenggang pergi setelah menyampaikan ucapannya. Ezra memejamkan matanya, dia akui dirinya begitu berat mengambil keputusan ini. Wajah ceria Marinka tiba-tiba bermain dipelupuk matanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2